Mag-log inJemari kokoh Pak Herman perlahan mulai menyusup lebih dalam, membelah dua kelopak daging intim Jane yang sudah sangat membengkak dan licin berkat luapan cairan asmara alami. Ketika ujung jari tengahnya menyentuh titik paling sensitif di bagian atas goa tersebut, tubuh Jane seketika tersentak hebat di atas kasur. Wanita Belanda itu mendesah parau dengan napas yang terputus-putus, merasakan sengatan kenikmatan yang luar biasa dahsyat menjalar hingga ke tulang belakangnya. Pak Herman mulai menggerakkan jarinya maju dan mundur secara perlahan, melakukan penetrasi awal untuk melebarkan labirin sempit istrinya sekaligus menguji kesiapan fisik Jane sebelum penyatuan yang sesungguhnya dimulai.”Ahhh... nggghhh, Mas Herman... shhh, basah banget, Mas, oooohhh!” rintih Jane pasrah dengan wajah yang mendongak ke atas dan sepasang mata biru yang terpejam sayu. Melihat respon yang begitu menggoda dari istrinya, Pak Herman tidak ingin menahan diri lebih lama lagi. Rasa penasaran dan gejolak lah
Lidah tua Pak Herman yang masih sangat bertenaga menerobos masuk secara paksa ke dalam rongga mulut Jane, membelit dan mengaduk lidah istrinya dengan sapuan-sapuan panas yang mematikan seluruh fungsi saraf kesadaran sang wanita Belanda. Jane mendongakkan kepalanya maksimal dengan leher mulus yang menegang kaku, menerima gempuran ciuman brutal dari suaminya dengan tubuh yang mendadak lemas lunglai tanpa daya di atas sprei. Kedua tangan Pak Herman kini tidak lagi diam. Jemari kokohnya mulai merayap turun dengan liar, meremas dan mencengkeram erat bongkahan bokong montok Jane dari balik kain lingerie yang tipis, memberikan remasan-remasan buas yang membuat Jane semakin mendesah hebat di sela-sela pagutan bibir mereka yang kian memanas menuntut penyatuan fisik yang sesungguhnya di atas ranjang pengantin.Pagutan bibir yang kian liar dan menuntut itu akhirnya terlepas sejenak demi memberi ruang bagi paru-paru mereka yang sudah kehabisan oksigen. Jane terengah-engah dengan napas yang mem
Malam pertama yang dinantikan pun akhirnya tiba di kediaman mewah tersebut. Setelah seluruh rangkaian acara pernikahan darurat dan ramah tamah bersama para tamu undangan selesai menjelang sore, atmosfer di dalam mansion perlahan-lahan berubah menjadi sunyi, intim, dan sarat akan ketegangan romantis yang pekat. Jarum jam besar di ruang tengah kini telah menunjukkan angka sepuluh malam. Di dalam kamar utama lantai dua yang luas, pencahayaan telah diatur sedemikian rupa menjadi sangat temaram oleh Dara sebelum ia dan Pram kembali ke kamar mereka sendiri, menyisakan pendar lampu tidur bernuansa kuning keemasan yang memantulkan bayangan sensual di atas dinding.Pak Herman berdiri tegap di dekat jendela kaca besar yang menghadap ke arah taman belakang, sudah menanggalkan beskap formalnya dan kini hanya mengenakan kimono tidur berwarna hitam longgar. Meskipun usianya sudah menginjak enam puluh fluxes lima tahun, ketahanan fisik dan sisa-sisa kegagahan maskulinnya masih terpancar jelas da
Usai ijab kabul yang menguras emosi dan air mata kebahagiaan tersebut dinyatakan sah oleh para saksi, ketegangan yang sempat menyelimuti ruang tengah mansion seketika mencair seutuhnya. Acara langsung dilanjutkan dengan sesi doa bersama yang dipimpin oleh sang penghulu, memohon keberkahan dan keharmonisan bagi biduk rumah tangga baru Pak Herman dan Jane yang baru saja resmi dipersatukan di bawah payung syariat. Setelah prosesi sakral penandatanganan buku nikah dan penyerahan mahar logam mulia seratus gram selesai dilakukan, atmosfer di dalam kediaman mewah tersebut berubah drastis menjadi sangat ceria, meriah, dan dipenuhi oleh kehangatan yang mendalam.Para tamu undangan yang terdiri dari perwakilan kedutaan besar Indonesia, beberapa kolega bisnis terdekat, serta staf kepercayaan perusahaan mulai bangkit dari duduk mereka untuk memberikan ucapan selamat. Mereka berbaris rapi, bergantian menyalami Pak Herman dan Jane yang saat ini berdiri di depan dekorasi bunga putih dengan senyum
Pagi hari jam sepuluh, halaman mansion mewah milik Pak Herman di pinggiran kota Amsterdam sudah cukup ramai. Sinar matahari pagi yang cerah namun sejuk khas musim panas Eropa menyinari hamparan rumput hijau yang tertata rapi, berpadu indah dengan dekorasi darurat bernuansa putih dan emas yang disiapkan oleh Dara dan tim logistik sepanjang malam. Beberapa mobil sedan hitam premium milik rekan bisnis terdekat dan perwakilan kedutaan besar Indonesia tampak terparkir rapi di area halaman depan. Meskipun persiapan dilakukan kurang dari dua belas jam, kekuatan uang tunai dan pengaruh besar yang digerakkan oleh Pram berhasil menyulap halaman kediaman tersebut menjadi sebuah tempat prosesi yang sangat sakral, elegan, dan intim.Karena Jane ingin ikut ke agama Islam seperti Pak Herman, akhirnya prosesinya menggunakan akad nikah yang sah secara syariat maupun hukum. Keputusan mualaf yang diambil oleh wanita Belanda bertubuh matang tersebut sebenarnya bukanlah hal yang mendadak, melainkan se
Mendengar keputusan yang keluar dari bibir Pram, mereka terkejut bukan main. Ruang tamu yang semula tenang itu seketika diliputi oleh kepanikan instan yang luar biasa dari sepasang kekasih paruh baya tersebut. Pak Herman yang sedang memegang cangkir teh hangatnya sampai tersentak kaku, membuat beberapa tetes air tehnya melompat keluar membasahi permukaan meja kayu. Sepasang mata tuanya membelalak lebar, menatap Pram dengan raut wajah yang sepenuhnya syok, seolah-olah baru saja mendengar sebuah maklumat perang dari seorang kaisar tertinggi daripada sebuah usulan hari pernikahan.Jane juga tidak kalah histerisnya. Wanita asli Belanda yang bertubuh matang dan sensual itu reflek menutup mulutnya menggunakan kedua telapak tangan halusnya. Napasnya memburu cepat dengan dada yang naik turun dengan sangat kentara dibalik blus kerja ketatnya. Rona merah di pipinya yang semula samar kini telah berubah menjadi merah padam seutuhnya, merambat hingga ke cuping telinga dan leher mulusnya akibat
"Bu Sisil, ini steaknya sudah jadi. Tapi porsinya agak kebanyakan sih, kayaknya ini cukup buat makan empat orang sekaligus," ucap Pram sambil membawa sepiring besar steak wagyu yang aromanya sangat menggugah selera ke ruang makan yang bernuansa mewah namun sepi itu.Sisil menoleh dengan mata yang s
"Cuma peduli sama diriku sendiri?" ulang Sisil dengan nada yang sangat rendah, seolah ia baru saja mendengar lelucon paling konyol di dunia. Matanya yang tajam menatap Cindy tanpa berkedip, sementara jubah mandi tebal yang ia kenakan berguncang mengikuti napasnya yang mulai memburu karena menahan
Dokk!Dokk!Dokkk!Terdengar gedoran sangat keras dari luar pintu rumah tersebut.Pram segera mempercepat langkah menuju ke pintu rumah "Ya, tunggu sebentar!" teriak Pram dengan nada tinggi. Dadanya bergemuruh.Begitu pintu terbuka, Pram langsung disambut oleh hawa panas kemarahan. Di hadapannya,
"Aduh, aku tuh sebenernya bosen banget di kosan terus kalau libur, Mas. Tapi jujur, aku belum tahu sih mau ke mana besok itu," ketik Sarah dalam pesan lanjutannya, lengkap dengan emoji wajah lesu.Pram yang sedang berbaring menatap langit-langit kamarnya segera membalas dengan senyum kecil. "Ya uda