Home / Fantasi / PENGUASA ELEMEN MUTLAK / 4. Perselisihan Di Kota

Share

4. Perselisihan Di Kota

Author: Yarniati
last update publish date: 2026-05-23 12:38:30

Berita menyebar lebih cepat dari pada angin di Kota Aras. Hanya dalam hitungan hari, kisah tentang bagaimana Kaelen, pemuda yang selama tujuh belas tahun hidupnya dicap sebagai sampah dan tidak memiliki bakat apa pun berhasil membalikkan keadaan dan membuat Rian terjatuh karena hembusan angin telah menjadi pembicaraan hangat di setiap sudut kota.

Di pasar, di sebuah kedai minuman hingga di pekarangan rumah warga, nama Kaelen terus disebut-sebut dengan nada penuh rasa ingin tahu, keraguan, dan keterkejutan.

"Kau dengar kabarnya? Si anak buangan Keluarga Voss itu ternyata punya kekuatan!"

"Mana mungkin? Bukankah Kristal Penentu sudah menyatakan dia kosong? Mungkin itu cuma kebetulan saja."

"Entahlah, tapi aku melihatnya sendiri. Angin yang dia keluarkan sangat tajam. Bukan sekadar embusan angin biasa. Sepertinya dia menyembunyikan kekuatannya selama ini."

Bisikan-bisikan itu sampai pula ke telinga Rian, dan bagi pemuda bangsawan yang sombong itu kabar tersebut adalah penghinaan terbesar yang pernah dia terima.

Selama ini, Rian merasa dirinya adalah pemuda paling berbakat di usianya. Sosok yang ditakuti dan dipuji oleh semua orang. Keberadaan Kaelen yang selalu dia injak-injak adalah bukti keunggulannya.

Namun sekarang, bayangan yang selalu dia remehkan itu tiba-tiba bangkit dan mulai disorot orang lain. Hal itu membuat rasa tidak aman dan amarah membara hebat di dada Rian.

Siang itu, di alun-alun pusat kota yang luas tempat yang biasa digunakan untuk pertemuan warga atau ujian bakat, Rian berdiri di tengah lapangan dengan wajah merah padam karena marah. Di sekelilingnya sudah berkumpul puluhan warga yang penasaran, tertarik oleh teriakan keras pemuda itu.

"Kaelen! Keluarlah kau, pengecut!" seru Rian sekeras tenaganya.

Suara Rian menggema ke seluruh penjuru alun-alun. Dia mengenakan jubah merah yang melambangkan elemen Api, dan di tangannya, nyala api kecil terus menyala padam seolah mencerminkan emosinya yang meluap-luap.

"Kau yang berlagak hebat di belakang punggung orang! Katakan pada semua orang, kekuatan apa yang kau punya? Apakah itu sihir semu? Atau sekadar trik murahan?!"

Tidak lama kemudian, celah di antara kerumunan terbuka. Sosok kurus yang sudah dikenal semua orang itu berjalan masuk dengan langkah tenang dan tegap.

Kaelen datang sendirian. Dia masih mengenakan pakaian yang sama, namun penampilannya terlihat berbeda. Matanya yang abu-abu bersinar jernih dan tajam. Tidak lagi tertunduk malu atau penuh ketakutan seperti dulu. Di belakang tatapan itu, tersimpan kekuatan yang telah dia kumpulkan dari Hutan Pinggiran.

Kaelen berhenti tepat sepuluh langkah di hadapan Rian, menatap datar tanpa rasa takut.

"Apa maumu, Rian?" tanya Kaelen dengan suara tenang. "Aku tidak mencari masalah denganmu."

Rian tertawa sinis. Dia menunjuk dada Kaelen dengan jari kasarnya. "Tidak mencari masalah? Kau pikir setelah berani mempermalukanku hari itu, kau bisa hidup tenang? Kau pikir bisikan-bisikan orang di sekitarmu aku tidak dengar? Semua orang bilang kau punya bakat besar. Padahal kau hanyalah sampah yang tidak berharga!"

Rian melangkah maju, suaranya meninggi agar didengar seluruh warga yang berkumpul.

"Aku di sini untuk membuktikan pada semua orang bahwa keberuntunganmu hari itu hanyalah kebetulan belaka! Kau tidak memiliki bakat. Kau tidak memiliki kekuatan. Dan kau akan selamanya menjadi makhluk rendahan! Di sini, sekarang juga aku menantangmu bertarung!"

Kerumunan warga berbisik-bisik heboh. Pertarungan antara dua pemuda yang nasibnya bertolak belakang. Satu yang dianggap sampah. Dan satu yang dianggap jenius adalah tontonan yang sangat menarik.

Beberapa tetua kota yang ada di sana sempat berniat melerai, namun melihat keinginan kuat kedua belah pihak, mereka memutuskan untuk diam saja. Bagi penyihir muda, pertarungan semacam ini adalah cara membuktikan harga diri dan kekuatan.

Kaelen menghela napas panjang. Dia sebenarnya belum ingin menampakkan kemampuannya sepenuhnya. Dia ingin tumbuh lebih besar lagi, diam-diam.

Namun Kaelen sadar, jika dia menolak tantangan ini. Ejekan sebagai pengecut akan kembali menimpanya, dan Rian tidak akan pernah berhenti mengganggunya sampai dia hancur.

"Baiklah," batin Kaelen. Matanya menyipit dingin. "Karena kau memaksaku, aku akan gunakan dirimu sebagai bukti pertama kebangkitanku."

"Aku terima tantanganmu," jawab Kaelen pelan namun tegas.

Suara riuh rendah penonton semakin keras. Di tengah lapangan, jarak di antara keduanya melebar. Rian berdiri dengan sikap angkuh, sementara Kaelen tenang dan waspada.

"Dengar baik-baik, sampah!" seru Rian sambil menyeringai. "Aku sudah bukan lagi pemula seperti saat itu. Selama beberapa hari ini, aku berhasil menembus batas dan kini telah mencapai tingkat Elemen Api, Tingkat Menengah! Kekuatanku sekarang sepuluh kali lipat lebih besar dari sebelumnya. Bersiaplah untuk terbakar habis!"

Seketika itu juga, aura panas yang menyengat meledak dari tubuh Rian. Nyala Api berwarna merah terang kini menyala besar di kedua tangannya. Suhunya begitu tinggi hingga udara di sekitarnya tampak bergetar dan berasap.

Warga yang berdiri agak dekat mundur ketakutan. Tingkat Menengah! Di usia muda seperti mereka, mencapai tingkat itu memang merupakan prestasi yang luar biasa. Rian memang berbakat. Hanya saja bakat itu diselimuti oleh sifat sombong dan kejamnya.

Kaelen merasakan hawa panas itu menyambar wajahnya. Di dalam benaknya, suara sistem langsung aktif. Memindai kekuatan musuhnya secara mendetail.

[DETEKSI MUSUH: RIAN]

[Elemen: API — TINGKAT MENENGAH]

[Kekuatan: Serangan berapi luas, suhu tinggi, daya hancur besar.]

[Kelemahan: Konsumsi energi besar, gerakan kaku saat mengeluarkan serangan besar, rentan terputus alirannya.]

[ANALISIS TAMBAHAN: Elemen Angin yang dikuasai pengguna memiliki hubungan saling melengkapi namun juga bisa saling menekan. Angin dapat menggerakkan dan mengubah arah api.]

Pertarungan pun dimulai. Tanpa aba-aba, Rian melesat maju dengan kecepatan tinggi, Api di tangannya berkobar semakin besar.

"Rasakan ini! Hujan Bara!" teriak Rian.

Rian mengayunkan tangannya ke udara, dan puluhan bola api seukuran kepalan tangan melesat keluar. Menghujani Kaelen dari segala arah. Suara desisan dan bau terbakar langsung tercium. Serangan itu cepat dan sulit dihindari.

Kaelen langsung bergerak. Berkat Kemampuan Lari Angin yang dia peroleh setelah menyerap Inti Elemen Serigala Angin, tubuhnya menjadi jauh lebih ringan dan gesit dibanding manusia biasa. Dia melompat ke kiri, lalu berguling ke kanan, dan berlari memutar menghindari setiap bola api yang menghantam tanah, meninggalkan bekas hangus di mana saja mereka jatuh.

Namun kekuatan Rian di tingkat menengah ternyata jauh lebih berat dari pada perkiraan Kaelen. Panas yang menyengat membuat napasnya sesak. Seringai api yang terlewat sedikit saja membakar ujung jubahnya.

Kaelen terus mundur, dipojokkan oleh rentangan serangan api yang tak henti-henti dilancarkan Rian.

"Hahaha! Lari saja kau! Lari sepuasmu!" Rian tertawa puas.

Rian mengerahkan kedua tangannya ke atas kepala. Membentuk satu bola api raksasa berukuran besar yang memancarkan cahaya menyilaukan.

"Sekarang tamatlah riwayatmu! Bola Naga Api!"

Bola api raksasa itu meluncur deras ke arah Kaelen, meninggalkan jejak panas yang membakar udara. Jika terkena serangan itu, tubuh manusia biasa pasti akan hangus seketika. Penonton berteriak kaget. Banyak yang menutup mata tidak tega.

Namun di saat itu, Kaelen tidak lagi mundur. Di tengah bahaya yang mengancam nyawanya. Pikirannya menjadi sangat jernih. Data-data dari sistem terus berputar di kepalanya. Menganalisis pergerakan api itu. Menganalisis gerakan tangan Rian, dan pola aliran energinya.

"Api membutuhkan oksigen. Api mengikuti arah angin."

[ANALISIS SELESAI. SOLUSI DITEMUKAN: ARAHKAN ANGIN BERLAWANAN ARAH DENGAN KEKUATAN PENUH.]

Mata Kaelen berkilat tajam. Dia menghentikan langkahnya. Dia menginjak tanah dengan kuat. Kedua tangannya mengembang ke samping, lalu berputar cepat mengumpulkan seluruh Elemen Angin di sekitarnya.

Kali ini Kaelen tidak lagi menggunakan angin kecil seperti saat melawan serigala atau saat mendorong Rian dulu. Dia mengerahkan seluruh kekuatan tingkat Dasarnya sepenuhnya.

Di sekeliling tubuh Kaelen, pusaran angin hijau terbentuk.Berputar semakin kencang hingga menciptakan suara raungan seperti badai. Debu dan kerikil beterbangan di sekelilingnya membuat penonton semakin tidak bisa melihat dengan jelas.

Saat Bola Naga Api itu tinggal beberapa langkah lagi menghantamnya, Kaelen mengayunkan kedua tangannya ke depan dengan gerakan menyamping yang kuat, seolah sedang menyapu sesuatu.

"ANGIN PENGEMBALIAN!"

WUUSSSSHHHH..

DHAAR..

Angin kencang bertemu dengan bola api raksasa itu. Bukan meledak atau hancur, tetapi aliran angin yang terkonsentrasi itu membelokkan arah laju api tersebut sepenuhnya. Seperti sebuah cermin raksasa yang memantulkan cahaya. Bola api besar itu berbelok arah tajam. Membalikkan badan, dan meluncur kembali dengan kecepatan yang sama cepatnya ke arah pengirimnya sendiri yaitu kearah Rian.

Wajah Rian yang tadinya penuh kemenangan berubah menjadi kepanikan mutlak. Dia tidak menyangka serangannya sendiri akan dikembalikan kepadanya. Dia tidak punya waktu lagi untuk menghindar atau menangkis.

"Kau... sialan!!"

BRAKK.

Bola api itu menghantam dada Rian. Mendorong tubuhnya terlempar mundur beberapa meter. Kemudian jatuh terguling di tanah berdebu sebelum akhirnya berhenti.

Nyala api di tubuh Rian segera padam karena kehilangan kendali, namun pakaian bagian depannya hangus dan berasap.

Rian terbaring lemas, kesakitan, dan sangat terkejut hingga mulutnya terbuka namun tidak ada suara yang keluar.

Keheningan mutlak menyelimuti seluruh alun-alun.

Semua warga yang menyaksikan pertarungan itu menatap kaku. Mulut mereka terbuka lebar. Mata mereka melotot tak percaya. Mereka melihat dengan mata kepala mereka sendiri. Kaelen, pemuda yang selama ini dianggap sampah. Yang dianggap tidak punya bakat apa pun. Baru saja mengalahkan Rian, jenius elemen api tingkat menengah dengan cara yang begitu mudah dan mengagumkan.

Kaelen berdiri tegak di tengah lapangan. Napasnya sedikit terengah namun tubuhnya tetap kokoh. Angin di sekelilingnya perlahan mereda. Dia menatap dingin ke arah Rian yang berusaha bangkit namun jatuh lagi karena kakinya gemetar.

"Kau bilang aku sampah?" ucap Kaelen pelan namun suaranya terdengar jelas ke telinga semua orang. "Kau bilang kekuatanku trik murahan? Ingatlah hari ini, Rian! Dan ingatlah kalian semua! Bahwa apa yang kalian hina ternyata adalah sesuatu yang jauh di atas kalian."

Kaelen berbalik badan. Dia kemudian berjalan tenang melewati kerumunan warga yang kini dengan hormat dan takut memberi jalan luas baginya. Tidak ada lagi bisikan ejekan. Tidak ada lagi tatapan merendahkan. Yang tersisa hanyalah rasa kagum, rasa takut, dan rasa penasaran yang luar biasa.

Di belakangnya, Rian terbaring sendirian di tanah. Menahan rasa sakit fisik dan rasa malu yang menghancurkan harga dirinya sepenuhnya. Dia sadar sekarang, perbedaan kekuatan di antara mereka bukanlah sedikit, melainkan jurang yang dalam. Dan dia baru saja membangunkan seekor singa yang selama ini tidur.

Saat Kaelen menghilang di ujung jalan. Kabar itu mulai terbang lebih jauh lagi. Kaelen Voss bukan lagi anak buangan yang menyedihkan. Dia telah menjadi sosok misterius yang kuat. Sosok yang membuat seluruh Kota Aras mulai sadar bahwa perubahan besar sedang terjadi.

Dan di dalam benaknya, suara sistem kembali berbunyi dengan nada gembira dan pujian.

[PERTARUNGAN SELESAI. KEMENANGAN DIPEROLEH.]

[PENGUASAAN ELEMEN ANGIN MENINGKAT MENJADI TINGKAT MAHIR.]

[STATUS: SEMAKIN DEKAT MENUJU PUNCAK.]

Kaelen tersenyum tipis sambil terus berjalan pulang. Pertarungan hari ini hanyalah awal dari pengumuman besar kepada dunia. Dia akan terus tumbuh, terus menyerap, dan terus mengalahkan siapa saja yang menghalangi jalannya menuju takhta tertinggi.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • PENGUASA ELEMEN MUTLAK    12. Konfrontasi Dengan Elit

