ANMELDENAdrian sempat tersentak kecil, matanya melirik ke arah Alana dengan ketertarikan yang baru. *Arsitek Algoritma Kuantum pertahanan negara?* batinnya menganalisis. Fakta baru ini seketika mengurai banyak teka-teki mengenai tabiat kaku wanita tersebut. Berdasarkan literatur psikologi taktis yang Adrian pahami, individu yang menghabiskan masa mudanya di dalam laboratorium enkripsi kuantum tingkat tinggi cenderung mengunci emosi sosial mereka di titik terendah. Mereka terbiasa melihat dunia sebagai barisan kode biner yang mutlak—benar atau salah, untung atau rugi. Hal ini menjelaskan mengapa Alana memiliki pembawaan yang sangat dingin, menjaga jarak dari interaksi emosional, mengalami keretakan hubungan internal dengan keluarga besarnya yang penuh intrik, dan memiliki area kosong tanpa riak dalam sejarah asmaranya. Wanita ini mengisolasi dirinya di dalam menara gading algoritma demi melindungi kewarasannya dari kekejaman dunia luar. "Arissa, hentikan bahasan yang tidak fungsional itu,"
Alana mematikan layar laptopnya dengan ketukan pelan, beralih menatap Adrian dengan sepasang mata yang menyipit tipis, memancarkan intonasi yang sarat akan ujian taktis. "Kamu memecahkan enkripsi *Viper-7* itu dalam waktu kurang dari delapan menit, Adrian. Tapi sebuah sistem keamanan tidak akan berjalan hanya dengan modal jari yang cepat. Apakah kamu memiliki kapasitas otak yang cukup untuk memahami mengapa saya sengaja memotong dana talangan untuk pabrik manufaktur di sektor barat pagi ini?" Adrian menyandarkan punggungnya di sofa kulit, menopang dagu dengan jari-jemarinya yang kokoh. "Pola pikir seorang tiran korporasi biasanya terlalu berbelit-belit untuk konsumsi logika masyarakat awam, nona CEO. Tapi jika Anda menuntut sebuah jawaban, saya tidak keberatan untuk membaca polanya." "Saya memberikanmu waktu tiga puluh menit untuk membedah draf data audit operasional dari *Konsorsium Barat* ini melalui tablet di tanganmu," tantang Alana, sudut bibirnya terangkat tipis, membentuk
"Saya hanya kurang tidur karena harus memproses peta jaringan distrik ini semalaman, nona CEO. Menguap adalah reaksi biologis yang lurus, bukan tanda saya sedang kehilangan fokus," kilah Adrian, wajahnya kembali tenang dan datar, menetralisir sisa rasa canggung akibat ketahuan mengintip lewat cermin kabin tadi. Alana menarik pandangannya dari laptop dengan gerakan ketus, sepasang matanya memancarkan penilaian yang sangat tajam dan dingin. "Pria manipulatif yang berlindung di balik pembenaran biologis. Adrian, dari seluruh elemen pria taktis yang pernah direkomendasikan kepada keluarga saya, kamu adalah spesimen yang paling membingungkan. Kamu serakah terhadap nominal kontrak, bermulut tajam, namun di saat yang sama, kamu menolak membuang kotak instrumen berkarat yang hampir membuat pos keamanan rumah saya melakukan siaga satu kemarin sore." Adrian mengulas senyum tipis, tangan kanannya dengan tenang memutar kemudi Lexus LX 570 memutari ramp spiral menuju area parkir bawah tanah
Adrian menarik napas panjang, sudut mulutnya berkedut menahan jengkel. "Dan kamu memanfaatkan kepolosan serta loyalitas Vera untuk memercayai skenario fiktif itu?" "Vera mungkin sangat jeli dalam urusan strategi pemasaran makro, tetapi untuk urusan operasi taktis dan sejarah keluarga besar mu, dia selalu menaruh kepercayaan mutlak pada keputusan saya," Alana akhirnya menghentikan ketikannya. Ia mendongak, sepasang mata beningnya menatap Adrian dengan kilatan dingin yang menuntut patuh. "Daripada kamu sibuk berlagak seperti pahlawan moralitas yang mencemaskan perasaan bawahanku, lebih baik kamu tanda tangani kontrak kerja sekunder ini." Sebuah draf dokumen formal bermaterai disorongkan ke depan dada Adrian. Pria itu memungutnya, membaca judul besarnya: *Kontrak Kerja Sama Eksklusif Penanggulangan Risiko Domestik dan Korporasi.* "Kamu benar-benar ingin mengikat saya di dalam kantormu?" tanya Adrian, matanya menyipit. "Mengingat betapa ogah-ogahannya kamu saat menerima panggila
. "Mas Adrian, jangan terlalu dimasukkan ke dalam hati sikap dingin Nona Alana tadi. Anak itu sebenarnya memiliki kepedulian yang besar, hanya saja egonya terlalu tinggi untuk mengakuinya. Jika dia benar-benar membencimu, dia tidak akan membiarkan saya menceritakan masa lalumu, dan dia tidak akan mencoba menghubungimu subuh tadi." Adrian menurunkan gelas es kosonnya, bibirnya mengulas senyum tipis yang asimetris. "Dia hanya cemas saya memicu keributan yang bisa mencoreng nama baik bisnis keluarganya, Bibi. Wanita secerdas Alana selalu menghitung segala sesuatu berdasarkan untung dan rugi." "Kamu salah menilai dia, Mas," sanggah Bibi Sarah lembut namun tegas. "Setelah mendengar bahwa kamu tumbuh tanpa figur pelindung sejak kecil, sorot matanya langsung berubah. Nona Alana mungkin dibesarkan di lingkungan menara gading yang beku, tapi dia bukan wanita tanpa hati. Dia hanya... tidak tahu bagaimana cara menunjukkan kehangatan." Adrian terdiam sejenak, menatap sisa butiran es yang
Melihat bagaimana Adrian dengan patuh mundur demi menghormati prinsip prinsipilnya, rasa kagum Vera pada pria ini justru melonjak tajam. Ia tahu, pria dengan kekuatan seperti Adrian bisa saja memaksakan kehendak, namun pria ini memilih untuk menundukkan egonya di hadapan harga diri seorang wanita. Vera tersenyum manis—sebuah senyuman paling menawan yang pernah ia perlihatkan. Ia tiba-tiba memajukan tubuhnya, memberikan satu kecupan hangat yang cepat di rahang tegas Adrian, sebelum berbisik pelan di dekat telinganya, "Jika kamu bisa terus mempertahankan ketulusan dan rasa hormat ini... waktu akan memberikan seluruh jawaban yang kamu inginkan dari tubuh dan hatiku, Adrian. Bersabarlah sedikit lagi." Adrian menarik napas dalam-dalam, merasakan detak jantungnya sendiri sedikit goyah akibat serangan balik yang tidak terduga dari wanita dewasa ini. *Benar-benar berbahaya,* batin Adrian berseloroh. *Wanita berwawasan luas seperti dia ternyata jauh lebih mematikan saat mulai menggunakan p







