Pelukan Hangat Tuan Presiden

Pelukan Hangat Tuan Presiden

last updateLast Updated : 2026-03-16
By:  Adinasya MahilaUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
10
94 ratings. 94 reviews
87Chapters
7.3Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Sera awalnya hanyalah seorang anak sopir di keluarga Narrottama. Hingga, sebuah insiden menimpa tuannya yang merupakan Presiden Iraya. Hanya dalam waktu satu malam Sera berakhir menjadi istri Rendra. Sebuah kesepakatan dibuat, Sera harus menerima apapun konsekuensinya, termasuk hidup dalam protokoler kepresidenan yang penuh aturan dan menjadi jimat hidup seorang Dharendra Narrottama. Malam itu, Rendra menariknya jatuh ke atas ranjang. "Pernikahan ini mungkin hanya untuk menangkal mitos, tapi, kamu tetaplah istriku."

View More

Chapter 1

1. Sebuah Mitos

"Hebat ya, cuma anak sopir tapi bisa masuk sini. Keberuntungan macam apa yang dia punya sampai bisa satu almamater dengan kita?"

Sera mencoba menulikan telinga dari sindiran yang memenuhi ruang koas Rumah Sakit Narita malam itu.

Suara beberapa rekan koasnya terdengar sengaja dikeraskan, seolah ingin memastikan setiap kata sampai ke telinganya.

Sera hanya diam. Baginya, kata 'anak sopir' bukanlah hinaan, melainkan pengingat seberapa keras keluarganya berjuang. Ia sudah terbiasa dianggap 'penyusup' di lingkaran elit ini.

Lebih baik ia kembali fokus pada barisan jurnal ilmiah tentang neurologi pada ponselnya.

Namun, konsentrasi Sera pecah saat keriuhan mendadak berpindah ke arah televisi yang terpasang di dinding ruangan. Beberapa perawat memekik, menutup mulut dengan telapak tangan.

Sera mendongak, dan seketika jantungnya terasa berhenti berdetak.

Di layar, debu membumbung tinggi dari panggung yang baru saja roboh. Judul berita besar terpampang di bawahnya.

BREAKING NEWS: PANGGUNG ROBOH, PRESIDEN TERPILIH IRAYA TERLUKA PARAH.

"Ya Tuhan, kutukan itu memang benar-benar terjadi…" bisik seorang perawat dengan wajah pucat pasi.

Sera terpaku menatap layar yang menampilkan suasana evakuasi.

Sebagai orang yang lahir dan besar di Iraya, Sera tahu betul mitos yang mendarah daging di negerinya.

Di Iraya, posisi Presiden bukan sekadar jabatan politik, melainkan posisi spiritual yang dianggap menjaga keseimbangan alam.

Sera mengingat cerita ayahnya di masa lalu. Singgasana Iraya dianggap terlalu berat untuk dipikul satu nyawa. Jika seorang Presiden memimpin dalam kondisi lajang, ketidakharmonisan itu akan mengundang sial bagi dirinya, dan musibah bagi negaranya.

Sera ingat betul sejarah kelam dua Presiden sebelumnya yang tewas dan digulingkan karena mencoba melawan 'hukum' tak tertulis ini.

Dan presiden saat ini yang baru satu bulan menjabat itu juga berstatus lajang.

Dia adalah Dharendra Narrottama.

Orang nomor satu di Iraya, sekaligus anak majikan ayahnya.

"Pak Presiden dibawa ke sini! Kondisinya gawat!" teriak seorang perawat yang berlari masuk ke ruang koas.

Suasana langsung berubah menjadi panik. Semua orang berlari menuju arah lobi UGD.

Sera pun tak sadar kakinya bergerak sendiri, ikut berlari di antara kerumunan. Pikirannya kalut. Sosok Tuan Muda yang dulu sering ia lihat dari jauh saat ia masih kecil, yang sebelumnya selalu tampak gagah dan berkarisma, kini pucat pasi di pembaringan.

Sera berhenti tepat di dekat pintu lobi UGD dari arah koridor dalam. Suasana di sana jauh lebih mencekam. Banyak orang berbisik ketakutan, kata 'kutukan' dan 'mitos' bergaung di sela suara sirine.

Sera mematung saat brankar yang membawa Presiden didorong masuk dengan kecepatan tinggi.

Suasana yang riuh mendadak terasa hening bagi Sera saat mata Rendra yang sayu terbuka sedikit dan tanpa sengaja bersitatap dengannya.

"Tahan, Pak! Bertahanlah!" ucap Evan, ajudan Rendra yang tampak sangat panik di sisi brankar.

"Aku... tidak apa-apa..." gumam Rendra lirih, namun wajahnya justru semakin memucat.

"Pak! Pak Rendra!" Evan berteriak saat mata Rendra tiba-tiba tertutup rapat. Kepalanya terkulai ke samping.

Sera tersentak mundur, napasnya memburu melihat pemandangan itu.

Semua orang di lobi berteriak panik, suasana menjadi benar-benar liar sampai Pasukan Pengaman Presiden merangsek masuk dan meminta semua orang yang tidak berkepentingan untuk bubar.

Orang-orang di UGD masih membahas soal mitos dan kutukan yang ternyata benar-benar terjadi sambil mulai membubarkan diri.

Sera masih tetap mendengar sayup-sayup ucapan mereka ketika kembali ke ruang koas. Saat ia duduk di kursinya di ruangan koas pun, topik panas soal mitos itu tetap diperdebatkan.

"Mitos itu bukan candaan. Presiden harus menikah kalau ingin selamat," sahut salah satu teman koas Sera dengan nada ngeri.

"Tapi bukankah mitos itu menyebut wanitanya tidak bisa sembarangan? Wanita itu harus benar-benar suci, belum tersentuh pria, dan yang paling susah untuk ditemukan, wanita itu harus lahir di tanggal 13 bulan Juni tahun Naga."

BRAK!

Tiba-tiba jendela kaca ruang koas bergetar hebat. Angin kencang mendadak bertiup entah dari mana, mengguncang pepohonan di luar dengan kekuatan yang tidak masuk akal sampai dahan-dahannya menghantam kaca. Semua orang di ruangan itu menjerit, meringkuk ketakutan.

"Cukup! Jangan bahas mitos itu lagi! Alam sedang marah!" teriak Kepala Perawat dengan suara gemetar.

Sera terpaku menatap jendela kaca. Situasinya benar-benar tidak terkendali. Apa mungkin mitos itu memang benar adanya?

Selama ini Sera tidak pernah memikirkan soal mitos dan kutukan di negaranya. Menurut Sera, hal semacam itu memang hanya akan menjadi mitos. Meskipun dua Presiden sebelumnya mengalami musibah, Sera lebih memilih percaya alasan logis yang terjadi di baliknya.

Akan tetapi, melihat dengan mata kepala sendiri, seseorang yang Sera kenal sebagai sosok yang gagah dan berwibawa, terbaring tidak berdaya tepat setelah menjadi presiden, logika Sera mulai terkikis.

Sera menggeleng pelan. Tidak, tidak benar. Ini semua pasti hanya kebetulan.

Namun, belum sempat Sera mengenyahkan pikiran itu, pintu ruangan terbuka lebar dengan cepat dan paksa, membuat Sera dan semua orang di sana menoleh secara bersamaan.

Evan muncul di sana, wajahnya masih tegang, diikuti oleh seorang perawat senior. Langkahnya langsung tertuju ke depan meja Sera.

"Nona Sera," panggil Evan dengan nada yang tak terbantahkan. "Anda ditunggu di kamar rawat Pak Rendra. Sekarang."

Seluruh pasang mata di ruangan itu menatap Sera dengan tatapan tak percaya.

Sera tertegun. Mengapa tiba-tiba ia dipanggil? Namun, ia tahu tidak punya pilihan selain mengekor di belakang Evan.

Di lantai ruang rawat VVIP, Sera melihat Pasukan Pengaman Presiden berdiri sepanjang koridor. Sera meremat kedua jari yang bertaut di depan tubuhnya, panik bercampur gugup yang menjadi satu. Hingga Sera dan Evan sampai di depan sebuah pintu besar dan Evan membukanya untuk Sera.

Begitu melangkah masuk, Sera merasa oksigen di sekitarnya tiba-tiba menipis.

Di atas ranjang besar itu, pria besar nan gagah dengan aura dan dominasi yang begitu kuat duduk setengah bersandar dengan perban di bahunya. Namun, meskipun wajah tampannya kentara pucat, tatapan pria itu tetap tajam dan ekspresinya dingin tidak terbaca.

Akan tetapi, mata Sera membola sempurna saat menyadari bukan hanya Rendra yang ada di ruangan ini.

Ada keluarga besar Narrottama yang terpandang, dan di sudut ruangan, berdiri ayahnya sendiri dengan wajah yang sangat pucat.

Mengapa ayahnya juga ada di sini?! Perasaan Sera tiba-tiba menjadi semakin gusar. Sera menatap ayahnya tanpa suara menuntut jawaban, namun ayahnya hanya menggeleng samar memerintahkan Sera untuk mendekat ke arah mereka.

Sera akhirnya mendekat dengan kepala tertunduk, membungkuk hormat pada keluarga besar itu dalam keheningan yang mencekam.

Tidak ada yang bersuara, sampai Sera memberanikan diri menoleh ke arah Rendra, yang ia sadari sejak ia tiba di kamar rawat VVIP ini, menatapnya intens.

"Sera," panggilnya lirih, namun otoritas dalam nada suaranya tidak hilang sedikit pun.

Sera menahan napas, menunggu kata-kata pria itu selanjutnya.

“Kita harus menikah. Sekarang.”

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Ratings

10
100%(94)
9
0%(0)
8
0%(0)
7
0%(0)
6
0%(0)
5
0%(0)
4
0%(0)
3
0%(0)
2
0%(0)
1
0%(0)
10 / 10.0
94 ratings · 94 reviews
Write a review

reviewsMore

Margaretha Indrayani
Margaretha Indrayani
yah rendra keceea karena sera pakai kartu cuma beli kopi ya
2026-03-16 22:00:31
0
0
Margaretha Indrayani
Margaretha Indrayani
pasti sangguplah. seneng sekali kalau beneran 5 bab.
2026-03-15 22:18:58
0
0
Margaretha Indrayani
Margaretha Indrayani
pasti ada hubungan dengan suami ibunya sera salah satunya
2026-03-15 22:05:20
0
0
Maftuhatun Ni'mah
Maftuhatun Ni'mah
ga sabar tiap hari nunggu update nya
2026-03-15 19:57:49
0
0
Margaretha Indrayani
Margaretha Indrayani
justru rendra tahu sebesar apa kesedihan sera makanya diajak ketemu keluarganya arkan
2026-03-15 15:13:15
0
0
87 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status