LOGINRated 18+!! Steamy mature contents contained here!!! Leilani Waters, a really beautiful independent lady, with the perfect body that can make any man sin willingly, won the heart of one of the most famous billionaires in the city, Neil. He loved her so much with his entire heart and could kill for her. Their lives went on smoothly until he walked in through the front door…Adonis Ace Giles, Neil’s stepbrother, a sex god, whose mouthwatering features will make any woman kill to get a taste of him and yet doesn’t believe in love. Leilani found herself drooling over Adonis, and when the heat between them became unbearable, they had sex… and from that day, everything changed for Leilani. What happens when Leilani is caught between marrying Neil and confessing her feelings to Adonis? ***Excerpt*** “F*ck me, Adonis.” I gasped against his shoulder, helplessly pressed into him as he rocked my body slowly with his slow, hard grinding. He yanked his hand off my ass forcefully, and the thong snapped. The sound and the smack of it against my skin made me shudder, almost cumming. He pulled the black thong away from me, the small fabric slick with my juices, and stuffed it in my open mouth. I groaned, hearing the tortured sound of my own groan muffled by my panties slick with my own wet. And I moaned again. “So many fucking things I wanna do to your body, Leilani.” He growled, “I’m gonna f*ck you so hard.” He said, gazing sinfully into my eyes as he said those maddening words and slid his erect cock out of his grey sweatpants. My vagina clenched, spilling more moisture. Then he parted my legs even wider and plunged his cock into my vagina. Deep. Wet. Hard.
View More"Sayang, aku kangen. Jadi ketemu kan hari ini?" sebuah pesan dari kontak bernama RD.
Ayra membaca sekali lagi notifikasi pesan di layar ponsel yang masih terkunci milik Revan, suaminya. Tubuhnya menegang, dia tak memegang benda pipih itu, hanya tak sengaja melihat layar yang tiba-tiba menyala karena sebuah notifikasi saat dirinya membersihkan barang-barang yang berserakan. Layar menggelap bersamaan dengan khawatir yang dirasakan Ayra. Rasa penasaran mulai menyelimuti pikirannya. Tapi dia tidak akan bertanya dengan blak-blakan pada suaminya. Beberapa detik kemudian, Revan muncul dari balik pintu kamar dengan rambut yang basah. Handuk menyelimuti tubuh bagian bawahnya. Wajahnya terlihat segar khas orang baru selesai mandi. Ayra langsung bersikap biasa saja dan melanjutkan kesibukannya. Revan mengambil ponselnya dan duduk di tepi ranjang. Dia mulai sibuk mengetik sesuatu di sana. Ayra mengamati ekspresi suaminya dengan seksama, dan dia tahu ada senyum sangat samar disana. "Mana bajuku? Aku mau keluar, lagi ada urusan," tanya Revan sambil meletakkan ponselnya kembali ke atas ranjang. "Mau kemana mas? Ada yang nawarin kerja?" tanya Ayra sambil berjalan ke arah lemari mengambil baju yang diminta oleh Revan. Sudah 3 tahun terakhir Revan memang tidak bekerja setelah PT tempatnya bekerja tutup dengan alasan pailit. Dan selama itu Revan hanya di rumah, bermalas-malasan dan mengandalkan gaji Ayra yang bekerja sebagai accounting officer di sebuah hotel ternama di kota Lumia. "Bukan. Urusan sama temen lama. Eh, minta uang bensin sama kopi ya." Revan langsung memakai baju yang diberikan oleh Ayra. "Jangan nongkrong-nongkrong gak jelas mas. Mending nyari info kerjaan." "Ah berisik. Gak usah kamu suruh aku juga udah nanya sana-sini, tapi ya emang belum nemu aja. Aku juga bosen dirumah terus, kamu kan lagi libur, giliran lah aku yang refreshing, kamu yang jaga rumah sama anak-anak." "Tapi tiap hari aku pergi keluar juga bukan seneng-seneng mas, aku kerja." "Trus kenapa? Kamu mau bilang kamu kerja aku enggak? Kamu yang nyari uang sedang aku di rumah aja? Kamu capek aku enggak? Gimana pun aku ini suamimu ya, mau setinggi apapun jabatan sama gaji kamu, kamu tetep harus tunduk sama aku. Paham?" Revan menunjuk tepat di depan muka Ayra. "Iya, paham, Mas." Ayra tidak mau melanjutkan debat, dia sudah sangat hafal dengan watak suaminya. Lebih baik diam untuk menghindari pertengkaran yang panjang. Pernah Ayra membantu mencarikan pekerjaan, tetapi Revan menolak dengan alasan tidak cocok dengan bidangnya. Pernah juga Ayra mendaftarkan di sebuah aplikasi ojek online, tapi setelah resmi diterima, Revan hanya mengaktifkan aplikasinya selama 2 hari. Selanjutnya aplikasi itu tidak pernah dipakainya lagi. "Sudah, aku mau berangkat. Mana uangnya?" Revan benar-benar meminta uang. "Berapa mas?" "500 ribu. Cepat!" Revan mengibas-ngibaskan tangannya di depan muka Ayra dengan tidak sabar. "Hah? Banyak banget mas." Ayra kaget mendengar jumlah uang yang diminta oleh Revan. "Ya buat makan, bensin, rokok sama jajan yang lain juga. Namanya juga