Share

bab 135 Rafka yang membela.

Penulis: Pita
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-03 06:18:37

Koridor bawah tanah itu sunyi, lebih sunyi dari biasanya. Udara lembap menempel di kulit, dan cahaya obor bergetar seolah ragu untuk bertahan. Di sinilah keputusan-keputusan paling kotor dibuat cukup jauh dari aula, cukup dalam untuk menelan suara hati.

Rafka Narendra Afsar berdiri di depan pintu besi dengan rahang mengeras,Ia tidak seharusnya ada di sini,setidaknya, bukan secara resmi,namun ketika nama Jagatra terus dihapus dari percakapan, ketika perintah-perintah kecil mulai terde
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Pembalasan Dendam Sang Pangeran Mahkota   bab 145 justin membakar istana.

    Justin berdiri di ruang peta saat matahari tenggelam. Lilin-lilin dinyalakan satu per satu, memantulkan cahaya pada garis-garis rute, gudang, dan pos jaga. Ia tidak menggeser pin. Ia mengganti urutan membaca.“Mulai dari barat,” katanya pada perwira yang menunggu. “Lewati selatan.”“Perubahan mendadak?” tanya perwira itu hati-hati.“Penyesuaian,” jawab Justin. “Kita menguji elastisitas.”Perwira itu mengangguk dan pergi. Justin menunggu sampai pintu tertutup, lalu mengeluarkan catatan kecil dari saku mantel. Bukan miliknya,tapi ulisan orang lain. Pesan yang sama-sama mereka pahami tanpa perlu tanda tangan.Justin tersenyum tipis. “Waktu,” gumamnya. “Selalu yang paling murah, sampai habis.” Ia berjalan ke lorong lain, mengetuk satu pintu. Di dalam, dua pejabat duduk dengan map terbuka, wajah mereka tegang.“Beri tahu mereka,” kata Justin, “bahwa penundaan ini atas namaku.”“Jika ditanya alasan?” tanya salah satu.

  • Pembalasan Dendam Sang Pangeran Mahkota   bab 144 Michael menjual rahasia.

    Michael melintasi lorong-lorong sempit di sisi utara kota, mengenakan mantel gelap yang terlalu biasa untuk dicurigai, terlalu rapi untuk disebut pengemis. Langkahnya terukur, Ia tahu ke mana ia pergi, dan lebih penting lagi, ia tahu apa yang akan ia tinggalkan.Di sebuah rumah minum kecil dekat pelabuhan darat, lampu digantung rendah,Michael duduk di meja sudut, punggungnya ke dinding. Ia memesan air hangat. Beberapa menit kemudian, seorang pria duduk di depannya tanpa permisi. Wajahnya biasa. Terlalu biasa. Jenis wajah yang mudah dilupakan setelah berpaling.“Kau terlambat,” kata pria itu.“Waktu di istana tidak pernah lurus,” jawab Michael tenang. “Ia selalu berbelok.”Pria itu tersenyum singkat. “Dan kau membawa apa?”Michael mengeluarkan sebuah kertas lipat dari dalam mantel,tidak diserahkan,hanya dibuka setengah,cukup untuk memperlihatkan tanda tangan, cukup untuk menunjukkan nilai. Denah rotasi penjagaan. Jadwal pergantia

  • Pembalasan Dendam Sang Pangeran Mahkota   bba 143 Lucas yang mengendalikan rakyat.

    Di pasar selatan, keramaian sudah menggeliat sejak fajar. Pedagang membuka lapak dengan gerakan yang sama seperti kemarin,namun bisikan di antara mereka berbeda,tentang penjagaan yang berubah, tentang pejabat yang tak lagi muncul, tentang pertanyaan kecil yang kini dibiarkan hidup. Lucas berdiri di bawah kanopi kain sederhana, jubahnya polos, tanpa lambang. Ia tidak menonjol. Ia juga tidak bersembunyi. Ia berada di posisi yang tepat: cukup dekat untuk didengar, cukup jauh untuk tidak dicurigai. “Air di sumur barat keruh lagi,” keluh seorang perempuan tua. “Keruh bukan karena hujan,” sahut pria di sebelahnya. “Katanya jalurnya dialihkan.” Lucas menoleh sedikit, seolah baru menyadari percakapan itu. “Dialihkan?” tanyanya ringan, nada suaranya seperti orang yang hanya ingin tahu. “Bukankah jalur lama masih aman?” Pria itu mengangkat bahu. “Aman untuk siapa?” Lucas tersenyum tipis. “Biasanya, yang

  • Pembalasan Dendam Sang Pangeran Mahkota   bab 142 kaesar semakin kuat.

    Pagi itu, pengumuman-pengumuman kecil dibacakan berurutan, di lorong-lorong yang biasa dilalui pejabat menengah. Rotasi penjagaan. Penyesuaian anggaran. Penunjukan koordinator baru untuk “stabilitas internal.” Tidak ada satu pun yang terdengar besar. Namun jika disusun, pola itu membentuk dinding. Kaesar berdiri di ruang strategi, peta terbentang di hadapannya. Beberapa pin telah dipindahkan sejak malam,titik-titik yang mengunci jalur masuk, memendekkan rantai komando, dan memusatkan laporan. Ia tidak tersenyum. Ia tidak perlu. “Wilayah abu-abu?” tanyanya tanpa menoleh. Seorang perwira menjawab cepat. “Mulai condong, Yang Mulia. Namun belum terbuka.” “Biarkan,” kata Kaesar. “Tekanan terlalu cepat membuat orang memilih sisi yang salah.” Ia menunjuk satu garis tipis di peta. “Perketat di sini. bukan dengan penjaga tapi dengan izin Perwira itu mengangguk. “Administratif.” “Yang paling efektif,” sa

  • Pembalasan Dendam Sang Pangeran Mahkota   bab 141 Cristian menyusun balasan.

    Fajar menyentuh perbukitan dengan warna kelabu keperakan ketika ia berdiri di balkon penginapan kecil di kota pelabuhan utara. Dari sini, laut tampak tenang,kapal-kapal dagang berlabuh rapi, layar digulung, seolah dunia tidak pernah tahu tentang istana yang retak dari dalam.Namun Cristian tahu,dan lebih penting lagi,ia mengingat.Di atas meja kayu di belakangnya, terbentang peta. Bukan peta kerajaan resmi yang biasa dipajang di aula, melainkan salinan kasar yang ia susun sendiri: jalur perdagangan lama, wilayah bangsawan yang pernah berutang budi, pelabuhan kecil yang tidak tercatat dalam laporan pajak.Di sudut peta, beberapa nama ditandai dengan tinta gelap. Justin Stewart Andrian. Dua adipati. Satu jalur suplai senjata yang “berhenti beroperasi” terlalu bersamaan dengan perayaan Kaesar.Cristian menarik napas panjang, lalu duduk. tangannya bergerak terlatih, menyusun kertas- kertas menjadi urutan yang hanya ia pahami,tidak ada amarah di wajahn

  • Pembalasan Dendam Sang Pangeran Mahkota   bab 140 Ellisha yang tersiksa.

    Ellisha duduk di kursi dekat jendela, punggungnya tegak karena kebiasaan istana tak pernah benar- benar pergi. Gaunnya sederhana, warna gading tanpa hiasan. Rambutnya dikepang rapi oleh Nara, setiap pagi, dengan tangan yang selalu sedikit gemetar. “Udara hari ini cerah, ” kata seorang wanita berusia paruh baya yang berdiri di dekat pintu. Suaranya lembut, terlatih. “Kau beruntung.” Ellisha menatap keluar. Burung-burung melintas bebas di langit. “Keberuntungan yang tidak bisa disentuh,” jawabnya pelan. Wanita itu tersenyum tipis. “Kata-kata seperti itu membuat orang khawatir.” “Yang membuat khawatir,” balas Ellisha tanpa menoleh, “adalah kebenaran yang tidak diucapkan.” Wanita itu tidak menjawab. Ia hanya mencatat sesuatu di papan kecil, Lalu ia melangkah pergi, pintu menutup tanpa bunyi keras. Di ruang ini, bahkan suara ditertibkan. Ellisha menghela napas perlahan. Ia menutup mat

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status