Pangeran yang Membunuhku Kini Mengejar Cintaku
Celine, seorang mahasiswa psikologi, terbangun di dalam tubuh Celestine de Montclair, antagonis malang yang ditakdirkan mati dipenggal oleh tunangannya sendiri, Pangeran Alaric Alderwyn. Menyadari ia memiliki waktu tiga tahun sebelum eksekusi, Celestine bersumpah untuk mengubah takdir. Demi menyelamatkan dirinya, Ia membatalkan pertunangannya, membangkitkan kekuatan sihir kuno miliknya yang tertidur, dan menjauh dari plot utama novel.
Namun, semakin ia mencoba menghindar, dunia novel itu justru berputar ke arahnya. Alaric, sang pangeran berdarah dingin yang seharusnya membencinya, kini justru terobsesi mengejarnya.
قراءة
Chapter: 210 - Marcella yang Mesum"Aku butuh oksigen sebelum aku benar-benar meledakkan kepala Alaric di tengah lantai dansa itu."Celestine menggumamkan kalimat itu pada bayangannya sendiri di cermin koridor yang sepi. Napasnya masih memburu, sisa dari perdebatan sengit dan dansa yang terasa lebih seperti perebutan wilayah daripada sebuah tarian. Cengkeraman Alaric di pinggangnya tadi masih menyisakan rasa panas yang tidak nyaman, sementara tatapan menghakimi dari para bangsawan seolah menusuk kulitnya. Ia butuh tempat untuk bersembunyi, setidaknya selama sepuluh menit, sebelum ia harus kembali mengenakan topeng Lady Montclair yang sempurna.Langkah kaki Celestine membawanya menjauh dari aula utama, menuju sayap barat Istana. Area ini biasanya sepi, berisi deretan ruang tamu VIP yang hanya digunakan oleh keluarga berpangkat tinggi untuk beristirahat sejenak. Ia melewati lorong dengan pilar-pilar marmer yang remang, mencari satu ruangan dengan pintu kayu ek berukir yang tampak tidak dijaga.Namun, tepat saat jemariny
آخر تحديث: 2026-05-08
Chapter: 209 - Kembali ke Lingkaran Sosial"Selamat datang kembali, Lady Celestine de Montclair, Putri dari Dukedom of Belvoir. Kehadiran Anda malam ini benar-benar membuat lilin-lilin di aula ini tampak meredup."Suara Herald istana bergema, menyambut langkah Celestine saat ia memasuki aula besar Istana dalam perayaan Musim Gugur. Mengenakan gaun berbahan beludru biru gelap dengan sulaman perak yang menyerupai rasi bintang, Celestine melangkah dengan keanggunan—sebuah aura yang tajam dan berwibawa. Di sampingnya, Caelum berjalan dengan jas khas pengawal pribadi seorang lady, tangannya tetap siaga di hulu pedang, bertindak sebagai pengawal sekaligus pendamping sementara bagi sang Lady.Pesta ini adalah debut resmi Celestine setelah kepulangannya dari akademi. Ratusan pasang mata bangsawan tertuju padanya, berbisik-bisik tentang perubahan drastis pada mawar perak yang dulunya dianggap layu itu. Namun, keheningan yang mencekam tiba-tiba jatuh saat dentuman pintu ganda aula terdengar.Alaric melangkah masuk.Ia mengenakan jubah
آخر تحديث: 2026-05-08
Chapter: 208 - Lebih Lembut Namun Agresif."Aku tidak sedang meminta persetujuanmu, Celestine. Aku hanya Menambah penjagaan agar Kau tetap aman, Kau tahu sendiri musuhku ada dimana-mana sejak aku ingin merebut kembali kursi Putra mahkota."Alaric mengucapkan kalimat itu sembari menyesap teh melatinya dengan tenang di paviliun belakang kediaman Montclair. Di belakangnya, berdiri dua pria raksasa berbaju zirah hitam legam dengan lambang naga kerajaan yang membara. Mereka bukan sekadar ksatria biasa, mereka adalah anggota elit Black Griffin, pasukan yang hanya tunduk pada perintah langsung pada Alaric. Kehadiran mereka di sana terasa seperti noda tinta hitam di atas kanvas taman mawar yang indah—begitu mencolok dan asing.Celestine menatap dua ksatria itu dengan dahi berkerut, lalu beralih pada Alaric yang duduk di hadapannya dengan keanggunan yang menyesakkan. "Alaric, aku sudah cukup dengan memiliki Caelum. Ayahku juga sudah menambah penjagaan. Mengirimkan pengawal pribadimu ke rumahku tanpa persetujuanku adalah bentuk pelangg
آخر تحديث: 2026-05-08
Chapter: 207 - Kejujuran"Katakan, apa yang kau inginkan sebenarnya, Celestine? Apakah aku harus menghancurkan seluruh kerajaan ini hanya untuk mendapatkan satu anggukan darimu?"Alaric membanting tubuhnya ke sofa ruang tamu pribadi itu hingga suaranya tumbukannya cukup terdengar, memutus kesunyian ruang tamu kediaman Montclair. Ia melepaskan cengkeramannya pada pergelangan tangan Celestine, namun ia tidak menjauh. Ia duduk di sana, napasnya memburu, ia memejamkan mata dan menekan pelipisnya seolah sedang berusaha menahan badai mana yang mengamuk di balik jubah hitamnya.Ketika ia membuka matanya yang biru safir, tampak berkilat dengan intensitas yang menyakitkan. "Aku akan segera kembali menjadi Putra Mahkota. Aku sudah mengumpulkan dukungan para jenderal untuk memastikan posisimu aman. Aku memberikan perlindungan yang tidak bisa diberikan oleh pengawal kesayanganmu itu. Tapi kenapa kau masih menatapku seolah aku adalah orang asing yang berbahaya? Aku sungguh tidak mengerti."Celestine berdiri tegak, meski j
آخر تحديث: 2026-05-07
Chapter: 206 - Pertengkaran Anak KecilKereta kuda berwarna hitam legam dengan lambang naga emas yang membara berhenti tepat di depan gerbang utama kediaman Montclair tanpa pemberitahuan apa pun. Suasana sore yang tenang di kediaman Grand Duke seketika pecah oleh derap langkah pasukan ksatria berseragam hitam yang mengiringi kereta tersebut. Tidak ada surat pemberitahuan, tidak ada pembawa pesan yang datang lebih dulu. Hanya ada aura intimidasi yang pekat, seolah-olah awan badai baru saja turun dan hinggap di atas atap kediaman mereka.Caelum, yang sedang mengawasi latihan rutin di halaman depan, segera bereaksi. Wajahnya mengeras, tangannya secara insting mencengkeram hulu pedangnya saat melihat sosok yang turun dari kereta tersebut.Alaric Alderwyn, Pangeran kedua Kerajaan ini sekaligus pahlawan perang.Pangeran itu melangkah keluar dengan keagungan yang berwibawa. Jubah hitamnya menyapu lantai batu, dan setiap langkah yang ia ambil membawa tekanan mana yang begitu berat hingga para pengawal tingkat rendah di sekitar ge
آخر تحديث: 2026-05-07
Chapter: 205 - Mahkota Yang Sempat Terlupakan"Jika dengan kelembutan pun hanya tetap membuatmu terus ragu, maka biarlah kekuasaan yang memberimu jawaban, Celestine."Alaric bergumam pelan sembari menatap pantulan dirinya di cermin besar setinggi langit-langit di dalam kamar pribadinya di Paviliun Utara Istana kerajaan. Ia tidak lagi mengenakan seragam yang santai saat di laboratorium akademi milik Celestine atau pakaian berburu yang sederhana. Kini, tubuh tegapnya dibalut oleh jubah kebesaran beludru hitam dengan sulaman benang emas berbentuk naga yang melilit di bahunya. Lencana Putra Mahkota yang sempat ia abaikan kini tersemat dingin di dadanya, berkilau di bawah cahaya lilin yang temaram. Seolah ia menantang Julian yang saat ini menduduki kursi Putra Mahkota untuk mengambil yang sejak awal memang seharusnya menjadi miliknya.Tatapan matanya yang berwarna biru safir tidak lagi menyimpan sapaan hangat atau binar kesabaran dan antusias seperti saat ia berada di akademi Aethelgard bersama Celestine. Kini, mata itu hanya berisi
