Mag-log inLucas Dravenhart is my Alpha mate. However, his first love is my stepsister, Isabella Hawthorn. It's not until my birthday that I finally see it with my own eyes—Lucas, who hasn't kissed me once in seven years, passionately embraces Isabella, who has just returned. Only then do I realize his heart hasn't changed all this time. When I get home, I ask our son who he would choose if I broke the mate bond. And he says, "I wish you would disappear, Mommy. Then Isabella can be my mom!" Turns out it's not just my mate. My whole life has been taken over by my stepsister. Then again, I don't want anything that can be taken so easily. Surprisingly, once I pack up and leave the pack for good, Lucas and our son both start to panic.
view moreRaut wajah polos tanpa polesan make-up itu terlihat cemberut saat mendengar ucapan pria di hadapannya. Lagi-lagi Max akan pulang lebih awal dan meninggalkannya menata buku sendiri. Bukan itu yang membuat Betty kesal, dia hanya takut pulang sendiri, itu saja.
"Ayo lah, jangan memasang wajah seperti itu. Aku berjanji, setelah anakku lahir aku tidak akan merepotkanmu lagi."
"Bukan itu, Max. Kau tahu aku takut pulang malam," sahut Betty mulai mengurutkan buku yang akan dia tata.
"Sudah ku bilang, naiklah taksi."
Betty menatap Max aneh, "Aku hanya membutuhkan waktu 10 menit dengan berjalan kaki. Kenapa harus memakai taksi?”
"Kalau begitu berhenti mengeluh. Aku sudah memberikan saran yang baik." Max mengedikkan bahunya acuh dan mulai meraih tasnya. Jam sudah menunjukkan pukul 5 lebih dan sebentar lagi perpustakaan akan tutup.
"Aku pulang, Beth."
Betty mengangguk pasrah. "Ya, berikan salamku pada Wanda.”
Sudah dua jam Betty berkutat dengan kegiatannya menata buku. Entah kenapa banyak sekali buku yang dikembalikan hari ini, sehingga dia harus menatanya sebelum perpustakaan kembali dibuka besok.
Entah berapa lama Betty berkutat dengan buku-bukunya. Waktu berputar begitu cepat sampai jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. Tidak terlalu larut untuk Betty, setidaknya dia masih menemukan satu atau dua manusia di jalan nanti.
Betty mulai meninggalkan perpustakaan dengan mantel yang terpasang erat di tubuhnya. Musim dingin akan segera datang dan dia bimbang akan itu. Betty sangat menyukai musim dingin, tapi tidak dengan tubuhnya. Entah kenapa tubuhnya begitu sensitif dengan hawa dingin yang dapat membuatnya flu seketika.
Betty memilih untuk melewati jalan pintas. Dia memilih jalan ini untuk mempersingkat waktu. Keadaan jalan yang gelap sudah menjadi hal yang baisa untuk Betty. Namun entah kenapa kali ini berbeda. Langkahnya terhenti saat mendengar suara rintihan seseorang yang membuat bulu kuduknya berdiri. Mata indah itu menatap ke segala arah dengan penasaran, mencoba mencari tahu asal suara mengerikan itu.
Betty terus berjalan sampai akhirnya suara rintihan itu semakin jelas terdengar. Semakin penasaran, Betty tidak ragu lagi untuk mencari tahu. Matanya membulat begitu melihat ada jejak darah di depannya.
"Aku mohon, Tuhan. Jangan korban pembunuhan lagi," gumam Betty mengikuti jejak darah itu.
Langkah Betty terhenti saat melihat seorang pria tengah terbaring lemah di balik tempat sampah. Matanya mengedar ke segala arah untuk mencari bantuan. Pria itu masih hidup! Betty sangat yakin, karena tangan pria itu melambai padanya seolah meminta bantuan.
"Astaga! Apa yang terjadi? Kita harus ke rumah sakit sekarang!" Betty mendekat dan menatap ngeri pada luka menganga di perut pria itu.
"Ja—ngan." Pria itu meraih tangan Betty dan meletakkan sebuah kotak kecil di tangannya
"Apa ini?" tanya Betty bingung.
"Tol—ong berikan benda ini pada Al."
Betty terdiam dan menatap kotak itu penasaran, "Sebaiknya kita ke rumah sakit sekarang."
"Tidak! Biarkan aku mati di sini. Sekarang kau pergi dan berikan benda itu pada Al."
"Aku tidak mengerti!" Betty berteriak histeris. Tentu saja dia bingung karena pria di hadapannya memilih untuk mati malam ini.
"Zoo bar & club. Al ada di sana, cepat pergi atau kau akan berakhir mengenaskan sepertiku."
Takut, itu yang Betty rasakan. Matanya sudah memerah menahan tangis karena bingung harus melakukan apa. Dia hanya ingin pulang sekarang. Gadis itu tidak menyangka jika akan bertemu dengan pria sekarat malam ini.
"Ak—ku mohon, pergi sekarang."
"Bagaimana denganmu? Kau akan mati!" teriak Betty menangis.
Tanpa disangka pria itu tersenyum. "Ini sudah jalan yang aku pilih."
"Aku tidak bisa meninggalkanmu seperti ini.” Betty masih ragu untuk pergi.
"Sial! Bisakah kau menurut?! Aku tidak punya banyak waktu. Kau hanya perlu pergi menemui Al dan berikan benda itu. Ingat satu hal, namaku Gordon." Gordon berbicara dengan lemah. Rasa sakit di tubuhnya benar-benar tidak bisa ditolong. Hanya satu misi lagi dan semua akan berakhir. Dia belum bisa pergi dengan tenang jika kotak itu belum berada di tangan yang tepat.
"Tidak! Buka matamu! Jangan mati, setidaknya jangan mati sekarang! Astaga, bagaimana ini?!" Betty berteriak frustrasi. Tangannya bergetar berusaha untuk membangunkan Gordon yang mulai terpejam. Namun, sepertinya sia-sia karena pria itu tetap menutup matanya.
Kaki Betty terasa lemas melihat pemandangan itu. Tangannya dengan gemetar mencengkeram erat kotak pemberian Gordon. Jadi apa yang harus dia lakukan sekarang? Menghubungi polisi atau bagaimana?
Akhirnya Betty memutuskan untuk kembali ke jalan utama dengan langkah berat. Tubuhnya masih lemas melihat bagaimana Gordon mati di hadapannya. Ini pertama kalinya Betty melihat betapa kejamnya dunia malam.
Betty tidak akan memanggil polisi. Dia tidak mau terlibat dengan masalah Gordon. Lebih baik dia menyerahkan semua ini ke pada pria yang bernama Al. Betty yakin jika pria itu akan melakukan sesuatu nantinya.
***
Suasana bar yang ramai membuat Aldric mendengus tidak suka. Dia memang tidak suka keramaian tapi hanya Zoo Bar & Club yang menjadi tempat teraman untuknya saat ini, setidaknya untuk pria sepertinya.
Asap rokok kembali keluar dari bibir merah itu. Sudah 3 batang rokok yang Aldric habiskan dan Gordon belum juga datang. Apa pria itu lupa jalan kembali? Seharusnya Mr. X memberikan misi Gordon padanya. Target Gordon kali ini bukanlah main-main. Banyak tameng berlapis yang melindungi target dan hanya otak licik Aldric yang dapat menembusnya.
Tepukan pada bahunya membuat Aldric menoleh. “Ada seseorang yang mencarimu."
Alis Aldric bertaut, "Siapa?"
"Aku tidak tahu, dia bertanya pada semua orang di mana pria yang bernama Al. Tentu saja tidak ada yang tahu!"
Aldric terdiam. Tidak ada yang mengetahui namanya selama ini. Hanya orang-orang yang berkecimpung di dunia gelap yang mengetahui namanya. Jadi siapa orang yang mencarinya?
"Di mana dia?"
"Di sana," tunjuk Roy pada gadis yang tengah berdiri dengan gelisah, "Apa kau menghamilinya?" Lanjut Roy dengan bodoh.
Aldric memilih untuk mengabaikan Roy dan berjalan ke arah gadis yang terlihat mencolok dengan pakaian tertutupnya. Dari kejauhan, Aldric dapat melihat raut wajah ketakutan yang tidak dapat disembunyikan.
"Kau mencariku?" tanya Aldric dengan pelan, berusaha untuk tidak menarik perhatian banyak orang.
"Kau pria yang bernama Al?" tanya Betty bodoh. Matanya menatap pria di hadapannya dengan teliti. Kaos putih dengan balutan jaket kulit serta celana jeans membuat tampilan Aldric terlihat normal. Namun Betty meyakinkan diri jika pria di hadapannya sama bahayanya seperti Gordon.
"Jika kau pria yang bernama Al, ini untukmu." Betty meraih tangan Aldric dan meletakkan kotak pemberian Gordon dengan cepat.
Aldric terdiam dengan mata yang tertuju pada tangan Betty. Tangan kecil itu terasa hangat menggenggamnya.
"Apa ini?"
