Share

bab 135 Rafka yang membela.

Author: Pita
last update Petsa ng paglalathala: 2026-02-03 06:18:37

Koridor bawah tanah itu sunyi, lebih sunyi dari biasanya. Udara lembap menempel di kulit, dan cahaya obor bergetar seolah ragu untuk bertahan. Di sinilah keputusan-keputusan paling kotor dibuat cukup jauh dari aula, cukup dalam untuk menelan suara hati.

Rafka Narendra Afsar berdiri di depan pintu besi dengan rahang mengeras,Ia tidak seharusnya ada di sini,setidaknya, bukan secara resmi,namun ketika nama Jagatra terus dihapus dari percakapan, ketika perintah-perintah kecil mulai terde
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Pembalasan Dendam Sang Pangeran Mahkota   bab 299 Rafka dan Rionaldo yang tercatat.

    BUM... BUM... BUM... Langkah makhluk itu semakin dekat. Setiap pijakannya... membuat dinding lorong dipenuhi retakan baru. Kabut hitam berputar mengelilinginya. Namun... wujudnya masih tertutup kegelapan. Hanya... sepasang mata merah yang tampak jelas. Jagatra mengangkat pedangnya. "Jangan lengah." Lucas berdiri di sisi kirinya. Justin di kanan. Audina dan Nara berada beberapa langkah di belakang. Sedangkan... Rafka dan Rionaldo saling berpandangan. Entah mengapa... keduanya merasakan sesuatu yang sama. Pria tua berjubah hitam berkata pelan, "Ia mulai memilih." Lucas mengernyit. "Memilih apa?" "Nama berikutnya." Sunyi. Mendadak... dua sinar merah keluar dari mata Penghapus. Bukan menuju Jagatra. Bu

  • Pembalasan Dendam Sang Pangeran Mahkota   bab 298 Justin yang jadi aib.

    Lorong terdalam kembali bergetar.DUUUM...DUUUM...Kabut hitam yang memenuhi celah-celah batu perlahan bergerak.Tidak lagi berputar tanpa arah.Kini...kabut itu seperti sedang mencari sesuatu.Jagatra mengangkat pedangnya."Semua tetap waspada."Lucas mengangguk.Justin mengembuskan napas panjang.Sedangkan Rafka mulai mampu berdiri tanpa bantuan.Pria tua berjubah hitam memandang ke ujung lorong."Waktunya sudah tiba."Belum sempat siapa pun bertanya...kabut di depan mereka perlahan membelah.Namun...yang muncul bukan makhluk bermata merah.Melainkan...sebuah aula lain.Sangat luas.Di tengahnya berdiri cermin hitam raksasa.Permukaannya tidak memantulkan bayangan.Melainkan...kenangan.Pria tua itu berkata pelan,"Penghapus selalu menyerang melalui luka yang belum selesai."Tatapannya beralih kepada Justin."Dan kau...""...akan menjadi yang pertama."Just

  • Pembalasan Dendam Sang Pangeran Mahkota   bab 297 Michael jadi hantu?

    Lorong terdalam kembali diliputi keheningan.Namun...keheningan itu tidak lagi terasa kosong.Getaran pelan masih merambat di sepanjang dinding batu.DUUUM...DUUUM...Kabut putih berputar perlahan.Jagatra tetap berdiri di depan Lucas.Justin memandang lorong yang gelap.Sedangkan Rafka...masih berusaha mengumpulkan kembali kesadarannya.Pria tua berjubah hitam memandang jauh ke dalam kegelapan.Wajahnya berubah serius."Ia telah bangun."Jagatra mengangkat pedangnya."Siapa?"Belum sempat pria tua itu menjawab...udara di seluruh lorong mendadak menjadi sangat dingin.Obor-obor batu padam.Satu demi satu.FUSSH...FUSSH...FUSSH...Hanya cahaya putih dari kabut yang masih menerangi ruangan.Audina merapat ke sisi Jagatra."Aku merasakan sesuatu..."Nara menggigil."Bukan manusia."Rionaldo menggenggam pedangnya semakin erat."Lalu apa?"Sunyi.Kemudian...

  • Pembalasan Dendam Sang Pangeran Mahkota   bab 296 Lucas jadi bayangan.

