LOGINSera awalnya hanyalah seorang anak sopir di keluarga Narrottama. Hingga, sebuah insiden menimpa tuannya yang merupakan Presiden Iraya. Hanya dalam waktu satu malam Sera berakhir menjadi istri Rendra. Sebuah kesepakatan dibuat, Sera harus menerima apapun konsekuensinya, termasuk hidup dalam protokoler kepresidenan yang penuh aturan dan menjadi jimat hidup seorang Dharendra Narrottama. Malam itu, Rendra menariknya jatuh ke atas ranjang. "Pernikahan ini mungkin hanya untuk menangkal mitos, tapi, kamu tetaplah istriku."
View More"Hebat ya, cuma anak sopir tapi bisa masuk sini. Keberuntungan macam apa yang dia punya sampai bisa satu almamater dengan kita?"
Sera mencoba menulikan telinga dari sindiran yang memenuhi ruang koas Rumah Sakit Narita malam itu. Suara beberapa rekan koasnya terdengar sengaja dikeraskan, seolah ingin memastikan setiap kata sampai ke telinganya. Sera hanya diam. Baginya, kata 'anak sopir' bukanlah hinaan, melainkan pengingat seberapa keras keluarganya berjuang. Ia sudah terbiasa dianggap 'penyusup' di lingkaran elit ini. Lebih baik ia kembali fokus pada barisan jurnal ilmiah tentang neurologi pada ponselnya. Namun, konsentrasi Sera pecah saat keriuhan mendadak berpindah ke arah televisi yang terpasang di dinding ruangan. Beberapa perawat memekik, menutup mulut dengan telapak tangan. Sera mendongak, dan seketika jantungnya terasa berhenti berdetak. Di layar, debu membumbung tinggi dari panggung yang baru saja roboh. Judul berita besar terpampang di bawahnya. BREAKING NEWS: PANGGUNG ROBOH, PRESIDEN TERPILIH IRAYA TERLUKA PARAH. "Ya Tuhan, kutukan itu memang benar-benar terjadi…" bisik seorang perawat dengan wajah pucat pasi. Sera terpaku menatap layar yang menampilkan suasana evakuasi. Sebagai orang yang lahir dan besar di Iraya, Sera tahu betul mitos yang mendarah daging di negerinya. Di Iraya, posisi Presiden bukan sekadar jabatan politik, melainkan posisi spiritual yang dianggap menjaga keseimbangan alam. Sera mengingat cerita ayahnya di masa lalu. Singgasana Iraya dianggap terlalu berat untuk dipikul satu nyawa. Jika seorang Presiden memimpin dalam kondisi lajang, ketidakharmonisan itu akan mengundang sial bagi dirinya, dan musibah bagi negaranya. Sera ingat betul sejarah kelam dua Presiden sebelumnya yang tewas dan digulingkan karena mencoba melawan 'hukum' tak tertulis ini. Dan presiden saat ini yang baru satu bulan menjabat itu juga berstatus lajang. Dia adalah Dharendra Narrottama. Orang nomor satu di Iraya, sekaligus anak majikan ayahnya. "Pak Presiden dibawa ke sini! Kondisinya gawat!" teriak seorang perawat yang berlari masuk ke ruang koas. Suasana langsung berubah menjadi panik. Semua orang berlari menuju arah lobi UGD. Sera pun tak sadar kakinya bergerak sendiri, ikut berlari di antara kerumunan. Pikirannya kalut. Sosok Tuan Muda yang dulu sering ia lihat dari jauh saat ia masih kecil, yang sebelumnya selalu tampak gagah dan berkarisma, kini pucat pasi di pembaringan. Sera berhenti tepat di dekat pintu lobi UGD dari arah koridor dalam. Suasana di sana jauh lebih mencekam. Banyak orang berbisik ketakutan, kata 'kutukan' dan 'mitos' bergaung di sela suara sirine. Sera mematung saat brankar yang membawa Presiden didorong masuk dengan kecepatan tinggi. Suasana yang riuh mendadak terasa hening bagi Sera saat mata Rendra yang sayu terbuka sedikit dan tanpa sengaja bersitatap dengannya. "Tahan, Pak! Bertahanlah!" ucap Evan, ajudan Rendra yang tampak sangat panik di sisi brankar. "Aku... tidak apa-apa..." gumam Rendra lirih, namun wajahnya justru semakin memucat. "Pak! Pak Rendra!" Evan berteriak saat mata Rendra tiba-tiba tertutup rapat. Kepalanya terkulai ke samping. Sera tersentak mundur, napasnya memburu melihat pemandangan itu. Semua orang di lobi berteriak panik, suasana menjadi benar-benar liar sampai Pasukan Pengaman Presiden merangsek masuk dan meminta semua orang yang tidak berkepentingan untuk