เข้าสู่ระบบBella, wanita sederhana dengan senyum hangat dan kehidupannya yang damai, tak pernah menyangka akan terjerat dalam dunia mafia yang dulu sangat dijauhinya. Pertemuannya dengan seorang pria yang ia tolong di malam hari, membawanya ke dalam pusaran konflik, rahasia, dan cinta yang tak terduga. Selain memiliki aura dingin dan tatapan tajam, Shin adalah sosok yang keras dan kejam tindakannya. Sebagai pemimpin dan penguasa kota, ia dikenal sulit didekati seakan ada dinding tak kasat mata. Akan tetapi dinding itu tidak berlaku untuk Bella. Saat cinta tumbuh dalam bayangan antara cahaya dan kegelapan, keduanya harus berjuang melawan tekanan batin antara rasa takut dan keberanian. Mampukah Bella tetap menjadi cahaya di dunia Shin yang gelap? Atau keduanya akan tenggelam bersama dalam kegelapan yang memburu mereka?
ดูเพิ่มเติม"Sampai jumpa Miss Bella, terima kasih sudah menemani Luna menunggu Mama."
Suara imut anak perempuan terdengar menyenangkan, ditambah wajah bulatnya yang sangat manis tersenyum. Dari jendela mobil ia melambaikan tangan mungilnya keluar. Berpamitan pada seorang guru yang berdiri di halaman sekolah TK. Guru yang dipanggil Miss Bella balas melambaikan tangan dan tersenyum hangat, "Sampai jumpa juga Luna, selamat beristirahat dan hati-hati di jalan ya ..." "Sekali lagi terima kasih, Miss Bella." Nyonya Thalia di kursi kemudi membuka pintu dan ikut berpamitan padanya. "Sama-sama Nyonya Thalia, hati-hati di jalan." Balas Miss Bella. Bella kembali ke kelas tempat ia mengajar dan sibuk dengan sisa pekerjaan yang belum selesai. Waktu berlalu dengan kesibukannya hingga Bella tidak sadar kalau di luar sudah gelap. "Sudah selarut ini, aku harus segera pulang." Ia buru-buru membereskan barang-barangnya dan bersiap pulang. Setelah mengunci kelas dan memberikan kunci pada penjaga sekolah, Bella berjalan keluar menuju tempat tinggalnya yang berjarak sepuluh menit jalan kaki. Langit malam di kota Whitesand tampak tenang, bintang-bintang berkelip samar di balik awan tipis. Lampu jalan berderet, cahayanya jatuh ke jalan berbatu yang sepi. Udara terasa dingin menusuk kulitnya dibalik mantel, khas udara pegunungan di daerah kecil yang dikelilingi hutan pinus. "Ugh ... dingin sekali, apakah akan turun hujan?" gumamnya. Bella melangkah pelan sambil merapatkan mantel dan menyilangkan tangan didepan dada. Rambut panjangnya sedikit berantakan tertiup angin malam. Ketukan sepatunya menjadi teman di setiap langkah. Pekerjaan hari ini terasa lebih banyak dari biasanya. Ada pengecekan laporan nilai siswa, menjaga Luna yang terlambat dijemput, menghias dekorasi kelas yang harus ia selesaikan, sehingga pulangnya terlambat dari biasanya. "Kenapa malam ini suasananya sepi sekali," ia terus bergumam pelan pada dirinya sendiri. Matanya mengawasi sekitar dengan langkah yang semakin cepat. Meski sepi, Bella tidak terlalu takut. Ia sudah sering melewati jalan ini, yang merupakan rute tercepat untuk sampai di rumahnya ketika ia pulang terlambat. Ia tahu setiap sudut jalan, bahkan beberapa kali melewatinya saat malam lebih larut dari waktu ini. Namun malam ini ia merasa ada sesuatu yang berbeda. Bang!!! "Aa!" Ketika jarak rumahnya tinggal beberapa blok saja, tiba-tiba terdengar suara keras dari arah dalam sebuah gang sempit di sisi kiri jalan. Suara besi beradu dengan dentuman pelan, seperti tong sampah terguling. Disusul suara teriakan pelan darinya yang tertahan. "Apa itu?" Bella terkejut sesaat dan spontan berhenti. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat, telapak tangannya menjadi dingin dan nafasnya sedikit terengah. Matanya melirik ke arah gang yang gelap, sedikit cahaya lampu jalan dari mulut gang tidak bisa ia lihat jelas lebih jauh. Kosong. Tidak ada siapa-siapa. Ia menarik napas dalam, lalu tersenyum mencoba menenangkan diri. "Mungkin kucing… ya, pasti kucing." Katanya pelan, seolah yakin dengan dugaannya sendiri. Suaranya tidak terlalu keras, hanya saja suasana sepi yang tidak biasa membuat Bella waspada dan tidak bisa menahan kekagetannya. Tidak ingin berlama-lama disini, Ia hendak kembali melangkah. Namun tertahan oleh suara lainnya. "Hnngh ...!" Kali ini terdengar geraman rendah seperti suara pria. Berat dan tertahan, seperti erangan menahan sakit. Suara itu bergema samar dari dalam gelapnya gang. Sekujur tubuh Bella membeku di tempat. Matanya menatap lurus, mencoba menajamkan penglihatannya menembus kegelapan gang. Bahkan ia mencoba mendengar dengan seksama setiap suara yang ada, suara itu jelas bukan geraman kucing atau hewan. Tangannya refleks menggenggam erat tali tas. Pikirannya berdebat, haruskah ia memilih pergi, atau memeriksa apa yang ada di sana? Siapa tahu ternyata ada orang butuh bantuan. Tubuhnya tetap di tempat beberapa saat, tapi rasa penasaran mulai merayap dalam hatinya. Ragu-ragu, selangkah demi selangkah Bella tertuju dalam gang. Sesaat ia menoleh sekali lagi ke arah jalan utama. Sepi, hanya suara angin yang menggesek dedaunan dan gemerisik kecil dari kejauhan. Hatinya terus berdebar tidak karuan, tapi rasa penasaran bercampur khawatir menuntun kakinya masuk ke gang itu.Allesia terlihat marah mendapat perlakuan seperti itu. Dengan kuat, ia menepis tangan Dante dari dagunya dan segera turun dari meja makan. Sembari membenarkan gaun dan mantelnya, ia melirik Dante sesaat sebelum berbalik pergi.Beberapa langkah kemudian, ia berhenti dan berkata, “mau aku peduli pada siapa pun, bukan urusanmu. Kali ini kau kumaafkan, tapi tidak untuk lain kali.”Dante melihat sosok itu pergi, lalu tersenyum sinis. Tangannya mengambil ponsel dan membuka pesan dari bawahannya yang mengiriminya foto Bella yang sedang mengawasi anak-anak TK. Menurut sumber informasinya, perempuan ini memanggil Shin dengan nama Luca. Ia tahu nama itu digunakan khusus saat Luca menangani bisnis legalnya.Sebuah pertanyaan tiba-tiba melintas di benaknya, apakah gadis ini tahu kalau Shin adalah pemimpin kelompok mafia?- Kawasan Barat kota Whitesand.Ini adalah ketiga kalinya Giovanni mengunjungi tempat yang dikenal sebagai kawasan hiburan. Di tempat ini terdapat banyak kasino dan perjudian, ru
Luca sedang berada di kantor perusahaannya. Tangan dan matanya sibuk memeriksa tumpukan pekerjaan didepannya.Vito mengetuk pintu kemudian masuk dan memberitahu, “Bos, orang-orang pemerintahan sepertinya mulai bergerak.”Luca tidak mengangkat wajahnya. Tangannya masih sibuk menulis, lalu ia menjawab dengan tenang, “Semua bukti yang aku minta sudah diserahkan?”Vito mengangguk mantap. “Sudah, Bos.”“Bagus,” jawab Luca singkat. “Selanjutnya kita urus Dante dan kelompoknya di Blackstone.”Vito kembali mengangguk. Matanya dipenuhi semangat dan dendam yang tertahan lama. Akhirnya, mereka bisa membalas kelompok kecil itu yang selama ini hanya berani menyerang dari belakang.Di sebuah ruang makan yang cukup mewah, dengan penerangan redup, tirai jendela besar terbuka lebar menampilkan langit mendung kota Blackstone.Seorang pria dengan potongan rambut cepak duduk di sana. Lengan kemeja hitamnya dilipat hingga siku, memperlihatkan tato panjang di kedua lengannya dengan berbagai bentuk dan warn
Chiara tahu Bella sangat ingin membantu ayahnya. Sayangnya, Paman Gio tidak pernah mengizinkan Bella ikut campur dalam urusan politik. Chiara tahu alasannya, karena ia sendiri memahami betapa dalam arus politik, yang mana semakin dalam, semakin gelap.Hal itu sama seperti saat Chiara ingin menjadi jaksa. Keputusan itu awalnya ditentang oleh ayahnya. Namun, Chiara berhasil meyakinkan ayahnya, dan berkat dukungan ibunya, ia akhirnya menjadi jaksa. Meski begitu, pekerjaan itu masih mengganjal di hati ayahnya. Bahkan hingga sekarang, setiap kali Chiara menghubunginya, ia selalu diingatkan untuk berhati-hati dan waspada.Chiara tidak tahu bagaimana cara menghibur Bella, tetapi ia tetap mengatakan sesuatu yang memang merupakan fakta.“Aku pikir kamu sudah cukup membantu,” kata Chiara. “Petugas keamanan yang kita bentuk sangat kuat dan ahli. Mereka melakukan pekerjaannya dengan baik karena kesungguhan mereka yang ingin membantumu. Kebaikanmu sudah cukup menarik banyak orang untuk ikut memban
Keesokan harinya, sepulang kerja, Bella mendapat sebuah pesan dari Luca.Luca: Hari ini aku tidak bisa datang ke rumahmu. Kau ingin makan sesuatu? Biar pengawalku yang belikan.Bella terdiam beberapa saat melihat pesan itu, kemudian membalas.Bella: Belikan aku pasta paling enak di Kota B.Sekitar tiga menit kemudian, Luca baru membalas.Luca: Kau ingin makan siang pasta yang dijual di tempat yang jauh? Apa kau sedang mengerjaiku atau menghukumku?Bella: Siapa yang mengerjaimu? Dan kenapa aku harus menghukummu? Apa kamu melakukan kesalahan padaku tanpa kuketahui? Bukankah yang membeli makanan itu pengawalmu?Luca: Kalau begitu aku salah sangka. Baiklah, aku akan minta tolong untuk membelikan makanan untukmu. Apa ada lagi yang kau inginkan?Bella: Kenapa kamu tidak bisa ke sini? Apa kamu sedang menghadapi masalah?Bella mengira Luca tidak akan menjawab pertanyaannya, atau mungkin akan mengelak. Namun, tidak disangka, ia justru mendapat balasan.Luca: Memang ada sedikit masalah di kelua
Di luar kamar penahanan, waktu tanpa terasa sudah lebih dari setengah jam sejak Luca, Matteo, dan Vito masuk ke dalam. Akan tetapi, pintu itu belum juga terbuka.Salah satu pengawal yang berdiri paling dekat dengan pintu mulai gelisah. Ia beberapa kali melirik ke arah daun pintu yang tertutup rapat
Sesuai perintah Adrian, sebagai dokter pribadinya, Bella tidak diizinkan pergi jalan-jalan dulu. Ia diharuskan beristirahat total selama beberapa hari.Seusai makan siang, Ia duduk di tepi ranjang sambil memandang laut dari jendela dengan wajah sedikit murung. Mengingat mereka sudah membuat banyak
Karena Adrian dan Chiara terus menatapnya tanpa mengalihkan pandangan, Bella akhirnya menyerah. Ia meletakkan garpu dan pisau di atas piring, lalu menarik napas pelan sebelum mulai menceritakan apa yang terjadi.Dengan singkat, Bella menjelaskan kejadian yang dialaminya, mulai dari saat ia jatuh ke
Setelah mendapatkan nomor telepon Luca dari Rico, Bella langsung menyimpan nomor itu dan mengirim pesan.Bella: Halo, selamat siang.Tidak butuh waktu lama sampai balasan muncul.Luca: Ya, Bella.Bella tidak heran Luca langsung mengenalinya. Namun entah mengapa balasan singkat itu terasa sedikit di
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
ความคิดเห็น