آخر تحديث: 2026-05-07
Chapter: Bab 247 - Akhir Kisah Lin Qian dan Wang Rui"Hoo... Huuuuuhhhh." Hari itu tidak datang dengan suara guntur atau langit yang berubah warna. Tidak ada pertanda besar di angkasa, tidak ada lonceng darurat yang dibunyikan di puncak menara. Pagi hanya terbuka perlahan, seolah semesta sengaja menahan napas agar tidak mengganggu satu peristiwa kecil yang akan mengubah segalanya. Lin Qian terbaring dengan napas yang mulai terputus-putus. Keringat dingin membasahi pelipisnya, jemarinya mencengkeram kain seprai hingga memutih. Rasa sakit itu datang bergelombang, menghantam tubuhnya tanpa ampun, namun matanya tetap jernih—setajam kristal yang ditempa api. Ia pernah menghadapi racun yang membakar tenggorokan, pengadilan yang dingin, dan penjara bawah tanah lembab yang menyiksa. Namun, rasa ini berbeda. Ini bukan rasa takut akan kehilangan nyawa. Ini adalah rasa sakit yang membawa berkah, sebuah perjuangan ketika hidup baru tengah mendobrak gerbang untuk lahir ke dunia. Di sisinya, Wang Rui berdiri kaku. Tidak ada mahkota emas
آخر تحديث: 2026-02-02
Chapter: Bab 246 - Saat Dunia Tidak Lagi BerisikIstana akhirnya terasa tentram dan damai. Bukan diam karena takut, bukan pula sunyi karena kehilangan arah. Ini adalah keheningan yang lahir setelah badai benar-benar lewat, ketika dinding tidak lagi menunggu retak, dan langkah kaki tidak lagi membawa gema ancaman. Semuanya terasa aman Pagi datang tanpa tergesa. Cahaya matahari menyelinap masuk ke lorong-lorong istana, jatuh lembut di lantai batu yang kini jarang dilalui dengan langkah terburu-buru. Para pelayan bergerak dengan ritme wajar. Tidak ada bisikan panik, tidak ada mata yang selalu mengarah ke pintu seolah menunggu kabar buruk. Lin Qian merasakan perubahan itu dari dalam tubuhnya sendiri. Kehamilannya membuat waktu terasa berbeda. Setiap hari seolah melambat, namun justru terasa penuh. Ia tidak lagi bangun dengan pikiran yang langsung sibuk menimbang kemungkinan terburuk. Tubuhnya menuntut perhatian, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia mengabulkannya tanpa rasa terbebani. Ia duduk di paviliun terbuka, juba
آخر تحديث: 2026-02-01
Chapter: Bab 245 - Huang Ziyan & Yue ErHubungan antara Huang Ziyan dan Yue Er tidak pernah diumumkan. Tidak pernah pula disepakati secara resmi sejak awal. Ia tumbuh diam-diam, seperti akar yang menembus tanah keras tanpa suara, bertahan dari tekanan, dan memilih arah sendiri tanpa perlu disorot siapa pun.Semua bermula jauh sebelum kekacauan istana mencapai puncaknya. Saat Huang Ziyan pertama kali menyadari bahwa perintah Ibu Suri tidak lagi sekadar manipulasi, melainkan ancaman nyata terhadap nyawa Kaisar dan Permaisuri, ia tidak langsung memberontak. Ia memilih diam. Mengamati. Menimbang risiko dengan kepala dingin seorang tabib yang tahu, satu kesalahan kecil bisa merenggut banyak nyawa.Di masa itulah Yue Er sering berada paling dekat dengannya. Wanita muda itu tidak bertanya banyak. Tidak mendesak penjelasan. Namun kehadirannya konsisten. Membawa laporan kecil, membantu mengatur jalur logistik obat, menutup celah yang seharusnya tidak terlihat. Yue Er tidak pernah menuntut keju
آخر تحديث: 2026-01-30
Chapter: Bab 244 - Cinta yang HadirPagi di istana tidak lagi terasa seperti medan siaga. Cahaya matahari masuk tanpa terburu-buru, menyentuh lantai kayu Paviliun Qinghe yang bersih dan hangat. Tidak ada langkah cepat pelayan, tidak ada laporan mendesak. Dunia berjalan pelan, seolah memberi ruang bagi mereka yang selama ini hidup dengan kewaspadaan berlebihan.Lin Qian duduk di dekat jendela, mengenakan Hanfu santai yang sederhana. Tidak ada perhiasan berat, tidak ada sanggul ketat. Rambutnya jatuh longgar di punggung, menandakan bahwa pagi ini ia bukan Permaisuri yang harus siap dilihat siapa pun. Ia hanya seorang perempuan yang sedang mencoba menikmati keheningan.Buku terbuka di pangkuannya, namun halaman itu tidak berubah sejak beberapa waktu lalu. Pikirannya tidak benar-benar berada di sana. Tubuhnya ada di paviliun, tetapi jiwanya masih belajar menerima kenyataan bahwa ia tidak lagi harus bersiaga setiap detik.Langkah kaki terdengar dari belakang. Tidak disertai pengumuman, tidak
آخر تحديث: 2026-01-29
Chapter: Bab 243 - Kekaisaran Menuju KemajuanTidak ada genderang perang, tidak ada lonceng darurat, tidak pula bisik-bisik cemas yang biasa menyertai perubahan besar di Kekaisaran Wang. Reformasi justru dimulai dalam keheningan yang rapi, seperti air yang mengalir perlahan namun pasti mengubah bentuk batu.Lin Qian duduk di ruang kerjanya ketika gulungan pertama laporan reformasi tiba. Bukan laporan darurat, melainkan catatan perkembangan. Angka-angka yang dulunya berantakan kini tersusun rapi. Klinik-klinik daerah melaporkan penurunan angka kematian ibu dan bayi. Akademi Yaonu Tang mencatat lonjakan murid perempuan dari berbagai latar, termasuk putri petani dan anak perempuan tabib keliling yang dulu tidak pernah berani bermimpi sejauh ini.Ia membaca semuanya tanpa senyum kemenangan yang terlalu lebar, sudut bibirnya hanya terangkat sedikit sebagai senyuman tulus. Wajahnya tenang, hampir datar, namun matanya jernih. Reformasi tidak pernah terasa seperti pencapaian pribadi baginya. Ini selalu tenta
آخر تحديث: 2026-01-29
Chapter: Bab 242 - Pengangkatan Huang ZiyanIstana Kekaisaran Wangjing menyambut pagi dengan suasana yang berbeda. Bukan karena perubahan cuaca, melainkan karena arah angin kekuasaan yang akhirnya menetap. Setelah badai panjang yang mengguncang istana dalam, hari itu terasa seperti titik henti yang tegas, sekaligus awal yang baru. Upacara pengangkatan Menteri Kesehatan dilangsungkan di Aula Qianyuan, tanpa kemegahan berlebihan. Tidak ada pesta, tidak ada musik perayaan. Hanya barisan petinggi, gulungan dekrit, dan kesunyian yang penuh makna. Semua orang yang hadir memahami satu hal dengan jelas, jabatan ini bukan hadiah, melainkan amanah yang lahir dari darah, risiko, dan pilihan sulit. Huang Ziyan berdiri di tengah aula dengan jubah resmi berwarna hijau tua, warna yang melambangkan kehidupan dan pemulihan. Wajahnya tenang, tetapi sorot matanya tidak lagi menyimpan ambisi mentah seperti dahulu. Bertahun-tahun berada di bawah bayang-bayang intrik istana telah mengikis kesombongan yang pernah ia miliki, menggantinya dengan kew
آخر تحديث: 2026-01-28