INICIAR SESIÓNMendengar keputusan yang keluar dari bibir Pram, mereka terkejut bukan main. Ruang tamu yang semula tenang itu seketika diliputi oleh kepanikan instan yang luar biasa dari sepasang kekasih paruh baya tersebut. Pak Herman yang sedang memegang cangkir teh hangatnya sampai tersentak kaku, membuat beberapa tetes air tehnya melompat keluar membasahi permukaan meja kayu. Sepasang mata tuanya membelalak lebar, menatap Pram dengan raut wajah yang sepenuhnya syok, seolah-olah baru saja mendengar sebuah maklumat perang dari seorang kaisar tertinggi daripada sebuah usulan hari pernikahan.Jane juga tidak kalah histerisnya. Wanita asli Belanda yang bertubuh matang dan sensual itu reflek menutup mulutnya menggunakan kedua telapak tangan halusnya. Napasnya memburu cepat dengan dada yang naik turun dengan sangat kentara dibalik blus kerja ketatnya. Rona merah di pipinya yang semula samar kini telah berubah menjadi merah padam seutuhnya, merambat hingga ke cuping telinga dan leher mulusnya akibat
Tatapan penuh pengabdian dan cinta yang terpancar dari sepasang mata Dara membuat pertahanan profesional Pram kembali runtuh tak bersisa di dalam ruangan kerja CEO yang mewah tersebut. Tanpa membuang waktu lebih lama lagi, Pram semakin merapatkan dekapan tangannya di pinggang ramping Dara, mendongakkan sedikit dagu tirus asisten pribadinya itu, dan langsung menyatukan belahan bibir mereka dalam sebuah ciuman yang mendalam.Pram melumat bibir merah Dara dengan sangat lembut, seolah-olah ingin mengecap setiap jengkal kemanisan yang ditawarkan oleh gadisnya setelah seharian penuh mereka bertempur melawan kelicikan para pemilik saham asing. Dara melenguh halus di dalam tenggorokan, membiarkan kelopak matanya terpejam rapat seraya membalas lumatan tersebut dengan penuh kerinduan. Jemari lentik Dara merayap naik ke atas kepala Pram, menyusup di sela-sela rambut hitam sang bos besar dan menekannya agar pagutan mereka menjadi semakin intim.Perlahan, ritme ciuman itu berubah menjadi jauh l
”Halo,” terdengar tiga suara wanita yang sangat familier menjawab secara bersamaan begitu mereka mengangkat panggilan telepon dari Pram.Mereka adalah Sinar, Tari, dan Sarah yang saat ini sedang berada di Indonesia, mengurus operasional bisnis kuliner mereka di tanah air. Nada suara ketiga wanita tersebut terdengar sangat terkejut sekaligus bahagia karena tidak menyangka akan mendapatkan panggilan langsung dari sang bos besar yang sedang berada di daratan Eropa.Melihat kondisi perusahaan Husodo & Herman Silversmith di Belanda yang butuh untuk segera diganti jajaran direksi pasca rencana pensiunnya Pak Herman yang mendadak, Pram memilih menghubungi mereka dalam sambungan telepon grup. Langkah ini diambil karena Pram membutuhkan figur-figur tepercaya yang memiliki loyalitas tanpa batas untuk mengisi kekosongan tahta manajemen, agar seratus persen kendali saham yang baru saja direbutnya tidak jatuh lagi ke tangan orang asing.”Mas Pram, gimana kabar di sana? Semuanya lancar, kan?” tan
Pak Herman seketika terkejut mendengar keputusan mendadak dari sekretaris setianya tersebut. ”Kenapa begitu, Jane? Apa ada fasilitas atau gaji yang kurang? Pak Pram adalah pemimpin yang sangat baik, kamu tidak perlu khawatir dengan perubahan manajemen baru ini,” tanya Pak Herman bingung.Jane menggelengkan kepalanya dengan cepat, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya yang indah. ”Bukan begitu, Pak Herman. Bukan berarti saya tidak loyal pada Pak Pram selaku CEO baru, tapi... tapi semangat kerja saya di kantor ini runtuh seketika setelah mendengar kabar bahwa Pak Herman akan lengser dan tidak lagi berkantor di sini,” jawab Jane jujur dengan suara yang kian lirih.Pram yang memiliki ketajaman insting dan kecerdasan luar biasa segera membaca dinamika perasaan yang tersembunyi di balik raut wajah sedih sang sekretaris matang tersebut. Sepasang mata Pram menyipit jenius, menangkap adanya sebuah getaran asmara tulus yang selama sepuluh tahun ini dipendam rapat-rapat oleh Jane demi pr
Membaca itu, tubuh mereka seketika bergetar hebat. Lembaran kertas resmi berstempel hukum yang dibagikan oleh Dara bagaikan petir di pagi hari yang menyambar paksa seluruh sisa kesadaran mereka. Sepasang mata De Jong, Daan, dan Jansen terbelalak lebar menatap baris demi baris silsilah hukum dan ketetapan ahli waris tunggal yang tertulis sangat jelas di atas berkas dari Pengacara Buan. Seluruh argumen hukum, rencana gugatan pengadilan niaga, dan gertakan kosong yang baru saja mereka bangun dengan penuh emosi mendadak runtuh tak bersisa, menyisakan kepanikan yang teramat sangat di dalam dada masing-masing.”Pra-Pramono Edi Husodo?! Bu-bukankah tadi saat perkenalan pertama di awal rapat kamu hanya bilang namamu Pramono Edi, nggak ada Husodonya?!” Jansen tergagap dengan bibir yang memucat dan suara yang gemetar menahan syok yang luar biasa. Pria berperut buncit itu menatap bergantian antara dokumen di tangannya dan sosok pemuda tegap yang duduk tenang di hadapannya.Pram hanya menatap
“Kamu benar-benar berniat membunuh seluruh penghasilan kami, Pak Pram! Tindakan kasarmu ini sangat merugikan investor minoritas seperti kami yang sudah membesarkan pabrik ini sejak awal!” imbuh Jansen ikut berteriak, wajah ramah palsunya telah menjelma menjadi topeng kebencian yang sangat menyeramkan dengan mata yang melotot tajam menatap Pram.”Ini persekongkolan yang keterlaluan dan manipulasi korporasi tingkat tinggi! Kami akan menuntut tindakan sewenang-wenang aliansi kalian ini ke pengadilan niaga internasional!” lanjut Daan meluapkan ancaman kosongnya dengan napas yang memburu cepat karena merasa telah dirampok secara legal di atas meja sidang mereka sendiri.Pram tersenyum lebar, menyandarkan kembali punggung tegapnya dengan gaya yang teramat sangat santai, mengabaikan seluruh amukan dan ancaman kosong dari ketiga pria asing yang kini tampak seperti singa tua yang kehilangan taringnya di hadapannya. Dara yang berada di sampingnya ikut menatap ketiga pria itu dengan pandangan m
Sisil masih tergeletak lemas di atas kasur tipis itu, rambutnya berantakan menutupi sebagian wajah cantiknya yang memerah. Ia menyeka keringat di dahinya, lalu menoleh ke arah Pram dengan senyuman yang sangat santai, seolah tidak ada beban sama sekali. "Nggak apa-apa, Mas Pram. Malah enak rasanya
Pram berjalan ke meja rias Dara dan mengambil tube gel untuk pijat. “Lepas semua aja, lalu kamu tengkurap ya. Biar pakaiannya nggak kotor kena gel.“Dara menurut. Usai melepaskan you can see-nya, ia berdiri sedikit untuk menurunkan celana pendek berikut segitiga hanya.Mendadak pikiran Pram menjadi
Mengingat kondisi Bi Surti yang masih lemas dan tangannya yang terikat selang infus, Pram khawatir wanita itu akan jatuh terjungkal jika terus memaksakan diri dalam posisi berdiri seperti itu. Ia pun memutuskan untuk membuka mata sepenuhnya dan menangkap tangan Bi Surti."Astaga! Mas Pram... a-aku
Pram berdehem, mencoba tidak menatap terlalu lama pada bagian timun suri Dara yang menonjol di balik pakaian tipisnya. "Selain jagain jemuran Intan kalau hujan, mungkin nanti siang aku mau nyempetin jenguk Bi Surti lagi ke rumah sakit, Ra."Dara tersenyum senang. Di balik karakternya yang tegas da