Home / Pendekar / Pendekar Kujang Emas / 560. Dua Pendekar Hitam dan Serangan Siluman Kembar

Share

560. Dua Pendekar Hitam dan Serangan Siluman Kembar

Author: Ramdani Abdul
last update Last Updated: 2023-06-21 22:06:16
Limbur Kancana dan Tarusbawa mendarat di tanah dengan satu tangan memegang perut yang terus mengeluarkan darah. Luka mereka terbilang dalam dan menyakitkan.

“Tubuhku terasa panas dan sulit digerakkan di saat bersamaan. Kemungkinan siluman wanita itu memberikan semacam racun pada serangannya,” ujar Limbur Kancana seraya menekan kuat perut untuk menutup lukanya.

“Kita berdua lengah.” Tarusbawa menepuk perutnya cukup kuat hingga aliran darahnya berhenti. Ia mulai berdiri meski tubuhnya sempat oleng. Kedua rantainya kembali muncul dan dengan segera menangkis serangan selendang kuning Nyi Genit.

“Aku harus mempertahankan para tiruanku yang berada bersama para pendekar sekaligus para murid padepokan. Lukaku cukup dalam dan aku membutuhkan sedikit waktu untuk mengatasinya, Raka.” Limbur Kancana mengambil sebuah bulatan kecil yang diberikan Ganawirya padanya.

Nyi Genit melemparkan sebuah kendi kecil ke langit, lantas melayangkan serangan selendang hingga kendi hancur dan isinya berhamburan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (3)
goodnovel comment avatar
Nyai Pastel
lanjutkan thor......
goodnovel comment avatar
BiroTrans9
angel wes angel
goodnovel comment avatar
Sailillah Damsir
tolong update secara konsisten thor. karya nya bagus,tapi kalau lambat update hilang seru nya
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Pendekar Kujang Emas   685. Petaka di Gunung Sereh Awi

    Tanah lapang sudah disesaki oleh para pendekar golongan putih dan para tabib sejak pagi. Mereka berdatangan dengan bantuan tiruan Limbur Kancana. Perkampungan dan padepokan dijaga ketat oleh para penjaga. Orang tua dan anak-anak sudah diungsikan ke tempat aman tak lama setelah ayam berkokok. Riuh terdengar dari jarak agak jauh. Matahari masih belum terlalu menanjak naik, tetapi keadaan di tempat perkumpulan terasa ramai dan panas oleh bisikan dan pembicaraan.Masih sangat lekat di ingatan mereka mengenai pertempuran di Jaya Tonggoh tempo hari. Setelah mengalami banyak peristiwa buruk hingga kekalahan hampir terjadi, bantuan datang hingga kemenangan pun mampu diraih.Kemenangan itu nyatanya tak hanya karena Lingga dan pusaka kujang emas, tetapi karena semua orang bersatu pada untuk mengalahkan musuh.Dari peristiwa itu pula, persatuan di antara pasukan pendekar golongan putih mulai hidup, terus berkembang menjadi ikatan yang kuat.Dan hari ini, pasukan pendekar golongan putih akan men

  • Pendekar Kujang Emas   684. Petaka di Gunung Sereh Awi

    Sekumpulan harimau yang menyerang Lingga seketika terpental ke sekeliling arah setelah terkena serangan jurus cakar harimau putih.Harimau-harimau itu menghilang bersamaan dengan Lingga yang mendarat di puncak pohon. Dari tempatnya saat ini, sebuah danau besar terlihat.“Aku tidak bisa melihat ujung danau itu, dan hanya bisa melihat ujung kanan dan kirinya yang dipenuhi oleh pepohonan yang menjulang tinggi.”“Aku hanya perlu terus bergerak menuju utara untuk sampai di tujuan.”Lingga melompati satu per satu puncak pohon, menepis serangan sulur pohon dan daun-daun yang berubah tajam seperti pisau. Begitu melompat ke bawah, sebuah lubang mendadak muncul dari dalam tanah.Lingga menggunakan jurus kaki petir untuk melesat maju. Ia tiba di pinggir danau dengan selamat. “Aku mulai memahami saat pohon, batu, dan tanah akan menyerangku. Akan ada angin dingin yang mengalir di sekeliling sebelum serangan muncul.”“Aku harus memikirkan cara untuk sampai ke sisi danau bagian seberang. Aku bisa sa

  • Pendekar Kujang Emas   683. Petaka di Gunung Sereh Awi

    Lingga mendarat di depan Maung Beureum, Maung Hideung, dan Maung Koneng, memasang kuda-kuda. “Rencanaku berhasil.”Lingga bertukar tempat dengan tiruannya yang bersembunyi di suatu tempat sesaat sebelum ketiga pendekar siluman itu memojokkannya ke pohon besar. Selama Maung Beureum, Maung Hideung, dan Maung Koneng menyerang tiruannya, ia mempersiapkan jurus angkat bumi.Maung Beureum, Maung Hideung, dan Maung Koneng menyimak saksama ucapan seseorang di kepala mereka.“Mereka tiba-tiba terdiam. Mereka seperti sedang mendengarkan seseorang bicara,” gumam Lingga.Maung Beureum, Maung Hideung, dan Maung Koneng saling berpandangan sesaat, mengangguk. Mereka menatap tajam Lingga, berjalan mendekat.Maung Beureum berkata, “Kami baru saja mendapatkan pesan dari pemimpin kami. Jika kau memang ingin mengalahkan bangsa siluman harimau putih dan mendapatkan mustika itu, kau harus datang ke puncak Pasir Maung dan bertarung dengan pemimpin kami tengah malam nanti.”Maung Hideung berjalan lebih dekat

  • Pendekar Kujang Emas   682. Petaka di Gunung Sereh Awi

    Maung Beureum, Maung Hideung, dan Maung Koneng menyerang Lingga dalam waktu bersamaan. Gerakan mereka sangat cepat sehingga hanya terlihat bayangan merah, bayangan hitam, dan bayangan kuning yang berkelebat.Lingga bersiap dengan jurus kaki petir dan jurus harimau tangan harimau putih. Ketika serangan muncul, ia bergerak mengikuti pergerakan ketiga pendekar siluman itu.Pertarungan beralih tempat dari tanah, dahan pohon, puncak pohon hingga udara. Lingga berhasil menahan gempuran serangan musuh untuk sementara waktu. Akan tetapi, saat ketiga pendekar siluman itu menyatukan serangan, ia terdorong mundur hingga menabrak beberapa pohon sekaligus.Lingga menangkis serangan musuh dengan jurus cakar harimau putih, tetapi tubuhnya mendarat di pohon berukuran paling besar di hutan. Batang dan sulur pohon itu segera mengunci pergerakannya, terutama kaki dan tangannya.Lingga berusaha meloloskan diri, tetapi pohon itu semakin mengurungnya lebih kuat. Dalam waktu singkat, hampir setengah tubuhny

  • Pendekar Kujang Emas   681. Petaka di Gunung Sereh Awi

    Harimau putih milik Lingga menerjang dengan sangat cepat, menerkam satu per satu harimau musuh, mengisap mereka hingga menghilang.Angin berembus sangat kencang untuk ke sekian kalinya. Suara-suara aneh terdengar bersahutan dari berbagai arah.Lingga mengawasi keadaan sekeliling, mengeratkan pegangan pada kujangnya bersamaan dengan harimau miliknya yang kembali ke sisinya.“Berani sekali kau melenyapkan harimau-harimau milik kami, Manusia!” teriak sebuah suara yang bergema ke seluruh hutan.“Kami akan melenyapkanmu!” Tiga suara berkata dalam waktu bersamaan.Suara-suara itu berubah menjadi serangan-serangan berbentuk cakar harimau yang mengarah pada Lingga dari berbagai arah.Lingga dan harimaunya menghindari semua serangan dengan gesit. Dengan satu serangan kibasan kujang putih dan auman miliknya, serangan-serangan terpental ke sekeliling dan mengenai pohon-pohon yang akan menyerang.Tiga titik cahaya tiba-tiba muncul, menjelma menjadi tiga pendekar muda dengan tangan dan kaki berbul

  • Pendekar Kujang Emas   680. Petaka di Gunung Sereh Awi

    Lingga mundur selangkah, mengawasi keadaan sekeliling. Suara-suara itu sangat jelas, tetapi ia tidak bisa merasakan kehadiran seorang pun di dekatnya.“Suara-suara itu berasal dari bangsa siluman harimau putih,” gumam Lingga sembari bersiaga. “Aku harus tetap tenang.”“Manusia!” teriak suara yang paling terakhir berbicara. “Kenapa kau tidak menjawab pertanyaan kami? Apa tujuanmu datang ke wilayah kekuasaan siluman harimau putih?”“Kami tidak menerima manusia pun di wilayah ini!” Suara yang muncul pertama kali kembali terdengar bersamaan dengan embusan angin kencang.“Pergilah sekarang juga! Jika tidak, kami akan menghancurkanmu hingga tulang-tulangmu remuk dan hancur!”“Pergi!” Ketiga suara itu berkata di waktu yang bersamaan hingga menciptakan angin kencang ke arah Lingga.Lingga bergegas melompat, menepis serangan dari akar dan sulur tanaman. Angin yang sempat melewatinya kembali mengarah padanya, berubah menjadi sabit-sabit kecil.Lingga menghindari semua serangan, mendarat di tana

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status