LOGIN"Strip naked." He commands with an authoritative seductive voice. "Huh! Why?" I asked because his outburst is surprising. "Just..." His voice trailed, as he made his way closer to me. "I want to see you naked." He whispers. I swallowed my saliva hard, as I made my way further inside the suite. Summoning up the courage, I unzip my red gown, while allowing the gown to freely flow down until it touches the floor. He smirks devilishly at me "Touch yourself." He commands. **** Cornelia Jamarreon is a young lady who is diagnosed with stage three cancer. All she ever wanted was to get married before her time on Earth came to an end. Her boyfriend dumped her on her birthday, leaving her so devastated that she ended up having a one-night stand with a stranger she knew nothing about. She awoke the next morning to discover that he had stolen her most valuable jewelry. 'Did I give my virginity to a thief?' She asked herself. "What would happen when Cornelia finally finds her Mister handsome? Will his family members accept her and her son?" "Will Cornelia live happily ever after, or will her cancer take her life?" Find out.....
View MoreEntah sudah yang ke berapa kalinya Mila menghela nafas kesal dan kecewanya. Ia marah juga sekaligus sedih, kapan kesialan akan pergi jauh dari hidupnya?
Rasanya selama ia hidup tak pernah sekalipun kebahagiaan yang hakiki bersamanya. Terlahir dari garis keturunan miskin sebenarnya tak pernah Mila keluhkan, ia selalu bersyukur dan bersyukur dengan kehidupannya.
Tapi tiba di detik ini, Mila merasa sungguh tak sanggup lagi. Orang miskin bukan berarti terus bisa di injak-injak, dihina-hina. Apalagi di tuduh mengambil uang ataupun perhiasan milik orang lain.
Hari ini Mila baru saja dipecat dari pekerjaannya, ia bekerja menjadi pembantu di sebuah rumah orang kaya. Alasan ia dipecat karena dituduh telah mencuri uang dan perhiasan sang majikan.
Mila yang tak pernah merasa mengambil uang dan perhiasan yang di tuduhkan itu tentu saja marah dan berani bersumpah jika ia tidak mengambil barang yang di tuduhkan tersebut.
Tetapi malah sebaliknya, entah bagaimana bisa uang dan perhiasan itu ada di dalam tas selempang lusuh yang memang selalu Mila bawa kemana-mana. Mila menganga tidak percaya, percuma juga baginya untuk bersikeras membela diri toh tidak akan ada yang percaya.
Bosnya murka dan marah besar pada Mila, satu tamparan pun mendarat ke pipi mulus Mila disusul dengan berbagai macam cercaan dan juga hinaan. Mila dipecat dan di usir dari rumah itu dengan cara yang sangat kasar dan tidak terhormat.
Hormat?
Bermimpi saja! Tidak diejek dan dihina saja Mila sudah sangat bersyukur.
"Hiks...."
Cairan bening itu kembali lolos membasahi wajah Mila, gadis itu menengadahkan kepalanya melihat langit yang mengelap.
Sudah setengah jam ia duduk sendirian di trotoar meratapi nasib hidupnya yang begitu sangat menyedihkan.
Sekarang, apa yang harus ia katakan pada sang bibi tercintanya? Pastilah bibinya itu merasa sangat sedih.
Mila tersenyum getir, niat hati datang ke kota ini untuk tinggal bersama dengan sang bibi setelah kepergian kedua orangtuanya yang meninggal dunia. Bibi Marsiah mengajaknya untuk tinggal bersama memulai hidup yang baru. Sejak saat itu Mila bertekad untuk membahagiakan bibinya.
Tapi bukannya kebahagiaan yang di dapat, malah penderitaan yang tak berujung.
****
Mila mengetuk pintu sebuah rumah sederhana yang ia tinggali bersama sang bibi tercinta. Tak lama pintu terbuka dan menampilkan sosok bi Marsiah yang tersenyum hangat menyambut kepulangan ponakannya.
Mila melangkah masuk dan langsung menghambur memeluk tubuh bibinya. "Kangen, Bibi." ucap Mila dengan suara manjanya.
"Mosok kangen? Tiap hari juga ketemu."
"Tapi tetep kangen, setiap detik malah."
Cup.
Mila mengecup lama pipi bi Marsiah, lalu setelah ia berpamitan untuk masuk ke dalam kamar. Setelah di dalam kamarnya sendiri Mila kembali menangis, menumpahkan segala perasaan sesak di dadanya.
Tok.... Tok....
Ketukan di pintu kamarnya terdengar, Mila kaget dan segera menghapus air matanya kemudian membuka pintu kamar.
"Bibi?" kagetnya.
Bi Marsiah menelisik Mila lekat, "kamu tidak apa-apa kan?" tanyanya terlihat khawatir.
Mila menggeleng sembari tersenyum lebar, "a-aku baik-baik saja, Bi. Kenapa?"
"Ah, tidak apa-apa. Hanya saja Bibi kok ngerasa gelisah sedari tadi pagi."
Mila mengigit bibirnya, "paling cuma perasaan Bibi aja itu." kilahnya.
"Kamu beneran gak apa-apa kan?" Mila kembali menggeleng.
"Ya sudah kalau gitu."
Mila hendak menutup pintu kamarnya namun terhenti karena melihat bibinya yang kembali membalikkan badan.
"Kamu sudah makan malam belum?"
"Belum, Bi."
"Kalau gitu ayo kita makan malam bersama, Bibi juga belum makan malam."
"Baik, Bi. Tapi, aku mandi dulu ya."
Mila menutup pintu kamarnya setelah bi Marsiah mengangguk dan pergi. Bukannya segera mandi Mila malah menyandarkan tubuhnya di balik daun pintu yang tertutup.
Ia mengusap kasar wajahnya dan menarik cukup kuat rambut panjang nan Hitam miliknya ke atas. Hal itu selalu ia lakukan setiap kali merasa frustrasi.
Sepuluh menit kemudian Mila sudah selesai mandi kilatnya di sumur yang terletak di belakang rumah. Memakai pakaiannya dengan ceper lalu setelah keluar dari kamar menuju dapur.
Disana ia melihat sang bibi yang duduk lesehan dibawah yang beralaskan tikar usang. Mila juga melihat ada nasi goreng ala kadarnya yang sering menjadi menu andalan mereka makan jika keadaan kritis.
Dengan hidup yang serba pas-pasan mereka lebih menghemat. Itu ajaran sang bibi yang memang sudah terbiasa tak boros, bahkan kelewat irit.
Kadang Mila kesal sendiri melihat bibinya yang sangat irit. Wanita paruh baya itu lebih suka menabung, katanya untuk jaga-jaga bila ada keperluan. Misalnya saja ia ataupun Mila sakit maka sudah ada biaya.
Hmm, kalau untuk yang satu itu Mila setuju dan menjadi irit juga.
"Enak?" tanya bibinya.
"Ya, di enakin ajalah Bi."
Bibirnya tersenyum geli mendengar jawaban Mila yang tampak ogah-ogahan menjawabnya.
"Kapan-kapan kita makan enak ya kalau Bibi udah gajian."
Mila mengangguk, "makan enak lagi kalau Mila juga udah gajian."
"Jangan," bi Marsiah menggeleng. "Uang gaji kamu, kamu tabung saja. Biar yang lain menjadi urusan Bibi."
"Tapi Bi-"
"Oke?"
"Hmm, baiklah." Mila menghela nafas sabar. Percuma juga menjawab ucapan bibinya.
Selesai makan Mila membantu bi Marsiah yang tengah membereskan peralatan makan yang kotor. Sejak tadi ia sudah memikirkannya, antara ingin mengatakan yang sebenarnya pada sang bibi atau tidak.
Mila mengigit bibirnya, kebiasaan setiap kali ia merasa bimbang. Iya, tidak? Iya atau tidak?
"Mila, ada apa?" tanya bi Marsiah mengagetkannya.
"Apa ada yang mengganggu pikiran kamu."
"Uhm, Bibi, aku ingin mengatakan sesuatu."
"Apa itu?" tanya bi Marsiah terlihat penasaran. "Ayo, katakanlah."
"Bibi, sebenarnya aku...." Mila menghentikan ucapannya, menelan salivanya sebentar sebelum kembali melanjutkan. "Aku dipecat."
Bi Marsiah terlihat sangat kaget, "a-apa? Dipecat?"
"Bibi, maafkan aku." isak Mila memeluk tubuh bibinya.
"Aku dipecat karena dituduh mencuri uang dan perhiasan majikanku, Bi." adu Mila yang sudah tak tahan, "padahal jelas-jelas aku tidak melakukannya Bi."
"Iya, tenanglah." bi Marsiah mencoba menenangkan Mila yang semakin terisak pilu.
"Bibi percaya padaku, kan?" Mila melepaskan pelukannya dan mendongak menatap bi Marsiah.
"Tentu saja, mana mungkin keponakan Bibi yang cantik ini melakukan hal serendah itu." bi Marsiah menangkup wajah Mila dengan kedua tangannya.
"Biarpun kita miskin, tetapi kita tidak serendah itu untuk melakukan hal yang tidak baik. Benarkan?"
Mila mengangguk, "tapi kenapa uang dan perhiasan itu ada di dalam tasku ya, Bi?"
"Maksudnya? Kamu dijebak gitu?"
"Lebih tepatnya di fitnah, tapi siapa yang udah tega ngelakuin itu ke aku ya Bi?"
Bi Marsiah menggeleng, "sudahlah. Tidak usah memikirkannya lagi, yang terpenting kamu sudah tidak ada urusan dengan mereka lagi."
"Tapi tetap aja, Bi. Aku gak terima."
"Terus kamu mau apa? Mau kesana dan marah-marah gitu?"