    Lorong kuno kembali dipenuhi keheningan.Kabut putih masih mengelilingi Lucas.Justin.Dan Rafka.Meski doa Ellisha sempat memperlambat kutukan...retakan pada dinding batu belum benar-benar berhenti.KREK...KREK...Suara retakan kembali terdengar.Jagatra langsung menoleh.Tatapannya tertuju pada nama Lucas.Retakan kecil kembali muncul.Pria tua berjubah hitam menghela napas."Kutukan mulai bergerak lagi."Audina menggenggam tangan Jagatra."Kita harus melakukan sesuatu."Jagatra melangkah mendekati dinding batu."Lalu bagaimana caranya?"Pria tua itu menatap Lucas."Kutukan ini...""...akan selalu menguji orang yang paling kuat mengingat."Sunyi.Lucas mengangkat wajahnya perlahan.Tatapannya mulai kembali jernih.Namun...ia merasakan sesuatu.Tubuhnya terasa semakin ringan.Sangat ringan.Ia menatap kedua tangannya."...kenapa?"Justin ikut menoleh."Luca

  • Pembalasan Dendam Sang Pangeran Mahkota   bab 295 Kaesar menjadi peringatan.

    Sementara... jauh dari lorong kuno.Jauh dari cahaya yang mulai menumbuhkan harapan.Di bawah Istana Aethelgard...penjara batu tetap diselimuti keheningan.Obor-obor menyala redup.Suara tetesan air menggema tanpa henti.TOK...TOK...TOK...Di balik jeruji besi...Kaesar masih terduduk seorang diri.Rambutnya mulai berantakan.Jubah kebesarannya telah lama diganti dengan pakaian tahanan.Tak ada lagi mahkota.Tak ada lagi pelayan.Tak ada lagi orang yang memanggilnya "Yang Mulia."Hanya kesunyian...yang menjadi temannya.Ia menatap kedua telapak tangannya.Lalu berbisik lirih,"...aku pernah memiliki semuanya."Namun...tak ada seorang pun yang menjawab.Tak lama kemudian...terdengar langkah kaki.TOK...TOK...TOK...Seorang penjaga tua berhenti di depan sel.Ia membawa semangkuk makanan.Kaesar mengangkat kepala.Penjaga itu meletakkan mangkuk tersebut.

  • Pembalasan Dendam Sang Pangeran Mahkota   bab 294 Criastian abadi dalam kisah.

    Lorong kuno kembali diliputi kesunyian.Namun...kesunyian itu telah berubah.Harapan yang sempat hampir padam...kini kembali menyala.Meski hanya sebesar nyala lilin.Jagatra masih menatap Lucas.Justin.Dan Rafka.Ketiganya masih berdiri di balik kabut putih.Namun kini...mata mereka tidak lagi sepenuhnya kosong.Pria tua berjubah hitam menghela napas panjang."Doa telah memberi mereka waktu.""Tapi...""...waktu itu tidak akan bertahan selamanya."Jagatra menjawab tegas."Kalau begitu kami akan memanfaatkan setiap detiknya."Pria tua itu menatapnya.Tidak menjawab.Hanya mengangguk sangat pelan.Seolah...untuk pertama kalinya...ia mulai mengakui tekad Raja Aethelgard.Di sisi lain lorong...terdapat sebuah ruangan kecil yang belum pernah dimasuki siapa pun.Jagatra melangkah masuk.Audina.Rionaldo.Nara.Mengikutinya.Di tengah ruangan...berdiri se

  • Pembalasan Dendam Sang Pangeran Mahkota   bab 73 saudara yang iri.

    Di lorong panjang menuju ruang persiapan prajurit, lampu-lampu minyak berkelip lembut, memantulkan bayangan yang bergerak ketika seseorang melangkah perlahan. Langkah itu milik Ravel. Ia baru saja selesai melapor kepada salah satu penjaga istana tugasnya sebagai mata-mata membuatnya harus selalu m

  • Pembalasan Dendam Sang Pangeran Mahkota   bab 71 Merawat luka Jagatra.

    Fajar belum benar-benar muncul saat Audina terbangun lebih awal dari biasanya. Tidurnya tidak nyenyak bayangan luka di punggung Jagatra terus terulang di kepalanya memar gelap, tarikan napas tertahan, dan cara Jagatra berusaha menyembunyikan rasa sakitnya.Ia tidak tahan hanya diam.Audina mengambi

  • Pembalasan Dendam Sang Pangeran Mahkota   bab 55 Cristian menyatakan Niatnya.

    Suasana istana malam itu terasa aneh terlalu hening untuk tempat yang biasanya dipenuhi suara langkah para pelayan dan denting gelas dari ruang jamuan. Udara dingin merayap di sepanjang koridor, membawa bisikan-bisikan yang sulit dibedakan antara rumor dan kebenaran.Di ruang tengah yang

  • Pembalasan Dendam Sang Pangeran Mahkota   bab 38 Hati yang membeku.

    Langkah Jagatra bergema di lorong istana yang panjang dan sepi. Setiap dentuman tumitnya terdengar sangat nyaring di lorong itu.Percakapan dengan ibunya terus berputar di kepalanya.“Tahta tidak membutuhkan hati.”“Wanita yang tidak memberi keuntungan bagi kerajaan.”“Keadilan ditentukan oleh siap

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status