Owned By The King Of Blackwood (De Luca Series)

Owned By The King Of Blackwood (De Luca Series)

last updateLast Updated : 2026-05-06
By:  Krystal Ink Ongoing
Language: English
goodnovel16goodnovel
10
1 rating. 1 review
55Chapters
1.1Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Welcome to Blackwood University, where the tuition costs a fortune, but the secrets cost your life. I thought a scholarship to the country’s most elite university was my ticket out of the shadows. I was wrong. I didn’t just walk into a school; I walked into a lion’s den. And sitting on the throne is Niccolò De Luca. Nico is beautiful, brilliant, and brutal. He is the heir to the most powerful crime syndicate on the East Coast, and he runs this campus like his personal kingdom. He breaks hearts, he breaks bones, and now, he’s decided to break me. Not because I’m the scholarship case. But because he knows who I really am. I am the daughter of the man who stole millions from the De Luca family and vanished. Nico intends to use me to lure my father out of hiding. His plan is simple: torment me until I break, make my life a living hell, and keep me under his thumb until the debt is paid in blood. But the line between hate and obsession is razor-thin. When his torment turns into possessiveness, and his taunts turn into touches I can’t refuse, the game changes. I was supposed to be his pawn, but I’m becoming his weakness. Now, with a rival family closing in on campus and my father’s enemies circling, Nico has to make a choice: Hand me over to settle the score... or burn the world down to keep me. "You think you can hide from me in the library, little mouse?" Nico whispered, his breath hot against the shell of my ear as he pinned me against the stacks. "You are living on borrowed time. And unfortunately for you, I’m the one collecting the interest."

View More

Chapter 1

Chapter 1

“Cepat sedikit! Dasar lelet!”

Bentakan Mas Bimo, suamiku, lagi-lagi menggelegar memenuhi rumah kecil kami. Padahal aku lamban karena baru saja selesai membantunya menyiapkan diri untuk acara reuni SMA-nya.

“Aku udah siap, Mas,” ucapku pelan setelah rapi, menarik napas panjang untuk menahan hati yang bergetar sejak tadi dihantam omelan bertubi-tubi.

Bimo menoleh tajam, matanya meneliti penampilanku dari atas ke bawah. Ia mendengus kasar. “Astaga, Vania! Kenapa pakai baju itu, sih? Orang-orang pasti ketawa lihat kamu kampungan kayak gitu! Bikin malu aja!”

Aku menatap diriku, lalu kembali menatapnya. “Ini bajuku yang paling bagus, Mas. Aku ‘kan nggak pernah beli baju baru ….”

Sekejap wajah Mas Bimo memerah. “Mulai lagi kamu nyindir-nyindir! Udah tahu aku lagi banyak masalah, masih aja kamu minta macam-macam!” bentaknya lagi.

Sindiran? Minta macam-macam? Aku hanya menyatakan apa yang terjadi.

Akan tetapi, takut pertengkaran ini melebar, aku pun buru-buru diam, lalu mengikuti Bimo keluar. Motor bututnya sudah menunggu di halaman.

“Cepat naik! Jangan bikin kita telat. Kalau telat gara-gara kamu, aku yang malu!”

Aku menurut. Duduk di jok belakang, memegang ujung jaketnya erat.

Sepanjang jalan menuju rumah temannya, aku hanya bisa menunduk. Rasa minder makin menggerogoti saat mobil-mobil mewah melintas menuju lokasi reuni.

Rumah besar itu akhirnya terlihat. Lampu-lampu terang membuat bangunannya tampak seperti istana. Musik riang terdengar sampai keluar pagar. Mobil-mobil mengilap berderet rapi, kontras dengan motor reyot kami yang berisik.

Hatiku ciut. Ingin rasanya kabur pulang, tapi tentu saja mustahil.

“Turun!” perintah Bimo dingin.

Aku ikut langkahnya masuk ke dalam.

Di dalam, suasana ramai. Orang-orang bersalaman, tertawa, berpelukan melepas rindu.

“Selamat datang.”

Suara bariton itu terdengar jelas di antara riuh obrolan. Seorang pria melangkah maju dengan tenang, posturnya tegap dalam balutan jas abu-abu yang sederhana tapi berkelas. Cara berdirinya saja sudah cukup untuk menarik perhatian, mantap, percaya diri, namun tidak berlebihan.

Dia adalah Galang Pramono. Tuan rumah malam ini, sekaligus kenalan lama yang sering diceritakan Mas Bimo dengan nada iri. Entah dari latar belakangnya yang luar biasa, bisnisnya yang merajalela, juga kemampuan finansialnya yang seakan tiada tara.

Di sampingnya berdiri seorang wanita bergaun merah menyala, Ratna Ayusari, istrinya yang cantik dan sama rupawannya. Dari ujung rambut hingga ujung kaki, semua yang wanita itu kenakan tampak mahal.

“Bimo! Lama nggak ketemu!” Galang menyambut dengan ramah, menjabat tangan Bimo

Bimo ikut tertawa. “Iya, aku sibuk banget belakangan ini, Lang. Baru sempat datang sekarang.”

Kemudian, Galang beralih padaku, matanya menatapku dalam sebelum tersenyum sopan.

“Vania,” panggilnya, menganggukkan kepala sebagai sapaan.

Aku yang berdiri di samping membalas anggukan itu pelan, berusaha tersenyum.

Di saat itu, Ratna mendekat, senyum sinis mengembang di bibirnya. Ia mencondongkan badan, berbisik cukup keras hingga terdengar orang lain.

“Kamu nggak salah kostum kan, Vania? Ini acara reuni, loh. Bukan mau ke warung.”

Aku kaget, lalu cepat-cepat menunduk, menahan rasa malu yang menohok.

Bimo, alih-alih membelaku, justru terkekeh. “Hahaha, iya, Rat. Istriku ini emang nggak ngerti cara dandan. Sekali-kali kamu ajarin dong, biar bisa cantik dan modis juga kayak kamu!”

Mendengar suamiku sendiri menghinaku selagi memuji wanita lain, tawa beberapa orang di sekitar meledak. Mereka menatapku seolah sedang melihat sesuatu yang aneh. Aku pun menggigit bibir, berusaha menahan agar air mata tidak jatuh.

Sepanjang acara, Bimo tenggelam dalam euforia bersama teman-temannya. Ia terlihat bangga sekali bisa berada di tengah-tengah orang sukses, seolah-olah dia juga sudah sukses, meski aku tahu kenyataannya tidak seperti itu.

Sedangkan aku? Aku duduk di pojok sendirian, memegang gelas jus yang isinya bahkan tidak kusentuh. Aku hanya ingin cepat-cepat pulang.

“Eh, Van! Daripada duduk bengong sendirian di situ, mending kamu bantu-bantu sana di dapur,” suara Ratna tiba-tiba terdengar lagi. Kali ini lebih keras, membuat beberapa tamu menoleh.

Aku tersentak, tapi buru-buru mengangguk.

“Iya, Mbak.”

Aku melangkah ke dapur, mencoba menutupi rasa maluku. Lebih baik aku menghilang dari keramaian. Lagi pula aku tidak bisa membantah Ratna. Dia dan suaminya berkali-kali menolong ekonomi keluarga kami.

Di dapur, bersama dua orang pelayan, aku membantu menata piring, mengisi gelas, dan merapikan meja. Setidaknya di sini aku bisa sedikit bernapas lega. Namun, saat sibuk menuang minuman ke beberapa gelas, aku merasa ada seseorang memperhatikan. Ketika menoleh, kulihat Galang berdiri di ambang pintu.

“Kenapa kamu di sini?” tanya pria itu dengan alis tertaut. “Kamu tamu, kenapa malah ikut bantu-bantu?”

“Ah … itu … saya… hanya terbiasa beres-beres, Mas. Bosan juga nggak ada teman ngobrol, jadi lebih baik bantu-bantu ….”

Galang berjalan mendekat. “Jangan bohong. Ratna yang suruh kamu, ‘kan?” tembaknya, membuatku tersentak dan langsung menunduk. Sangat tidak enak ketahuan berbohong.

Melihatku terdiam, Galang menghela napas, lalu meraih jar berisi jus yang ada di tanganku. Setelah itu, dia menatapku dalam.

“Kamu tamu, jangan kerjain kerjaan ini,” ucapnya.

Namun, aku tersenyum tipis dan meraih jar itu kembali. “Saya sudah biasa, Mas ….”

Pancaran matanya sedikit menggelap, sekilas, sebelum dia lanjut berkata, “Aku lihat Ratna dan teman-teman yang lain tadi agak keterlaluan ke kamu. Aku wakilin istriku minta maaf, kuharap kamu nggak ambil ucapannya ke hati.”

Aku memaksakan senyum dan langsung menggeleng cepat. “Nggak apa-apa, Mas. Saya sudah kebal.”

Dia menatapku lama, dalam, seolah ingin menyingkap isi hatiku. Sedikit canggung, aku jadi agak salah tingkah dan ingin buru-buru pergi.

“Saya … lanjut kerja dulu, Mas,” ucapku buru-buru.

Galang hanya mengangguk samar, lalu berbalik pergi.

Tak lama, Ratna masuk dengan suara tajam. “Van, minuman sudah siap? Jangan bikin tamu nunggu!”

Aku cepat membalas, “Iya, Mbak.”

Kuletakkan beberapa gelas di atas nampan, lalu mengangkatnya hati-hati. Berat, tapi kupaksakan.

Aku keluar dapur, menyusuri lorong. Musik masih berdentum, tawa bersahutan. Aku fokus menjaga nampan agar tak goyah.

Tapi tiba-tiba—

“Eh!” Aku terkejut saat tanpa sengaja menabrak seseorang. Nampan hampir terlepas, tapi sebuah tangan kokoh segera meraih pergelangan tanganku, menahan tubuhku agar tidak jatuh.

“Kamu nggak apa-apa?” suaranya rendah, selagi tangannya menggenggamku hangat.

Terkejut, aku menoleh cepat, dan mataku bertemu dengan sorot mata tegas itu, begitu dekat.

Galang.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.

reviews

Lizzy Gold
Lizzy Gold
Omg I’m screaming, the chemistry between Nico and Elena is hot Author please update moreeeeeeeeee I found this book today and I’m obsessed, author please I need more chapters.
2026-02-07 02:49:27
4
0
55 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status