Masuk"Awas ya kamu! Kalau berani ngusir aku dari sini, kerjasama ayahku sama Bu Sisil bakal hancur! Kalian semua bakal nyesel!" teriak Pedro dengan sisa keangkuhannya meski tubuhnya masih terkunci di bawah lutut Pram yang menekan kuat.Pram tidak terpancing emosinya. Ia justru menundukkan kepalanya, mendekatkan wajahnya ke telinga Pedro hingga napasnya terasa di kulit pria cabul itu. Suaranya sangat rendah, hampir berupa bisikan yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua, memastikan Dara, Sarah, dan Dahlia tidak menangkap sepatah kata pun."Dengerin baik-baik, Pedro. Aku punya foto kamu semalem yang lagi asyik memangku Tari di tempat karaoke. Aku sudah menyimpannya," bisik Pram dengan nada yang dingin dan mengancam. "Kalau sampe kamu berani ngusik bisnis Bu Sisil atau ganggu Dara lagi, aku pastiin foto itu nyampe ke tangan ayahmu dan kolega bisnis keluarga kalian. Kamu mau karir ayahmu tamat gara-gara hobimu jajan LC?"Mata Pedro seketika melotot leb
"Bu Dahlia! Ada apa kok panik gitu?" tanya Pram, ia langsung meletakkan piring pastanya yang baru separuh habis begitu melihat sang manajer berlari melintasi lorong staf dengan wajah pucat pasi.Dahlia berhenti sejenak, napasnya tersengal. "Sarah, Mas Pram! Sarah dalam masalah besar di VIP 1. Pak Pedro berulah dan suasananya bener-bener kacau di dalam sana!"Mendengar nama Pedro dan Sarah disebut dalam satu kalimat bahaya, adrenalin Pram langsung melonjak. Ia tidak membuang waktu dan segera membuntuti Dahlia menuju area VIP. Langkah kaki mereka bergersk cepat di atas karpet mahal restoran. Begitu pintu kayu yang tebal itu didorong terbuka, sebuah pemandangan panas langsung menyambut mereka.Di dalam ruangan yang terang dengan aroma anggur mahal itu, Pedro berdiri dengan wajah merah padam. Ia sedang menghardik Sarah yang berdiri tegak menghalangi akses pria itu menuju Dara. Dara sendiri nampak sedang merapik
"Dara, mobilnya udah siap. Kamu udah siap juga buat ketemu si Pedro itu?" tanya Pram sambil membukakan pintu mobil mini cooper milik majikannya, suaranya terdengar berat namun masih tetap penuh perhatian.Dara melangkah keluar dari teras rumah dengan gaun malam berwarna merah marun yang sangat ketat, menonjolkan lekuk tubuhnya yang sempurna dan sepasang melon yang nampak padat di balik kain premium itu. Ia memberikan senyum tipis yang penuh percaya diri. "Selalu siap, Mas. Kan ada Mas Pram yang jagain aku di belakang. Aku nggak takut selama Mas ada di dekatku."Sebelum masuk ke mobil, Dara sempat berhenti sejenak. Matanya menatap lekat ke arah lengan Pram. Malam itu, Pram sengaja mengenakan kemeja lengan panjang berwarna hitam yang pas di badan untuk menutupi jejak-jejak memar merah hasil 'hukuman' Dara tadi siang. "Gimana kondisi kamu Mas? Masih sakit banget ya badan Mas gara-gara aku?" tanya Dara dengan nada yang mendadak melunak, ad
"Maafin aku, Mas. Aku bener-bener lepas kendali tadi," bisik Dara lirih saat satu per satu ikatan pada pergelangan tangan dan kaki Pram mulai terlepas.Pram menghela napas panjang, menggerakkan persendiannya yang kaku dan terasa kebas. "Iya, makasih udah dilepasin. Tanganku sampe biru-biru gini," jawab Pram pelan sambil bangkit dari posisi telentang yang menyiksanya selama hampir satu jam itu.Dara langsung menghambur ke pelukan Pram, menyandarkan kepalanya di dada bidang pria itu yang penuh dengan guratan merah bekas sabetan pemukul kulit. "Aku beneran minta maaf, Mas. Ini semua salahku. Aku cuma... aku cuma takut kehilangan kamu. Pikiran soal cewek itu bikin aku jadi gila," ucapnya dengan nada penuh penyesalan, air matanya kini benar-benar jatuh membasahi kulit Pram.Pram terdiam sejenak, lalu tangannya yang masih terasa sedikit bergetar mulai mengelus kepala Dara dengan lembut. Ia merasakan kehangatan dari tubuh polos gadis itu yang
"Aku belum puas, Mas! Jangan pikir bisa lolos secepat itu setelah kamu bikin hatiku berantakan!" desis Dara dengan napas yang memburu, matanya memerah menatap Pram yang masih terikat tak berdaya.Dara tidak menunggu jawaban. Ia kembali naik ke atas ranjang dengan gerakan yang sangat kasar.Ia memposisikan dirinya tepat di atas pangkal paha Pram yang masih menegang akibat stimulasi paksa tadi. Dengan satu sentakan pinggul yang kuat, ia mengarahkan pedang pusaka Pram tepat di mulut relung curamnya.Blas!Pedang pusaka itu melesak masuk sepenuhnya, menembus lorong labirin Dara yang sudah banjir oleh cairan gairah dan sisa-sisa pelepasan sebelumnya. Dara langsung menggoyang pinggulnya dengan sangat cepat dan ritmis, persis seperti seorang penunggang kuda yang sedang memacu hewan tunggangannya di lintasan balap.Tubuh Dara meliuk-liuk liar di atas tubuh Pram. Ia menjambak rambutnya sendiri, mendongakkan kepala ke
"Rasain ini, Mas! Jangan harap bisa lolos gitu aja setelah bikin aku kesel di depan Tante Sonya tadi!" desis Dara dengan mata berkilat, tangannya semakin kencang mengocok mercusuar Pram yang sudah berada di titik nadir ketahanannya.Pram hanya bisa mengerang sangat panjang di balik penyumpal mulutnya. Tubuhnya yang terikat kencang pada sandaran ranjang mendadak menegang kaku seperti ditarik kawat baja. Sedetik kemudian, semburan dahsyat dari senapan runduknya memancar keluar dengan tekanan hebat, memenuhi rongga mulut Dara yang masih setia mengulum puncaknya.“Ahummm, mmmmm!“ teriakan Pram tertahan penyumpal mulut.Dara tidak melepaskan hisapannya sedikit pun. Dengan gerakan tenggorokan yang terlihat jelas, ia menelan seluruh cairan panas dan kental itu dalam satu tegukan rakus tanpa sisa. Setelah memastikan milik Pram benar-benar bersih, ia baru melepasnya dan menyeka bibirnya dengan punggung tangan, lalu tersenyum