bubar. Orang-orang di UGD masih membahas soal mitos dan kutukan yang ternyata benar-benar terjadi sambil mulai membubarkan diri. Sera masih tetap mendengar sayup-sayup ucapan mereka ketika kembali ke ruang koas. Saat ia duduk di kursinya di ruangan koas pun, topik panas soal mitos itu tetap diperdebatkan. "Mitos itu bukan candaan. Presiden harus menikah kalau ingin selamat," sahut salah satu teman koas Sera dengan nada ngeri. "Tapi bukankah mitos itu menyebut wanitanya tidak bisa sembarangan? Wanita itu harus benar-benar suci, belum tersentuh pria, dan yang paling susah untuk ditemukan, wanita itu harus lahir di tanggal 13 bulan Juni tahun Naga." BRAK! Tiba-tiba jendela kaca ruang koas bergetar hebat. Angin kencang mendadak bertiup entah dari mana, mengguncang pepohonan di luar dengan kekuatan yang tidak masuk akal sampai dahan-dahannya menghantam kaca. Semua orang di ruangan itu menjerit, meringkuk ketakutan. "Cukup! Jangan bahas mitos itu lagi! Alam sedang marah!" teriak Kepala Perawat dengan suara gemetar. Sera terpaku menatap jendela kaca. Situasinya benar-benar tidak terkendali. Apa mungkin mitos itu memang benar adanya? Selama ini Sera tidak pernah memikirkan soal mitos dan kutukan di negaranya. Menurut Sera, hal semacam itu memang hanya akan menjadi mitos. Meskipun dua Presiden sebelumnya mengalami musibah, Sera lebih memilih percaya alasan logis yang terjadi di baliknya. Akan tetapi, melihat dengan mata kepala sendiri, seseorang yang Sera kenal sebagai sosok yang gagah dan berwibawa, terbaring tidak berdaya tepat setelah menjadi presiden, logika Sera mulai terkikis. Sera menggeleng pelan. Tidak, tidak benar. Ini semua pasti hanya kebetulan. Namun, belum sempat Sera mengenyahkan pikiran itu, pintu ruangan terbuka lebar dengan cepat dan paksa, membuat Sera dan semua orang di sana menoleh secara bersamaan. Evan muncul di sana, wajahnya masih tegang, diikuti oleh seorang perawat senior. Langkahnya langsung tertuju ke depan meja Sera. "Nona Sera," panggil Evan dengan nada yang tak terbantahkan. "Anda ditunggu di kamar rawat Pak Rendra. Sekarang." Seluruh pasang mata di ruangan itu menatap Sera dengan tatapan tak percaya. Sera tertegun. Mengapa tiba-tiba ia dipanggil? Namun, ia tahu tidak punya pilihan selain mengekor di belakang Evan. Di lantai ruang rawat VVIP, Sera melihat Pasukan Pengaman Presiden berdiri sepanjang koridor. Sera meremat kedua jari yang bertaut di depan tubuhnya, panik bercampur gugup yang menjadi satu. Hingga Sera dan Evan sampai di depan sebuah pintu besar dan Evan membukanya untuk Sera. Begitu melangkah masuk, Sera merasa oksigen di sekitarnya tiba-tiba menipis. Di atas ranjang besar itu, pria besar nan gagah dengan aura dan dominasi yang begitu kuat duduk setengah bersandar dengan perban di bahunya. Namun, meskipun wajah tampannya kentara pucat, tatapan pria itu tetap tajam dan ekspresinya dingin tidak terbaca. Akan tetapi, mata Sera membola sempurna saat menyadari bukan hanya Rendra yang ada di ruangan ini. Ada keluarga besar Narrottama yang terpandang, dan di sudut ruangan, berdiri ayahnya sendiri dengan wajah yang sangat pucat. Mengapa ayahnya juga ada di sini?! Perasaan Sera tiba-tiba menjadi semakin gusar. Sera menatap ayahnya tanpa suara menuntut jawaban, namun ayahnya hanya menggeleng samar memerintahkan Sera untuk mendekat ke arah mereka. Sera akhirnya mendekat dengan kepala tertunduk, membungkuk hormat pada keluarga besar itu dalam keheningan yang mencekam. Tidak ada yang bersuara, sampai Sera memberanikan diri menoleh ke arah Rendra, yang ia sadari sejak ia tiba di kamar rawat VVIP ini, menatapnya intens. "Sera," panggilnya lirih, namun otoritas dalam nada suaranya tidak hilang sedikit pun. Sera menahan napas, menunggu kata-kata pria itu selanjutnya. “Kita harus menikah. Sekarang.”Langkah kaki Sera terasa ringan saat menyusuri trotoar menuju kompleks Rumah Sakit Narita kembali. Di sampingnya, Erika berjalan dengan langkah berirama, sementara Lana dan Deo mengekor beberapa langkah di belakang. Aroma kopi yang kuat menguar dari empat cup di tangan mereka. Erika menyesap latte-nya, memejamkan mata sejenak seolah sedang menikmati sesuatu yang luar biasa. "Ser!" panggil Erika tiba-tiba, suaranya naik satu nada karena antusias. "Apa karena kopi ini dibayar menggunakan black card, jadi rasanya jauh lebih enak dan mewah begini? Serius, ini latte terenak yang pernah aku minum." Sera mengernyitkan dahi, menatap cup kopinya sendiri dengan bingung. "Maksudmu apa?" Melihat ekspresi polos Sera, Erika hampir tersedak. Ia menghentikan langkah, membuat Lana dan Deo yang sedang asyik mengobrol di belakang hampir menabrak mereka. Erika menatap Sera seolah-olah sahabatnya itu baru saja mengatakan bahwa bumi itu kotak. "Sera, kamu ini benar-benar ya," Erika menggelengkan
Rendra hanya diam mendengar penuturan Evan. Perlahan, ia menutup dokumen di tangannya lalu menoleh, melempar pandangannya ke luar jendela mobil yang dilapisi kaca antipeluru. Di luar sana, deretan gedung pencakar langit Jayakarta tampak berkelebat, namun fokus Rendra jauh melampaui itu. Sementara itu, Evan yang duduk di kursi depan tiba-tiba memikirkan kembali apa yang pernah Rendra ucapkan dulu. Atasannya itu pernah berkata politik memang kejam. Sejak awal, Rendra sudah tahu bahwa kursi nomor satu Iraya tidak datang hanya dengan kekuasaan, melainkan juga dengan kesepian. Setiap kedekatan Rendra dengan orang tertentu bisa menjadi bumerang yang mendatangkan curiga bagi lawan-lawannya. Maka dari itu, Evan merasa wajar jika Rendra menetapkan batas yang sangat kaku, karena setiap cangkir teh yang diminum bersama bisa diartikan sebagai konspirasi. *** Rumah Sakit Narita Sera yang baru tiba tampak melangkah memasuki ruang koas dengan jas putih yang tersampir di bahunya. Langkahny
Mata Rendra menyipit tajam, menatap nanar layar ponsel yang memancarkan cahaya di kamar yang temaram. Jemarinya bergerak lincah, membuka lampiran dokumen yang dikirimkan Evan melalui email pribadinya. Ia mengabaikan denyut halus di pelipisnya dan rasa lelah yang mulai menggerogoti tubuh. Apa yang tertulis di dalam baris-baris laporan itu bukan sekadar rangkuman teknis pasca-bencana biasa. Deretan angka, grafik, dan catatan lapangan itu menyiratkan sesuatu yang jauh lebih gelap, indikasi kelalaian dan potensi penyelewengan yang jejaknya mengarah pada nama-nama besar. Punggung Rendra menegak, fokusnya tercurah sepenuhnya pada data sensitif itu. KLEK Suara gagang pintu yang diputar pelan membuat Rendra tersentak halus. Ia reflek mematikan layar ponselnya, menyembunyikan cahaya terang itu, lalu menoleh ke arah pintu. Sera melangkah masuk dengan ragu, separuh tubuhnya masih tertahan di ambang pintu, matanya yang sembab menatap Rendra dengan canggung. "Tuan Rendra..." Sera berbi
Sera terpaku di tempatnya berdiri, kedua tangannya meremas ujung baju yang dikenakannya. Kalimat Rendra barusan merayap masuk ke dalam relung hatinya. Sera masih terdiam, sampai suara berat Rendra kembali memecah keheningan yang canggung itu. "Kamu nikmati saja waktumu bersama keluargamu," ucap Rendra sambil melonggarkan sedikit simpul dasinya, gestur yang menunjukkan dia benar-benar ingin melepas penat. "Aku mau istirahat dulu." Sera tersadar dari lamunannya dan mengangguk pelan. "I-iya, Mas. Terima kasih." Angga yang berdiri di samping mereka segera menangkap sinyal itu. Ia menoleh ke arah sofa, tempat kedua anaknya yang lain masih duduk mengawasi. "Ara, tolong antar Tuan Rendra ke kamar atas." Ara tersentak kecil, lalu bergegas berdiri. Gadis itu merapikan bajunya yang sedikit kusut sebelum berjalan mendekat dengan langkah sopan. "Mari, Tuan! Saya antar ke kamar," ucapnya sedikit gugup. Rendra hanya mengangguk singkat, mengikuti langkah kecil Ara menuju tangga yang terletak d












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore