Masuk"Apakah hatimu yang baru saja kau serahkan padaku itu sudah termasuk dengan janji yang sempat kautinggalkan menggantung di koridor istana waktu itu, Alaric?" tanya Celestine, sepasang netra amethyst-nya berkilat penuh binar usil di balik bayangan bulu matanya yang lentik.Alaric tersenyum tipis, sebuah embusan napas lega meluncur dari bibirnya yang tegas. Tangan kanannya bergerak senyap ke balik kemeja sutra hitamnya, merogoh saku bagian dalam yang letaknya paling dekat dengan detak jantungnya. Ketika jemarinya kembali, sebuah kotak beludru hitam berukuran kecil telah berada di atas telapak tangannya.Dengan kehati-hatian yang teramat, Alaric membuka kotak tersebut di bawah siraman pendar cahaya bulan purnama. Di dalam beludru itu, sebuah cincin platinum bermaterikan lambang klan naga kekaisaran yang dipadukan dengan ukiran kelopak mawar berwarna rose gold berkilau begitu indah. Permata batu amethyst langka di pusatnya memancarkan pendar keunguan yang magis, sewarna dengan sepasang ma
"Apakah kau sedang berencana untuk menculikku dari pesta penobatanmu sendiri, Yang Mulia Raja?" tanya Celestine, suaranya mengalun lembut, memecah kesunyian malam yang magis di dalam taman kaca istana.Alaric tidak langsung menjawab. Ia perlahan melepaskan pagutan bibir mereka, namun kedua tangan kokohnya tidak bergeser sedikit pun dari pinggang ramping Celestine. Sepasang netra safirnya yang sedalam samudra malam menatap lurus ke dalam sepasang amethyst milik sang gadis, memancarkan pendaran emosi yang teramat pekat, dalam, dan sarat akan ketulusan yang membakar habis seluruh sisa keangkuhannya sebagai klan naga.Angin malam berembus tipis melalui celah ventilasi kubah kaca, menerbangkan helaian rambut perak Celestine yang berkilau di bawah siraman cahaya bulan purnama. Keheningan di sekitar mereka terasa teramat intim, jauh dari hiruk-pikuk intrik politik para bangsawan yang masih berdansa di Aula Perjamuan Agung. Di tempat yang terisolasi ini, atmosfer romantis yang intim kian mema
"Aku baru tahu bahwa seorang yang kejam seperti Anda bisa bergombal dengan kata-kata manis seperti itu,." bisik Celestine, nada suaranya berayun jenaka di antara deru napas mereka yang masih memburu halus pasca-dansa di tengah aula.Alaric tidak menyahut lewat kata-kata. Ia justru menyunggingkan seulas senyum miring—sebuah ekspresi langka yang sarat akan kepuasan maskulin—sementara jemari kokohnya kian mempererat cengkeraman pada telapak tangan Celestine. Di tengah riuhnya denting cawan kristal dan tawa karir para bangsawan yang masih memenuhi Aula Perjamuan Agung, sang Raja baru Ethelwilde itu justru melakukan tindakan nekat lainnya. Ia memutar langkah, menarik tubuh ramping Celestine keluar membelah kepungan tirai beludru emas, menyelinap melalui koridor belakang istana yang sepi dari jangkauan para pelayan maupun ksatria pengawal istana.Langkah kaki mereka yang terburu-buru bergaung halus di atas lantai marmer, menjauh dari pusat kebisingan politik. Alaric membawa Celestine menem
"Apakah Anda tidak merasa lelah, Lady Celestine, terus-menerus menolak tawaran berdansa dari para pemuda klan terhormat?" tanya seorang Countess paruh baya dari faksi selatan, senyumnya yang penuh kepura-puraan merekah lebar di balik kipas sutra berbulu miliknya.Celestine tidak langsung menjawab. Ia mengangkat cawan kristal berisi sirup anggur manis ke bibir ranumnya, menyesapnya sedikit dengan keanggunan yang membuat para bangsawan perempuan di sekelilingnya merasa terintimidasi. Gaun sutra merah keemasannya berkilau indah di bawah pendaran ratusan lilin gantung di dalam Aula Perjamuan Agung istana. Malam ini, pasca-prosesi penobatan Raja Alaric yang sakral di kuil, atmosfer riuh bersuka cita beralih menjadi lantai dansa yang penuh dengan intrik politik kelas atas.Di sekeliling tribun klan Montclair, para bangsawan tinggi dari berbagai daerah mulai berkumpul layaknya sekawanan serigala yang mengincar daging segar. Mereka mencoba mendekati Celestine dengan berbagai cara terselubung
