เข้าสู่ระบบMalam kala itu juga menjadi terang benderang. Warna keemasan menebar dalam jarak satu-dua tombak. Mengepung tubuh si pemuda tanggung.
Kala yang sama, beberapa anak buah Dirgasura memekik nyaris berbarengan. Lalu tubuh-tubuh berjatuhan.
Ada yang kehilangan kepala.
Ada yang terpotong setengah badan.
Ada yang terbelah dadanya....
Dirgasura sempat menyelamatkan diri dengan membuang tubuh sekuat-kuatnya ke belakang. Tak urung kulit perutnya tersayat oleh angin pu
"Kalau benar. Kekuatan apa yang bisa membuat rontok tubuh manusia. Lagi pula mengapa kita tidak menemukan mayat-mayat penduduk desa ini di rumah yang lain?" kata patih Aria terheran-heran."Kau tidak melihat kejadian yang lainnya, Manyun Pambayo," Tanya Penujum Aneh sambil menatap ke arah si wajah muram di depannya."Tidak Penujum. Saya dan yang lainnya tidak melihat apa-apa." Sahut Manyun Pambayo.Penujum Aneh menoleh pada sang patih."Pelakunya masih orang yang sama. menyerang penduduk desa adalah pasukan Lebah bernama Lebah Kepala Hati Berbunga. Penduduk yang tidak dibutuhkan dibunuh, sedangkan para anak gadisnya disengat dengan bisa asmara. Bila tersengat gadis-gadis itu berubah menjadi liar. Yang seperti orang yang kasmaran.""Aku tidak tahu apa maksudmu kakek Penujum aneh." Kata patih Aria Kusuma bingung"Semua ini perbuatan Pangeran Durjana. Dia seperti ayam jantan. Dia sengaja meracuni lalu mengumpulkan gadis-gadis itu untuk dijadika
"Itu artinya semua orang bakal menuai celaka.""Bencana tidak akan terjadi bila kita dapat mencegahnya." Kata pemuda itu."Ha ha ha. Kalau kau menyebut kita, berarti engkau dan aku. Aku tidak mau ikut campur.""Kalau begitu aku akan menghadapi pangeran Gila itu seorang diri." Tegas Pendekar Sinting tanpa keraguan."Kau.... ha ha ha! Kau mau menghadapi manusia sakti luar biasa itu seorang diri? Manusia sombong! Kau mengira dirimu siapa?" Hardik Dewa Mabok dengan mata mendelik.Pendekar Sinting tersenyum. Enak saja dia menjawab. "Aku adalah aku, bukan dirimu apalagi mbahmu. Ha ha ha!""Orang Gila. Kau sungguh keterlaluan. Kalau begitu aku sudah selayaknya mengujimu!" Teriak si kakek lantang.Keputusan Dewa Mabok sudah tentu membuat Pendekar Sinting terkejut. Namun dia tidak merasa takut. Malah kemudian dia menjawab, sengaja memanasi hati si kakek."Kusangka kau seorang dewa sungguhan. Tidak tahunya hanya seorang kakek renta yang
"Angon Luwak, nama apa itu? Nama yang aneh. Ha ha ha."Angon Luwak hanya bisa geleng kepala. Namun kemudian cepat-cepat berkata. "Aku senang-senang saja. Tapi aku juga ingin tau siapa dirimu ini. Apakah kau orang yang ku cari atau sebaliknya.""Memangnya siapa yang kau cari?""Aku mencari seseorang?""Seseorang itu apakah kunyuk atau mungkin dia punya nama yang lebih bagus dari namamu?" Kata si kakek,Walau merasa kesal, namun Pendekar Sinting tetap menjawab juga pertanyaan si kakek"Namanya aku tidak tahu. Mungkin juga dia bernama Si Monyet tua. Tapi aku diberi tahu oleh seseorang. Orang yang kucari itu biasa disebut Dewa Mabok."Sikakek berjingkrat kaget. Dia menatap Pendekar Sinting sekaligus memperhatikan pedang berangka aneh yang terbuat dari emas"Kau mencari Dewa Mabok?""Apakah kau mengenalnya orang tua?" Angon Luwak balik bertanya."Mungkin saja aku mengenalnya. Memangnya kau punya kepentingan apa ingin m
