LOGINBerkat cincin akik gaib warisan kakeknya, nasib Ujang si yatim piatu miskin berubah drastis menjadi pemuda kaya dengan keberuntungan tak terbatas yang kini dikelilingi wanita-wanita paling cantik di desanya. Penasaran seperti apa ceritanya? Ikuti kisah Ujang, hanya di GoodNovel...
View MoreImah terdiam beberapa saat.Ia buru-buru merapikan pakaiannya sambil sesekali melirik ke arah pintu depan. Daun pintu yang rusak masih menggantung miring, membuat rumah Ujang sama sekali tidak memberikan rasa aman.Suara langkah kaki dari luar saja sudah cukup membuat jantungnya berdegup lebih cepat.“Jangan sampai ada warga masuk,” gumam Imah.Ujang juga segera merapikan pakaiannya. Baru sekarang ia teringat janji Pak RT.Pagi ini Pak RT memang akan datang membawa tukang untuk memperbaiki pintu.Kalau sampai ada yang melihat Imah berada di dalam rumahnya pagi-pagi begini, kabar itu pasti lebih cepat menyebar daripada suara ayam berkokok.Apalagi kampung mereka terkenal dengan satu hal... Gosip.Ujang baru hendak mengatakan sesuatu ketika Imah mengambil rokok kretek dari saku kebayanya.Ckrek!Api korek menyala.Imah mengisap rokok itu dalam-dalam. Aroma tembakau dan cengkih segera bercampur dengan udara pagi yang masuk melalui celah dinding.“Mengenai Amelia…” katanya sambil mengembus
Ujang masih ingin lebih. Ia merasakan tubuhnya lebih segar bugar setelah berhasil melakukannya bersama Maisaroh.Salah satu janda kembang yang dulu hanya bisa dilihatnya sudah berhasil ditaklukkan olehnya. Bahkan kapan saja ia mau, Maisaroh dengan sukarela melayaninya.Sekarang, salah satu janda desa pemikat yang juga banyak diidam-idamkan oleh pemuda desa miskin seperti dirinya ada di hadapannya.Dulu, ia hanya bisa membayangkan wajah Imah yang sangat menarik dengan kecantikan dewasanya. Sekarang, ia punya kesempatan untuk melakukannya… Kenapa tidak dicoba?Tanpa berpikir lagi, Ujang menarik tubuh Imah mendekatinya, kemudian mengecup bibir wanita ini dan melumatnya sambil menjelajahi mulutnya yang hangat.Imah yang bertubuh montok dan putih memang sangat menggoda di mata Ujang. Ia juga ingin menguji teorinya tentang berhubungan intim yang akan meningkatkan kekuatannya juga kekuatan cincin akik merahnya.Imah juga tidak menolak keinginan Ujang karena ia sudah tertarik kepada pemuda des
Ujang buru-buru merapikan kemejanya yang kusut. Rambutnya yang berantakan disisir seadanya dengan jari. Tadinya ia hendak mandi setelah Maisaroh pulang, tetapi ketukan di pintu membuat rencananya berantakan.Siapa lagi pagi-pagi begini?Ia mengembuskan napas, lalu berjalan menuju pintu depan yang masih miring akibat kerusakan beberapa hari lalu.Begitu pintu dibuka, Ujang langsung mengernyit.Seorang perempuan berdiri di hadapannya.Usianya sudah memasuki tiga puluhan, tetapi wajahnya masih tampak terawat. Kulitnya bersih, sorot matanya tajam, dan senyum tipis di bibirnya membuat Ujang seketika mengenali sosok tersebut.“Bu Imah?”Perempuan itu tersenyum.“Masih ingat sama Ibu ternyata.”“Mana mungkin lupa?” Ujang tertawa kecil. “Sudah lama Ibu gak datang.”Memang sudah cukup lama Ujang tidak bertemu Imah. Pertemuan terakhir mereka terjadi ketika Amelia gagal membeli swike dan berbagai urusan kampung membuat perhatian Ujang teralihkan.“Boleh Ibu masuk?”“Boleh. Silakan.”Ujang bergese
Maisaroh tidak melewatkan kesempatan untuk bersama Ujang di ranjang dan kasur bututnya ini setelah beberapa kali gagal melakukannya.Sejak pertama kali gagal melakukan hubungan badan dengan Ujang, Maisaroh sangat terobsesi untuk melakukannya dengan Ujang setelah merasakan besarnya pusaka Ujang yang di atas laki-laki normal.Apalagi, menurut dugaan Maisaroh, Ujang masih perjaka sehingga ia sangat beruntung jika ia yang pertama kali meruntuhkan keperjakaan Ujang.Perlahan wajah Maisaroh turun ke bawah hingga ke bagian bawah pusar Ujang. Ia langsung membuka dan menikmati pisang besar ini dengan lahapnya. Bahkan hampir tidak muat di mulutnya, tapi Maisaroh tetap bersikeras menikmatinya.Tentu saja Ujang sampai kejang-kejang merasakannya karena sentuhan Maisaroh sangat lembut dan tidak sakit.“Bagaimana, Jang? Kamu suka gak?” kata Maisaroh setelah puas menikmati pisang besar milik Ujang.Ujang yang masih merasakan getaran-getaran sensasi kenikmatan belum mampu menjawab dengan kata-kata. Ia
Di depan rumah Ujang berdiri Maisaroh… bukan Juragan Baskoro atau tukang pukulnya.Janda kembang itu tampak segar di bawah cahaya pagi. Kali ini ia hanya memakai kaos oblong ketat dan celana pendek… sangat jauh berbeda dengan penampilan sebelumnya.Di tangannya ada kotak plastik bening berisi kue b
Ujang mengusap mata dan berpura-pura.“Oh iya, Juragan… saya sih nggak lihat apa-apa… cuman mata saya ini agak gatal, agak buram… kayaknya butuh obat tetes mata…” katanya, lalu menyodorkan telapak tangan dengan ekspresi lugu.Juragan Baskoro menatapnya tajam. Ia bukan orang bodoh. Ia tahu maksud an
Juminten mendecak pelan lalu melirik jalan depan rumah. Dari kejauhan terdengar suara emak-emak sedang mengobrol sambil menampi beras. Di desa kecil seperti itu, suara sendok jatuh saja bisa berubah jadi gosip tiga hari tiga malam.“Ujang tahu sendiri gimana tetangga di sini,” katanya sambil memuta
“Aah… Terus, Juragan… jangan berhenti!”Langkah Ujang tiba-tiba terhenti di tengah jalan pintas kebun pisang yang remang.Ada suara lain. Samar-samar dan tertahan. Seperti erangan.“Jangan-jangan… kuntilanak lagi?” bisiknya. Tenggorokannya kering. “Tapi masa ada kuntilanak keluar sebelum magrib?”T












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore