LOGINAroma rempah dan kepulan asap dari tungku perak di Paviliun Ketiga tidak mampu menenangkan kegelisahan yang kian merayap di bawah kulit Selir Ketiga Alice. Naluri lamanya sebagai seorang oportunis istana berteriak nyaring. Melalui desas-desus halus yang dibawa oleh para pelayan setianya, Alice menyadari ada pergerakan senyap di luar kendalinya—sebuah investigasi ulang mengenai kasus kematian masa lalu yang seharusya sudah membusuk di liang kubur."Mereka sedang menggali kuburan, Hans." desis Alice, sepasang matanya yang biasanya memancarkan ketenangan palsu kini berkilat penuh kegilaan yang tertahan. Ia meremas pinggiran meja riasnya hingga kuku-kukunya yang dicat merah darah memutih. "Seseorang telah menemukan Dokter Joseph. Tikus tua itu masih hidup dan bersembunyi di pinggiran kota! Harusnya sejak awal kita lenyapkan saja dia."Hans, sang kepala pelayan tepercaya di Paviliun milik Selir Alice, membungkuk dalam dengan wajah tanpa ekspresi. "Saya telah mengonfirmasi jaringan bayang
Lampu minyak di dalam ruang pertemuan rahasia di sudut terdalam kediaman Montclair berpendar temaram, memantulkan bayangan tiga sosok yang malam itu tengah memegang takdir kekaisaran di atas telapak tangan mereka. Atmosfer di dalam ruangan begitu padat dan dingin. Di atas meja kayu ek yang besar, seluruh potongan teka-teki berdarah dari masa lalu telah dihamparkan tanpa ampun, jurnal tua GrandDuchess, botol berisi sisa kelopak Belladonna Purpurea, hingga dokumen kesaksian tertulis dari Dokter Joseph.Namun, sebelum pembahasan taktik dimulai, ketegangan lain justru meletup di antara dua pria yang berdiri di sisi berlawanan meja.Begitu pintu rahasia bergeser dan menampilkan sosok Caelum yang melangkah masuk dengan gaya santainya yang khas, sepasang mata safir milik Alaric seketika menyipit tajam. Detik itu juga, sang Pangeran melepaskan sebersit mana intimidasi berwarna hitam pekat yang membuat udara di dalam ruangan mendadak turun drastis.Alaric melangkah satu blok ke depan, menatap
"Alaric, dengarkan aku baik-baik. Jangan biarkan amarahmu menghancurkan apa yang telah kita bangun."Suara Celestine mengalun rendah, bergetar di antara dinding-dinding kaca paviliun rahasia mereka yang tersembunyi di sudut terdalam taman istana. Malam itu, atmosfer di dalam paviliun terasa begitu pekat, seolah oksigen telah lenyap digantikan oleh ketegangan yang nyaris berwujud nyata. Celestine akhirnya memutuskan bahwa ia tidak bisa memikul beban kebenaran ini sendirian lagi. Menatap Alaric yang berdiri memunggunginya di dekat jendela besar, sang Mawar Perak menarik napas dalam-dalam, lalu membeberkan setiap bait pengakuan Selir Ketiga Alice yang ia dengar melalui manipulasi serbuk sari Aethel-Flora.Begitu kata terakhir mengenai bagaimana ibunya diracuni secara perlahan menggunakan Belladonna Purpurea lolos dari bibir Celestine, keheningan yang mencekam mendadak runtuh.Brak!Lantai marmer di bawah kaki Alaric mendadak retak. Sepasang mata safir milik sang Putra Mahkota berkilat t
Malam kian larut, namun kesadaran Celestine yang baru saja ingin memejamkan matanya masih tertambat erat pada getaran frekuensi sihir Aethel-Flora yang memancar dari lubuk Paviliun Ketiga. Melalui perantara serbuk sari lavender yang tak kasat mata, gema suara Selir Ketiga Alice kembali merayap masuk ke dalam rungu Celestine—membawa untaian kata yang seketika membekukan seluruh aliran darah di dalam tubuhnya. Di seberang paviliun, di balik dinding kokoh yang kedap suara bagi manusia biasa, Alice sedang berbicara dengan Hans, kepala pelayan kepercayaannya. Suara sang selir terdengar parau, terengah-engah oleh kombinasi amarah dan kepanikan yang kian memuncak. "Kau tidak mengerti, Hans! Jika rahasia sepuluh tahun lalu sampai dibongkar oleh pelacakan Devereux atau klan Montclair, riwayat kita selesai!" Alice mendesis kejam, terdengar suara cangkir porselen yang dihempaskan kasar ke atas meja. "Dua wanita sialan itu... mereka seharusnya sudah membusuk di liang kubur tanpa meninggalkan j
