LOGINBerkat cincin akik gaib warisan kakeknya, nasib Ujang si yatim piatu miskin berubah drastis menjadi pemuda kaya dengan keberuntungan tak terbatas yang kini dikelilingi wanita-wanita paling cantik di desanya. Penasaran seperti apa ceritanya? Ikuti kisah Ujang, hanya di GoodNovel...
View More“Aah… Terus, Juragan… jangan berhenti!”
Langkah Ujang tiba-tiba terhenti di tengah jalan pintas kebun pisang yang remang.
Ada suara lain. Samar-samar dan tertahan. Seperti erangan.
“Jangan-jangan… kuntilanak lagi?” bisiknya. Tenggorokannya kering. “Tapi masa ada kuntilanak keluar sebelum magrib?”
Tubuhnya meremang. Keringat dingin merayap di punggung. Desa mereka memang bukan tempat asing bagi cerita-cerita menyeramkan. Apalagi menjelang magrib begini.
Sebelumnya, Ujang baru saja hendak pergi ke sawah untuk mencari Swikee.
Swikee—sebutan untuk kodok yang konon jadi hidangan mahal di kota. Setiap ekor berarti nasi hangat malam ini.
Sampai tiba-tiba, di tengah perjalanan, langkahnya terhenti disebabkan oleh suara aneh yang lewat di telinganya.
Sempat ingin kabur saja, tapi mengingat perutnya keroncongan, akhirnya Ujang memberanikan diri.
Dengan napas tertahan, ia melangkah pelan mendekat. Suara itu semakin jelas. Bukan tangisan. Bukan juga jeritan… seperti hantu yang biasa ia dengar.
Rasa penasaran yang sering kali lebih berbahaya daripada ketakutan mendorongnya mendekati pondok tua yang mirip saung di sawah.
Tapi, apa yang dilihatnya membuat darahnya berdesir lebih keras daripada saat membayangkan hantu.
Bukan makhluk gaib yang ditakutkannya tadi, melainkan dua manusia berlainan jenis.
Tubuh mereka saling menyatu dalam gerakan yang tergesa-gesa dan liar, kulit berkilat oleh peluh senja. Daun-daun pisang layu di sekitar mereka berguncang pelan, debu dan kotoran menempel di lutut dan punggung.
Gerakan pria di atasnya sangat menggebu-gebu dengan tempo gerakan yang terus menghentak ke depan berulang kali.
“Aah... Maisaroh... kenapa pilih saung jelek seperti ini? Kenapa tidak di rumahmu saja?” ucap pria gendut yang berpeluh keringat di atas perempuan yang kedua kakinya menjepit pinggang pria ini.
Ujang membelalak.
Ia kenal betul suara pria itu… didukung perut sedikit membuncit yang terlihat menindih tubuh perempuan di bawahnya. Rambut belakang yang mulai menipis semakin memperkuat dugaan Ujang.
Perempuan yang dipanggil Maisaroh ini terus bergerak juga mengikuti tempo gerakan pria gendut di atasnya ini yang tergesa-gesa ingin menyudahi permainan panas ini.
“Bahaya, Juragan… banyak tetangga usil! Di sini aman, Gan… aah!” teriaknya.
Ujang semakin yakin siapa pria gendut dan perempuan di bawahnya.
“Pura-pura gak lihat saja kali ya?” pikirnya.
Tapi rasa penasaran akhirnya membuat Ujang menegur dua manusia berlainan jenis ini.
“Juragan… Baskoro?!” teriaknya spontan.
Gerakan itu langsung terhenti.
Pria setengah baya itu menoleh dengan mata membesar. Wajahnya pucat, lalu memerah. Ia segera meraih pakaian yang berserakan, panik menutup diri sebelum berdiri dengan tergesa-gesa.
Perempuan di bawahnya… rambut panjang terurai, pipi masih bersemu merah, kemudian menoleh dengan napas memburu.
Maisaroh.
Janda Kembang berusia dua puluh delapan tahun. Sosok yang selama ini Ujang pandang dengan kagum dari jauh... selalu berdandan rapi, suara lembut, senyum teduh setiap kali lewat di depan rumahnya.
“Mbak… Mai…” Suara Ujang tercekat, campur aduk antara syok dan… entah apa lagi.
Hatinya seperti dihempaskan dengan kencang ke atas tanah melihat wanita pujaannya menjadi mainan Juragan kaya di desanya.
“Ujang! Ngapain kamu ke kebun pisang sore-sore begini?” tanya Maisaroh cepat. Nada suaranya lebih terdengar sebagai protes ketimbang pertanyaan.
Juragan Baskoro, yang sudah setengah berpakaian, berdehem keras. Ia harus dengan cepat membalikkan situasi yang kacau ini.
“Kami tidak melakukan apa-apa, Jang!” katanya tegas, seolah berbicara pada bocah lima tahun yang tak paham dunia orang dewasa.
Ujang berkedip. Ia tahu apa yang ia lihat. Apa Juragan Baskoro mengira ia begitu bodohnya tidak tahu kalau mereka sedang melakukan hubungan suami istri?
“Mbak Mai… saya cuma lewat. Mau ke sawah. Jalan sini lebih dekat…” katanya pelan, lalu menambahkan dengan nada polos yang dibuat-buat, “Lagipula… kenapa Mbak Mai tiduran di saung sore-sore begini?”
Juragan Baskoro dan Maisaroh saling pandang.
Bingung menjawab pertanyaan Ujang.
“Mbak lagi capek tadi, Jang… jadi coba rebahan dulu di saung tapi malahan ketiduran sampai sore begini. Untung Juragan Baskoro tadi datang dan bangunin Mbak,” jelas Maisaroh.
“Iya… betul itu, Jang!” kata Juragan Baskoro.
“Terus ngapain juga kalian berdua saling tindih-tindihan tanpa pakai baju?” gerutu Ujang dalam hati.
Tepat di saat itu, sesuatu berkilat di mata Ujang. Bukan lagi ketakutan, melainkan kesempatan besar.
Nuraninya telah ditutupi oleh rasa lapar yang mengerogotinya.
“Kenapa tidak?” pikirnya. “Kapan lagi ia punya kesempatan seperti sekarang ini?”
“Apa batu kusam ini memang sepenting itu?”Ujang masih memandangi benda yang terletak di atas meja.Batu itu kini terlihat jauh lebih bersih setelah permukaannya dibersihkan. Namun, sejujurnya, Ujang tetap tidak melihat sesuatu yang istimewa.Bentuknya tidak beraturan. Warnanya masih kusam. Tidak ada ukiran, tulisan, ataupun tanda khusus yang menunjukkan bahwa benda tersebut memiliki nilai luar biasa.Kalau dilempar ke pinggir sungai, mungkin tidak akan ada seorang pun yang merasa ingin mengambilnya.“Batu seperti ini banyak sekali di kampung,” gumam Ujang. “Di pinggir sungai juga banyak. Dekat sawah malah lebih banyak lagi.”Kailen meliriknya. “Kamu memang selalu menganggap benda aneh sebagai benda biasa.”“Karena memang kelihatannya biasa.”Brahma tersenyum tipis.“Kakek sudah bertahun-tahun mencarinya,” kata Kailen. “Tapi ternyata batu itu malah ditemukan ada di rumahmu.”Ujang mengangkat kedua bahu. “Namanya juga kebetulan.”“Bang Ujang menemukan batu ini di mana?” Pertanyaan Auro
Beberapa pengawal berseragam hitam terlihat berjaga di sepanjang jalan menuju kediaman Keluarga Winata.Rumah itu sebenarnya lebih pantas disebut kompleks pribadi.Di balik pagar besi yang menjulang tinggi, terbentang halaman luas dengan pepohonan rindang, taman yang tertata rapi, bahkan sebuah hutan kecil di sisi timur. Jalan beraspal membelah kawasan tersebut hingga menuju bangunan utama. Tidak jauh dari sana, permukaan sebuah danau buatan berkilauan diterpa cahaya matahari pagi.Beberapa pengawal berjalan menyusuri tepian danau. Sebagian lainnya berjaga di dekat pepohonan.Keamanan tempat itu benar-benar ketat.Namun, begitu Rubicon hitam yang dikendarai Ujang mendekati gerbang utama, para pengawal langsung memberi jalan.Tidak ada pemeriksaan. Tidak ada pertanyaan. Kehadiran Kailen sudah menjadi akses langsung menuju kediaman keluarga itu.Rubicon berhenti di depan bangunan utama.Ujang turun lebih dulu. Matanya bergerak menyapu sekitar.“Rumah atau benteng?” gumamnya.Kailen yang
Rubicon hitam melaju meninggalkan Hotel Samudera Horizon, membelah jalanan Kota Samudera yang mulai ramai oleh kendaraan pagi. Pantulan gedung-gedung kaca berkelebat di kaca jendela, sementara suara mesin mobil terdengar halus dari balik kabin yang kedap.Namun, bagi Ujang, perjalanan itu bukan sekadar meninggalkan hotel.Ada terlalu banyak masalah yang belum selesai.Keisha masih menyimpan rahasia tentang keluarganya. Sheila tiba-tiba meninggalkan hotel tanpa penjelasan. Udin juga membawa cerita yang cukup membuat kepala pening.Tetapi pagi itu, ada satu hal yang jauh lebih penting.Rahasia Batu Kusam.Benda aneh yang telah dibeli Brahma Winata dari Ujang seharga lima ratus miliar rupiah, ditambah satu restoran mewah milik Keluarga Winata, ternyata menyimpan rahasia yang belum pernah Ujang pahami.Dan hari ini, Brahma berjanji akan membukanya.Ujang duduk di kursi penumpang, sesekali menatap keluar jendela. Di sebelahnya, Kailen bersandar santai sambil memainkan ponselnya.Beberapa de
Cahaya matahari pagi menyusup melalui celah tirai President Suite.Ujang membuka mata perlahan. Tubuhnya terasa jauh lebih segar dibandingkan yang seharusnya setelah melewati malam yang nyaris tanpa tidur. Ia menggerakkan bahu, lalu menguap panjang.Di sampingnya, Kailen masih terbaring. Rambut panjangnya berantakan di atas bantal. Wajahnya tampak tenang, tetapi pipinya menyimpan semburat merah ketika menyadari Ujang sudah terbangun.Semalaman, Kailen memang tidak memberinya banyak kesempatan untuk beristirahat.Keinginan Kailen untuk menyelesaikan keinginan bercinta yang sempat tertunda membuat Ujang harus menguras hampir seluruh tenaganya.Gadis itu tidak mau kalah. Setelah sebelumnya sempat menunda rencananya ketika datang bulan, Kailen kini menuntut Ujang menuntaskan janji mereka.Ujang sendiri hanya bisa tersenyum. Dengan berbagai pengalaman bersama beberapa perempuan yang pernah ia lalui, menghadapi Kailen yang keras kepala dan belum pengalaman sama sekali untuk urusan ranjang b
Juminten mendecak pelan lalu melirik jalan depan rumah. Dari kejauhan terdengar suara emak-emak sedang mengobrol sambil menampi beras. Di desa kecil seperti itu, suara sendok jatuh saja bisa berubah jadi gosip tiga hari tiga malam.“Ujang tahu sendiri gimana tetangga di sini,” katanya sambil memuta
Ujang masih terdiam dengan tubuh gemetaran melihat pemandangan indah di depannya , tak mampu bergerak sedikit pun.Maisaroh langsung menarik tangan Ujang dan diletakkannya di bagian tubuh atasnya yang seperti pualam. ‘Mbak akan melayanimu sampai puas, asalkan kau tidak mengungkit lagi masalah Mbak
Ujang mengusap mata dan berpura-pura.“Oh iya, Juragan… saya sih nggak lihat apa-apa… cuman mata saya ini agak gatal, agak buram… kayaknya butuh obat tetes mata…” katanya, lalu menyodorkan telapak tangan dengan ekspresi lugu.Juragan Baskoro menatapnya tajam. Ia bukan orang bodoh. Ia tahu maksud an
Di depan rumah Ujang berdiri Maisaroh… bukan Juragan Baskoro atau tukang pukulnya.Janda kembang itu tampak segar di bawah cahaya pagi. Kali ini ia hanya memakai kaos oblong ketat dan celana pendek… sangat jauh berbeda dengan penampilan sebelumnya.Di tangannya ada kotak plastik bening berisi kue b






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore