LOGINAluna Sera tak pernah membayangkan dirinya akan menikah dengan Dharendra Narrottama, Presiden terpilih Iraya, dalam keputusan yang begitu mendadak. Tetapi, bukan karena cinta, melainkan karena Sera mengira, ia hanyalah solusi bagi kepentingan pria itu di tengah tekanan dan rahasia yang mengintai. Awalnya, Sera yakin pernikahan ini tidak lebih dari sekadar utang budi dan kewajiban karena dirinya hanyalah ‘jimat penangkal’ bagi Rendra. Namun--- “Sera, tetap di sisiku.” Rendra menatapnya lembut penuh permohonan dan ketakutan di saat yang sama. “Negara mungkin membutuhkanku. Tapi, aku membutuhkanmu… dalam hidupku.”
View MoreSera menunduk dalam, membiarkan rambut hitamnya jatuh menutupi sisi wajah saat suara tawa tertahan pecah di ruang istirahat koas RS Narita.
“Harusnya rumah sakit ini punya filter udara yang lebih baik,” celetuk seorang koas pria sambil mengibas-ngibaskan tangan di depan hidung saat Sera melewatinya untuk mengambil air minum. “Bau bensin dan aspal itu susah hilang, ya? Nempel sampai ke serat jas putih.” “Wajar saja,” sahut yang lain dengan nada meremehkan yang sengaja dikeraskan. “Beasiswa dari Yayasan Narrottama memang bisa membeli kursi di fakultas kedokteran, tapi tidak bisa membeli kasta. Sejauh apa pun dia berlari, dia tetap saja putri sopir pribadi keluarga Presiden.” Sekarang Sera sudah terbiasa mendengar hinaan itu. Hampir semua orang di angkatannya tahu bahwa ia adalah “anak emas” Yayasan Narrottama, yayasan milik keluarga presiden terpilih saat ini, yang membiayai seluruh pendidikannya dari nol. Awalnya menyakitkan. Namun lama-kelamaan, Sera belajar membangun tembok di hatinya. Ia tidak punya waktu untuk merasa hancur, karena setiap detik yang ia buang untuk menangis terasa seperti pengkhianatan bagi keringat ayahnya. Jari-jarinya mengencang di gelas plastik yang ia pegang, tetapi hanya sesaat. Sera menggeleng pelan, lalu kembali duduk. Lebih baik ia fokus pada jurnal di hadapannya. Menyahut atau membalas tatapan mereka tidak akan mengubah apa pun. Namun, keriuhan di ruang istirahat mendadak berpindah arah saat volume televisi di dinding ruangan dinaikkan. Perdebatan tentang kasta terhenti, digantikan oleh wajah yang kini mendominasi setiap sudut negeri. Dharendra Narrottama. Sera mendongak tanpa sadar, merasakan detak jantungnya berubah cepat setiap kali melihat pria itu. Di layar, Rendra berdiri di balik podium marmer setelah pengumuman kemenangan mutlaknya sebagai Presiden terpilih Iraya. Ia tampak matang dalam setelan jas hitam yang membalut bahu lebarnya dengan sempurna. Tidak ada senyum berlebih, hanya tatapan mata tajam yang seolah mampu menembus layar dan mengintimidasi siapa pun yang menontonnya. Pembawa berita membacakan deretan prestasinya dengan nada menggebu-gebu. Dharendra Narrottama disebut sebagai tokoh muda paling berpengaruh di Iraya, mantan ketua dewan reformasi ekonomi, sosok di balik restrukturisasi industri energi nasional, dan figur yang paling dikagumi oleh para milenial dan gen Z. Itu adalah siaran ulang berita saat pelantikan Presiden Iraya dua bulan lalu. Sera menarik napas pendek, mengalihkan pandangan ke ujung sepatu putihnya yang sedikit berdebu. Namun suara bariton dari televisi itu tetap menembus pertahanannya. Ia mendongak lagi. Kali ini, bukan sebagai warga Iraya yang sedang menyaksikan pemimpin barunya, melainkan sebagai gadis yang pernah mengenal pria itu dari jarak yang sangat dekat. Sudah bertahun-tahun Sera tidak melihat wajah itu secara langsung, sejak ia masih mengenakan seragam putih abu-abu dan Rendra harus berangkat ke luar negeri untuk mengejar mimpinya. Bagi dunia, Rendra adalah pemimpin baru yang tak terkalahkan. Namun di mata Sera, pria itu tetaplah sosok “Tuan Muda” yang dulu pernah membelanya di depan anak-anak sombong di lingkungan mansion. Ada rasa bangga yang menyelinap di hatinya, namun juga rasa segan yang begitu besar. Ia menghormati Rendra lebih dari siapa pun. Namun Sera sadar, semenjak pria itu duduk di kursi nomor satu, hubungan mereka bukan lagi sekadar gerbang depan dan paviliun belakang. Kini, mereka