LOGINTok! Tok! Tok!Pandangan Sora tertuju pada pintu kamarnya, tapi ia tak langsung membukanya. Selang beberapa detik, pintu kembali diketuk dari luar. Aneh, tak ada panggilan dari luar untuknya. Entah siapa yang mengetuk? Ketukan itu terdengar pelan dan halus. Itu bukan ciri khas Durand yang biasa menggedor pintu. Bukan juga pelayan di sini. Sora segera bangkit dan melangkah ke arah pintu. "Ya, aku datang."Begitu ia membuka pintu kamarnya, ia mendapati Dmitri berdiri di sana. Berbeda dengan Durand yang selalu membawa aura intimidasi, Dmitri membawa ketenangan. Tangannya membawa bingkisan besar yang dibalut pita satin. "Maaf mengganggumu malam-malam, Sora," kata Dmitri dengan suara lembut. Untuk sesaat, Sora tertegun. Suara itu benar-benar menyerupai milik Durand. Tegas, dalam. Kesamaan antara mereka benar-benar tidak bisa diabaikan, terutama tatapan matanya yang sama seperti Durand. Hanya saja, Dmitri lebih lembut dan tenang. Tak ada tekanan dingin yang terpancar di matanya. So
Sora terpaku. Kedua orang itu kontras dengan aura Rusia yang dimiliki Durand. Namun, salah satu dari mereka memiliki fitur wajah yang hampir mirip dengan Durand. Seorang pria muda berambut golden brown yang memiliki rahang tegas, tatapannya angkuh identik dengan Durand. Hanya saja, matanya tidak memancarkan kebencian. Jika Durand adalah versi pria matang dan penuh obsesi, pria muda di depannya adalah versi lebih halus tapi memiliki api yang sama di matanya. Pria muda itu biasa disapa Dmitri—putra kedua Viktor. Sora bertanya pada diri sendiri. Apa mereka saudara Durand? Rasa penasaran itu meluap. Selama tinggal berbulan-bulan di bawah atap yang sama dengan Durand, Sora tak pernah mendengar pria itu menceritakan keluarganya, atau sekadar menunjukkan foto keluarga mereka. Menurutnya, Durand adalah pria berbahaya yang hidup dalam kemewahan dan penuh rahasia. Di tengah rasa penasarannya, suara lembut tapi berwibawa memecah keheningan. "Sora?" Sora tersentak lalu segera menunduk ho
Durand mendorongnya ke sudut lift dan mengunci tubuh kecil itu menggunakan kedua tangannya. Wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajah Sora. Napasnya yang memburu berbau vodka mengenai kulit mulusnya."Aku yang menentukan kau harus pergi atau pulang, Sora," jawab Durand dengan rahang mengeras. "Jangan coba kau pergi dari rumah dan mencari perlindungan lain tanpa izinku. Kau milikku! Apa kau masih belum mengerti?"Sora menatap Monster berbentuk manusia itu dengan kebencian. "Aku bukan barang milikmu!""Di duniaku, kau adalah apa pun yang kukatakan," balas Durand dingin. Sebelum Sora membalas, pintu lift sudah terbuka di lantai dasar. Durand kembali menyambar pergelangan tangan Sora, menyeretnya melalui lobi. Sora mencoba menahan langkah kakinya. Namun, kali ini Durand bertindak tanpa ia bayangkan. Pria itu mengangkat tubuhnya begitu saja seperti memanggul karung beras di pundaknya. "Turunkan aku, Durand!" Sora memukul punggung Durand berkali-kali.Tak ada reaksi apa
Setelah menerjang salju lebat, mobil Durand berhenti di depan gedung apartemen berlantaikan enam belas. Ia keluar dari mobil, lalu menuju lift tanpa bertanya pada resepsionis. Lantai dua belas adalah tujuannya saat ini—kamar Katharina. Di sanalah Sora berada saat ini. Ia lupa, bahwa Sora bukanlah wanita lemah meski ia turunkan di tengah jalan. Gadis itu memiliki insting bertahan hidup sendiri tanpa memerlukan uluran tangannya. Durand keluar dari lift dan melewati lorong yang sunyi. Hingga akhirnya, kakinya berhenti di depan pintu unit Katharina dengan kemeja yang masih berantakan. Ia tak mengetuk pintu, tapi tiba-tiba suaranya menggelegar di lantai itu. “Sora!” Di dalam sana, Sora tersentak hingga coklat panas itu tumpah mengenai kulitnya. Sora mengenali pemilik suara itu. Sementara Kathrina terkejut hampir menjatuhkan cangkirnya. Wajahnya yang penasaran berubah penuh ketakutan. "S-sora?" Suara Katharina bergetar. "Siapa dia? Kenapa dia berteriak seperti itu?"
Durand memerintah dengan dingin. “Lakukan tugasmu.” Mendengar perintah itu, Kira segera mengambil kesempatan tanpa membuang waktu. Ia mencondongkan wajahnya dan melumat bibir Durand dengan sedikit agresif. Bibir itu bergerak sedikit liar, menuntut balasan dari pria itu. Durand membalasnya dengan cara yang brutal. Tangannya menarik pinggang Kira hingga terduduk di atas pangkuannya. Ciuman Durand mendadak brutal dan kasar, tak memberikan kesempatan wanita itu untuk mendominasi. Tangannya menarik rambut Kira ke belakang kuat, menekan ciuman itu dalam-dalam. Kira mengerang di antara tautan bibir mereka yang panas. Tangannya mulai membuka kancing kemeja Durand satu per satu. Napas mereka menjadi memburu di tengah-tengah aroma alkohol yang mahal. Durand terus memberikan sentuhan-sentuhan tanpa ampun. Satu tangannya mulai menurunkan tali gaun Kira, hingga terekspos area privasinya. Namun, di tengah kemelut gairah yang memuncak, sekelebat bayangan mengganggunya. Bukan pan
Akhirnya, mobil kembali melaju, membelah jalanan yang mulai tertutup salju. Lampu-lampu kota satu per satu berlalu melalui jendela kacanya. Alih-alih menuju arah Mansionnya di Rublyovka, ia justru memutar balik ke arah jantung kota di distrik Kitay-gorod. Gemerlap dunianya sudah menunggunya. Tak butuh waktu lama, mobil itu akhirnya berhenti di depan bangunan tua yang tampak seperti gudang tak berpenghuni. Namun, dibalik pintu besi itu yang dijaga pria bersenjata, berdirilah Dom Vorona. Itu bukanlah kelab biasa. Ini adalah kelab paling eksklusif di Moskow. Kelab itu diisi oleh orang-orang yang tak tersentuh hukum. Para mafia duduk santai di meja bundar, ditemani oleh para pengawal bertubuh gempal. Pebisnis dunia gelap berbincang sambil bertukar dokumen dan janji yang nilainya jauh lebih mahal dari minuman mereka. Broker-broker pembawa informasi dan bandar taruhan berdebat di sudut ruang, sementara para oligarki muda dan pewaris kaya menghamburkan uang mereka. Suasana
Ucapan tajam Durand itu langsung menembus hatinya. Seketika air matanya berhenti, digantikan kepalan tangan erat. Api di perapian itu memantul di matanya, seolah kobaran itu adalah bentuk amarahnya yang siap membakar Durand. Kini, matanya bukan lagi menggambarkan kesedihan, tetapi kemarahan dan ke
Anak buah yang dikenal Stepan itu sedikit membungkuk. “Maafkan saya, Tuan.” Durand adalah Tuan Muda Volkov yang terkenal intimidasinya dan ketidakmudahan. Di mata semua orang, ia seperti gunung es yang tak tersentuh. Sejak kecil, ia tidak dikenalkan dengan kelembutan, melainkan tentang perintah
Sora berusaha mengotak-atik lubang kunci itu dengan penuh harap, menekan dan memutarnya sebisanya, hingga terdengar bunyi ‘ceklek’ di tengah kesunyian.Ia tersenyum kecil, ia yakin usahanya berhasil. “Kenapa tidak kulakukan saja ini sejak semalam.”Tanpa ragu, Sora menarik gagang pintu dan membukany
Langkahnya tertatih saat pengawal membawanya menyusuri lorong. Cahaya lampu kristal yang tergantung sepanjang koridor seakan menertawakannya.Salah satu pengawal melirik ke arahnya sekilas, matanya melihat ekspresi Sora yang sedang menahan kesakitan.Mereka bisa merasakannya. Akan tetapi mereka mem







