Pangeran yang Membunuhku Kini Mengejar Cintaku
Celine, seorang mahasiswa psikologi, terbangun di dalam tubuh Celestine de Montclair, antagonis malang yang ditakdirkan mati dipenggal oleh tunangannya sendiri, Pangeran Alaric Alderwyn. Menyadari ia memiliki waktu tiga tahun sebelum eksekusi, Celestine bersumpah untuk mengubah takdir. Demi menyelamatkan dirinya, Ia membatalkan pertunangannya, membangkitkan kekuatan sihir kuno miliknya yang tertidur, dan menjauh dari plot utama novel.
Namun, semakin ia mencoba menghindar, dunia novel itu justru berputar ke arahnya. Alaric, sang pangeran berdarah dingin yang seharusnya membencinya, kini justru terobsesi mengejarnya.
Read
Chapter: 124 - Manipulasi Yang Tidak MempanLantai marmer Paviliun Utara terasa sedingin es di bawah telapak kaki telanjang Celestine, namun rasa dingin itu tak sebanding dengan kekosongan yang menghimpit dadanya. Malam ini, paviliun yang biasanya sunyi telah disulap menjadi ruang perjamuan yang menyesakkan. Ratusan lilin aromatik dinyalakan, aromanya yang terlalu manis—campuran amber dan mawar hitam—seolah mencoba mencekik sisa-sisa udara segar yang masuk dari celah jendela.Di sudut ruangan, sebuah gaun merah darah terbentang di atas manekin kayu. Gaun itu terbuat dari sutra terbaik dari wilayah Timur, berkilau seperti genangan darah di bawah cahaya lilin. Alaric yang memilihnya. Alaric yang memerintahkan para pelayan untuk memandikan Celestine dengan minyak bunga, menyisir rambut peraknya hingga jatuh sempurna di punggung, dan memastikan tidak ada satu pun cela yang merusak milik berharganya malam ini."Kau tampak luar biasa, Celestine."Suara itu muncul dari balik bayang-bayang pintu yang berat. Alaric melangkah masuk, men
Last Updated: 2026-03-22
Chapter: 123 - Perasaan Yang MenyimpangKesunyian di Paviliun Utara memiliki suasana yang berbeda dari kesunyian di Kediaman Montclair. Di sini, udara terasa kosong dan hampa, seolah waktu sengaja dihentikan oleh kehendak satu orang. Celestine duduk di kursi beludru dekat jendela, tangannya memegang sebuah buku tua tentang sejarah keluarga kerajaan, namun matanya tidak benar-benar membaca barisan kalimat di sana. Ia bisa merasakan keberadaan sosok di sudut ruangan—sosok yang telah menghabiskan tiga jam terakhir hanya dengan duduk diam dan menatapnya.Alaric Alderwyn.Pangeran itu tidak sedang mengenakan pakaian formal. Ia hanya memakai kemeja sutra putih yang kancing atasnya terbuka, memberikan kesan santai yang justru mengerikan. Ia tidak bicara, tidak bergerak, hanya memperhatikan setiap gerak-gerik Celestine. Cara sang pujaan hati membalik halaman buku, cara ia menarik napas, hingga cara bulu matanya bergetar."Kau terlihat jauh lebih tenang di sini, Celestine." suara Alaric akhirnya pecah, rendah dan serak seolah ia ba
Last Updated: 2026-03-22
Chapter: 122 - Sangkar Untuk Sang AntagonisKesadaran Celestine kembali secara perlahan, ditarik paksa dari kegelapan yang pekat oleh rasa mual yang mengaduk perutnya. Hal pertama yang ia rasakan adalah kelembutan sprei sutra di bawah jemarinya, namun sensasi itu tidak memberikan kenyamanan. Aroma dupa sandalwood yang berat dan manis memenuhi ruangan, mencoba menutupi bau tajam ramuan tidur alkimia yang masih tertinggal.Celestine membuka mata. Langit-langit ruangan itu dihiasi lukisan mural dewa-dewi yang tampak menatapnya dengan pandangan menghakimi. Ini bukan tendanya. Ini bukan kamarnya di Kediaman Montclair.Ia bangkit dengan kepala yang berdenyut hebat, lalu melangkah menuju jendela besar yang menjulang dari lantai hingga langit-langit. Saat menyibak tirai beludru tebal, jantungnya seolah berhenti berdetak. Di luar sana, hamparan air danau yang tenang memantulkan cahaya bulan yang pucat. Ia berada di Paviliun Utara—sebuah bangunan megah yang dibangun di atas pulau buatan di tengah danau istana, tempat yang secara histori
Last Updated: 2026-03-19
Chapter: 121 - Lamaran Elian & Kesempatan Kebebasan CelestineKetegangan di kamp perburuan masih menyisakan getaran di udara, namun Celestine tengah mengurung diri di dalam tenda pribadinya. Ia duduk di tepi ranjang, menatap Rubah Perak yang kini telah terbangun dan meringkuk tenang di sudut ruangan. Bulu peraknya berpendar lembut, seolah memberikan ketenangan yang sangat dibutuhkan Celestine di tengah badai politik dan persaingan yang baru saja meledak di luar sana.Suara gemerisik di pintu tenda membuatnya menegang, namun aroma kayu gaharu dan angin laut yang khas segera menenangkannya. Elian melangkah masuk. Pria itu telah menanggalkan jubah perburuannya yang berlumuran debu, menggantinya dengan kemeja sutra berwarna emas pucat yang melambangkan kemegahan Selatan. Wajahnya yang biasanya dihiasi senyum ramah kini tampak sangat serius, namun matanya memancarkan kelembutan yang dalam saat menatap Celestine."Kau tampak lesu, Celestine. Atau kau kelelahan?" tanya Elian pelan. Ia tidak mendekat secara agresif, melainkan berdiri di jarak yang mengh
Last Updated: 2026-03-18
Chapter: 120 - Mempersembahkan Hasil BuruanAlun-alun kamp perburuan sore itu berubah menjadi panggung pameran kekuatan yang mengerikan. Bau amis darah segar bercampur dengan aroma pinus yang terbakar, menciptakan atmosfer yang tidak begitu nyaman di bawah langit senja yang memerah. Di tengah lapangan, tumpukan hewan buruan disusun sedemikian rupa, menunjukkan hasil kerja keras para peserta bangsawan selama dua hari terakhir.Para menteri dan ningrat berdiri melingkar dengan wajah tegang, sesekali melirik ke arah tiga sosok yang menjadi pusat perhatian. Pahlawan perang, Pangeran Alaric berdiri di podium tertinggi, wajahnya sedatar dinding dengan zirah hitam yang masih menyisakan bercak darah kering. Di bawahnya, Archduke Elian berdiri dengan ketenangan yang hangat, sementara Celestine berdiri di sisi lain, menggendong seekor rubah perak yang masih tertidur dalam sangkar akar sihirnya—pemandangan yang membuat setiap pasang mata di sana tak henti berbisik.Pembawa Upacara melangkah maju, membuka gulungan perkamen dengan tangan
Last Updated: 2026-03-16
Chapter: 119 - White Mist FoxSisa hujan semalam meninggalkan aroma tanah yang segar namun berat, menyelimuti hutan perbatasan dengan kabut tipis yang merayap di sela-sela akar pohon ek. Celestine memacu kudanya dengan kecepatan sedang, membiarkan angin dingin menyapu wajahnya yang kini tampak jauh lebih tenang. "Gunakan napasmu untuk merasakan aliran mana di sekitarmu, Celestine." Bisik Celestine pada dirinya sendiri."Semangat, lady celestine!"suara Elian terdengar hangat dari belakangnya. Pria itu menjaga jarak yang cukup agar tidak mengganggu fokus Celestine, namun tetap dalam jangkauan untuk melindunginya.Celestine menutup mata sesaat, membiarkan sihir Aethel-flora miliknya merambat turun dari ujung jemarinya menuju busur Moonhart. Seketika, sensor alaminya meluas. Ia bisa merasakan detak jantung hutan, dari napas tupai yang bersembunyi hingga aliran energi murni yang terasa sangat asing di arah utara. Energi itu tidak liar seperti binatang buas, melainkan dingin, tenang, dan sangat anggun."Aku menemukan s
Last Updated: 2026-03-16
Chapter: Bab 247 - Akhir Kisah Lin Qian dan Wang Rui"Hoo... Huuuuuhhhh." Hari itu tidak datang dengan suara guntur atau langit yang berubah warna. Tidak ada pertanda besar di angkasa, tidak ada lonceng darurat yang dibunyikan di puncak menara. Pagi hanya terbuka perlahan, seolah semesta sengaja menahan napas agar tidak mengganggu satu peristiwa kecil yang akan mengubah segalanya. Lin Qian terbaring dengan napas yang mulai terputus-putus. Keringat dingin membasahi pelipisnya, jemarinya mencengkeram kain seprai hingga memutih. Rasa sakit itu datang bergelombang, menghantam tubuhnya tanpa ampun, namun matanya tetap jernih—setajam kristal yang ditempa api. Ia pernah menghadapi racun yang membakar tenggorokan, pengadilan yang dingin, dan penjara bawah tanah lembab yang menyiksa. Namun, rasa ini berbeda. Ini bukan rasa takut akan kehilangan nyawa. Ini adalah rasa sakit yang membawa berkah, sebuah perjuangan ketika hidup baru tengah mendobrak gerbang untuk lahir ke dunia. Di sisinya, Wang Rui berdiri kaku. Tidak ada mahkota emas
Last Updated: 2026-02-02
Chapter: Bab 246 - Saat Dunia Tidak Lagi BerisikIstana akhirnya terasa tentram dan damai. Bukan diam karena takut, bukan pula sunyi karena kehilangan arah. Ini adalah keheningan yang lahir setelah badai benar-benar lewat, ketika dinding tidak lagi menunggu retak, dan langkah kaki tidak lagi membawa gema ancaman. Semuanya terasa aman Pagi datang tanpa tergesa. Cahaya matahari menyelinap masuk ke lorong-lorong istana, jatuh lembut di lantai batu yang kini jarang dilalui dengan langkah terburu-buru. Para pelayan bergerak dengan ritme wajar. Tidak ada bisikan panik, tidak ada mata yang selalu mengarah ke pintu seolah menunggu kabar buruk. Lin Qian merasakan perubahan itu dari dalam tubuhnya sendiri. Kehamilannya membuat waktu terasa berbeda. Setiap hari seolah melambat, namun justru terasa penuh. Ia tidak lagi bangun dengan pikiran yang langsung sibuk menimbang kemungkinan terburuk. Tubuhnya menuntut perhatian, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia mengabulkannya tanpa rasa terbebani. Ia duduk di paviliun terbuka, juba
Last Updated: 2026-02-01
Chapter: Bab 245 - Huang Ziyan & Yue ErHubungan antara Huang Ziyan dan Yue Er tidak pernah diumumkan. Tidak pernah pula disepakati secara resmi sejak awal. Ia tumbuh diam-diam, seperti akar yang menembus tanah keras tanpa suara, bertahan dari tekanan, dan memilih arah sendiri tanpa perlu disorot siapa pun.Semua bermula jauh sebelum kekacauan istana mencapai puncaknya. Saat Huang Ziyan pertama kali menyadari bahwa perintah Ibu Suri tidak lagi sekadar manipulasi, melainkan ancaman nyata terhadap nyawa Kaisar dan Permaisuri, ia tidak langsung memberontak. Ia memilih diam. Mengamati. Menimbang risiko dengan kepala dingin seorang tabib yang tahu, satu kesalahan kecil bisa merenggut banyak nyawa.Di masa itulah Yue Er sering berada paling dekat dengannya. Wanita muda itu tidak bertanya banyak. Tidak mendesak penjelasan. Namun kehadirannya konsisten. Membawa laporan kecil, membantu mengatur jalur logistik obat, menutup celah yang seharusnya tidak terlihat. Yue Er tidak pernah menuntut keju
Last Updated: 2026-01-30
Chapter: Bab 244 - Cinta yang HadirPagi di istana tidak lagi terasa seperti medan siaga. Cahaya matahari masuk tanpa terburu-buru, menyentuh lantai kayu Paviliun Qinghe yang bersih dan hangat. Tidak ada langkah cepat pelayan, tidak ada laporan mendesak. Dunia berjalan pelan, seolah memberi ruang bagi mereka yang selama ini hidup dengan kewaspadaan berlebihan.Lin Qian duduk di dekat jendela, mengenakan Hanfu santai yang sederhana. Tidak ada perhiasan berat, tidak ada sanggul ketat. Rambutnya jatuh longgar di punggung, menandakan bahwa pagi ini ia bukan Permaisuri yang harus siap dilihat siapa pun. Ia hanya seorang perempuan yang sedang mencoba menikmati keheningan.Buku terbuka di pangkuannya, namun halaman itu tidak berubah sejak beberapa waktu lalu. Pikirannya tidak benar-benar berada di sana. Tubuhnya ada di paviliun, tetapi jiwanya masih belajar menerima kenyataan bahwa ia tidak lagi harus bersiaga setiap detik.Langkah kaki terdengar dari belakang. Tidak disertai pengumuman, tidak
Last Updated: 2026-01-29
Chapter: Bab 243 - Kekaisaran Menuju KemajuanTidak ada genderang perang, tidak ada lonceng darurat, tidak pula bisik-bisik cemas yang biasa menyertai perubahan besar di Kekaisaran Wang. Reformasi justru dimulai dalam keheningan yang rapi, seperti air yang mengalir perlahan namun pasti mengubah bentuk batu.Lin Qian duduk di ruang kerjanya ketika gulungan pertama laporan reformasi tiba. Bukan laporan darurat, melainkan catatan perkembangan. Angka-angka yang dulunya berantakan kini tersusun rapi. Klinik-klinik daerah melaporkan penurunan angka kematian ibu dan bayi. Akademi Yaonu Tang mencatat lonjakan murid perempuan dari berbagai latar, termasuk putri petani dan anak perempuan tabib keliling yang dulu tidak pernah berani bermimpi sejauh ini.Ia membaca semuanya tanpa senyum kemenangan yang terlalu lebar, sudut bibirnya hanya terangkat sedikit sebagai senyuman tulus. Wajahnya tenang, hampir datar, namun matanya jernih. Reformasi tidak pernah terasa seperti pencapaian pribadi baginya. Ini selalu tenta
Last Updated: 2026-01-29
Chapter: Bab 242 - Pengangkatan Huang ZiyanIstana Kekaisaran Wangjing menyambut pagi dengan suasana yang berbeda. Bukan karena perubahan cuaca, melainkan karena arah angin kekuasaan yang akhirnya menetap. Setelah badai panjang yang mengguncang istana dalam, hari itu terasa seperti titik henti yang tegas, sekaligus awal yang baru. Upacara pengangkatan Menteri Kesehatan dilangsungkan di Aula Qianyuan, tanpa kemegahan berlebihan. Tidak ada pesta, tidak ada musik perayaan. Hanya barisan petinggi, gulungan dekrit, dan kesunyian yang penuh makna. Semua orang yang hadir memahami satu hal dengan jelas, jabatan ini bukan hadiah, melainkan amanah yang lahir dari darah, risiko, dan pilihan sulit. Huang Ziyan berdiri di tengah aula dengan jubah resmi berwarna hijau tua, warna yang melambangkan kehidupan dan pemulihan. Wajahnya tenang, tetapi sorot matanya tidak lagi menyimpan ambisi mentah seperti dahulu. Bertahun-tahun berada di bawah bayang-bayang intrik istana telah mengikis kesombongan yang pernah ia miliki, menggantinya dengan kew
Last Updated: 2026-01-28