Pertanyaan bodoh! Tentu saja Aldric tahu apa isi kotak itu. Bukti fisik yang menunjukkan jika Gordon sudah melakukan pekerjaannya dengan baik. Entah mata, lidah, gigi, atau bahkan jantung dari target.
"Aku tidak tahu, Gordon memintaku untuk memberikannya padamu."
"Di mana dia?" tanya Aldric dengan dingin. Wajahnya begitu kaku saat sadar jika Gordon sedang tidak baik-baik saja sekarang. Jika keadaan Gordon baik, maka pria itu sendiri yang akan menemuinya.
"Dia—" Betty menelan ludahnya gugup, "Dia sudah meninggal, di sekitar Curzon st."
Aldric memejamkan matanya sebentar dan mengangguk. Benar dugaannya, Gordon sedang tidak baik-baik saja. Mungkin pria itu kewalahan dengan anak buah Richard yang terus mengejarnya karena berhasil membunuh tuannya.
"Kau harus mengambil jasadnya," ucap Betty dengan suara serak menahan tangis. Dia kembali teringat dengan Gordon yang mati secara mengenaskan.
"Tidak perlu," kata Aldric singkat dan berbalik meninggalkan Betty.
"Hei! Kau tidak bisa pergi begitu saja! Dia temanmu bukan?" Betty mengejar Aldric dan menarik lengannya. Lagi-lagi sengatan itu kembali Aldric rasakan.
"Jika kukatakan dia bukan temanku, apa kau akan menyerah?"
Betty menggaruk lehernya gugup. "Setidaknya kau mengenalnya. Demi Tuhan! Pria itu sudah mati dan sendirian di gang sempit itu!"
"Pelankan suaramu!" Mata Aldric menajam.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa dia bisa mati? Dan kenapa kau bisa sesantai ini?!" Betty berbicara dengan frustrasi. Dia tidak pernah berurusan dengan hal seperti ini. Bahkan untuk masuk ke dalam bar pun ini pertama kali untuknya. Sebut saja Betty kutu buku, karena itu benar adanya.
Aldric berjalan mendekat membuat Betty mundur dengan gugup, "Aku tekankan padamu. Semua ini bukan urusanmu."
"Jika kau tidak mau mengurus mayat Gordon, aku akan memanggil polisi." Ancam Betty yang justru membuat Aldric tersenyum manis. Senyum yang merupakan pertanda buruk.
"Menghubungi polisi, eh? Coba saja, mari kita lihat seberapa beraninya dirimu."
Betty memejamkan matanya menahan emosi. Pria di hadapannya benar-benar misterius dan menyebalkan. Jika memang itu maunya, Betty akan lakukan. Dia akan menghubungi polisi untuk mengatasi mayat Gordon. Biar bagaimanapun juga dia adalah manusia yang mempunyai hati. Dia tidak akan tega melihat mayat Gordon membusuk begitu saja.
"Baik jika itu yang kau inginkan. Tahu akan seperti ini lebih baik aku ke kantor polisi dari pada menemuimu." Betty berbalik untuk pergi. Dia sudah tidak nyaman berada di tempat ini. Bagaimana bisa Rubby bertahan bekerja di sini?
Sebuah cengkeraman erat berhasil membuat Betty meringis. Gadis itu berbalik dan menatap mata Aldric yang begitu menakutkan.
"Hati-hati dengan apa yang kau lakukan."
"Aku hanya melakukan apa yang harus aku lakukan. Jika kau tidak ma—"
"Sial!" Aldric mengumpat membuat ucapan Betty terhenti. Dia meraih ponselnya dan menghubungi seseorang, "Urus mayat Gordon, hilangkan jejak sampai bersih."
Aldric memutuskan panggilannya secara sepihak. "Kau puas, Nona?" tanyanya pada Betty.
"Ya aku puas, terima kasih,” ucap Betty tersenyum manis.
Lagi-lagi tubuh Aldric terpaku. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa sentuhan dan senyum gadis itu begitu berefek padanya?
"Aku harap kau menutup mulutmu tentang semua ini. Jika tidak, jangan menyesal jika kita akan bertemu lagi." Aldric tersenyum manis dan membuat tubuh Betty merinding. Pria itu mengancamnya.
"Pergilah," usir Aldric dan berjalan menjauh. Namun dia kembali berbalik dan tersenyum manis, "Lain kali jangan sentuh orang asing seperti itu, kau tidak tahu apa yang ada di pikiran mereka."
Betty terdiam dan menatap tangannya kesal. Benar, dia begitu lancang menyentuh Aldric, tapi dia tidak bisa mencegahnya. Mungkin pria itu tidak suka jika ada orang asing yang menyentuhnya.
Namun pikiran Betty salah besar, justru sentuhan itu menimbulkan efek berbahaya untuk tubuh Aldric.
***
TBC
Ethan's sudden appearance threw me into turmoil. It seemed the Moon Goddess had given me another challenge.Even though I really liked Theo and didn't dislike Ethan, I wasn't remotely ready to enter a new relationship.I still held on to old habits, such as waking up in the middle of the night to check if Finn had called me, only to remember that I had left my family behind. I didn't need to worry about that anymore.In moments like these, I'd recall the seven years of misguided devotion and foolish decisions.I wasn't sure I even had the ability to love someone again.Thankfully, Ethan fully respected my feelings, even though he was now the most noble wolf in the entire Pack Alliance.After that lighthearted remark he made that day, he never brought anything up again.He just started visiting Theo at school often.There was also someone else who always showed up at the school gate—Lucas.Evidently, he didn't care about the two-month evaluation period. Or maybe, at this point,
"What the fuck are you doing here?" Lucas snarled, looking even more confused than I was."Lucas, we can still go back to how things were, right? I'm already pregnant with your pup. I'll definitely give birth to an outstanding heir," Isabella said.Isabella looked completely unhinged. The clothes she wore were tattered, and the hair she used to obsess over hadn't been brushed in a long time. It was just a wild, matted mess.It was the first time I'd seen her in such a pitiful state.From the day she stepped into our home, my father gave her the best of everything—a spot at the nobles' academy, expensive beauty treatments, designer clothes, and bags.Every time the two of us went out, people instinctively assumed I was the lowly Omega."I've said it before. I have nothing to do with you or your pup," Lucas said coldly.Just moments ago, Lucas had been begging me. Now, he seemed to have regained his Alpha composure.With a cold, emotionless face, he signaled to the people behind
I never expected that Lucas's way of making me regret would be disrupting my professor appointment ceremony.This wasn't something a decent Alpha should do.A few days ago, I was promoted to professor of Combat Theory due to my outstanding performance.At the ceremony, Lucas suddenly showed up with Finn in his arms."Claire's name hasn't been removed from the Moonhowl pack registry. I'm sorry, but she can't hold a position in the Stormcrest pack," he said confidently, holding some documents.Before I left, I specifically asked the school's administration about this—there was no rule barring members from other packs from working here."Lucas, you're absolutely ridiculous right now," I said coldly.The man standing in front of me looked worn out, as though he was holding himself together with nothing but fury.He held no composure that an Alpha should have.It was evident he decided to use this pathetic excuse to force me to go back."I'm your Alpha mate. I have the right to de
A month passed, and Lucas and Finn still hadn't gotten used to life without me.Lucas had grown used to the coffee I made. Without that familiar taste, he felt constantly irritated.Finn wasn't doing much better—his schoolwork and training were a complete mess, and he couldn't get anything right."I got third place, Dad." Finn sighed as he looked at the rankings from the combat competition."If Mom were here, I definitely would've gotten first."Lucas didn't have the patience to comfort him. The pack members had never stopped searching, but they still couldn't find any trace of me.After all, the Stormcrest pack was the most powerful pack in the Alliance. They had the means to protect the privacy of every teacher at their school.So, the two of them had no choice but to head to the award ceremony for the combat competition, held at the Stormcrest pack's largest arena.The ceremony ended in silence, and when Finn stood up, he suddenly caught a familiar scent.After turning his
In a daze, I saw Finn and Lucas trying to come over."Ah! I can't stand the sight of so much blood!" Isabella shouted before rolling her eyes back and fainting.Lucas looked at me for a few seconds, but still turned to catch Isabella in his arms.Finn also turned to look at her, his face full of
The email confirming my résumé had been accepted arrived quickly, and the hiring manager invited me for an interview at a restaurant in the Moonhowl pack.My fingers lingered on the restaurant's name for a moment. It was the place Lucas and I used to frequent.Back when we had just become mates, i
The next day, I left the villa with the suitcase I had brought with me.In the airport lounge, I turned on my phone and saw a photo Isabella had posted from the amusement park.In the picture, Lucas had his arm around her shoulders, and Finn was holding her hand.The caption read, "There will alw
When I walked into the office of Lucas Dravenhart, my Alpha mate, he was passionately kissing my stepsister, Isabella Hawthorn.They hadn't seen each other in seven years, and they were completely lost in the moment.Lucas had his back to the door, and Isabella was sitting on his lap. As expected,






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
Rebyu