"Ya... enggak sih," lirih Mila cemberut.
Bi Marsiah merasa iba melihatnya, ia peluk Mila dan mengelus punggung keponakannya. "Yang sabar aja, ndok. Tuhan maha adil, dia tidak tidur. Dan yakinlah jika suatu hari nanti kebenaran akan terungkap, bahwa sebenarnya bukan kamu yang melakukan apa yang mereka tuduhkan."
Mila mengangguk setuju, dan ia yakin jika dibalik peristiwa pasti ada hikmahnya.
###
Five years later."Mister Handsome... please be careful!" I told Arthur, who was baking a cake for his one and only pumpkin, none other than me. "Are you scared that I would fall and break my leg?" He inquired, and I couldn't help but nod. I'm currently worried that Arthur will trip and shatter his legs. I'm just too worried about him to think about myself. "You should be happy that I'm caring for you, but I still don't mind if you fall, because I would end up laughing at you." I smiled and shrugged as I stated my heart.I merely stated the truth, and the truth will always be the truth. Arthur was currently atop a small stool, attempting to reach the cake knife on the higher side of the kitchen cabinet. He claims to have a unique knife that he keeps hidden in the kitchen cupboard and that he want to use it right now. He smiled as he stepped down from the stool and handed me the knife. 'Gush! I'm relieved that he successfully stepped down from the kitchen stool without injuring
Matured content involved!!?Mister handsome seized my hand and pinned me against the wall in one rapid motion. I smirked with delight because I was relieved to see Arthur assuming command. "I hope you don't mind if I look after the things that God gave to you?" I was questioned by Mister handsome. I quickly acted like an compelled individual, and I began to nod my head in excitement. "I... I... I don't mind!" I muttered in hushed tones. I'm extremely excited right now and don't know what to do to make Arthur snappy.He could clearly see my begging gaze, and as he leaned in closer, he buried a kiss on my neck, sucking my flesh as if it were honey. My hands were pinned to the wall, so all I could do was arched my brows and moan loudly. The sensation was euphoric for me, and I was well aware that Mister handsome had more in store for me. Arthur brought out his tongue and allowed his tongue to explore my body as I bit my bottom lips. The sensation was divine.Mister handsome grinn
There is mature material involved.The sound of birds singing a joyous tune could be heard across the window, and the sun's reflection sneaked through. I brushed my fingertips across the duvet, relishing the aroma of a new day. I slowly opened my closed eyelashes, and there was a handsome young man sleeping just next to me. Arthur is a handsome young man, and just glancing at him made him appear so sexy. But, then...I quickly grabbed the blanket that was keeping me warm in order to stay alert. I recall showering in the bathtub last night, but now it's morning and I'm also on the bed. I sighed with relief as I examined my body, knowing full well that I wasn't naked and that Mister Handsome hadn't done anything to me. 'But how did I get to the bed?'I blinked my lashes a few times before returning my attention to Mister handsome. With my hands, I gently caressed Arthur's face."You really are the most handsome man in the entire universe." I complimented Arthur because I couldn't
Me and Mister Handsome each had a little reception party, and Arthur was quite amorous towards me during the event.Currently! After the reception, Arthur and I went back to our hotel rooms. Alexander followed Arthur Mom as they made their way to Arthur's personal hotel room because Arthur Mom was intended to offer both Mister handsome and I some privacy. I was fatigued, so when the door to the hotel room was opened for me, I went to find the bedroom so I could sleep warmly, but I found something surprising. As soon as I stepped into the bedroom, my mouth hung open slightly. When I saw a bed full of beautiful roses in front of me, I couldn't believe my eyes. "Do you think you're going to like it?" Arthur, who was standing right behind me, inquired. I bit my lower lip and nodded quickly. "I absolutely love it, Arthur." I exclaimed. I continued walking inside the room, straight to the walk-in closet. "Can you help me with my zip code? I need to get rid of this." I spoke to Arthur.
We are terrified of the unknown when we die, just as we are when we are born. But fear is something that comes from within ourselves and has nothing to do with reality. Dying is similar to birth in that it is simply a shift.**The casket was elegantly designed and white in hue. Arthur had ordered tha
"You have the power to break my soul. Remove my life from my hands. Defeat me. Hurt me. Murder me. But for God's sake... death, please... don't take... Please don't take Cornelia away from me!" Arthur screamed while sobbing. He's still struggling to accept Cornelia's death. She couldn't be dead, can
The only person who ceases to existright now is none other than Cornelia. I opened the bottle of milk with the bottle opener and drank half of the milk without blinking. I could feel Mister's handsome gaze on me but I had been avoiding glancing at him all this while.I don't want to glance at him bec
"Hey, pretty lady." A male voice said, causing me to stare at the person who owns the voice. It's Christmas night, and the only thing that does happen during Christmas night around this area is for young single souls to match themselves up with any other single soul they find across the street. Well












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews