author-banner
Sya Reefah
Sya Reefah
Author

Novels by Sya Reefah

Tuan Pewaris, Nyonya Memilih Pergi

Tuan Pewaris, Nyonya Memilih Pergi

Demi biaya pengobatan ibunya yang sakit, Eva Alyson terpaksa menikah dengan Henry Yonatan Harrison, pewaris keluarga kaya raya. Namun, kehadirannya di keluarga Henry selalu direndahkan karena kondisi matanya yang tidak sempurna. Setelah bertahun-tahun dihina dan dipermalukan, Eva memutuskan untuk bercerai. Namun, di tengah proses perceraian, Henry mengeluarkan pernyataan mengejutkan, "Aku tidak akan membiarkan orang lain memilikimu." Bagaimana Eva menghadapi takdir yang terus mengekangnya? Follow IG author: _lili_lotus
อ่าน
Chapter: Chapter 277 Tamat
Waktu cepat berlalu, hingga usia kesembilan bulan kehamilan Eva. Perutnya semakin membesar, pergerakan di dalam perut semakin terasa, dan tanggal kelahiran sudah di depan mata. Namun, bagi Henry terasa berat. Dia harus bolak-balik San Francisco dan Manhattan untuk memastikan proyek raksasanya berjalan lancar. Dia benci jarak jauh, tetapi pekerjaannya menuntutnya. Dia selalu meyakinkan Eva bahwa dirinya akan kembali cepat. Eva berusaha kuat di setiap Henry akan pergi. Setiap Henry pergi, mereka selalu melakukan panggilan video. Henry selalu bersikap lembut, menenangkan sang istri bahwa dia baik-baik saja dan akan segera pulang. Hari-hari menjelang kelahiran terasa lambat sekaligus cepat. Ponsel Henry selalu dalam mode siaga, begitu juga keperluan bersalin Eva yang sudah Elise siapkan. Lengkap. Namun, sebelum tanggal kelahiran tiba, Eva mengalami kontraksi pertamanya. Awalnya ringan, tetapi semakin lama rasa sakitnya semakin meningkat. Ternyata, kelahirannya lebih cepat dari t
ปรับปรุงล่าสุด: 2025-10-13
Chapter: Chapter 276
Hari demi hari terlewati, hingga tanpa terasa usia kandungan Eva sudah tujuh bulan.Sejak kehamilannya, Eva banyak berubah. Bukan hanya perutnya yang semakin membesar, tetapi juga suasana hatinya sering berubah-ubah.Sore itu, Eva berada di ruang tengah dengan TV besarnya menyala. Matanya tak sengaja menangkap keberadaan Rosa yang tengah menikmati cemilan di tangannya bersama pelayan lain di dapur.Eva berharap Rosa akan melihatnya dan menawarkan cemilan itu padanya.Eva terus menunggu. Hingga cemilan itu habis di tangan Rosa.Tiba-tiba saja bibir Eva mengerucut. Tangannya menekan tombol off, lalu melangkah pergi menuju kamar.Sesampainya di kamar, tangannya meraih ponsel dan segera menghubungi Henry.Saat itu, di ruangannya, Henry sedang menerima laporan mengenai perkembangan proyek raksasa miliknya. Hingga tiba-tiba ponselnya berdering.Begitu melihat nama di layar ponselnya. Henry segera menekan tombol hijaunya. “Ada apa? Ada yang kau inginkan?”Terdengar suara tidak bersahabat dar
ปรับปรุงล่าสุด: 2025-10-10
Chapter: Chapter 275
Eva dan Henry masih berpelukan erat, seakan merasakan tekad baru. Henry memejamkan kedua matanya, mencium pucuk kepala Eva lagi, dan lagi. Ciuman itu turun ke bawah, berhenti di leher jenjang Eva. Eva menutup mulut Henry, menjauhkan wajah itu darinya. “Hentikan, Henry. Itu geli,” ucapnya diikuti kekehan kecil. Tiba-tiba saja, bel penthouse berbunyi, memecah momen hangat mereka. Keduanya saling pandang. Eva melepaskan pelukannya, sementara wajah Henry gusar, tak ingin lepas, tak ingin diganggu siapapun pagi ini. “Siapa yang datang?” Henry hanya menggeleng tidak tahu. Terhitung jarang sekali mereka kedatangan tamu luar. Bel berbunyi lagi. Henry memberikan isyarat agar Eva tetap di tempat, tak peduli siapa yang datang. Yang dia inginkan hanya bersama Eva. Istrinya. Salah satu pelayan yang bertugas bergegas membuka pintu. Di ambang pintu, tampaklah Martin dan Elise. Martin datang dengan senyum tulusnya, sementara Elise memasang wajah gelisah, campuran kegengsian yang terlihat
ปรับปรุงล่าสุด: 2025-10-06
Chapter: Chapter 274
Suasana penthouse semakin sunyi. Eva masih terjaga menunggu kedatangan Henry. Dia tampak mengantuk, tetapi matanya menyimpan kekhawatiran yang mendalam. Tiba-tiba suara bel berbunyi nyaring, memecah keheningan. Eva segera berlari ke arah pintu dan menariknya hingga pintu terbuka. Di ambang pintu, berdirilah Samuel yang memegang lengan Henry, yang kini terlihat lebih buruk daripada di bar. Henry terseok-seok, kepalanya bersandar penuh pada Samuel. Bau alkohol begitu menyengat menusuk hidung Eva. Seketika wajahnya berubah, bercampur lega sekaligus panik karena melihat kondisi Henry. “Dia mabuk?” “Seperti yang kau lihat.” Tanpa berlama-lama, Samuel segera menuntun Henry masuk. Langkah Henry tak beraturan, kakinya tersandung dengan kakinya yang lain. Samuel mengerahkan seluruh tenaganya untuk membimbing tubuh Henry yang berat sampai di sofa. Mereka mencapai sofa. Samuel dengan hati-hati merebahkan tubuh Henry di atas sofa panjang. Eva menatap ke arah Henry lalu beralih mengara
ปรับปรุงล่าสุด: 2025-10-04
Chapter: Chapter 273
Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, dan Henry belum pulang. Biasanya, suaminya akan memberi kabar jika telat, tetapi malam ini ponselnya terasa dingin, tak ada notifikasi apapun. Eva meraih ponselnya mencoba menghubungi Henry. Panggilan pertama, tidak terjawab. Panggilan kedua, tidak terjawab. Tak biasanya Henry mengabaikan panggilannya. Rasa cemas mulai merayapi hatinya. Apa terjadi sesuatu?Eva mencoba menepis pikiran negatif. Dia beralih menghubungi sopir pribadinya, terakhir, dia pergi bersama Henry.Setelah beberapa detik sambungan terhubung, dan mulai terdengar suara di ujung telepon. “Selamat malam, Nyonya.”“Apa Tuan Henry di mobil sekarang?” tanya Eva, mencoba untuk tenang. “Saya sudah di rumah, Nyonya. Tuan Henry meminta saya pulang sejak sore tadi. Tuan kata, ada urusan pribadi yang harus diselesaikan, Nyonya.”Tak berselang lama panggilan telepon berakhir. Dia mencoba menghubungi orang-orang yang bersama Henry. Nomor Ryan pun tak ada jawaban. Mengingat keberad
ปรับปรุงล่าสุด: 2025-10-01
Chapter: Chapter 272
Martin menepuk pundak Samuel. “Terima kasih atas bantuanmu, Sam. Uncle berhutang budi padamu.”Samuel tersenyum lalu menggeleng. “Tidak perlu sungkan, Uncle. Aku hanya tidak ingin membiarkan wanita itu terus-terusan memanipulasi keluarga kita.”“Uncle akan memberimu bonus atas kerja kerasmu.” Pandangan Martin beralih ke arah Elise yang terduduk dengan tatapan tidak percaya. “Sekarang kau tahu sendiri, ‘kan? Orang yang selalu kau bela itu justru pelaku sebenarnya. Apa kau masih ingin memusuhi orang yang tidak bersalah?”Elise hanya diam, tidak bisa menjawab. Dia merasa menyesal dan bersalah, tetapi gengsi mengalahkan semuanya. Dia hanya bisa menunduk malu di hadapan suami dan keponakannya. Malu karena sudah membela Julia dengan sepenuh hatinya. “Papa harap setelah ini Mama meminta maaf pada Eva.” Elise ingin menunjukkan protesnya, tetapi, baru saja dia membuka mulut, Martin kembali membuatnya terdiam. “Papa tidak menerima bentuk protes apapun!” Sementara di ruang kerja…Mata Henry
ปรับปรุงล่าสุด: 2025-09-26
Obsesi Buta Tuan Mafia

Obsesi Buta Tuan Mafia

Sora, gadis yatim piatu terpaksa harus tinggal bersama keluarga mafia atas permintaan terakhir ayahnya yang merupakan rekan lama dalam jaringan dunia bawah keluarga Volkov. Di sana, ia harus bertahan di tengah banyaknya aturan tak tertulis. Putra Sulung mereka—Durand, menganggap Sora adalah beban dan ancaman organisasi. Lambat laun, tatapan curiga itu berubah menjadi obsesi yang merusak dinding pertahanan. Follow ig : _lili_lotus
อ่าน
Chapter: Bab 20
Sora berdiri di balik pintu yang sedikit terbuka, cukup untuk melihat dari jarak jauh, tanpa memiliki niat masuk ke dalam.Di dalam, dokter sudah selesai menangani semua luka Durand. Perban bersih menutup lukanya, kondisinya mulai stabil. Sora mengamati beberapa detik lebih lama dari perkiraannya.Meski ada kebencian yang belum reda, meski sebelumnya mereka terlibat perdebatan alot dan ia berani membangkang, melihat Durand terluka seperti itu membuat hatinya cemas. Perasaan itu muncul tanpa seizinnya.Sora tidak menyukainya. Ia berjalan mundur, menutup pintu perlahan sebelum Durand menyadari keberadaannya di sana. Tak ada alasan untuknya selalu berdiri di sana.Untuk apa?Toh dokter pribadinya sudah melakukan penanganan untuknya. Lagi pula, Durand tidak membutuhkannya. Terlebih lagi, pria itu tidak pernah menyukai keberadaannya di rumah ini. Dengan pikiran seperti itu, Sora segera kembali ke kamarnya, meninggalkan ruangan itu. Sebelum benar-benar masuk ke kamarnya, Sora memandang
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-01-11
Chapter: Bab 19
Sora berdiri beberapa langkah dari ranjang miliknya, lalu merenggangkan punggungnya. Tangannya ditarik ke belakang, lehernya dimiringkan ke satu sisi. Bunyi tulangnya beradu renyah, membuatnya meringis.“Ah … sial!” umpatnya kesal. Sora menekan punggung bawahnya dengan telapak tangannya. Otot-ototnya terasa kaku dan nyeri, seperti baru saja mengangkat beban berat. Meskipun memang benar itu adanya.“Berat sekali dia,” gerutunya. “Rasanya seperti membawa lemari naik tangga.”Sora kembali meregangkan otot-ototnya. Membawa Durand menaiki anak tangga barusan benar-benar menguras energinya. Sora menarik napas panjang, meluruskan tubuhnya kembali. Rasa encok itu menjalari punggungnya.Sora melangkah pelan menuju ranjangnya, lalu menjatuhkan tubuhnya di atas kasur empuknya, melepas semua bebannya tadi.Di balik keheningan kamarnya, pikirannya terus melayang pada kejadian beberapa menit yang lalu. Luka sayatan. Darah. Apa yang baru saja pria itu lakukan?Siapa yang melakukannya?Mungkin k
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-01-10
Chapter: Bab 18
Durand tidak membalas. Untuk pertama kalinya Durand terdiam pada Sora—membiarkan wanita itu menyingkap sedikit kemejanya. Sora menyingkapnya. Meski ia tahu, ketika Durand membaik, konsekuensi dari keberaniannya ini akan berimbas fatal.Kemeja Durand terangkat.Sora terdiam sesaat. Darah itu meresap ke pinggang. Di sisi perut itu terdapat luka sayat yang cukup dalam, tidak menganga, tapi jelas itu bukan luka ringan. “Ini ….” Suara Sora tertahan. “Ini cukup dalam! Bagaimana bisa kau biarkan luka ini terlalu lama?”Rahang Durand mengeras. “Bukan urusanmu!” Sora kembali menutup kemeja Durand, lalu kembali menatap sekeliling ruangan. “Di mana kotak P3K?”Durand memilih tidak menjawab. Ia sangat benci dengan situasi seperti ini. Setelah ini, Sora pasti akan memandangnya lemah. Melihat Durand menutup mulut rapat membuat Sora geram dan meninggikan suaranya, “Tuan Durand!” “Aku sudah memanggil Dokter pribadiku,” katanya, suaranya begitu tenang, terlihat seperti bukan orang yang terliha
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-01-07
Chapter: Bab 17
Langkah Sora terasa ringan ketika menyusuri trotoar lebar di Kutuzovsky Prospekt. Setiap bangunan terlihat megah dengan lampu kekuningan memberikan kesan kokoh dan abadi. Sora menatap barisan lampu berpaduan dengan cahaya lampu dari jendela-jendela apartemen kelas atas di sepanjang jalan. Kilauan cahaya itu membuat kerumitan di pikirannya mengurai. Ada kedamaian ketika berjalan di antara kemegahan bangunan yang berpaduan arsitektur Soviet dan sejarah Rusia yang heroik. Cahaya-cahaya itu seolah berbisik dunia tetap berputar, seberat apa pun beban yang ia rasakan. Ketenangan itu sirna ketika suara igor memanggilnya. “Nona Sora.” Suaranya penuh kecemasan.Sora menoleh. Sang sopir yang biasa bersifat profesional kini tampak gelisah. Igor mendekat dan berkata sopan, “Malam sudah mulai larut, Nona,” ucapnya sambil melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. “Tuan Durand akan marah, mari kita kembali.”Sora menghela napas panjang. Kepalanya terasa penuh hanya mendengar
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-01-06
Chapter: Bab16
Acara berjalan seperti dugaan Durand sejak awal—terlalu membosankan. Harusnya, sejak awal ia tak perlu datang.Musik mengalun pelan di balik percakapan formal. Gelas-gelas kristal beradu, senyuman tipis menjadi topeng mereka, dan setiap jabat tangan menyimpan sebuah rahasia. Para tamu saling berbasa-basi, saling bertukar pandang menurut sudut pandang mereka. Akhirnya, Durand berdiri di tengah kerumunan. Wajahnya dingin, tanpa ekspresi. Di tempat seperti ini, bahaya muncul dari wajah tersenyum.Durand berjalan lurus menuju pintu keluar.Namun, suasana mendadak berubah ketika seseorang lain muncul dari kerumunan. Tubuh besar, aura gelap, dan senyuman seperti sayatan tajam.Leonid.Seorang rival lama Durand yang seharusnya jauh dari wilayah ini.Leonid mendekat, tanpa izin ia menepuk pundaknya, terlihat sedikit akrab. “Durand. Tidak kusangka kau muncul. Kupikir kau terlalu sibuk memadamkan api di wilayahmu.”Durand menatapnya datar, tidak tersenyum sedikitpun. Matanya melirik sejenak
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-01-05
Chapter: Bab 15
Tak lama kemudian, seorang wanita anggun, tangan kanan salah satu kartel Eropa mendekat sambil mengangkat segelas anggur.Dia adalah Valeria.Penampilannya selalu berhasil menarik perhatian para pemimpin mafia yang hadir di acara itu. Meski memakai gaun sederhana, ia tetap terlihat anggun dan glamor.“Kau datang sendiri malam ini?” tanyanya pada Durand. Senyumnya menggoda, tetapi penuh perhitungan. “Kau tidak membawa tangan kananmu?”Di tengah-tengah percakapan itu, pelayan datang membawakan anggur di atas nampan.Durand menerima anggur yang disodorkan pelayan, tapi tidak meminumnya. “Mereka semua terlalu sibuk. Dan seharusnya aku tidak perlu datang ke acara ini.”Valeria tergelak pelan. “Aku tahu, acara seperti ini pasti sangat membosankan untukmu.”Ia melanjutkan, “Aku dengar banyak rumor tentangmu … terutama wanita yang kau sembunyikan. Siapa dia?”Valeria menyesap anggurnya perlahan, jemarinya melingkari gelas kaca dengan sikap terlatih dan tenang.Setiap gerakannya anggun, seakan
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-01-03
บางทีคุณอาจจะชอบ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status