MasukLingga mengamati atap, dinding, dan lantai gua. Ia mendengar suara auman harimau dan suara-suara aneh entah dari mana.“Gua ini berukuran sangat luas. Aku akan sangat mudah tersesat jika tidak berhati-hati.” Lingga mulai berjalan.Bibit cahaya itu mengikuti Lingga dari atas. Cahayanya mampu menyinari sekeliling dalam jarak yang cukup luas.“Aku tidak boleh membuang-buang waktu di tempat ini terlalu lama. Aku harus segera keluar dari tempat ini secepatnya untuk pergi ke tempat selanjutnya. Jika aku terlambat, aku akan gagal dalam ujian ini.”Lingga berdiri di depan enam pintu berukuran besar. Ia mengeluarkan sebuah bibit kuning kecokelatan dari dalam tas kecil, mengamati bibit itu saksama.“Sekar Sari mengatakan kalau bibit ini mampu tumbuh dengan sangat cepat. Bibit ini cenderung akan bergerak ke tempat yang memiliki cahaya sinar matahari yang kuat. Kekurangan cahaya matahari akan membuat sulur tanaman berukuran kecil dan lemah, sedangkan sulur tanaman akan berukuran besar jika dekat
Lapangan luas dengan sisi batu runcing, tebing, dan pepohonan yang menjulang tinggi dipenuhi oleh para pendekar golongan hitam dan bangsa siluman dari berbagai wilayah sejak pagi. Sorak dan teriakan terdengar bersahutan.Nyi Genit tersenyum lebar saat melihat kumpulan besar bangsa siluman dan manusia di sekelilingnya. Tugasnya untuk mengumpulkan pasukan besar sudah terpenuhi, hanya tersisa tugas untuk membangkitkan siluman Tangkurak Hideung di Lemah Kayas nanti malam.Akan tetapi, tugas itu bukanlah sebuah tugas mudah. Berdasarkan kabar dari para bawahannya, pasukan pendekar golongan putih sudah menghimpun kekuatan sangat besar untuk menghalangi tugas itu.Tarusbawa, Limbur Kancana, Ganawirya, para petinggi golongan putih, terutama Lingga adalah penghalang besar dalam tugas dari Totok Surya itu. Kemenangan mereka di pertarungan sebelumnya berhasil menyulut api semangat dan persatuan.Nyi Genit mendatangi satu per satu siluman yang sebelumnya bersembunyi. Dengan ancaman kebinasaan, ia
Tanah lapang sudah disesaki oleh para pendekar golongan putih dan para tabib sejak pagi. Mereka berdatangan dengan bantuan tiruan Limbur Kancana. Perkampungan dan padepokan dijaga ketat oleh para penjaga. Orang tua dan anak-anak sudah diungsikan ke tempat aman tak lama setelah ayam berkokok. Riuh terdengar dari jarak agak jauh. Matahari masih belum terlalu menanjak naik, tetapi keadaan di tempat perkumpulan terasa ramai dan panas oleh bisikan dan pembicaraan.Masih sangat lekat di ingatan mereka mengenai pertempuran di Jaya Tonggoh tempo hari. Setelah mengalami banyak peristiwa buruk hingga kekalahan hampir terjadi, bantuan datang hingga kemenangan pun mampu diraih.Kemenangan itu nyatanya tak hanya karena Lingga dan pusaka kujang emas, tetapi karena semua orang bersatu pada untuk mengalahkan musuh.Dari peristiwa itu pula, persatuan di antara pasukan pendekar golongan putih mulai hidup, terus berkembang menjadi ikatan yang kuat.Dan hari ini, pasukan pendekar golongan putih akan men
Sekumpulan harimau yang menyerang Lingga seketika terpental ke sekeliling arah setelah terkena serangan jurus cakar harimau putih.Harimau-harimau itu menghilang bersamaan dengan Lingga yang mendarat di puncak pohon. Dari tempatnya saat ini, sebuah danau besar terlihat.“Aku tidak bisa melihat ujung danau itu, dan hanya bisa melihat ujung kanan dan kirinya yang dipenuhi oleh pepohonan yang menjulang tinggi.”“Aku hanya perlu terus bergerak menuju utara untuk sampai di tujuan.”Lingga melompati satu per satu puncak pohon, menepis serangan sulur pohon dan daun-daun yang berubah tajam seperti pisau. Begitu melompat ke bawah, sebuah lubang mendadak muncul dari dalam tanah.Lingga menggunakan jurus kaki petir untuk melesat maju. Ia tiba di pinggir danau dengan selamat. “Aku mulai memahami saat pohon, batu, dan tanah akan menyerangku. Akan ada angin dingin yang mengalir di sekeliling sebelum serangan muncul.”“Aku harus memikirkan cara untuk sampai ke sisi danau bagian seberang. Aku bisa sa
Lingga mendarat di depan Maung Beureum, Maung Hideung, dan Maung Koneng, memasang kuda-kuda. “Rencanaku berhasil.”Lingga bertukar tempat dengan tiruannya yang bersembunyi di suatu tempat sesaat sebelum ketiga pendekar siluman itu memojokkannya ke pohon besar. Selama Maung Beureum, Maung Hideung, dan Maung Koneng menyerang tiruannya, ia mempersiapkan jurus angkat bumi.Maung Beureum, Maung Hideung, dan Maung Koneng menyimak saksama ucapan seseorang di kepala mereka.“Mereka tiba-tiba terdiam. Mereka seperti sedang mendengarkan seseorang bicara,” gumam Lingga.Maung Beureum, Maung Hideung, dan Maung Koneng saling berpandangan sesaat, mengangguk. Mereka menatap tajam Lingga, berjalan mendekat.Maung Beureum berkata, “Kami baru saja mendapatkan pesan dari pemimpin kami. Jika kau memang ingin mengalahkan bangsa siluman harimau putih dan mendapatkan mustika itu, kau harus datang ke puncak Pasir Maung dan bertarung dengan pemimpin kami tengah malam nanti.”Maung Hideung berjalan lebih dekat
Maung Beureum, Maung Hideung, dan Maung Koneng menyerang Lingga dalam waktu bersamaan. Gerakan mereka sangat cepat sehingga hanya terlihat bayangan merah, bayangan hitam, dan bayangan kuning yang berkelebat.Lingga bersiap dengan jurus kaki petir dan jurus harimau tangan harimau putih. Ketika serangan muncul, ia bergerak mengikuti pergerakan ketiga pendekar siluman itu.Pertarungan beralih tempat dari tanah, dahan pohon, puncak pohon hingga udara. Lingga berhasil menahan gempuran serangan musuh untuk sementara waktu. Akan tetapi, saat ketiga pendekar siluman itu menyatukan serangan, ia terdorong mundur hingga menabrak beberapa pohon sekaligus.Lingga menangkis serangan musuh dengan jurus cakar harimau putih, tetapi tubuhnya mendarat di pohon berukuran paling besar di hutan. Batang dan sulur pohon itu segera mengunci pergerakannya, terutama kaki dan tangannya.Lingga berusaha meloloskan diri, tetapi pohon itu semakin mengurungnya lebih kuat. Dalam waktu singkat, hampir setengah tubuhny







