Se connecterMatahari baru saja menyelinap naik ke ufuk timur. Memancarkan cahaya keemasan yang perlahan menyapu kegelapan malam dari langit Kota Aras. Kabut tipis masih menggantung rendah di permukaan tanah. Membawa serta hawa dingin yang menusuk tulang.
Di saat penduduk kota masih terlelap dalam tidur mereka, atau baru saja mulai bersiap menyambut hari. Sosok kurus berjalan menyusuri jalan setapak yang terjal dan berbatuan. Menjauhi pemukiman dan menuju ke wilayah yang dikenal oleh semua orang sebagai Hutan Pinggiran. Pemuda itu adalah Kaelen Voss. Kaelen mengenakan jubah lusuh yang sama seperti biasanya, namun ada perubahan besar pada dirinya. Bukan pada penampilan fisiknya, melainkan pada aura yang memancar darinya. Dulu saat Kaelen berjalan, dia terlihat seperti bayangan yang lemah, takut-takut, dan seolah bisa hancur tertiup angin kencang saja. Namun hari ini, langkah kaki Kaelen tampak tegap, mantap, dan penuh percaya diri. Matanya yang berwarna abu-abu bersinar tajam, memindai sekeliling dengan kewaspadaan tinggi. Sejak kejadian kemarin sore, saat Kaelen berhasil membalikkan keadaan dan membuat Rian terjatuh hanya dengan satu gerakan tangan, Kaelen tahu bahwa hidupnya telah berubah selamanya. Batu hitam kuno itu telah melebur sepenuhnya ke dalam jiwa dan raga. Memberinya Sistem Penguasaan Elemen yang tak ternilai harganya. Semalaman suntuk dia tidak tidur, menghabiskan waktu untuk mempelajari informasi dasar yang terus bergema di dalam benaknya. Kaelen mengerti sekarang. Di dunia ini, kekuatan elemen tidak hanya dimiliki oleh manusia. Segala sesuatu yang ada di alam semesta ini mengandung esensi elemen. Mulai dari udara yang kita hirup, tanah tempat kita berpijak, air yang mengalir hingga makhluk-makhluk buas yang hidup di hutan belantara. Semakin kuat makhluk itu, semakin murni dan kental energi elemen yang tersimpan di dalam tubuhnya. Dan kemampuan terbesar Kaelen yang tidak dimiliki oleh siapa pun juga adalah kemampuan untuk menyerap energi itu, mengambil inti kekuatannya, dan menjadikannya miliknya sendiri. [INFORMASI SISTEM: Tingkat Penguasaan Elemen dibagi menjadi: Dasar, Mahir, Lanjutan, Murni, dan Mutlak. Saat ini pengguna berada di tingkat paling awal. Untuk tumbuh kuat, pengguna wajib menyerap energi elemen dari lingkungan atau mengalahkan makhluk hidup yang memiliki sifat elemen tertentu.] Kalimat itu terus terngiang di kepalanya. Kaelen tersenyum tipis. Dia sadar, kemampuan memanipulasi angin kemarin hanyalah permulaan, setetes air di tengah samudra kekuatan yang bisa dia capai. Jika dia ingin benar-benar kuat. Jika dia ingin membuat Rian, kerabatnya, dan seluruh warga Kota Aras yang pernah menghinanya berlutut takluk, dia harus mulai berlatih. Dia harus mulai berburu. Hutan Pinggiran adalah tempat yang paling tepat. Hutan ini tidak terlalu lebat dan berbahaya. Sering dijadikan tempat latihan bagi para penyihir muda atau pemburu pemula. Binatang buas yang tinggal di sini umumnya hanya bertingkat rendah, namun cukup untuk menjadi bahan latihan pertamanya. "Baiklah. Mari kita mulai langkah pertama menuju puncak," gumam Kaelen pelan. Napasnya membentuk uap putih di udara yang dingin. Kaelen melangkah melewati papan peringatan tua yang menandakan batas wilayah aman, dan masuk ke dalam bayang-bayang pepohonan raksasa. Di dalam hutan, suasana terasa sunyi dan sejuk. Cahaya matahari hanya mampu menembus di sela-sela dedaunan lebar, menciptakan bintik-bintik cahaya di atas tanah yang tertutup lumut dan daun kering. Suara burung berkicau terdengar samar, bercampur dengan suara gesekan daun yang tertiup angin. Namun bagi Kaelen, hutan ini terlihat sangat berbeda dibandingkan sebelumnya. Berkat kemampuan matanya yang telah berubah karena integrasi sistem, dia bisa melihat jutaan partikel kecil berwarna-warni yang melayang di udara. Ada Partikel Cokelat kekokohan dari tanah, Partikel Hijau kehidupan dari tumbuhan, dan yang paling banyak ada di sini adalah Partikel berwarna Hijau Muda yang bergerak sangat cepat dan lincah. Itu adalah Elemen Angin. "Begini rasanya melihat energi alam secara langsung," batin Kaelen kagum. Kaelen mengulurkan tangannya, dan seketika partikel-partikel Hijau itu berputar mendekat. Mengelilingi telapak tangannya seperti anak kecil yang gembira menyambut tuannya. Rasanya sejuk, nyaman, dan penuh kekuatan. Namun kekagumannya terputus saat suara gemerisik keras terdengar dari semak-semak di sebelah kirinya. Suara itu berat, disertai bunyi cakaran kuku di atas tanah keras. Kaelen segera menurunkan tangannya. Tubuhnya seketika menegang dan bersiap siaga. Dia mematikan keberadaannya, menahan napas, dan mengintai dari balik batang pohon besar. Perlahan namun pasti, sesosok makhluk keluar dari balik semak belukar itu. Binatang itu tingginya setinggi pinggang manusia. Memiliki bulu kelabu tebal yang tampak kasar dan berkilauan seolah tertutup lapisan minyak alami. Matanya berwarna kuning menyala, tajam dan penuh naluri buas. Telinganya yang runcing berdiri tegak, berputar ke kiri dan ke kanan menangkap suara sekecil apa pun. Dan yang paling menonjol adalah di sekujur tubuhnya, terutama di sekitar cakar dan punggungnya terlihat aliran energi berwarna hijau samar yang melilit seperti uap tipis. Itu adalah Serigala Angin Tingkat Rendah, salah satu penghuni paling umum di Hutan Pinggiran. Hewan ini dikenal karena kecepatan gerakannya yang luar biasa. Jauh lebih cepat dari pada serigala biasa, karena mereka dibantu oleh elemen angin yang mereka kendalikan secara naluriah. Bagi pemula yang belum mahir mengendalikan sihir, bertemu makhluk ini bisa berbahaya. Bahkan berujung maut. Kaelen menelan ludah. Jantungnya berdegup kencang. Bukan karena takut, melainkan karena rasa antusiasme yang meluap-luap. Di dalam benaknya, suara sistem langsung aktif, lalu menganalisis musuh di hadapannya secara rinci. [DETEKSI MAKHLUK HIDUP: SERIGALA ANGIN (TINGKAT RENDAH)] [Elemen Dominan: ANGIN] [Kekuatan: Kecepatan tinggi, cakar tajam, serangan mendadak.] [Kelemahan: Pertahanan fisik lemah, kecerdasan rendah, pola serangan sederhana.] [PELUANG MENANG: 80% — Disarankan menggunakan strategi serangan tiba-tiba sebelum makhluk ini mengerahkan kecepatan maksimalnya.] "80% peluang menang." Kaelen bergumam pelan. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum penuh ambisi. "Cukup bagus untuk permulaan." Serigala itu seolah merasakan kehadiran orang asing di wilayahnya. Dia mengangkat kepalanya tinggi-tinggi, menghirup udara dalam-dalam dengan hidungnya yang sensitif. Sesaat kemudian, matanya yang kuning itu menatap lurus ke arah pohon tempat Kaelen bersembunyi. Telinganya merata ke belakang, dan gigi-giginya yang tajam terlihat menyeringai, mengeluarkan suara geraman rendah yang menggetarkan dada. GROAAARR.. Tanpa peringatan lagi, serigala itu melesat maju. Gerakannya begitu cepat hingga hanya menyisakan bayangan abu-abu di udara. Angin berdesir keras saat tubuhnya membelah udara. Membawanya melompat tinggi ke arah Kaelen dengan cakar yang teracung siap merobek daging. Kaelen sudah bersiap. Dia tidak berusaha lari. Dia tahu dia tidak akan bisa mengalahkan kecepatan makhluk eltemen Angin hanya dengan kaki manusia biasa. Saat serigala itu melompat di udara, di titik di mana dia tidak bisa lagi mengubah arah lompatannya, Kaelen bergerak. "Angin, kumpul di kakiku!" bisik Kaelen dalam hati. Mengikuti perintahnya, puluhan partikel Elemen Angin di sekitarnya berkumpul seketika di kedua telapak kakinya. Dengan dorongan ledakan angin yang tiba-tiba, tubuh Kaelen meluncur menyamping dengan kecepatan yang mengejutkan, menghindari serangan maut itu hanya berjarak beberapa inci saja. BRAKK.. Tubuh berat serigala itu menghantam batang pohon besar di belakang tempat Kaelen berdiri tadi membuat dedaunan berjatuhan. Binatang itu berbalik cepat tampak semakin marah karena mangsanya lolos. Dia kembali menggeram, dan kali ini cakar depannya berkilau hijau, dilapisi energi angin yang tajam seperti pisau. Serangan demi serangan dilancarkan. Serigala itu terus melesat ke kiri dan kanan. Menyerang dengan pola yang sulit diprediksi. Kaelen terus menghindar, berguling di tanah, melompat ke atas akar pohon, atau menunduk di balik semak. Dia tidak melawan balik. Justru dia hanya terus menghindar. Namun setiap kali Kaelen menghindar, matanya yang tajam mengamati setiap gerakan serigala itu. Dia mencatat kapan binatang itu melambat, di mana celah pertahanannya, dan bagaimana aliran energi angin bergerak di tubuh makhluk itu. Di dalam benaknya, sistem bekerja keras menganalisis setiap gerakan, memecahnya menjadi data-data sederhana. [ANALISIS BERJALAN... Pola serangan terdeteksi. Setelah 3 kali serangan cepat, makhluk ini akan berhenti sejenak untuk mengumpulkan energi kembali. Titik lemah berada di dada bagian bawah, tempat letak inti elemen berada.] Informasi itu masuk ke otak Kaelen seketika. Saat serigala itu kembali melesat dengan kecepatan penuh untuk ketiga kalinya, Kaelen tidak lagi menghindar. Dia berdiri diam. Kedua tangannya terbuka ke samping, mengumpulkan sebanyak mungkin Elemen Angin dari sekelilingnya. Tubuhnya dikelilingi pusaran Angin Hijau yang kecil namun berputar kencang. Tepat saat cakar tajam itu hampir menyentuh wajahnya, Kaelen tiba-tiba membungkuk dalam. Membiarkan cakar itu menyambar rambutnya. Sementara di saat yang sama, dia meluncur masuk ke bawah perut serigala itu. "SEKARANG!" teriak Kaelen dalam hati. Dengan kedua tangannya yang mengepal, Kaelen memutar tubuhnya dan mengayunkan tinjunya ke atas. Tepat mengenai dada bagian bawah serigala itu. Di saat yang sama, Kaelen melepaskan seluruh energi Angin yang telah dia kumpulkan di tangannya. WUUSSHH.. DHAAR.. Pukulan itu tidak hanya kekuatan fisik semata. Di dalamnya terkandung ledakan energi elemen yang langsung menyerang ke dalam tubuh makhluk itu. Suara benturan keras terdengar. Disusul jeritan kesakitan panjang dari serigala itu. Tubuhnya yang besar terlempar ke atas, lalu jatuh terguling beberapa meter jauhnya sebelum akhirnya diam tak bergerak lagi. Debu dan daun kering beterbangan di sekelilingnya. Kaelen berdiri tegak kembali. Napasnya terengah-engah karena adrenalin yang meluap dan tenaga yang terkuras. Tangan kanannya terasa panas dan sedikit kesemutan. Namun Kaelen tidak terluka. Dia berjalan perlahan mendekati bangkai serigala itu. Makhluk itu sudah mati, matanya yang kuning terbuka lebar, namun kilatan hidupnya telah hilang. Yang membuat Kaelen terpesona adalah apa yang terjadi selanjutnya. Dari dalam dada serigala itu, tepat di tempat yang dia pukul, sebuah bola cahaya berwarna Hijau cerah seukuran kelereng perlahan keluar melayang. Cahaya itu sangat murni, berdenyut lembut, dan memancarkan hawa angin yang sejuk. Itulah Inti Elemen, sumber segala kekuatan makhluk itu. [TARGET BERHASIL DIKALAHKAN. INTI ELEMEN ANGIN DITEMUKAN.] [APAKAH ANDA INGIN MENYERAP ENERGI INI SEKARANG?] Wajah Kaelen bersinar penuh semangat. Dia mengulurkan tangan kanannya ke arah bola cahaya hijau itu. "Serap... serap semuanya!" Segera setelah perintah itu keluar. Bola cahaya itu bergetar, lalu melesat masuk ke dalam telapak tangan Kaelen secepat kilat. Rasanya seperti meneguk air dingin yang segar di tengah hari yang panas. Energi itu mengalir deras masuk ke pembuluh darahnya, menyebar ke seluruh anggota tubuhnya hingga ke ujung jari-jari kakinya. Rasa nyaman yang luar biasa menyelimuti dirinya. Kaelen bisa merasakan energi itu bercampur dengan darahnya. Menyatu dengan tulang dan ototnya, dan memperkaya pengetahuannya tentang elemen angin itu sendiri. Di dalam benaknya, informasi baru bermunculan, seolah dia telah hidup ribuan tahun memahami segala hal tentang angin. [PENYERAPAN SELESAI] [Elemen Angin: TINGKAT DASAR — PENGUASAAN 100%] [Kemampuan Baru Diperoleh: Lari Angin, Potongan Angin, Perisai Angin.] [Level Pengguna: NAIK KE TINGKAT 2] Kaelen mengepalkan dan membuka kedua tangannya berulang kali. Dia merasakan tubuhnya menjadi jauh lebih ringan, lebih kuat, dan lebih bertenaga dibandingkan sebelumnya. Dia mengangkat tangan kanannya, dan seketika pisau angin tajam berputar di ujung jarinya, siap membelah batu karang sekalipun. "Hebat," bisik Kaelen dengan takjub. "Ini baru tingkat Dasar. Dan sudah sekuat ini? Kalau sampai tingkat Mutlak nanti, kekuatan apa yang akan aku miliki?" Kaelen menatap ke dalam hutan yang semakin lebat dan gelap di depannya. Di sana, dia bisa merasakan puluhan, ratusan. Bahkan ribuan tanda kehidupan yang lebih kuat dari serigala angin yang baru saja dia kalahkan. Suara auman, deru napas, dan gesekan tubuh terdengar samar dari kejauhan. Kaelen tahu, perjalanan panjang masih menanti. Dia harus menyerap Api, Air, Tanah, Letir, Cahaya, Kegelapan, dan segala elemen lainnya. Dia harus menjadi lebih kuat. Jauh lebih kuat dari siapa pun yang pernah ada di dunia ini. Matahari sudah naik tinggi, menembus celah pepohonan dan menyinari sosok Kaelen. Bayangannya yang tadinya kecil dan lemah, kini tampak menjulang gagah. Dipenuhi aura kekuatan yang mulai tumbuh subur. Kaelen tersenyum lebar. Senyum yang penuh tekad dan keyakinan. Dia membetulkan letak jubahnya, lalu melangkah masuk lebih dalam ke jantung hutan. "Terima kasih, Serigala Angin. Kau adalah langkah pertamaku," ucap Kaelen pelan. "Dan ini baru permulaan. Hari ini aku akan menguasai seluruh hutan ini. Besok, aku akan menguasai kota ini. Dan suatu hari nanti, seluruh dunia akan tahu nama Kaelen Voss." Angin bertiup kencang. Menggiring suara tekadnya yang bergema di antara pepohonan. Menandakan kelahiran seorang legenda baru. Pemuda yang dulunya dianggap sampah, kini telah menapaki jalan panjang menuju takhta tertinggi sebagai Penguasa Elemen Mutlak.Beberapa hari telah berlalu sejak peristiwa mengejutkan di ruang terlarang perpustakaan. Di dalam diri Kaelen kini membawa sesuatu yang tidak dimiliki penyihir lain yaitu percikan energi Gelap. Elemen yang dianggap tabu dan berbahaya, namun justru menjadi kunci baru bagi pemahamannya tentang alam semesta.Meski hanya sepotong kecil, keberadaan energi itu telah mengubah persepsi Kaelen. Indranya menjadi lebih tajam. Dia bisa merasakan getaran energi dari jarak yang jauh lebih luas, dan pandangannya terhadap klasifikasi kekuatan yang selama ini diajarkan di akademi telah runtuh sepenuhnya. Dunia sihir yang dia kenal ternyata hanyalah permukaan dari samudra kekuatan yang jauh lebih dalam dan luas.Pagi itu suara genta raksasa di menara pusat akademi berdentang sebanyak sembilan kali. Suara itu tanda bahwa pengumuman penting akan disampaikan. Seluruh siswa dari tingkatan paling dasar hingga lanjut bergegas bergerak menuju lapangan utama. Di atas panggung batu yang luas, Guru Besar Valeriu
Namun sekeras apa pun elemen itu melawan. Dia tetaplah energi alam. Dan Kaelen adalah wadah mutlak yang diciptakan untuk menampung segalanya.Perlahan namun pasti, keganasan itu mereda. Asap hitam yang tadinya liar itu kini berubah menjadi aliran energi yang halus dan terkendali, berputar rapi di dalam dada Kaelen, di antara inti-inti elemen lainnya. Rasa sakit itu berubah menjadi rasa dingin yang unik. Rasa kekuatan baru yang membuatnya merasa seolah bisa menyatu dengan bayangan apa pun di dunia ini.[PENYERAPAN SELESAI. JUMLAH: KECIL (SESUAI PERINTAH).][ELEMEN GELAP: TINGKAT DASAR 10%][PENGUASAAN: AWAL. PEMAHAMAN DASAR TERSIMPAN. PENGETAHUAN TAMBAHAN DIPEROLEH.]Kaelen menghela napas panjang, lalu membuka matanya kembali. Di manik matanya yang hitam. Sesaat terlihat kilatan bayangan gelap yang berkedip lalu menghilang. Tubuhnya terasa berbeda, lebih lengkap, lebih dalam.Kaelen menatap sisa-sisa asap yang masih ada di wadah kaca itu. Dia sengaja hanya menyerap sebagian kecil saja.
Tiga hari telah berlalu sejak pertarungan dahsyat di Lapangan Latihan Utama. Kabar tentang kemenangan mutlak Kaelen atas Baron seorang jenius elemen Petir yang kebanggaan akademi telah menyebar ke setiap sudut bangunan ini. Bahkan hingga keluar melewati gerbang utama menuju ibu kota.Selama tiga hari itu, suasana Akademi Sihir Kerajaan berubah drastis. Tidak ada lagi tatapan meremehkan. Tdak ada lagi ejekan bisik-bisik. Ke mana pun dia pergi, nama Kaelen Voss kini disertai rasa hormat yang bercampur rasa takut yang mendalam.Setelah pingsan karena kelelahan ekstrem akibat memaksakan tubuhnya menampung energi raksasa, Kaelen dirawat di bangunan medis akademi. Lira dan Dimas tidak pernah beranjak jauh dari sisinya. Keduanya bergantian menjaga dan memastikan tidak ada pihak yang berniat jahat mendekat.Namun berkat ketahanan fisiknya yang telah berubah drastis setelah menyerap begitu banyak inti elemen murni. Pemulihan Kaelen berjalan jauh lebih cepat dibandingkan manusia biasa.Di pagi
Kaelen berdiri tegak di sana. Uap panas berwarna kuning keemasan mengepul keluar dari pori-pori kulitnya. Matanya yang tadinya abu-abu kini berkilat dengan Cahaya Petir yang hidup. Berkedip-kedip setiap kali dia berkedip. Rasa sakit di tubuhnya lenyap digantikan oleh kekuatan yang meluap-luap, begitu besar hingga dia merasa bisa membelah langit jika dia mau.Kaelen menatap Baron yang terhuyung-huyung hampir jatuh. Suaranya rendah namun bergetar dengan kekuatan yang menekan hati semua orang yang mendengarnya."Kau bilang, rasakan kekuatan yang tak bisa aku impikan?" ucap Kaelen pelan namun jelas. "Terima kasih. Berkatmu, aku sekarang mengerti segalanya tentang Petir. Kau benar. Petirmu sangat kuat, sangat cepat, dan sangat menyakitkan. Tapi sayang sekali, kau lupa satu hal penting."Kaelen melangkah maju selangkah. Hanya satu langkah, namun karena energi petir yang mengalir di kakinya, dia seolah berpindah tempat dan sudah berada tepat di depan wajah Baron."Elemen apa pun, sekuat apa
Kaelen memaksakan dirinya berguling ke samping. Pedang energi itu menghantam tanah tempat dia berbaring sedetik sebelumnya, menciptakan kawah berdiameter lima meter. Tanah di sekitar kawah itu meleleh menjadi kaca akibat suhu yang luar biasa panas.Hancur. Jika terkena serangan itu sepenuhnya, ia pasti sudah tidak bernyawa.Kaelen bangkit berdiri dengan susah payah. Pakaiannya robek-robek, tubuhnya penuh luka bakar hitam. Napasnya terengah-engah. Dia benar-benar kewalahan. Kecepatan Baron terlalu tinggi. Serangannya terlalu ganas, dan efek samping dari elemen petir membuat kemampuan bertahannya berkurang drastis."Aku kalah cepat. Aku kalah kuat. Jika terus begini. Aku benar-benar akan mati," batin Kaelen sambil menahan rasa sakit yang luar biasa. "Sistem! Analisis! Cari kelemahannya, cari celah apa pun!"[ANALISIS DIPERCEPAT. MEMINDAI STRUKTUR ENERGI PETIR BARON][PERHATIAN: ELEMEN PETIR BERGERAK DENGAN GETARAN TINGGI. KECEPATANNYA BERASAL DARI KEPADATAN MUATAN ENERGI][KELEMAHAN DIT
Kabar tentang keberhasilan Kaelen, Lira, dan Dimas keluar dari Hutan Dalam dengan selamat. Bahkan membawa pulang Inti Elemen Naga Tanah Purba yang legendaris menyebar ke seluruh penjuru Akademi Sihir Kerajaan bagaikan badai. Tidak ada satu pun siswa atau pengajar yang tidak mengenal nama Kaelen Voss saat ini. Pemuda yang dulunya dianggap sampah. Kini berubah menjadi sosok misterius yang mampu melakukan hal-hal mustahil.Namun semakin tinggi pohon menjulang. Semakin kencang angin bertiup. Rasa kagum dan takut dari sebagian besar siswa berbanding terbalik dengan rasa marah dan dendam yang membara di dada para anggota Kelompok Mahkota Emas. Bagi mereka, kemenangan Kaelen adalah penghinaan terbesar terhadap status dan kekuasaan mereka. Di mata mereka, rakyat biasa seharusnya selamanya tetap menjadi rakyat biasa. Tidak boleh naik ke atas, apalagi menyalip dan membuat mereka tampak konyol.Dan kemarahan itu memuncak paling hebat di hati sosok kedua terkuat di kelompok itu, sosok yang posisi







