MasukPak Herman seketika terkejut mendengar keputusan mendadak dari sekretaris setianya tersebut. ”Kenapa begitu, Jane? Apa ada fasilitas atau gaji yang kurang? Pak Pram adalah pemimpin yang sangat baik, kamu tidak perlu khawatir dengan perubahan manajemen baru ini,” tanya Pak Herman bingung.Jane menggelengkan kepalanya dengan cepat, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya yang indah. ”Bukan begitu, Pak Herman. Bukan berarti saya tidak loyal pada Pak Pram selaku CEO baru, tapi... tapi semangat kerja saya di kantor ini runtuh seketika setelah mendengar kabar bahwa Pak Herman akan lengser dan tidak lagi berkantor di sini,” jawab Jane jujur dengan suara yang kian lirih.Pram yang memiliki ketajaman insting dan kecerdasan luar biasa segera membaca dinamika perasaan yang tersembunyi di balik raut wajah sedih sang sekretaris matang tersebut. Sepasang mata Pram menyipit jenius, menangkap adanya sebuah getaran asmara tulus yang selama sepuluh tahun ini dipendam rapat-rapat oleh Jane demi pr
Membaca itu, tubuh mereka seketika bergetar hebat. Lembaran kertas resmi berstempel hukum yang dibagikan oleh Dara bagaikan petir di pagi hari yang menyambar paksa seluruh sisa kesadaran mereka. Sepasang mata De Jong, Daan, dan Jansen terbelalak lebar menatap baris demi baris silsilah hukum dan ketetapan ahli waris tunggal yang tertulis sangat jelas di atas berkas dari Pengacara Buan. Seluruh argumen hukum, rencana gugatan pengadilan niaga, dan gertakan kosong yang baru saja mereka bangun dengan penuh emosi mendadak runtuh tak bersisa, menyisakan kepanikan yang teramat sangat di dalam dada masing-masing.”Pra-Pramono Edi Husodo?! Bu-bukankah tadi saat perkenalan pertama di awal rapat kamu hanya bilang namamu Pramono Edi, nggak ada Husodonya?!” Jansen tergagap dengan bibir yang memucat dan suara yang gemetar menahan syok yang luar biasa. Pria berperut buncit itu menatap bergantian antara dokumen di tangannya dan sosok pemuda tegap yang duduk tenang di hadapannya.Pram hanya menatap
“Kamu benar-benar berniat membunuh seluruh penghasilan kami, Pak Pram! Tindakan kasarmu ini sangat merugikan investor minoritas seperti kami yang sudah membesarkan pabrik ini sejak awal!” imbuh Jansen ikut berteriak, wajah ramah palsunya telah menjelma menjadi topeng kebencian yang sangat menyeramkan dengan mata yang melotot tajam menatap Pram.”Ini persekongkolan yang keterlaluan dan manipulasi korporasi tingkat tinggi! Kami akan menuntut tindakan sewenang-wenang aliansi kalian ini ke pengadilan niaga internasional!” lanjut Daan meluapkan ancaman kosongnya dengan napas yang memburu cepat karena merasa telah dirampok secara legal di atas meja sidang mereka sendiri.Pram tersenyum lebar, menyandarkan kembali punggung tegapnya dengan gaya yang teramat sangat santai, mengabaikan seluruh amukan dan ancaman kosong dari ketiga pria asing yang kini tampak seperti singa tua yang kehilangan taringnya di hadapannya. Dara yang berada di sampingnya ikut menatap ketiga pria itu dengan pandangan m
Pak Herman menggelengkan kepalanya dengan perlahan. Gurat-gurat ketegasan di wajah tuanya sama sekali tidak menyisakan ruang sedikit pun untuk tawar-menawar harga yang sedang dicoba oleh aliansi minoritas tersebut. ”Harga jualku sudah bulat dan tidak bisa diganggu gugat lagi, Bapak-Bapak. Lima ratus juta dolar, atau tidak sama sekali,” ucap Pak Herman mengunci mati ruang negosiasi.Mendengar keputusan yang sangat mutlak itu, ketiganya menggeleng lemah, merasa tak mampu lagi membelinya. De Jong menyandarkan punggung kurusnya dengan pasrah, sementara Daan mengepalkan tinjunya di atas lutut dengan pandangan kosong menatap permukaan meja kaca raksasa. Angka delapan triliun dua ratus lima puluh miliar rupiah adalah dinding raksasa yang tidak akan pernah bisa mereka panjat dalam waktu singkat, membuat seluruh dominasi asing yang mereka upayakan selama ini runtuh seketika di hadapan kekuatan modal.Melihat musuh-musuhnya sudah kehilangan taji, Pak Herman segera mengambil alih momentum unt
“Apa-apaan ini, Herman?! Kamu pasti sudah gila! Total valuasi seluruh aset dan saham perusahaan Husodo & Herman Silversmith ini secara keseluruhan hanya bernilai satu miliar dolar! Berdasarkan perhitungan matematika ekonomi yang paling mendasar, seharusnya kuota dua puluh enam persen saham itu nilainya hanya dua ratus enam puluh juta dolar saja! Kenapa kamu menjualnya dengan harga dua kali lipat lebih mahal dari harga? Ini pemerasan!” protes De Jong dengan urat-urat di lehernya yang menonjol tegang karena merasa sedang dipermainkan.Pak Herman kembali terkekeh, menggeleng-gelengkan kepalanya dengan santai seolah amukan dari De Jong sama sekali tidak memiliki pengaruh apa pun bagi mentalnya yang kini sudah dibentengi oleh taktik jenius dari sang ahli waris tunggal. ”Terserah saya dong mau menentukan harga jual berapa untuk saham pribadiku sendiri. Kan namanya orang jualan itu bebas. Tidak ada satu pun pasal di dunia ini yang bisa memaksa seorang pemilik barang untuk menjual miliknya d
Pak Herman tersenyum miring, sama sekali tidak merasa terhina oleh ucapan Jansen karena ia sudah tahu betul tabiat asli pria berperut buncit itu. ”Kalian sepertinya tulus sekali memikirkan masa depan dan urusan ranjangku ya?” ucap Pak Herman dengan nada sarkasme yang sangat kental.De Jong cepat mengangguk, merasa bahwa umpan ramah dari Jansen mulai berhasil melunakkan pertahanan pria tua dari Indonesia tersebut. ”Benar, Herman! Kami sangat tulus ingin membantumu lepas dari semua tekanan manajemen ini. Serahkan saja dua puluh enam persen saham itu pada aliansi kami hari ini.””Sayangnya, aku sama sekali tidak ingin dibantu oleh aliansi kalian... karena aku sudah dibantu oleh orang lain,” jawab Pak Herman dengan sebuah senyuman penuh kemenangan yang seketika meruntuhkan rasa percaya diri ketiga pria Belanda tersebut.”Dibantu orang lain? Siapa?” ketiganya membeo secara bersamaan dengan kening yang berkerut dalam, merasa kecolongan karena selama ini pengawasan mereka terhadap pergerakan
Pram yang duduk di balik kemudi hanya bisa menggeram dalam hati, telinganya menajam mencoba menangkap suara Sisil dari seberang telepon. 'Sialan si Pedro, ternyata dia tetep lapor ke ayahnya. Wah runyam ini kalau sampai bisnis Bu Sisil terkena imbas gara-gara kejadian tadi,' batin Pram dengan peras
"Nanti kamu mau dijemput jam berapa, Bunga? Kabari ya kalau udah selesai," tanya Pram sambil menatap Bunga yang masih berdiri di ambang pintu mobil.Bunga tersenyum manis, jemarinya memainkan ujung rambutnya dengan manja. "Nanti Bunga telepon aja ya, Mas. Soalnya hari ini ada beberapa as
"Aduh, maaf ya, Bu Sisil. Tadi itu Bunga beli es krim pas di jalan, terus pas saya ngerem mendadak es krimnya jatuh kena jok. Makanya dia tadi buru-buru masuk karena takut diomelin," ujar Pram sambil memasang wajah menyesal yang paling meyakinkan, padahal jantungnya berdegup kencang karena aroma
"Aku nggak mau tahu alasannya. Kamu nggak usah membela diri lagi! Pokoknya, Mas Pram, hari ini bener-bener nyebelin!" ketus Sisil sambil menghentakkan kakinya ke lantai teras.Sisil langsung berdiri dengan gerakan sewot, mengabaikan wajah Pram yang melongo dan serba salah. Ia melangkah masuk ke da