    Kabar tentang keberhasilan Kaelen, Lira, dan Dimas keluar dari Hutan Dalam dengan selamat. Bahkan membawa pulang Inti Elemen Naga Tanah Purba yang legendaris menyebar ke seluruh penjuru Akademi Sihir Kerajaan bagaikan badai. Tidak ada satu pun siswa atau pengajar yang tidak mengenal nama Kaelen Voss saat ini. Pemuda yang dulunya dianggap sampah. Kini berubah menjadi sosok misterius yang mampu melakukan hal-hal mustahil.Namun semakin tinggi pohon menjulang. Semakin kencang angin bertiup. Rasa kagum dan takut dari sebagian besar siswa berbanding terbalik dengan rasa marah dan dendam yang membara di dada para anggota Kelompok Mahkota Emas. Bagi mereka, kemenangan Kaelen adalah penghinaan terbesar terhadap status dan kekuasaan mereka. Di mata mereka, rakyat biasa seharusnya selamanya tetap menjadi rakyat biasa. Tidak boleh naik ke atas, apalagi menyalip dan membuat mereka tampak konyol.Dan kemarahan itu memuncak paling hebat di hati sosok kedua terkuat di kelompok itu, sosok yang posisi

  • PENGUASA ELEMEN MUTLAK    11. Ketakutan Valerius

    Tanpa menunggu jawaban lagi, Kaelen melesat maju. Dia tidak berlari, dia melayang rendah di atas tanah didorong oleh elemen Angin dan Petir yang berpadu. Kecepatannya melebihi apa pun yang pernah dilihat Lira dan Dimas.Naga Tanah Purba itu meraung marah melihat makhluk kecil berani mendekat. Dia menghentakkan kaki depannya ke tanah. Seketika itu juga, puluhan duri batu setajam pedang melesat keluar dari permukaan tanah, menyambar ke arah Kaelen dari segala penjuru.Namun Kaelen tidak menghindar. Dia mengerahkan elemen Tanah di dalam tubuhnya. Kulitnya berubah menjadi berwarna cokelat keemasan. Keras dan kokoh seperti logam tempaan terbaik. Duri-duri batu itu menghantam tubuhnya namun pecah berantakan tanpa meninggalkan sedikit pun goresan."Kulit Batu, tingkat Mahir saja sudah sekuat ini?" batin Kaelen kagum sekaligus makin bersemangat. "Kalau aku menyerap kekuatan makhluk ini, seberapa kuat aku nanti?"Saat Kaelen mendekati tubuh raksasa itu, ekor naga yang berujung duri berayun der

  • PENGUASA ELEMEN MUTLAK    10. Dia Kunci Ke Tingkat Tinggi

    Kaelen menghela napas panjang. Merasakan aliran energi Tanah yang luar biasa memenuhi seluruh tubuhnya. Dia bisa merasakan kekerasan, kestabilan, dan ketahanan yang menjadi sifat dasar elemen ini. Pengetahuan tentang bagaimana menyatu dengan tanah. Bagaimana mengeraskan kulit, dan bagaimana mengendalikan bebatuan langsung tertanam kuat di ingatannya seolah dia telah mempelajarinya selama puluhan tahun.[SERAPAN BERHASIL. ELEMEN TANAH: TINGKAT DASAR 100% — MENINGKAT KE TINGKAT MAHIR][KEMAMPUAN BARU DIPEROLEH: KULIT BATU, PERTAHANAN MUTLAK, KENDALI TANAH DAN BATU]Kaelen menoleh ke arah kedua temannya yang masih terpaku. Senyum tipis terukir di bibirnya."Kau tidak apa-apa, Dimas?" tanyanya sambil mengulurkan tangan membantu Dimas bangkit."Kau. Apa yang baru saja kau lakukan?" tanya Dimas tergagap. Masih menatap bangkai makhluk raksasa itu tak percaya. "Kulitnya? Dia menjadi tanah begitu saja. Kau menyedot kekuatannya?""Begitulah kira-kira," jawab Kaelen mengelak. Tidak mau membuka r

  • PENGUASA ELEMEN MUTLAK    9. Ujian Masuk Yang Menegangkan

    Kemenangan telak Kaelen atas Geraldo di babak penyisihan bukan hanya membuat geger seluruh Akademi Sihir Kerajaan, tetapi juga mengubah pandangan semua orang terhadap pemuda yang dulunya dicap sampah itu. Kata-kata ancaman dan ejekan kini berubah menjadi rasa hormat, rasa takut, dan rasa penasaran yang luar biasa.Namun bagi Kaelen, pertarungan itu hanyalah pemanasan. Dia tahu, untuk bisa bertahan hidup di lingkungan ini dan mencapai tujuannya, ia harus terus tumbuh lebih kuat lagi.Beberapa hari setelah pertandingan itu, pengumuman besar dibacakan di lapangan utama akademi. Ini adalah tahap akhir dari rangkaian ujian penyaringan tahunan. Ujian yang paling berat, paling berbahaya, dan sekaligus paling menentukan nasib setiap siswa baru adalah Ujian Bertahan Hidup di Hutan Dalam.Berbeda dengan Hutan Pinggiran tempat Kaelen berlatih dulu, atau Hutan Latihan biasa di belakang akademi. Hutan Dalam adalah wilayah yang benar-benar liar. Belum terjamah sepenuhnya, dan menjadi rumah bagi rib

  • PENGUASA ELEMEN MUTLAK    8. Ucapan Dan Tantangan Kaelen

    Minggu-minggu berlalu dengan cepat. Kabar tentang persaingan antara "Anak Desa" melawan "Kelompok Bangsawan Tinggi" telah menjadi pembicaraan hangat di seluruh akademi. Sebagian besar siswa bertaruh bahwa Kaelen akan hancur lebur. Lagi pula, bagaimana mungkin seorang anak miskin dari desa terpencil bisa melawan keturunan bangsawan yang telah ditempa kekuatan sejak bayi dan memiliki sumber daya tak terbatas?Namun ada juga sekelompok kecil siswa dari kalangan rakyat biasa atau bangsawan rendah yang mulai menaruh harapan pada Kaelen. Mereka juga sering diperlakukan semena-mena oleh Kelompok Mahkota Emas, dan diam-diam mereka berharap ada seseorang yang bisa menekan kesombongan para bangsawan itu.Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu pun tiba yaitu Ujian Penyisihan Bulanan.Hari itu, Arena Pertarungan Besar Akademi dipenuhi sesak oleh ribuan siswa, guru, dan pejabat kerajaan yang diundang khusus. Arena itu luasnya seperti sebuah lapangan kota. Dikelilingi tribun penonton bertingkat-tingkat

  • PENGUASA ELEMEN MUTLAK    7. Kesombongan Reynald

    Lira menghentikan bicaranya. Wajahnya berubah tegang. Dimas meletakkan sendoknya perlahan. Matanya menatap tajam ke arah kelompok bangsawan itu. Sementara Kaelen tetap tenang. Dia terus mengunyah makanannya pelan, seolah kehadiran mereka tidak berarti apa-apa."Lihat siapa yang ada di sini," suara Geraldo memecah keheningan. Nadanya keras dan mengejek. Dia menunjuk ke arah Kaelen dengan jari kasarnya. "Rakyat jelata dari desa kumuh berani duduk di meja yang sama dengan Nona Lira dan Tuan Dimas. Apakah kau tidak tahu etika, sampah?"Selena tertawa renyah namun penuh sarkasme. Dia menatap pakaian Kaelen dengan pandangan menjijikkan, seolah melihat kotoran di jalanan. "Lira, kenapa kau mau berteman dengan makhluk seperti ini? Lihat bajunya, kotor dan bau. Dia cuma penerima sumbangan belas kasihan kerajaan. Tempatnya ada di kolong meja, bukan di atas kursi yang sama dengan kita."Lira berdiri marah, wajahnya memerah karena emosi. "Cukup! Kaelen adalah temanku! Tidak ada aturan yang melara

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status