Kekalahan memalukan Seraphina di aula perjamuan musim panas ternyata memberikan dampak yang jauh lebih masif daripada sekadar hancurnya reputasi seorang lady kuil. Faksi Julian goyah. Bisik-bisik miring mengenai ketidakkompetenan sang Putra Mahkota dan desas-desus skandal ranjang kotornya mulai mengikis kepercayaan para bangsawan sekutu. Menyadari posisi putranya kian tersudut di ujung tanduk, sang labah-labah utama di balik bayang-bayang Paviliun Ketiga akhirnya terpaksa keluar dari sarangnya.Selir Ketiga Alice, ibu kandung Julian, mulai bergerak agresif dari balik layar. Wanita yang biasanya selalu tampil tenang dengan senyum anggun penuh kepalsuan itu tidak lagi bisa duduk diam membiarkan Alaric dan Celestine menguliti sisa-sisa pengaruh politik putranya. Pertemuan-pertemuan rahasia yang melibatkan para menteri faksi pemberontak mulai digelar secara maraton di bawah pekatnya kegelapan malam, mencoba menyusun strategi balasan untuk merebut kembali kendali suksesi.Namun, Alice ti
Rintik hujan malam itu turun membasahi atap sebuah gubuk reyot di pinggiran kota Ethelwilde. Jauh dari kemewahan lampu kristal istana, di sinilah tempat di mana rahasia berdarah kerajaann disembunyikan selama sepuluh tahun.Caelum berdiri di sudut ruangan yang remang-remang, melipat tangannya di depan dada sembari mengawasi seorang lelaki tua yang duduk gemetar di atas kursi kayu ringkih. Lelaki itu adalah Dokter Joseph, mantan dokter senior istana yang tiba-tiba mengundurkan diri dan menghilang tanpa jejak tepat setelah kematian mendiang Selir Agung—ibu kandung Alaric.Di hadapan Joseph, Celestine duduk dengan keanggunan yang kontras dengan ruangan yang pengap itu. Jubah Ungunya dibiarkan tersemat rapi, sementara sepasang matanya yang seindah batu amethyst menatap lurus ke arah sang dokter, menuntut sebuah pengakuan yang telah lama tertunda."Saya tidak punya pilihan, Lady Montclair... Saya benar-benar tidak punya pilihan." ratap Dokter Joseph, suaranya parau dan bergetar hebat karen
Malam telah larut, namun cahaya lampu sihir di ruang kerja Grand Duke masih berpijar redup, menyinari lembaran-lembaran buku besar yang kini terasa seperti tumpukan dosa. Alaric tidak beranjak. Ia bersandar di tepi meja, melipat lengan di depan dadanya, sambil mengamati Celestine yang masih sibuk m
Pagi itu, ruang makan kediaman Montclair seharusnya menjadi tempat yang tenang untuk menikmati croissant hangat dan Teh yang baru diseduh. Namun, bagi Celestine, suasana terasa lebih mencekam daripada berhadapan dengan raja mana pun yang pernah ia bayangkan. Saat ia melangkah masuk dengan gaun pagi
Celestine mengira setelah konfrontasi panas di ruang tamu kemarin, Alaric akan memberikan jeda setidaknya beberapa hari untuk mendinginkan egonya. Namun, ia salah besar. Pangeran gila itu tampaknya telah membuang jauh-jauh rasa malunya dan menggantinya dengan kegigihan yang sangat menjengkelkan.Pa
Aroma teh Earl Grey yang mengepul dari cangkir porselen tipis itu seharusnya memberikan ketenangan, namun bagi Celestine, uap panasnya terasa seperti asap yang menyulut sumbu ledak di dadanya. Di hadapannya, duduk dengan keanggunan yang luar biasa menjengkelkan, Pangeran Alaric bersandar di kursi