"Hus, tahu apa kau. Diam sajalah, bukankah sejak tadi aku memintamu diam?" Kata Pendekar Sinting sambil bersungut-sungut."Terserah paduka. Hamba cuma memberi saran, diterima syukur tidak diterima keterlaluan.""Dasar Pedang Laut Selatan. Kau dan diriku tak jauh berbeda." Gerutu Pendekar Sinting."Persamaan watak itulah yang membuat kita dapat berdampingan. Kita pasangan yang serasi.""Serasi gundulmu!" Sambut Pendekar Sinting."Ah paduka lupa. Hamba dan Pedang Laut Selatan sama sekali tidak gundul. Yang gundul biasanya ada disebelah bawah.He he he."Walau merasa geli Angon Luwak tetap unjukkan wajah cemberut. Kemudian tanpa bicara apa-apa lagi pemuda ini menggosok-gosok kedua telapak tangannya. Dua tangan saling menggosok, mulut berkemak kemik. Tangan didekatkan ke mulut, bibir dimonyongkan ke depan lalu mulut Pendekar Sinting meniup.Puuh!Asap mengepul berwarna putih kelabu.Kedua tangan itu kini berubah bentuknya men
"Orang satu ini gilanya lebih parah dibandingkan diriku. Orang gila harus kulayani secara gila pula!"Berkata begitu Pendekar Sinting segera meliukkan tubuhnya. Tangan kanan diacungkannya ke atas seakan telunjuk tangan kiri menunjuk-nunjuk ke bawah.Lalu...Wuuues!Serta merta Pendekar Sinting hilang raib tak meninggalkan bekas. Sementara di tempatnya berdiri tadi, tanah dan pasir bermuncratan di udara. Daun-daun dikobari api, pepohonan dipenuhi lubang tertembus cairan tuak yang di semburkan orang."Orang gila kesasar itu bisa menghilang? Rupanya dia bisa berubah seperti kentut. Lumayan hebat tapi dia belum kenal aku ya. Ha ha ha...!" kata orang yang semburkan tuak disertai gelak tawa.Pendekar Sinting yang baru saja selamatkan diri dari semburan tuak keras dan menyala setelah bergesekan dengan udara, kini nampak duduk nangkring di atas cabang pohon. Sambil mengusap dadanya yang berdebar kencang, bersungut sungut pemuda itu menatap ke bawah.
"Tempat itu sunyi. Dari sini pandanganku bisa menembus hingga bagian dalam bangunan. Tidak ada siapa-siapa terkecuali onggokan bumbung bambu bekas tuak. Sementara diluar pondok aku melihat ada beberapa sosok tubuh berkaparan sambil memegang bumbung bambu," terang jiwa yang bersemayam dalam hulu pedang."Kau tidak hendak mengatakan orang-orang itu kehilangan nyawanya karena mabuk kan?""Entahlah. Hamba belum memeriksa paduka. Tapi kalau paduka berkeinginan agar aku melakukan pemeriksaan diatas sana pasti hamba lakukan!" Ujar sang jiwa menawarkan diri.Angon Luwak tertegun, berpikir sejenak. Dan sebelum sempat menjawab ucapan jiwa pedang, tiba-tiba dia mengendus aroma tuak yang sangat menyengat"Uh, bau ini membuat lubang hidungku sampai tenggorokan terasa panas seperti mau terbakar. Luar biasa! Manusia mana yang sanggup minum tuak dengan aroma sekeras ini" Kata Pendekar Sinting sambil menekab hidungnya.Cepat pemuda ini memutar tubuh, mata jelalatan nanar memperhatikan sekelilingnya. P
Bagaspati terpaksa tersenyum lagi mendengar cerocos Angon Luwak. Padahal, sebelumnya pemuda itu justru yang tak sabar meminta penjelasan. Sampai akhirnya Angon Luwak menyadari sendiri kebodohannya."He he he, aku terlalu banyak ngomong, ya Kang?" ujarnya lugu, dengan ringisan malu-malu (da
KERATON Demak di penghujung dini hari. Kekacauan baru saja pupus, berkawal kokok ayam jantan pertama di pagi buta, Seluruh prajurit Keraton Demak berkumpul di luar, di Taman Sari dekat dengan ruang peristirahatan raja. Raden Fatah berdiri di antara mereka, mengawasi kejadian di samping satu tiang
Lagi-lagi Angon Luwak cengar-cengir lugu. Dalam hati, Angon Luwak merasa tak pantas mendapat pujian dari orang besar dan mulia seperti Raden Patah yang sudah berusia cukup lanjut. Kalau mengingat bagaimana masa-masa muda gemilang pendiri Kerajaan Demak itu yang sering didengarnya dari cerita-ceri
Setelah membereskan ketiga prajurit penjaga, pasukan Dirgasura bergerak kembali mendekati tepi rawa. Gerakan mereka kali ini tak lagi lambat. Seperti sekawanan anjing lapar yang melihat tumpukan tulang di depan mata, mereka memburu ke tepi. Meski begitu, tak ada keributan berarti mereka ciptakan.D