Gema dentang lonceng perak dari puncak Katedral Agung Santo Elidyr berdentum membelah langit ibu kota, memicu gelombang sorak-sorai jutaan rakyat yang telah memadati sepanjang jalan protokol sejak fajar menyingsing. Hari yang dinantikan telah tiba. Udara pagi Ethelwilde terasa sangat bersih dan segar , dipenuhi oleh aroma kelopak bunga mawar dan minyak suci yang ditaburkan di sepanjang jalur parade. Seluruh ibu kota bersuka cita, merayakan runtuhnya bayang-bayang kelam kudeta malam lalu dan menyambut fajar baru yang membawa janji kemegahan yang mutlak.Di dalam Katedral Agung yang megah, atmosfer sakral berpadu pekat dengan ketegangan yang elegan. Karpet merah beludru berhiaskan sulaman benang emas membentang lurus dari ambang pintu utama hingga menuju altar suci tempat singgasana tertinggi berada. Di kanan dan kiri jalur lambung, ratusan bangsawan tinggi, Dewan Tetua, dan jenderal faksi militer berdiri tegak dengan zirah kebesaran dan jubah formal terbaik mereka, menahan napas dalam
"Mengapa kau tidak bisa mengetuk pintu layaknya manusia normal pada umumnya, Alaric?" bisik Celestine, suaranya mengalun lembut, memecah keheningan paviliun pribadinya saat sosok jangkung itu menyelinap masuk dari balik tirai balkon yang melambai ditiup angin malam.Alaric tidak langsung menjawab. Ia menutup kembali pintu kaca besar itu dengan senyap, lalu melangkah memangkas jarak di antara mereka. Mantel hitamnya yang berat telah ia lepaskan, menyisakan kemeja sutra hitam dengan kancing atas yang terbuka, memperlihatkan garis lehernya yang kokoh. Di bawah temaram cahaya lampu minyak yang kekuningan, wajah ketampanannya tampak teramat lelah. Gurat-gurat ketegangan politik setelah berjam-jam berhadapan dengan Dewan Agung masih tercetak jelas di dahinya.Namun, begitu sepasang netra safirnya mengunci siluet Celestine yang duduk di tepi ranjang beludru dengan gaun tidur putihnya, seluruh kelelahan itu seolah menguap tanpa sisa. Matanya hanya terfokus pada wanita itu, seolah seisi istan
Malam telah larut, namun cahaya lampu sihir di ruang kerja Grand Duke masih berpijar redup, menyinari lembaran-lembaran buku besar yang kini terasa seperti tumpukan dosa. Alaric tidak beranjak. Ia bersandar di tepi meja, melipat lengan di depan dadanya, sambil mengamati Celestine yang masih sibuk m
Pagi itu, ruang makan kediaman Montclair seharusnya menjadi tempat yang tenang untuk menikmati croissant hangat dan Teh yang baru diseduh. Namun, bagi Celestine, suasana terasa lebih mencekam daripada berhadapan dengan raja mana pun yang pernah ia bayangkan. Saat ia melangkah masuk dengan gaun pagi
Celestine mengira setelah konfrontasi panas di ruang tamu kemarin, Alaric akan memberikan jeda setidaknya beberapa hari untuk mendinginkan egonya. Namun, ia salah besar. Pangeran gila itu tampaknya telah membuang jauh-jauh rasa malunya dan menggantinya dengan kegigihan yang sangat menjengkelkan.Pa
Aroma teh Earl Grey yang mengepul dari cangkir porselen tipis itu seharusnya memberikan ketenangan, namun bagi Celestine, uap panasnya terasa seperti asap yang menyulut sumbu ledak di dadanya. Di hadapannya, duduk dengan keanggunan yang luar biasa menjengkelkan, Pangeran Alaric bersandar di kursi







