LOGINAluna Sera tak pernah membayangkan dirinya akan menikah dengan Dharendra Narrottama, Presiden terpilih Iraya, dalam keputusan yang begitu mendadak. Tetapi, bukan karena cinta, melainkan karena Sera mengira, ia hanyalah solusi bagi kepentingan pria itu di tengah tekanan dan rahasia yang mengintai. Awalnya, Sera yakin pernikahan ini tidak lebih dari sekadar utang budi dan kewajiban karena dirinya hanyalah ‘jimat penangkal’ bagi Rendra. Namun--- “Sera, tetap di sisiku.” Rendra menatapnya lembut penuh permohonan dan ketakutan di saat yang sama. “Negara mungkin membutuhkanku. Tapi, aku membutuhkanmu… dalam hidupku.”
View MoreMalam itu, hening Istana Kepresidenan terasa lebih pekat dari biasanya. Sera duduk di tepi ranjang, matanya sesekali melirik pintu kamar yang masih tertutup rapat. Ia baru saja meletakkan jurnal medisnya saat gagang pintu berputar, menampakkan sosok Rendra yang tampak letih dengan kemeja yang sudah tidak serapi pagi tadi. "Tadi pelayan bilang Anda ada di Istana sampai siang," buka Sera sembari memerhatikan Rendra yang melangkah menuju sofa tunggal di dekat ranjang. "Saya pikir Anda akan di sini sampai malam, ternyata Anda pergi lagi." Rendra menghela napas pendek, jemarinya bergerak lincah melonggarkan simpul dasi yang seolah mencekik lehernya seharian ini. "Ada pertemuan mendadak di luar yang tidak bisa ditunda," jawabnya singkat, suaranya terdengar berat dan serak. Sera terdiam, matanya terpaku pada sosok pria di depannya. Dalam temaram lampu kamar, ia menatap lekat garis-garis tegas di wajah Rendra. Pikirannya melayang jauh, seandainya pria ini bukan seorang Presiden Iraya, se
Sintia melangkah menyusuri lorong rumah sakit yang berbau antiseptik dengan senyum yang sulit disembunyikan. Setelah merasa memberikan pukulan psikologis pada Sera di ruang Direktur Rumah Sakit Narita, tujuan Sintia kini adalah Sofia. Hari itu, Sofia akhirnya diperbolehkan pulang. Sintia dengan setia mendampingi, bahkan ikut mengantar hingga ke kediaman pribadi keluarga Sofia yang asri. Di taman belakang yang dipenuhi tanaman hias terawat, kedua wanita itu duduk bersisian di kursi rotan putih. Sofia menyesap teh camomilenya perlahan, wajahnya nampak jauh lebih segar meski guratan pasca-operasi masih menyisakan sedikit pucat. "Tante, terima kasih banyak sudah memperhatikanku sampai seperti ini. Tante bahkan mau mengantarku pulang," ucap Sofia lembut, menyandarkan punggungnya dengan hati-hati. Sintia menepuk punggung tangan Sofia dengan sayang. "Jangan pernah sungkan, Sofia. Tante sudah menganggapmu seperti anak Tante sendiri. Kamu tahu itu, kan?" Sofia tersenyum tipis, matany
Sintia menyandarkan punggungnya pada sofa yang empuk, matanya menatap Sera dengan cara yang membuat bulu kuduk gadis itu meremang. Tidak ada makian, tidak ada tangan yang melayang, namun keheningan yang ia ciptakan terasa lebih menyesakkan daripada ledakan amarah. "Sebagai menantu keluarga Narrottama, sudah seharusnya kamu tinggal di mansion," ujar Sintia datar, suaranya tenang namun berisi perintah yang tak terbantahkan. Sera tersentak, matanya membulat tak percaya. Lidahnya seolah kelu, ia hanya bisa diam menatap wanita paruh baya di depannya itu. Pikirannya berputar liar. Meninggalkan Istana dan tinggal di bawah atap yang sama dengan Sintia? Itu terdengar seperti berjalan sukarela masuk ke dalam kandang singa. Sintia menangkap keraguan Sera. Ia menyunggingkan senyum tipis yang dingin. "Aku tahu kamu pasti akan menolak dan merasa harus meminta persetujuan Rendra lebih dulu. Tapi pikirkan ini baik-baik, Sera. Kalau kamu memang ingin kita akur, kamu harus menunjukkan sikap seper
Pagi berikutnya. Langkah kaki Sera terburu-buru saat melihat sosok Evan yang baru saja datang, ajudan itu nampak sibuk dengan tumpukan map di tangan. Tanpa membuang waktu, Sera langsung menyambar lengan jas Evan, menariknya sedikit menjauh ke sudut koridor yang lebih sepi. "Pak Evan, tunggu!" bisik Sera dengan nada mendesak. Evan menoleh, sedikit terkejut namun tetap mempertahankan ekspresi profesionalnya yang kaku. "Selamat pagi, Nona. Ada yang bisa saya bantu sebelum saya menghadap Bapak Presiden?" Sera menatap Evan lekat-lekat, wajahnya sarat akan rasa penasaran yang sudah ia pendam sejak semalam. "Mas Rendra bilang saya harus bertanya pada anda. Soal pria itu, si pelempar telur. Apa yang sebenarnya terjadi padanya?" Evan seketika mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Ia melirik ke kanan dan kiri, lalu mengembuskan napas panjang seolah sedang memikul beban berat. "Nona, saya rasa lebih baik Anda tidak mengetahuinya. Fokuslah pada koas Anda hari ini." "Pak Evan, tolong! Ma












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore