Pangeran yang Membunuhku Kini Mengejar Cintaku
Celine, seorang mahasiswa psikologi, terbangun di dalam tubuh Celestine de Montclair, antagonis malang yang ditakdirkan mati dipenggal oleh tunangannya sendiri, Pangeran Alaric Alderwyn. Menyadari ia memiliki waktu tiga tahun sebelum eksekusi, Celestine bersumpah untuk mengubah takdir. Demi menyelamatkan dirinya, Ia membatalkan pertunangannya, membangkitkan kekuatan sihir kuno miliknya yang tertidur, dan menjauh dari plot utama novel.
Namun, semakin ia mencoba menghindar, dunia novel itu justru berputar ke arahnya. Alaric, sang pangeran berdarah dingin yang seharusnya membencinya, kini justru terobsesi mengejarnya
Lesen
Chapter: 016 - Benang Kusut"Tahan napasmu, Lady. Rasa sakit hanyalah sinyal, bukan perintah untuk berhenti."Suara Caelum memecah kesunyian hutan yang masih berselimut kabut tebal. Pagi ini, latihan terasa berkali-kali lipat lebih berat. Celestine berdiri dengan kaki gemetar, kedua tangannya menggenggam pedang kayu yang kini terasa seberat bongkahan logam. Keringat dingin bercampur embun membasahi wajahnya, namun matanya tetap terkunci pada bahu Caelum, mencoba membaca setiap denyut otot ksatria itu sebelum serangan berikutnya tiba.Wuss!Caelum menyerang lebih agresif. Celestine mencoba menghalau dengan manuver yang ia pelajari kemarin, namun gerakannya sedikit terlambat. Pedang kayu Caelum menghantam pergelangan tangannya, membuat pegangannya terlepas. Tanpa membiarkan Celestine bernapas, Caelum memberikan sapuan kaki yang membuat Celestine terpelanting.Celestine mendarat dengan keras di atas tanah yang dipenuhi ranting tajam. Sebuah luka sayatan cukup panjang merobek kemeja linen di lengan atasnya, mengelu
Zuletzt aktualisiert: 2026-01-26
Chapter: 015 - Kekesalan Celestine"Katakan pada pengawal itu untuk membawa kembali kertas ini ke pemiliknya sebelum aku kehilangan kesabaran dan menjadikannya sasaran latihan panahku."Suara Celestine memotong keheningan hutan dengan tajam, membuat Milly yang baru saja tiba di tanah lapang utara tersentak hingga hampir menjatuhkan nampan peraknya. Celestine bahkan tidak menoleh, ia masih sibuk mengelap keringat di lehernya dengan handuk kasar, sementara napasnya masih memburu akibat sesi latihan tanding dengan Caelum. Di hadapannya, Milly berdiri gemetar sembari menyodorkan sepucuk surat dengan segel lilin merah gelap bermotif singa—lambang keluarga kerajaan, lebih tepatnya yang mengirim surat adalah Pangeran Alaric Alderwyn."My Lady, pengawal istana bersikeras agar Anda membacanya secara langsung begitu menerima surat ini. Beliau berkata ini adalah perintah langsung dari Yang Mulia Pangeran." lapor Milly dengan suara bergetar, matanya melirik cemas ke arah gerbang hutan di mana seorang prajurit berbaju zirah perak
Zuletzt aktualisiert: 2026-01-26
Chapter: 014 - Gema yang Terusik"Ck! Huhhh.." Alaric mendengus frustasi. Alaric memutar-mutar segel cincin di jari telunjuknya, sebuah kebiasaan yang muncul hanya saat ia sedang menyusun strategi perang yang rumit. Namun kali ini, medannya bukan lagi hamparan salju yang luas, melainkan ruang tamu kediaman Montclair yang wangi akan aroma teh. Ia merasa seperti seorang predator yang baru saja menyadari bahwa mangsa yang biasanya menyerahkan diri secara sukarela, tiba-tiba menumbuhkan taring dan menghilang ke dalam semak berduri. Ada rasa frustrasi yang halus, merayap di balik ketenangannya. Ia benci kenyataan bahwa ia menghabiskan lebih dari satu jam hanya untuk memikirkan diksi dalam sebuah surat undangan. Alaric adalah matahari bagi Celestine, ia adalah poros tempat gadis itu berputar, memuja setiap bayangan yang ditinggalkan Alaric. Kini, saat matahari itu kembali, ia menemukan bahwa dunianya telah kehilangan gravitasi. Celestine tidak lagi menunggunya di depan gerbang dengan mata berkaca-kaca. Sebalikn
Zuletzt aktualisiert: 2026-01-25
Chapter: 013 - Ambisi CelestineTukk! Tukk! Wuss!Suara dentingan pedang kayu yang beradu memecah keheningan fajar di hutan utara Montclair. Udara pagi yang berkabut terasa menusuk, namun keringat tampak membasahi kening Celestine, mengalir melewati pelipisnya hingga jatuh ke tanah yang lembap. Tubuhnya yang terbiasa dengan kemewahan kini dipaksa untuk melampaui batasnya. Setiap otot di lengannya menjerit karena kelelahan, namun setiap kali ia goyah, tatapan dingin Caelum memaksanya untuk kembali tegak.Latihan pedang ini bukan lagi sekadar sandiwara. Caelum tidak memberikan ruang bagi Celestine untuk bernapas. Ia menyerang dengan sudut-sudut yang sulit, memaksa Celestine untuk menggunakan insting observasinya—kemampuan psikologisnya untuk membaca gerak tubuh lawan sebelum serangan itu benar-benar dilancarkan. Celestine belajar bahwa bertarung bukan hanya soal kekuatan fisik, melainkan tentang membaca ritme dan memecahkan konsentrasi lawan. Sepertinya ia harus melakukan latihan fisik setiap hari mulai sekarang.Se
Zuletzt aktualisiert: 2026-01-25
Chapter: 012 - Cael Bersumpah"Sekarang kau sudah melihat rahasiaku, Caelum Devereux. Pilihlah sekarang... kau ingin menjadi ksatria yang menjaga rahasia ini, atau kau ingin menjadi orang pertama yang aku hancurkan dengan kekuatan ini?" Napas Celestine terasa seperti serpihan es yang menyayat paru-parunya. Ia bersandar berat pada lengan Caelum, membiarkan ksatria itu menopang tubuhnya agar tidak ambruk ke tanah yang lembap. Meski tubuhnya menggigil hebat, mata ungu amethyst miliknya tetap terkunci pada Caelum, menunggu jawaban atas ancaman dan tawaran yang baru saja ia lontarkan. Caelum terdiam, matanya masih terpaku pada cahaya hijau dan ungu redup yang memudar di punggung Celestine. Sebagai putra kedua yang terbuang, ia telah melihat banyak hal di medan perang, namun melihat manifestasi fisik dari sihir kuno yang melegenda adalah sesuatu yang berbeda. Ia mendengus, suaranya rendah, ada nada hormat yang tidak sengaja menyelinap masuk. "Hahhh, Anda mempertaruhkan nyawa Anda untuk menunjukkan ini pada saya, L
Zuletzt aktualisiert: 2026-01-24
Chapter: 011 - Caelum Devereux"Saya pikir Anda salah arah. Butik perhiasan ada di pusat kota, bukan di hutan terkutuk ini, Lady Montclair. Hutan ini tidak ramah pada wanita yang manja."Suara berat dan serak itu menyambut Celestine bahkan sebelum ia sempat menginjakkan kaki di tanah lapang utara. Pria yang bersandar pada pohon oak tua itu tidak bergerak, tangannya bersedekap dengan pedang besar yang tersampir di punggungnya. Angin di pinggiran hutan utara wilayah Montclair terasa jauh lebih tajam. Di sini, pepohonan tidak lagi rimbun dengan bunga, melainkan dipenuhi batang-batang hitam yang menjulang tinggi, seolah-olah menjadi saksi bisu bagi para ksatria yang sedang dalam pelatihan.Caelum Devereux menatapnya dengan pandangan yang meremehkan, seolah-olah Celestine hanyalah gangguan kecil di tengah jadwal latihannya yang serius. Jubah kulitnya yang kusam dan pedang besar yang tersampir di punggungnya memberikan kesan bahwa dia bukan sekadar ksatria bangsawan, melainkan seorang penyintas.Celestine berhenti tepat
Zuletzt aktualisiert: 2026-01-24
Chapter: Bab 235 - Isi Hati Wang ZhenBab 235 — Penangkapan“Ibu Suri, demi hukum Kekaisaran WangJing, Anda ditahan.”Kalimat itu diucapkan tanpa emosi, tanpa getaran kemenangan. Justru karena itulah ia terdengar begitu final. Aula istana yang sejak tadi dipenuhi bisik dan napas tertahan, kini jatuh ke dalam keheningan yang berat, seolah semua orang membutuhkan waktu untuk mencerna bahwa kata-kata itu benar-benar terjadi.Ibu Suri tidak langsung bereaksi. Ia berdiri di tempatnya, wajahnya masih tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja kehilangan segalanya. Tatapannya menyapu aula, melewati para pejabat yang dulu menunduk penuh hormat, kini menghindari matanya satu per satu.Penahanan itu dibacakan resmi. Tuduhan pembunuhan berencana terhadap Kaisar Wang Rui. Tuduhan penggelapan keuangan negara melalui jaringan pejabat lama. Daftar pelanggaran itu panjang, dibacakan perlahan, seperti penghitungan utang yang akhirnya jatuh tempo.Tidak ada bantahan. Tidak ada teriakan tentang fitnah atau sihir. Ibu Suri hanya m
Zuletzt aktualisiert: 2026-01-26
Chapter: Bab 234 - Kekalahan Telak“Saya akan bicara.” suara itu memotong aula sebelum siapa pun sempat memberi perintah. Kalimat pendek itu cukup untuk membuat bisik-bisik terhenti. Semua mata beralih padanya. Tidak ada teriakan. Tidak ada ancaman lanjutan. Hanya keheningan yang tiba-tiba menjadi terlalu rapat.Kepala Kuil Fengyao palsu mengangkat kepalanya perlahan, lututnya menempel di lantai batu yang dingin. ikatan di pergelangan tangannya tidak teralu kencang, tapi cukup untuk mengingatkan dirinya bahwa tidak ada lagi jalan kembali. Wajahnya pucat, matanya tidak lagi berani menatap siapa pun. Ia tahu, sandiwara ini harus diakhiri.Ia menelan ludah, lalu mulai berbicara. Pengakuan itu keluar tanpa hiasan, seolah ia sadar bahwa kebohongan tidak lagi berguna. Ia menjelaskan bagaimana nubuat disusun. Bagaimana kata-kata dipilih agar terdengar kuno, mutlak, dan tak bisa dibantah. Bagaimana ketakutan selalu lebih cepat menyebar dibanding kebenaran.Ia berbicara tentang tinta khusus, tentang asap dupa, tentang simbol-
Zuletzt aktualisiert: 2026-01-26
Chapter: Bab 233 - Prajurit Bayangan Kaisar“Sejak kapan prajurit istana diizinkan menyamar selama bertahun-tahun... tanpa satu pun catatan?”Pertanyaan itu jatuh ke aula seperti batu ke air tenang. Meluncur singkat, dingin, dan cukup untuk membuat aula istana kehilangan keseimbangannya.Lin Yuan berdiri di tengah ruangan, tubuhnya tegap, wajahnya tenang. Bayangan tubuhnya memandang di lantai marmer. Ia tidak segera menjawab. Di sekelilingnya, para pejabat daerah yang terlibat kasus Ibu Suri mulai gelisah, seolah baru menyadari bahwa tidak semua yang hadir di aula ini tercatat secara resmi.Tatapannya beralih ke Wang Rui, seolah menunggu satu hal terakhir yang tak perlu diucapkan keras-keras. Wang Rui tidak bergerak. Tatapannya lurus ke depan. Sebuah anggukan kecil darinya menjadi isyarat yang tak perlu penjelasan.Lin Yuan akhirnya melangkah setengah langkah ke depan.“Sejak Kaisar membutuhkan mata yang tidak terlihat.” jawab Lin Yua. Suaranya datar, profesional, tanpa nada pembelaan. “Dan tangan kanan yang tidak tercatat sec
Zuletzt aktualisiert: 2026-01-26
Chapter: Bab 232 - Lin Yuan“Apakah tuduhan masih akan disebut fitnah... jika buktinya berasal dari kamar Ibu Suri sendiri?”Suara itu memotong aula seperti bilah dingin.Langkah kaki terdengar dari arah pintu besar istana. Tidak tergesa, tidak ragu. Para penjaga refleks menoleh bersamaan, sebagian bahkan belum sempat menyadari siapa yang masuk sebelum sosok tinggi dengan pakaian prajurit gelap berdiri tepat di ambang cahaya.Lin Yuan.Nama itu tidak asing bagi Lin Qian, tapi kehadirannya di tempat ini sama sekali tidak masuk dalam perhitungan apa pun. Ia sendiri bahkan sangat bingung, bagaimana bisa kakaknya yang tinggal di Desa Lanxi —Yang jaraknya tempuhnya sampai ke Ibu kota kekaisaran memakan waktu tiga hari— tiba-tiba berada di depan pintu aula.Untuk sesaat, dunia seolah menyempit bagi Lin Qian. Napasnya tertahan, jantungnya berdegup lebih cepat dari yang seharusnya. Ia menatap wajah kakaknya yang telah lama tidak ia lihat, wajah yang kini jauh lebih keras, lebih tenang, dan membawa aura seseorang yang hi
Zuletzt aktualisiert: 2026-01-25
Chapter: Bab 231 - Pengakuan Huang ZiyanAula istana belum sempat bernapas setelah penjelasan tentang dua lukisan itu.Keheningan yang muncul bukanlah ketenangan, melainkan jeda sebelum ledakan berikutnya. Para tetua dan bangsawan tinggi saling melirik, sebagian menunduk pada lukisan yang masih terbuka di lantai, sebagian lain menatap Lin Qian seolah ia baru saja menginjak wilayah terlarang yang selama ini tidak pernah disentuh siapa pun.Ibu Suri menyadari momen itu dengan cepat. Ia tidak menunggu keraguan berubah menjadi keyakinan. Ia juga tidak mencoba membantah penjelasan Lin Qian secara rinci. Sebaliknya, ia memilih jalur paling tua, paling efektif, dan paling sulit dilawan.Ketakutan.“Cukup!” suara Ibu Suri terdengar, stabil namun mengandung tekanan berat. Ia melangkah satu langkah ke depan, tongkat kekuasaannya menyentuh lantai marmer dengan bunyi pendek yang memecah perhatian. “Penjelasan seperti itu justru semakin menguatkan dugaanku.”Beberapa pejabat terkejut. Yang lain menegang.Ia menatap lurus ke arah Lin Qia
Zuletzt aktualisiert: 2026-01-25
Chapter: Bab 230 - Bukti Lukisan PalsuLangkah kaki Lin Qian menggema pelan di aula istana yang masih dipenuhi sisa kekacauan. Tidak tergesa, tidak pula ragu. Di tangannya, dua gulungan lukisan dibawa dengan posisi sejajar, seolah ia sengaja menegaskan bahwa keduanya memiliki bobot yang sama. Mata para petinggi otomatis tertuju padanya, bukan karena perhiasan atau statusnya sebagai Permaisuri, melainkan karena waktu kemunculannya terlalu tepat untuk diabaikan. Bukankah seharusnya Lin Qian terkurung di penjara bawah tanah? Begitulah yang sedang ada di kepala semua orang dalam ruangan itu.Aula yang tadi riuh perlahan kembali hening. Keheningan jenis ini bukan karena hormat, melainkan karena ketegangan. Semua orang sadar, apa pun yang akan diungkap Lin Qian bukanlah hal remeh.“Yang Mulia...” suara Lin Qian tenang, nyaris datar. Ia berhenti tepat di tengah aula, jaraknya terukur dari singgasana dan barisan pejabat. “Saya membawa dua lukisan leluhur.”Beberapa orang saling melirik. Lukisan leluhur. Kata itu saja sudah cukup
Zuletzt aktualisiert: 2026-01-25