เข้าสู่ระบบKarina melotot kaget, wajahnya seketika pias bercampur malu saat menyadari beberapa pasang mata di koridor mulai memperhatikan mereka. "Erika! Jaga bicaramu ya! Aku cuma bertanya baik-baik pada Sera, kenapa kamu yang malah mengamuk seperti orang gila begini?!""Bertanya baik-baik kamu bilang?!" bentak Erika makin garang, melangkah maju satu jengkal hingga membuat Karina refleks mundur teratur. "Kalimatmu tadi itu murni sindiran murahan! Sekali lagi aku mendengar kamu berani membuka mulut beracunmu itu untuk menyindir Sera, aku tidak akan segan-segan melaporkan kelakuan tidak etismu ini langsung ke komite etik dan konsulen pembimbing kita! Kamu mau ijazahmu ditahan karena masalah sikap, iya?!"Mendengar ancaman serius mengenai kelulusan dan konsulen pembimbing, nyali Karina seketika ciut. Bibirnya bergetar menahan malu dan jengkel. Tanpa mampu membalas sepatah kata pun lagi, Karina berbalik dan melangkah tergesa-gesa meninggalkan koridor itu dengan wajah merah padam.Erika mendengus ka
Pagi itu, suasana meja makan di istana terasa lebih hening dari biasanya. Aroma nasi goreng dan telur dadar mengepul hangat, namun Sera hanya mengaduk-aduk piringnya dengan sendok tanpa selera. Di seberang meja, Rendra memperhatikan gerak-gerik sang istri.Pria itu menarik napas pendek, lalu memasang raut wajah murung. Keningnya berkerut samar, bibirnya terkatup rapat, menampilkan ekspresi yang menyiratkan rasa bersalah mendalam."Sera," panggil Rendra dengan nada suara yang sengaja dilembutkan dan sedikit bergetar.Sera mendongak dari piringnya, menatap suaminya lurus. "Iya, Mas?"Rendra mengulurkan tangannya ke seberang meja, meraih jemari Sera dan menggenggamnya perlahan. "Aku benar-benar minta maaf soal wisuda lusa nanti. Rasanya aku menjadi suami yang tidak berguna karena tidak bisa berdiri di sampingmu di hari sepenting itu."Melihat tatapan sang suami yang tampak begitu redup dan terpukul, rasa kecewa yang sempat mengendap di hati Sera seketika luntur. Ia membalikkan telapak ta
Malam harinya di istana, keheningan menyelimuti kamar tidur utama. Sera duduk di tepi ranjang , memangku sebuah kotak perhiasan kecil seraya memeriksa anting mutiara yang rencananya akan ia kenakan di hari wisuda.Suara langkah kaki yang teratur terdengar mendekat dari arah kamar mandi. Rendra yang baru saja selesai mandi melangkah keluar mengenakan celana tidur panjang dan kaus katun hitam santai, tangannya mengusap-usap rambutnya yang setengah basah dengan handuk kecil.Rendra melempar handuknya ke keranjang pakaian kotor, lalu berjalan memutar menghampiri sisi ranjang tempat Sera duduk. Pria itu menjatuhkan diri duduk tepat di samping istrinya seraya melirik kotak beludru di pangkuan Sera."Sedang menyiapkan apa malam-malam begini?" tanya Rendra dengan suara baritonnya yang tenang.Sera mendongak menatap suaminya, lalu menunjukkan kotak perhiasan itu. "Cuma memeriksa aksesoris untuk kebaya wisuda nanti, Mas. Tadi sore aku, Erika, Ayah, dan Ibu sudah selesai mengambil kebaya di butik
Lonceng di atas pintu butik berdenting pelan saat Sera mendorong daun pintu kaca itu terbuka. Aroma wewangian melati langsung menyambut langkahnya, berbaur dengan deretan manekin berbalut kain brokat aneka warna yang tertata anggun di sepanjang dinding ruangan."Sera, lihat ini! Warna hijau sage ini cantik sekali!" seru Erika yang sudah lebih dulu melesat ke deretan gantungan kebaya di sudut kiri. Tangannya menarik sehelai kebaya brokat berpayet halus, lalu menempelkannya ke depan dada seraya berputar menghadap cermin.Sera tersenyum tipis melihat tingkah heboh sahabatnya itu. Ia menoleh ke belakang, memperhatikan langkah pelan kedua orang tuanya yang berjalan beriringan masuk ke dalam butik. Bu Siwi tampak mengusap ujung lengan daster batiknya dengan kikuk seraya menatap lantai marmer yang mengilap, sementara Pak Angga berjalan tegap di samping sang istri seraya mengamati sekeliling dengan tenang."Ayah, Ibu, duduk di sofa sini saja dulu," ajak Sera lembut seraya menuntun lengan ibun
Istana PresidenWaktu menunjukkan pukul delapan malam. Suasana ruang kerja pribadi Rendra di lantai atas tampak hening, hanya diterangi cahaya hangat lampu meja.Rendra duduk di balik meja kerjanya yang luas, memeriksa berkas-berkas kenegaraan terakhir untuk hari ini. Pintu ruang kerja yang terbuka setengah menampilkan sosok Sera yang baru saja melangkah masuk dengan piyama tidur sutra berwarna krem, membawa secangkir teh kamomil hangat di tangannya."Mas Rendra masih belum selesai pekerjaannya?" tanya Sera lembut seraya meletakkan cangkir keramik itu di sisi meja yang kosong.Rendra mendongak, menyandarkan punggungnya ke kursi seraya tersenyum tipis menyambut kedatangan sang istri. "Tinggal memeriksa beberapa laporan dari kementerian saja. Duduklah di sini."Sera melangkah memutari meja lalu duduk di tepi kursi lengan di samping suaminya. Pandangannya tanpa sengaja bergulir ke arah sebuah map kulit terbuka di atas meja, yang memuat jadwal agenda kerja sang presiden untuk dua pekan ke
Keheningan seketika menyelimuti ruang tamu. Udara di ruangan itu terasa semakin berat dan dingin. Tatapan Papa Erika yang tajam beralih sepenuhnya dari Erika menuju wajah Deo. Beliau tidak langsung membentak, melainkan menyandarkan punggungnya ke sofa seraya melipat kedua tangan di depan dada."Deo?" ulang Papa Erika dengan intonasi rendah dan penuh selidik. Sudut bibirnya terangkat membentuk garis tipis yang dingin. "Pria yang kamu bawa ini, pengawal pribadi ibu negara, kan?"Erika tersentak kecil, tidak menyangka papanya mengenali identitas Deo secepat itu. Namun, sebelum Erika sempat bersuara membela, Deo perlahan melepaskan genggaman tangannya dari jemari Erika. Pria itu melangkah maju satu langkah, berdiri tegap dengan sikap sempurna seorang prajurit."Selamat sore, Bapak," sapa Deo dengan suara bariton yang mantap, tidak goyah sedikit pun di bawah tatapan mengintimidasi pria paruh baya di hadapannya. "Benar, saya Deo. Saya bertugas menjaga keselamatan ibu negara."Papa Erika men