nongkrong sama temen." "Gak ada, Mas. Aku cuma megang 200 ribu. Itu juga mau buat belanja keperluan dapur sebentar lagi." Ayra mencoba membuka dompetnya perlahan. Dengan gesit Revan merebutnya dan mengeluarkan isinya dengan tergesa. Dia mengambil semua uang yang ada di dalamnya tanpa tersisa lalu melemparkan dompet kosong itu ke wajah Ayra. "Jangan diambil semua, Mas. Mungkin anak-anak juga minta beli sesuatu." Ayra memungut dompet yang sudah terjatuh di lantai sambil mengelus hidungnya yang sedikit nyeri. "Banyak omong." Revan berlalu meninggalkan kamar dan segera mengambil kunci motor dan helm. Dia langsung keluar dan menggas motornya melesat pergi dari rumah. Ayra mengambil ponselnya dengan segera lalu membuka sebuah aplikasi yang terhubung dengan ponsel Revan. Dia melacak kemana suaminya pergi. Aplikasi ini sudah lama dia simpan di ponselnya, tapi sangat jarang dipakai. Sambil terus menghidupkan aplikasi, Ayra mengambil makan untuk kedua anaknya dan menyuapi mereka. Matanya sesekali melirik ke arah ponselnya yang menunjukkan sebuah titik merah yang terus bergerak. Titik itu adalah lokasi akurat dari suaminya saat ini. Sekitar 15 menit kemudian titik merah itu berhenti bersamaan dengan kegiatan Ayra menyuapi kedua anaknya. Ayra menyipitkan mata membaca area lokasinya. Sebuah komplek perumahan. Dia memperbesar layar menggunakan dua jarinya. Blok L. ----- Ayra mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Dia sudah memasuki gerbang perumahan dimana Revan berada. Sambil terus melirik ke arah ponselnya untuk mengikuti titik lokasi suaminya, dia memperhatikan dengan seksama area perumahan yang dilewatinya. Perumahan biasa, tidak tergolong elit menurutnya. Tadi selesai menyuapi kedua anaknya, Ayra langsung bergegas pergi karena rasa penasaran atas apa yang sedang dilakukan Revan. Dia tidak pernah senekat ini sampai tadi membaca sendiri pesan mencurigakan di ponsel suaminya. Dia harus melihat dan membuktikan sendiri untuk melegakan hatinya. Kedua anaknya diajak serta karena dia tidak punya pilihan mau dititipkan kemana. Sampailah Ayra di area blok L. Titik lokasi Revan juga semakin dekat. Ayra semakin memelankan laju mobilnya sambil terus menoleh ke kanan kiri mencari keberadaan motor suaminya. Dan akhirnya dia melihat motor milik Revan sedang terparkir di garasi sebuah rumah berlantai dua dengan cat tembok warna biru muda. Rumah nomor L20. Ayra mencari tempat yang aman untuk memarkirkan mobilnya. Berjarak 2 rumah setelahnya ada sebuah lapangan bulu tangkis yang sedang kosong. Ayra menepikan mobilnya di sana dan menasehati kedua anaknya untuk menunggu sebentar di dalam mobil. Ayra segera turun dari mobil dan melangkah cepat ke arah rumah biru muda tersebut. Sesampainya di depan pagar, Ayra memperlambat jalannya. Mengamati rumah tersebut cukup bagus dan besar meski tidak sebesar rumah orang tuanya. Dia masuk dengan sangat perlahan dan sengaja tidak mengucap salam. Dia terus melangkah masuk hingga ke teras dan melihat alas kaki suaminya di depan pintu. Pintu terbuka setengah dan terdengar sayup-sayup orang sedang mengobrol. Ayra terus mendekat dan mulai mendengarkan obrolan orang-orang di dalam. Ayra tidak tahu ada berapa orang di ruang tamu rumah tersebut, tapi mendengar suara laki-laki dan perempuan. "Kita dulu pacaran sampai 7 tahun, aku juga udah pernah hamil sama kamu. Tapi kenapa sih kamu malah nikah sama Ayra itu." Deg. Ayra siapa yang sedang dibicarakan? "Keluargaku kan gak ada yang setuju sama hubungan kita. Waktu pacaran sama Ayra, keluargaku langsung suka. Apalagi tau keluarga Ayra itu kaya raya. Dia juga pinter ngambil hati orang tuaku." Itu suara Revan. Ayra sangat mengenali suara laki-laki yang sudah hidup bersamanya selama 10 tahun itu. "Jadi dia lebih baik dari aku?" "Enggak, Sayang. Kamu lebih cantik dan seksi. Meski sudah lama menikah sama Ayra, begitu kamu datang lagi, duniaku langsung beralih ke kamu lagi. Aku langsung ingat kenangan-kenangan kita dulu." "Kamu kangen sama aku?" "Kangen dong, Sayang. Buktinya sekarang aku datang nemuin kamu. Ayok ah kita kangen-kangenan. Udah gak sabar aku daritadi lihat badan kamu yang makin seksi ini." "Sayang, kita udah 4 bulan balikan. Kamu cepat ceraikan saja Ayra itu. Aku capek nunggu. Capek sembunyi-sembunyi kayak gini." "Iya, Sayang, aku cari alasan dulu buat cerai sama dia. Biar kita bisa sama-sama lagi. Sekarang ayok kita senang-senang dulu." Deg. Ayra memegangi dadanya yang berdegup kencang. Kepalanya serasa dipukul godam besar. Setelahnya dia mendengar suara jeritan manja dari perempuan itu. Dia berjalan menjauh dari pintu karena merasa jijik dengan apa yang didengarnya. Sambil tetap memegangi dadanya, Ayra terus mengucap istighfar, berkali-kali menghirup dan menghembuskan nafas dengan cepat. Paru-parunya butuh oksigen lebih banyak agar otaknya bisa berpikir dengan jernih.Leilani‘Iris, I’m in love with you.’Those words rang loud and clear in my mind as I hurried as far away from there as I could manage with tears pouring down my reddened face. I had heard their whole conversation. And he had said those words. Those words that I was dying to hear him say, those words that meant so much, so much to me… he had finally said them.But to another woman.My heart was physically searing up with pain at this point, and I just could not see the point of life anymore. After all of this, everyone left me all alone and abandoned. He is leaving. With Iris. I would never see him again. The memories were all I had, and they were like scalding hot coals burning everywhere they landed on my mind. It did not matter now that Freya was dead and Brooke was in jail. I had lost everything.They won.I stumbled out a set of glass doors, and out into the open, only to
One week later.Leilani“I am so glad that you are well enough to leave the hospital, now.” Belle smiled at me eagerly, as mom and Ashley packed my stuff into bags so they could take me home, since I just got discharged. My face was permanently set in a flat expression, and I just stared at the wall like I have done for days now, not bothering to say a word in response.Ashley muttered to Belle. “She has not said a word to anyone ever since she saw Adonis in the ICU. I am worried about her mental health.”I could not bear listening to them talk about me like I was not even there, so I got up from the bed and moved out of the ward, randomly walking around hallways and down stairs like a fucking lunatic. I lifted my hand to wipe the tears which now poured out randomly, anytime they liked. The first time I thought I was experiencing heartbreak, it’s nothing compared to what I was feeling now.
LeilaniI shot up from the bed with a gasp, eyes flinging wide open while the heart monitor began to beep drastically. I recognized that I was on a hospital bed, but my soul, my mind and heart were going insane to know what had happened to Adonis. I had collapsed like a pathetic weakling instead of helping Iris get him out of the wreck.“Leila?”I tore off the tubes connected to my hands and flung my legs off the bed, feeling the hospital gown drag down against my skin. I was hurriedly disconnecting all the shit that had been attached to me, while someone kept calling my name. “Leila?! Nurse! She’s awake- Leila!” I got up from the bed, but I was hit with a wave of dizziness so hard that I fell back on the bed, unable to even see clearly. Arms held me, and I tried to resist, muttering hoarsely. “A-Adonis… I need to see…”“She’s still disoriented. Pass me the
AdonisThe hostess was standing in the middle of the race track, a harsh white spotlight bathing down on her as she placed one hand on her hip, her skimpy leather clothes shining under the light. She let out a wicked grin, “READY!”The crowd had simmered down, eagerly watching, hundreds of eager eyes straining to catch every tiny bit if the action. Engines revved. Breaths slowed. Gloved hands gripped harder. Boots inched down on the accelerator. Adrenaline spiked. Heartbeats pounded. She raised her other hand, holding a red flag, slowly bracing her legs in stripper heels apart for more balance. My eyes followed her movements like a hawk, ready to fly the moment she brought that flag down.The race track was some kind of very dangerous road with sharp bends and ugly surprises, and like any illegal race, there was no fucking way to monitor whatever the racers do once they speed out of here.
Leilani“I am so glad you let me in. I have been so worried about you… all these days and we could not even reach you.” Brooke sighed softly, getting up from the couch. “I am not sure if you would like to hear the state of
AdonisSometime later, deep into the night, a series of knocks filtered into my ears from the door. I barely moved from where I sat, legs sprawled and head tipped back against the wall. If it was room service, they would be fucking gone the next moment. But a moment later, they were not fuc
“Yeah, I was expecting some packages.” I replied, already moving away from her towards the pretty silver stairs that led up to our bedroom. “I’ll check them when I’m done taking a shower.”“Alright.” She chirped and turned away. I moved up the
He's still alive, right?What did she do to him?Panic for both Neil and me were consuming me inside out, so hard, that I could not stop the tears from pouring down my reddened cheeks. “Why are you bringing Neil into this?” I sobbed, angry and pained and scared at the same t












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
Ratings
reviewsMore