berada di dua dunia yang berbeda. Namun di balik kekaguman itu, ada kegelisahan tipis yang merayap di benak Sera. Ia menatap Rendra yang berdiri sendirian di podium, tanpa pendamping, tanpa seseorang di sisinya. Sera teringat cerita-cerita ayahnya saat malam hari di paviliun. Tentang beban berat yang dipikul seorang pemimpin Iraya dan bagaimana alam akan menuntut 'keseimbangan'. Pikiran itu yang membuat Sera merasa ada sesuatu yang aneh setiap kali ia menatap sorot mata Rendra di layar, seolah ada badai yang sedang mengintai pria itu dari tempat yang tak bisa dijangkau siapa pun. “Semoga Anda baik-baik saja, Tuan Muda…” bisik Sera lirih. Ia memaksa sudut bibirnya terangkat kecil, lalu kembali menatap jurnal di atas meja. Ia harus fokus. Lagi pula, hidup Rendra sekarang terlalu jauh untuk dipikirkan olehnya. Namun beberapa menit kemudian, Sera justru merasa dadanya sesak. Napasnya terasa pendek, sementara ruang istirahat yang sempit itu saat ini membuatnya semakin tidak nyaman. Ia bangkit dari kursi, berniat menuju kantin lobi untuk mencari udara. Namun begitu kakinya menapak di lantai marmer lobi utama, Sera langsung menyadari ada yang salah. Lobi yang biasanya tenang, tiba-tiba ramai dan ribut. Barisan pria berjas hitam dengan komunikasi nirkabel di telinga berlalu-lalang dengan langkah cepat namun sunyi. Mereka menutup jalur umum dan mengarahkan orang-orang ke pintu samping dengan gerakan tangan yang tegas. “Ada apa ini?” tanya Sera lirih, lebih kepada dirinya sendiri. “Sepertinya ini, Protokol Sanctuary,” bisik seorang perawat senior yang tiba-tiba ada di sampingnya, suaranya bergetar antara gugup dan kagum. “Presiden terpilih harus meninjau beberapa rumah sakit sebagai pusat medis utamanya. Dan… rumah sakit kita ternyata termasuk dalam pilihan Pak Presiden.” Jantung Sera mendadak berdegup kencang hingga terasa sampai ke kerongkongan. Belum sempat Sera bergerak, barikade keamanan sudah terbentuk di belakangnya. Ia terjebak di pinggir koridor, bahunya merapat ke dinding di antara barisan staf medis yang kini diperintahkan untuk menunduk hormat. Lalu, pintu kaca ganda itu terbuka. Suara sepatu yang beradu dengan lantai marmer terdengar tegas, berat, dan terukur. Sera memberanikan diri sedikit mendongak. Dan di sanalah pria itu. Dharendra Narrottama melangkah masuk dengan wibawa yang seolah sanggup menghisap seluruh oksigen di ruangan itu. Rendra tidak mengenakan jas formal. Kemeja hitam yang ia kenakan digulung hingga siku, memperlihatkan pergelangan tangan kokoh yang selama ini hanya Sera lihat lewat layar kaca. Di sekelilingnya, jajaran direksi dan dokter-dokter senior RS Narita segera membungkuk hormat. Direktur rumah sakit berjalan cepat di sisi Rendra dengan wajah penuh sanjungan, memaparkan keunggulan fasilitas mereka dengan antusias. Rendra menanggapi semuanya dengan tenang. Ia mengangguk sopan pada Kepala Departemen Bedah dan memberi senyum tipis yang berwibawa saat sang direktur mulai menjelaskan teknologi terbaru rumah sakit mereka. Suara baritonnya terdengar rendah, namun cukup untuk memenuhi setiap sudut lobi. Namun tepat saat rombongan besar itu melintasi barisan tempat Sera berdiri, langkah tegas Rendra mendadak melambat. Direktur rumah sakit tersentak pelan. Kalimatnya tentang fasilitas radiologi menggantung di udara. Para dokter senior di belakangnya ikut menghentikan langkah, saling melirik dengan raut bingung yang tak mampu mereka sembunyikan. Pria itu perlahan memutar kepalanya, mengabaikan jajaran direksi yang kini terpaku menatapnya dengan penuh tanya. Tatapan tajam Rendra menembus lurus ke depan, melewati pundak para petinggi medis. Lalu, pandangan itu berhenti. Pada Sera. Napas Sera tercekat. Di tengah kerumunan orang-orang paling berkuasa di rumah sakit itu, Rendra justru mengunci matanya pada Sera. Tatapan itu begitu gelap, berat, dan penuh tekanan yang tidak sanggup Sera mengerti. Jari-jarinya mencengkeram ujung jas putihnya begitu erat sampai buku-buku jarinya memutih. Lututnya terasa lemas, sementara dadanya berdebar tidak karuan. Tuan Rendra... menatapku?! Kenapa dia menatapku di depan mereka semua?Rendra memalingkan pandangannya ke arah kaca depan, memutus percakapan tentang bayi itu. Ia memajukan tubuhnya sedikit, mengetuk bahu jok depan tempat Mayor Naka duduk di samping pengemudi."Mayor Naka, berapa lama lagi kita sampai?" tanya Rendra dengan suara beratnya.Naka melirik spion tengah, lalu memutar sedikit badannya. "Mungkin masih sekitar satu jam lagi. Jalanan di depan makin menanjak dan berbatu. Lebih baik Anda dan Nona Sera tidur dulu saja untuk menghemat tenaga."Rendra menggeleng pelan, menyandarkan punggungnya kembali ke jok tanpa melepaskan genggaman tangannya dari jemari Sera. "Tidak, aku mau melihat daerah ini," sahut Rendra datar.Sera yang duduk di sampingnya menatap profil samping wajah suaminya. Garis rahang Rendra tampak tegas dengan tatapan mata yang terus mengawasi hamparan pepohonan liar di luar. Sebuah senyum tipis terukir manis di bibir Sera. Tanpa bersuara, ia perlahan memalingkan kembali wajahnya menatap ke luar jendela, menikmati keheningan di antara me
Ekspresi wajah Sera seketika berubah. Ia menegakkan tubuhnya, menengadah dan menatap dalam manik mata Rendra yang pekat. Ada guratan kelabu yang samar melintas di matanya."Seperti kita, Mas," sahut Sera pelan, suaranya nyaris teredam angin malam. "Tembok di antara mereka terlalu tinggi. Apa Mas Rendra pikir aku tidak takut awalnya?"Rendra diam. Pandangannya memaku lekat pada raut wajah istrinya. Ia bisa merasakan sisa emosi dari perjalanan panjang hubungan mereka yang tidak pernah mudah."Apa aku harus memberi semangat ke Deo?" tanya Rendra, menaikkan sedikit alisnya. "Aku tahu wanita selalu ingin diusahakan. Memang susah kalau dari awal Deo sendiri yang tidak mau bergerak untuk mendapatkan Erika."Sera mendesah kecil, menggeleng pelan. "Deo itu minder, Mas. Dia berpikir tidak pantas berada di sisi Erika hanya karena dia seorang pengawal dan Erika itu tuan putri."Rendra menyunggingkan senyum remeh, sudut bibirnya terangkat tipis. "Deo ternyata mengecilkan dirinya sendiri."Sera men
Sofia tersenyum tipis, menggeleng pelan menanggapi antusiasme pria di depannya. "Jangan, Pak Irawan," cegahnya halus. "Nanti kelihatan mencolok sekali. Lagipula, di istana itu masih banyak orang-orang kepercayaan Rendra. Jadi, jangan gegabah." Irawan terdiam sejenak, lalu perlahan mengangguk paham. "Kamu benar. Kita harus tetap bermain bersih di permukaan." Sofia menyunggingkan senyum penuh arti seraya merapikan tas mewahnya. Ia bangkit dari kursi. "Saya permisi dulu, Pak. Ada urusan lain yang harus saya selesaikan." "Baik, Sofia. Terima kasih informasinya," jawab Irawan melepas kepergian wanita itu. Beberapa saat kemudian, sebuah mobil sedan hitam melaju mulus membelah jalanan Jayakarta dan berhenti tepat di halaman Mansion Narrotama. Sofia turun dengan anggun, melangkah menuju pintu utama. Di dalam ruang tengah, Sintia yang sedang merapikan beberapa rangkaian bunga mendongak. Wajah wanita paruh baya itu seketika berbinar gembira. "Sofia? Ya ampun, sayang!" seru Sintia hangat,
Rendra tidak memberikan jawaban panjang, ia hanya mengarahkan Sera menuju mobil jip yang terparkir tak jauh di tepi jalan darurat. Tanpa berpikir panjang Sera berlari dan masuk ke mobil bersama Lana dan pergi.Begitu mobil berhenti di depan area posko medis sementara, Sera langsung melompat turun dari mobil dengan tergesa-gesa. Langkah kakinya yang lebar beradu cepat dengan tanah becek, membawanya setengah berlari menuju sebuah tenda beratap terpal hijau. Sera menyibak pintu tenda dengan kasar. Derap langkahnya mendadak terhenti sewaktu semua orang yang berada di dalam tenda menoleh padanya secara serentak. Pandangan Sera menyapu isi ruangan hingga matanya tertambat pada sosok Deo yang terbaring di atas velbed. Baju pengawalnya itu robek di bagian lengan, memperlihatkan balutan kain kasa yang ternoda bercak darah. Sera menghembuskan napas panik, lalu berbalik menatap Lana yang berdiri di dekat pintu. "Lana! Tolong bawakan perlengkapan obatku sekarang!" serunya memburu. Sera melan






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore