LOGINSera awalnya hanyalah seorang anak sopir di keluarga Narrottama. Hingga, sebuah insiden menimpa tuannya yang merupakan Presiden Iraya. Hanya dalam waktu satu malam Sera berakhir menjadi istri Rendra. Sebuah kesepakatan dibuat, Sera harus menerima apapun konsekuensinya, termasuk hidup dalam protokoler kepresidenan yang penuh aturan dan menjadi jimat hidup seorang Dharendra Narrottama. Malam itu, Rendra menariknya jatuh ke atas ranjang. "Pernikahan ini mungkin hanya untuk menangkal mitos, tapi, kamu tetaplah istriku."
View More"Membalas budi tidak harus dengan menjual hidupku, Yah!" potong Sera dengan suara bergetar. Ia menyambar tasnya, mengabaikan panggilan ayahnya, dan melangkah lebar keluar dari paviliun. Kepalanya berdenyut. Logikanya menolak keras, namun hatinya dipenuhi kegelisahan yang membuncah. Alih-alih menuju gerbang luar untuk berjalan ke halte terdekat menuju rumah sakit, langkah Sera justru membawanya ke mansion utama. Ia harus mendengar langsung penjelasan atas apa yang ia dengar dari sang ayah. Namun, baru saja kakinya menginjak teras mansion Narrottama, sosok Sintia Narrottama sudah berdiri di sana, seolah memang sedang menunggu mangsa. "Mau mencari Rendra?" tanya Sintia dingin. Matanya menyapu penampilan Sera dari ujung rambut hingga sepatu kets yang digunakan gadis itu. Tatapan Sintia penuh penghinaan, seolah Sera adalah noda di lantai mengkilap mansionnya. "Benar, saya ingin bicara dengan Tuan Rendra, Nyonya," jawab Sera, mencoba menegakkan bahu meski tangannya dingin.
Rendra memulas senyum tipis. “Yang pasti aku harus menikah dengan wanita yang tidak memiliki tujuan apapun dari pernikahan ini,” jawab Rendra dingin tanpa menoleh pada ibunya. Sintia semakin heran, keningnya berkerut samar. “Aku tidak ingin pernikahan ini dimanfaatkan untuk kepentingan lain.” “Tetap saja kamu butuh dukungan agar bisa terus bertahan di posisimu ini.” Sintia mendekat ke Rendra, memegang lengan putranya itu. “Mama masih yakin, kalau ada yang mengincar keselamatan nyawamu.” Rendra hanya diam menatap dalam wajah wanita yang melahirkannya itu. Sintia melepaskan pegangannya, napasnya mulai tidak teratur. "Lalu siapa? Siapa wanita yang menurutmu pantas menjadi pendampingmu?" Rendra menatap langsung ke mata ibunya. "Sera." Sintia terperangah, butuh beberapa detik baginya untuk memproses nama itu. Saat ingatan tentang putri sopir mereka muncul, wajahnya memucat karena emosi. "Sera? Anak Angga si sopir itu?!" Suara Sintia meninggi."Apa kamu sudah kehilangan
Rendra berpaling tanpa menunggu jawaban dari ibu dan neneknya. Saat menoleh tatapannya bertemu dengan Sera.Namun, gadis itu langsung menundukkan kepala.Selepas Rendra pergi, Sintia tampak memukul meja pajangan yang ada di dekatnya.Sintia membuang muka saat Eyang Utari menatap sengit padanya. ‘Wanita tua pikun ini, bisa-bisanya ingin ikut campur urusan pernikahan Rendra.’Tak lama Sera mendekat, memberanikan diri bicara ke Sintia.“Nyonya, jika tidak ada yang ingin dibicarakan saya pamit untuk kembali ke belakang,” ucapnya sopan.“Tunggu! Kamu harus memberitahu kondisi Rendra.” Sintia melirik pada Eyang Utari.Sera mengangguk, kemudian berjalan mendekat agar suaranya bisa terdengar jelas."Tuan Rendra mengalami luka robek yang cukup dalam di bahu kirinya. Luka itu sudah ditangani dengan tindakan penjahitan untuk menghentikan perdarahan dan merapatkan jaringan kulit yang terbuka."Sera menjeda lisan sejenak, melirik ekspresi Sintia yang masih tampak kesal."Meskipun luka sudah dijahi
Sera menoleh, memandang sosok yang berdiri di ambang pintu dapur.Sintia NarrottamaIbu kandung Rendra itu berdiri dengan keanggunan yang mengintimidasi, meskipun gurat kecemasan tidak bisa disembunyikan dari wajahnya.Sera segera mengeringkan tangannya pada celemek dan membungkuk dalam, tubuhnya sedikit gemetar."Nyonya," sapa Sera dengan suara bergetar."Jawab pertanyaanku, Sera. Evan memberitahuku kamu yang menangani luka Rendra di rumah sakit tadi, tapi setelah itu Evan tidak bisa dihubungi, begitu juga dengan putraku," cecar Sintia sembari melangkah maju. "Bagaimana kondisi Rendra? Seberapa parah lukanya?"Sera menunduk, mengatur napas agar suaranya terdengar meyakinkan. "Tuan Rendra mengalami luka robek di bahu kirinya, Nyonya. Tapi kondisinya stabil."Ketegangan di bahu Sintia sedikit mengendur, tapi sedetik kemudian matanya menyipit tajam. Ia menatap Sera dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan menghina."Tunggu dulu," suara Sintia mendadak dingin. "Bukankah kamu ma






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore