เข้าสู่ระบบGoyangan yang dilakukan oleh Dara dari posisi atas kian bergerak liar, berani, dan sarat akan tuntutan kepuasan yang membara di atas ranjang berkelambu tipis tersebut. Dengan memposisikan kedua paha mulusnya mengapit erat pinggul kekar Pram, gadis cantik itu terus memacu kecepatan pompaan pinggulnya naik dan turun bagaikan seorang penunggang kuda yang handal. Setiap kali pinggul padat Dara merosot jatuh ke bawah, pantat semoknya menumbuk keras pangkal paha Pram, menciptakan suara hantaman daging yang sangat basah dan pekat, berpadu riuh dengan gesekan cairan asmara yang sudah berbusa putih di sela-sela paha mereka.Crokkk!Crokkk!Pram yang berbaring terlentang dengan kegagahan fisik tanpa batas hanya bisa menyeringai jantan, menikmati sensasi jepitan maut dari lorong labirin Dara yang menjepit kencang setiap inci urat-urat menonjol di tongkat baseball raksasa miliknya. Kedua tangan kokoh Pram yang berotot merayap naik ke atas, mencengkeram erat pinggang ramping Dara untuk membantu
Gempuran brutal dari arah belakang dalam posisi menungging itu kian bergerak liar mencapai titik kulminasi yang luar biasa erotis. Pram yang berlutut dengan kegagahan fisik tanpa batas terus menghujani lorong labirin Dara menggunakan ketegasan jantannya yang berbentuk tongkat baseball raksasa. Setiap kali pinggul kokoh Pram menyentak maju dengan tenaga penuh, pangkal pahanya berbenturan keras dengan bongkahan belakang Dara yang padat, menciptakan suara hantaman kulit yang sangat basah dan riuh menggema di seluruh penjuru kamar lantai tiga yang sunyi.Crokkk!Crokkk!Hantaman beruntun yang menghujam telaten tepat di mulut rahim dari arah belakang benar-benar membuat Dara berada di ambang kegilaan nafsu yang paling ekstrem. Kedua tangan halusnya mencengkeram erat seprai kasur, sementara punggung moleknya melengkung membentuk busur sempurna dengan pantat semok yang sengaja dimundurkan maksimal untuk menjemput setiap tikaman dalam yang diberikan oleh Pram. Lorong intimnya yang sudah k
Gempuran dalam posisi misionaris yang dilancarkan oleh Pram kian bergerak liar dan tak terkendali di atas ranjang berkelambu tipis tersebut. Tubuh tegap Pram yang polos terus bergerak maju mundur bagaikan mesin tumbuk raksasa yang tidak mengenal kata lelah, menghujani lorong labirin Dara dengan belasan kali hentakan cepat yang sangat bertenaga. Setiap kali pinggul kokoh Pram menyentak ke depan, pangkal pahanya berbenturan keras dengan selangkangan Dara, menciptakan suara hantaman kulit yang sangat basah dan riuh memenuhi keheningan kamar lantai tiga yang sepi tersebut.Crokkk!Crokkk!Dara sudah sepenuhnya kehilangan pengendalian diri di bawah kungkungan fisik sang bos besar. Kedua tangan halusnya mencengkeram erat sprei kasur hingga kusut, sementara kepalanya bergerak menggeleng ke kiri dan ke kanan dengan rambut panjang yang berantakan di atas bantal. Lorong intimnya yang sempit dan elastis berulang kali meregang maksimal, membungkus ketat setiap inci urat-urat menonjol di tongk
Mereka melanjutkan ciuman dengan lebih liar dan buas.Pagutan bibir yang sempat terputus sejenak itu kembali bertemu dengan intensitas yang jauh lebih menuntut dan kelaparan. Pram melumat habis bibir atas dan bawah Dara secara bergantian, menghisapnya dengan rakus hingga terdengar suara kecapan basah yang begitu erotis menggema di keheningan kamar lantai tiga yang mewah tersebut. Lidah Pram kemudian menerobos masuk, membelit lidah Dara dengan penuh dominasi gagah, sementara Dara hanya bisa melenguh pasrah sembari merapatkan seluruh tubuh moleknya pada dekapan dada bidang Pram yang keras.Tangan Pram pun tak hanya meremas bongkahan bokong tinggi Dara. Tangan kekar itu merayap naik dan memainkan dua gundukan besar di dada Dara dari luar pakaian dalam posisi bibir masih saling menyatu.Dengan sangat lihat Pram kemudian menelusupkan tangannya di bawah celah pakaian atas Dara, menjalar di kulit perut yang lembut dan ramping, menggapai dua buah mengkal Dara yang membusung dibalik ikatan k
Untung saja Pram dan Dara saat berangkat dari hotel tadi sudah membawa beberapa pakaian di dalam tas mereka yang ada di dalam bagasi mobil. Mengingat niat awal mereka yang ingin langsung bergerak taktis setelah makan siang, keputusan membawa perbekalan darurat di dalam SUV sewaan terbukti menjadi langkah yang sangat tepat, sehingga mereka tidak perlu membuang waktu bolak-balik ke pusat kota Amsterdam hanya untuk mengambil baju ganti.”Baiklah kalau begitu, Om. Mulai malam ini kami akan tinggal di bangunan ini. Sisa pakaian dan koper besar kami yang tertinggal di hotel akan kami ambil besok saat senggang sekalian mengurus administrasi checkout,” ucap Pram mewakili Dara.Pak Herman tersenyum lega, merasa separuh dari beban berat yang menghimpit pundak tuanya selama berbulan-bulan ini mendadak luruh begitu saja melihat ketegasan sang ahli waris. ”Kalau begitu sekarang silakan kalian naik ke lantai tiga untuk memeriksa seluruh ruangan yang ada di sana sekaligus untuk beristirahat sejenak
”Menarik banget ini, Om. Gimana semua itu bisa terjadi?” tanya Pram, yang kini sudah memahami betul dinamika pemegangan saham berkat pengajaran intensif yang diberikan oleh Sisil selama di Indonesia. Pandangan matanya menajam, merefleksikan kecerdasan manajerial yang mengalir di dalam darahnya seiring ia mulai memetakan konspirasi besar yang sedang terjadi di jantung perusahaan peninggalan ayahnya.Pak Herman menghela napas panjang, merapatkan posisi duduknya pada meja kayu sebelum menjabarkan peta kekuatan modal yang menjadi akar dari segala konflik internal tersebut. ”Sahamku, atau lebih tepatnya saham ayahmu yang diatasnamakan aku adalah lima puluh satu persen. Di lain sisi ada pemilik saham lain yakni lima persen, dua puluh persen, dan dua puluh empat persen. Ketiganya adalah orang asli Belanda yang sejak awal ikut menanam modal minoritas di perusahaan kita.””Berjalannya waktu, mereka semakin rakus dan ingin kepemilikan saham mayoritas dari orang Indonesia sepenuhnya lepas. Dala
Pram yang duduk di balik kemudi hanya bisa menggeram dalam hati, telinganya menajam mencoba menangkap suara Sisil dari seberang telepon. 'Sialan si Pedro, ternyata dia tetep lapor ke ayahnya. Wah runyam ini kalau sampai bisnis Bu Sisil terkena imbas gara-gara kejadian tadi,' batin Pram dengan peras
"Nanti kamu mau dijemput jam berapa, Bunga? Kabari ya kalau udah selesai," tanya Pram sambil menatap Bunga yang masih berdiri di ambang pintu mobil.Bunga tersenyum manis, jemarinya memainkan ujung rambutnya dengan manja. "Nanti Bunga telepon aja ya, Mas. Soalnya hari ini ada beberapa as
"Aduh, maaf ya, Bu Sisil. Tadi itu Bunga beli es krim pas di jalan, terus pas saya ngerem mendadak es krimnya jatuh kena jok. Makanya dia tadi buru-buru masuk karena takut diomelin," ujar Pram sambil memasang wajah menyesal yang paling meyakinkan, padahal jantungnya berdegup kencang karena aroma
"Aku nggak mau tahu alasannya. Kamu nggak usah membela diri lagi! Pokoknya, Mas Pram, hari ini bener-bener nyebelin!" ketus Sisil sambil menghentakkan kakinya ke lantai teras.Sisil langsung berdiri dengan gerakan sewot, mengabaikan wajah Pram yang melongo dan serba salah. Ia melangkah masuk ke da







