ВойтиKetika Ryan mendengar ini, wajahnya dipenuhi ekstasi yang tidak bisa disembunyikan.
Hadiah ini begitu besar sehingga bahkan jika ia harus mempertaruhkan nyawanya lagi, ia bersedia melakukannya tanpa ragu!Pada saat itu, pancaran tujuh warna akhirnya menghilang perlahan seperti embun yang menguap di pagi hari.Sementara itu, tubuh Ryan juga telah mengusir banyak kotoran hitam yang keluar dari pori-pori kulitnya bagaikan racun yang tersapu bersih."Bocah, itPria berbaju putih itu sudah pergi. Ryan berdiri sendirian di depan gerbang Kuil Pedang Samsara, angin yang mengandung aura pedang memukul wajahnya dari arah istana tanpa berhenti satu detik pun. Tidak ada penjelasan tambahan yang diberikan. Tidak ada peta. Hanya gerbang yang terbuka dan ruang di baliknya yang menunggu langkah pertama. Ryan menekan semua yang tidak perlu ke bagian belakang pikirannya, menghela napas satu kali yang tidak terdengar ragu, dan mendorong pintu masuk dengan tangan yang sudah siap. WUSHHH! Udara di dalam berbeda dari luar. Lebih berat, mengandung tekanan yang tidak berasal dari satu sumber tapi dari setiap sudut sekaligus, seperti tempat yang sudah menyerap terlalu banyak pertarungan selama terlalu lama hingga udaranya sendiri ikut berubah menjadi sesuatu yang bukan lagi sekadar udara. Di dalam, tidak ada apa-apa yang terlihat. Lantai batu putih yang tidak retak meski sudah berusia tidak terhitung. Langit-langit yang ujungnya tidak bisa ditemukan
Mereka membawa Ryan kembali ke peti mati. Tutupnya dibuka. Ryan dilempar ke dalam. Tutupnya ditutup dengan bunyi yang terdengar sangat final. Kegelapan total. Ryan mencoba mendorong tutup itu dari dalam. Tidak bergerak. Ia mengalirkan energi spiritual ke kedua tangannya dan mendorong lagi, kali ini dengan tekanan yang seharusnya lebih dari cukup untuk membobol pintu besi biasa sekalipun. Tutup itu tidak bergerak satu milimeter pun. Di dalam peti mati yang gelap itu, Ryan berbaring diam, mencoba menghitung waktu dari getaran yang melewati papan kayu di bawahnya. Tidak berhasil. 'Harold Guard, orang tua itu, apa yang sebenarnya sedang dilakukannya?' ** Ketika tutup peti mati akhirnya terbuka, cahaya yang menyambut Ryan berbeda dari cahaya hutan tadi. Lebih terang, lebih terbuka, mengandung kelembapan yang khas dari udara laut. Ia diseret keluar dan berdiri di mana mereka meletakkannya. Di bawah kakinya bukan tanah lagi tapi papan kayu yang sudah menghitam dari usia panj
lndra spiritual Ryan mengembang ke seluruh area yang ditunjuk Monyet Perang. Semuanya adalah anggota Klan Monyet Perang. Puluhan ekor bergerak di antara pepohonan, aura mereka tidak seragam tapi terpusat pada satu titik di kedalaman hutan yang tidak kelihatan dari sini. Yang terkuat di antara mereka mencapai Ranah Dao Integration, tidak lebih dari itu. 'Bisa kutangani sendiri.' Ryan turun dari bahu Monyet Perang dan melangkah ke depan. Kehadiran aura manusia di wilayah mereka sudah cukup untuk menarik perhatian tanpa perlu mengumumkan diri. Dari berbagai arah, sosok-sosok berbulu dengan tongkat kayu di tangan mulai bermunculan satu per satu, mata mereka merah darah, tubuh mereka besar dan tegap. Gerakan mereka terkoordinasi, bukan serangan sembarangan dari binatang yang takut tapi lebih menyerupai penjagaan wilayah yang sudah sering dilatih dan diulang. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Ryan mengaktifkan teknik penjinakan yang baru dipelajarinya, mengalirkan kekuatan ji
Harold Guard tidak menjelaskan lebih lanjut dengan kata-kata. Ia berbalik dan mulai berjalan ke arah yang berbeda dari kediaman utama, menuruni jalur batu yang tidak terlihat seperti jalur mana pun yang pernah Ryan perhatikan sebelumnya meski sudah menjelajah pulau ini cukup lama."Ikuti aku."Ryan mengikuti tanpa bertanya.Mereka bergerak ke sisi pulau yang lebih terjal, di mana batu-batu besar berukuran tidak wajar berserakan di lereng seperti diletakkan oleh tangan yang tidak terlalu peduli dengan kerapian hasilnya. Di balik salah satu tumpukan terbesar, sebuah celah tersembunyi mengarah ke dalam, tidak terlihat kecuali oleh seseorang yang sudah tahu tempatnya.Harold Guard memutar labu anggur kosongnya di jari dengan santai. Setetes cairan yang entah bagaimana masih ada di dalamnya menetes keluar, lalu berubah di udara menjadi sesuatu yang bukan lagi cairan sebelum menghantam batu paling depan.KRAAK.
Sementara Myriad Swords Palace mempertaruhkan segalanya di balik Formasi Asal Surgawi, Ryan tidak tahu apa pun tentang itu.Di Pulau Iblis Darah, udaranya berbeda dari wilayah barat. Lebih berat dari yang terlihat, mengandung konsentrasi energi iblis laut yang menguar perlahan dari kedalaman laut di sekitar pulau ini sepanjang hari. Bukan sesuatu yang nyaman bagi semua orang, tapi bagi anggota Sekte Slaughter yang sudah terbiasa melatih diri di kondisi yang tidak ramah, itu bisa menjadi keuntungan yang nyata kalau dimanfaatkan dengan benar.Ryan berdiri di tepi tebing paling tinggi di pulau itu, menatap ke arah laut yang bahkan dari ketinggian ini tidak memperlihatkan batasnya, hanya permukaan yang terus berlanjut sampai menghilang di cakrawala. Di bawahnya, para anggota sekte menjalani latihan pagi dalam diam yang disiplin. Jumlahnya masih terlalu sedikit. Kualitasnya masih perlu banyak diasah.Tapi ini baru permulaan, dan ti
Icy Sword God merasakan levelnya turun. Bukan turun sedikit. Dari tingkat delapan ranah Star Seed ke tingkat lima, dalam hitungan detik, seperti air yang mengalir keluar dari wadah yang retak dan tidak bisa dikembalikan ke dalam dengan cara apa pun. Fondasi yang dibangun selama ratusan tahun, teknik-teknik yang dikuasai dengan harga yang tidak pernah murah, semua itu tidak hilang sepenuhnya. Tapi tidak lagi bisa dijangkau dari level yang baru, seperti rak yang diturunkan lebih rendah dari yang bisa diraih. Kemungkinan besar, tidak akan pernah kembali ke level itu dalam sisa hidupnya. Tapi kakinya tidak bergerak untuk mundur bahkan satu senti pun. Di sekelilingnya, hal yang sama terjadi pada semua Kultivator yang tersisa. Level mereka turun bersamaan. Wajah mereka memucat bersamaan. Tubuh mereka melemah bersamaan. Dan tidak satu pun dari mereka yang bergerak ke belakang bahkan satu langkah. Di antara para kultivator di mana pun di dunia ini, kehilangan level kultivasi sec
"Aku akan berangkat pagi ini!"Ryan menatap keluar jendela, matanya dipenuhi tekad membara."Aku telah melalui ratusan pertempuran dalam hidupku, namun tak seorang pun pernah mampu membunuhku!"Tangannya terkepal erat."Aku menolak untuk percaya bahwa aku akan mati di area terlarang Klan Aetheren!"
Leo Northpalace adalah Kulitvator Ranah Creation tingkat tujuh, dan karenanya bukan tandingan Venerable Immortal Yuriel Leviathan yang sudah mencapai tingkat sembilan. Yuriel yakin bisa membunuh orang ini dalam seratus jurus, bahkan jika Tetua Agung Pertama yang berada di Ranah Creation tingkat de
Tetua Agung Ketiga terdiam lama sebelum menatap Hope Northpalace dengan tatapan dalam."Hope, kau terlalu muda. Kau baru hidup delapan ratus tahun. Ada banyak hal yang berada di luar pemahamanmu."Ia mengelus jenggotnya yang putih panjang dan tersenyum tipis."Klan Aetheren ingin membunuhnya, kan?
Naga Jiwa Semesta tidak dapat memahami apa yang sedang terjadi! Jika naga darah ini sepenuhnya membangkitkan garis keturunannya, apalagi Spirit Hall, bahkan keluarga dan sekte tingkat atas di Benua Valorisia pun harus berhati-hati. Satu-satunya hal yang dapat dilakukannya sekarang adalah memohon b







