OFF LIMIT: FOURTEEN NIGHTS WITH MY HUSBAND'S BEST FRIENDS

OFF LIMIT: FOURTEEN NIGHTS WITH MY HUSBAND'S BEST FRIENDS

last updateLast Updated : 2026-06-01
By:  Ray NhedictaCompleted
Language: English
goodnovel18goodnovel
10
10 ratings. 10 reviews
306Chapters
34.0Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

I spent two years drowning in guilt for an accident that wasn't my fault. Two years watching my husband transform into a monster who blamed me for the paralysis a drunk driver caused. Two years sacrificing pieces of myself for forgiveness I'd never earn. And then Adrian made one request that shattered what little dignity I had left. His birthday wish: Two weeks in Italy. His two best friends. My body. He wanted me to give them what he could no longer provide. I said yes because I didn't know how else to survive his threats, his manipulation, his systematic destruction of everything I used to be. What I didn't expect was how they'd look at me when I agreed—like I was cheap, disposable, exactly as worthless as I'd always believed. Matteo Greco touched me with hands that worshipped while his words cut deep, the Italian architect whose warmth turned ice-cold the moment I knocked on his door. Kian Ashford used me like I was nothing while his grey eyes promised I could be everything, the lawyer whose control shattered the same night mine did. They broke me completely. And broke their rules together with their hatred for eachother. Because Kian isn't just a lawyer—he's a Werewolf Alpha in a three-piece suit and a racer at night. Matteo isn't just an architect—he's a Lycan Alpha hiding behind Italian charm and motorcycle leather. And somehow this completely human woman triggered something in both of them that should be impossible. Mate bonds don't lie. But neither do the species that have been enemies for centuries. A dark paranormal romance that will leave you breathless, aching, and absolutely dripping. This is not a gentle love story...this is brutal, beautiful, and will wreck you in the best possible way.

View More

Chapter 1

THIS TRIP WAS MORE THAN HIS BIRTHDAY

"Maafkan aku, Love. Aku memang salah. Aku menyesal."

Suara Erick terdengar begitu pilu, ia mengiba, memohon-mohon, bahkan berlutut di hadapanku. Raut wajahnya menggambarkan penyesalan yang dalam.

"Aku sudah memaafkan kamu." Aku menanggapinya setengah hati, berharap kalimat yang ku ucapkan itu segera mengusirnya dari sini.

Tergambar perasaan lega dan senang di wajah tampan yang pernah membuatku tergila-gila itu. "Terima kasih, Cinta. Aku berjanji ...."

"Aku memaafkan kamu, bukan menerimamu kembali," tukasku dengan nada yang semakin dingin.

Erick tampak kecewa. Wajah yang sempat ceria kini mendung lagi. "Aku tahu aku salah, tapi waktu itu aku terpaksa ...."

"Terpaksa??? Dengan penuh gairah kau mencumbu wanita itu di depan mataku, kau bilang itu terpaksa?" seruku gusar. "Aku masih mengingat dengan jelas hari itu. Perlu kamu ketahui, aku belum dementia."

Aku berupaya untuk tidak murka, apalagi menangis di hadapan Erick. 'Waktu untuk menangis dan berkabung atas pengkhianatanmu sudah habis, Erick,' batinku pedih.

Erick, cinta pertamaku, pria yang pernah menjadi sinar matahari dalam hidupku, kini hanyalah seorang mantan suami yang telah berkhianat dan menghancurkan hati dan hidupku.

"Oke," ucap Erick sembari bangkit berdiri. "Katakanlah kau tidak ingin menerimaku kembali. Tapi aku yakin dalam hatimu, kamu pasti masih menyimpan cinta dan kenangan kita, Love."

Aku mencibir sinis. Kepercayaan diri dari mana yang dia dapatkan? "Apa yang bisa diharapkan dari cinta yang sudah ternodai oleh pengkhianatan? Kita sudah berakhir, Erick," cemoohku mulai kehabisan tenaga. Lelah sekali rasanya ribut seperti ini.

"Setidaknya pikirkan anak kita, Love."

"Dia anakku, bukan anakmu, Erick."

"Ricky anakku juga, Velove, darah dagingku. Kau pikir kau bisa hamil sendirian tanpa kontribusi seorang laki-laki?" Suara Erick mulai terdengar meninggi. "Kau bahkan menamainya Ricky, sesuai keinginan kita dulu, apa kau lupa?"

Kalimat terakhir Erick seperti sebuah pukulan telak yang membungkamku. Yang ia ucapkan memang benar, namun itu tidak bisa menutupi kenyataan bahwa ia adalah mantan suami yang pengecut dan tidak bertanggung jawab.

"Cinta, tolong jangan keras kepala," ucap pria itu dengan nada yang lebih lembut. "Aku memang salah, aku khilaf untuk sesaat karena tekanan dari orang tuaku yang terlalu kuat. Tapi aku sudah meninggalkan wanita itu, Sayang. Kami tak punya hubungan apa-apa. Kau pergi tanpa pamit, dan tidak kembali, membuat hatiku hancur berkeping-keping. Tolong beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya."

Kehidupanku selama tiga tahun di sini terasa damai dan tenang, tapi sekarang semua ketenangan itu hancur karena kehadiran mantan suamiku lagi. Runyam!

Aku ingin berteriak, marah, menangis, namun aku menahan diri. Rasanya tidak enak kalau kami malah menarik perhatian penghuni rusun yang lain dengan drama tidak bermutu ini.

Erick berupaya meraih tanganku, namun aku menepisnya.

"Erick, jangan buat keributan di sini, aku malu dengan tetangga, dan aku capek. Tolong pergilah," pintaku yang merasakan lelah secara fisik dan emosi.

Aku merasa tidak sanggup bicara lebih lanjut dengan Erick, setidaknya untuk saat ini. Aku sadar ada yang harus diselesaikan di antara kami, tapi tidak sekarang.

"Tapi, Love, kita harus bicara ...."

"Jangan sekarang, Erick, tolong. Pergilah dulu." Dengan tatapan mata letih aku memohon kepada pria itu. Aku belum siap secara mental untuk bertemu lagi, apalagi berbicara dengan mantan suamiku.

Akhirnya Erick mengalah. "Baiklah, tapi aku akan datang lagi besok. Beri aku kesempatan untuk bicara, Love," ujar Erick bersungguh-sungguh.

"Ya, terserah."

"Jaga dirimu, My Love. Aku mencintaimu."

Aku melihat pria itu bermaksud untuk memelukku sebelum pergi, tapi aku bergerak lebih cepat dengan menutup pintu rumahku dan menguncinya.

"Love ...," desah Erick mengembuskan kekecewaan tanpa tanggapan apapun dariku. Dengan berat hati ia pergi meninggalkan tempat tinggalku ini.

Setelah menyadari langkah Erick menghilang dari pendengaranku, aku yang bersandar pada pintu, dan seketika merosot ke lantai, dengan tubuh yang terasa sangat lemas.

Seluruh emosi dan pikiran berkecamuk di kepalaku. 'Kenapa kamu harus datang lagi, Erick? Kenapa?' rutukku dalam hati.

Ketika aku sedang merenungi nasibku, dari luar terdengar suara ketukan di pintu.

"Tok tok tok."

Aku mengabaikannya, namun ketukan itu terdengar lagi.

"Velo, kamu di dalam, Nak?"

Ibu Berta! Ia pasti sudah mendengar keributan tadi. Aku merasa tak enak hati dengan wanita baik itu.

Aku bangkit, membuka pintu, dan tanpa memandang aku berlari memeluk sosok yang berdiri di depan pintu itu.

"Bu Ber ...," lirihku, seraya melingkarkan lenganku di tubuhnya. Dia balas memeluk ku dan sedikit mengusap punggungku.

Tapi ... ada yang salah.

Ini bukan dada Bu Berta. Mengapa jadi keras begini? Dan wanginya ... maskulin, tiba-tiba membuat jantungku berdebar.

Astaga!

Aku mendongak dan melihat seringaian nakal dari pemilik tubuh itu.

"Velo." Terdengar suara Ibu Berta lagi, tapi ternyata ia berdiri di belakang orang yang aku peluk.

Mati aku! Aku mencoba melepaskan diri dari pelukan orang itu, tetapi ia menahanku. Aku terpaksa harus memukul lengannya, barulah ia membiarkanku pergi.

Aku terbirit-birit masuk rumahku dan menutup pintu. Duh, kok bisa salah sih? Malu banget! Aku memukuli kepalaku pelan beberapa kali. Lalu kututupi wajahku dengan kedua telapak tangan. Aku menjerit tanpa suara.

Kudengar suara pria itu terkekeh. "Hari ini pelukanku gratis, Ve, tapi besok bayar ya," godanya dari balik pintu.

Ini tadi melodrama aku kedatangan mantan suamiku yang ngajak balikan, kenapa malah tiba-tiba jadi romantic comedy gini ya? Sama dia pula! Kacau!

Aku malu, tapi juga ingin ketawa. Ingin ketawa tapi juga merasa malu. Bingung kan?

Gawat memang Mas 203 itu! Awalnya ia tetangga sebelah yang sangat baik, lalu beberapa bulan terakhir ini dia mulai mengusik kesendirianku dengan sikapnya yang tahu-tahu jadi 'nakal' dan suka menggoda.

"Aduh! Cubitan Ibu Berta boleh juga. Hehe," serunya. Rupanya Bu Berta menghukum pria pengganggu itu dengan mencubitnya.

"Makanya, jangan suka gangguin anak Ibu! Sudah, balik ke kandangmu sana!" hardik Bu Berta, tapi masih dengan nada ramah.

"Memangnya saya singa, Bu, disuruh masuk kandang?"

"Bukan singa tapi sapi, nanti Ibu yang jadi gembalanya, Mas ganteng," sahut Bu Berta yang memang suka melucu. "Velo, Ibu masuk ya."

Aku mendengar ketukan pintu lagi, kali ini Bu Berta sendiri yang membukanya karena tahu aku tidak mengunci pintuku.

Begitu pintu terbuka aku buru-buru menutupnya tanpa melirik ke arah mahkluk hidup yang masih setia berdiri di tempatnya semula. Aku mendengar ia terkekeh tapi tak aku tanggapi.

Aku dan Bu Berta saling memandang. Ia mengulum senyuman, sedangkan aku menahan tawa dan malu

"Duduk, Bu." Aku mendorong wanita paruh baya itu untuk duduk di kursi tak jauh dari pintu. Bu Berta tersenyum sambil memandangku.

"Kenapa, Bu? Ada yang lucu di muka saya?" tanyaku salah tingkah.

"Nggak apa-apa. Ya, Ibu maklum saja perawakan Ibu memang tinggi besar, jadi kalau kamu salah peluk bisa dimengerti. Walaupun, ehem ... mukanya jelas beda, bentuk badannya beda, dan ... ehem ... parfumnya ...."

"Eh, itu beneran saya nggak lihat tadi, Bu, jadi keliru," sahutku cepat-cepat.

Bu Berta mengangguk dengan senyum sok pengertiannya.

"Maaf ya, Bu, tadi saya nggak bermaksud membuat keributan." Aku meminta maaf atas kejadian dengan Erick tadi, sekaligus mengalihkan pembicaraan.

"Itu tadi mantan suami kamu ya?"

"Iya."

"Ngajak rujuk?"

"Iya."

Bu Berta kembali mengangguk-anggukkan kepala.

"Ya sudah, kamu pikirkan baik-baik ya, Nak, untung ruginya. Bagaimanapun kamu masih harus memikirkan Ricky, kamu juga masih muda, masih layak kalau mau menikah lagi," katanya penuh perhatian.

Setelah membuat pertimbangan sesaat, aku memutuskan untuk bicara dengan Bu Berta.

"Bu Ber, mungkin ini saatnya Velo bercerita."

"Velo, mungkin ini saatnya Bu Ber mendengarkan," timpalnya, membuat aku tersenyum ringan. Bu Berta selalu berupaya membuat suasana nyaman ketika orang ingin bicara serius dengannya.

"Kejadiannya dimulai lima tahun lalu...."

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.

reviewsMore

Melissa
Melissa
After reading chapter 243, I can’t read anymore. It was going so well and then nope.
2026-04-21 04:28:47
4
0
Renee
Renee
How many more chapters are anticipated?
2026-04-12 22:27:45
0
0
gloria maks
gloria maks
she's good. vote for this incredible author ....... pls keep the update coming
2026-03-07 03:40:59
7
0
Melissa
Melissa
More chapters, please!!
2026-02-04 18:45:47
5
1
amour
amour
97 chapters 1-21-26
2026-01-22 00:44:57
3
0
306 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status