LOGINMalam kala itu juga menjadi terang benderang. Warna keemasan menebar dalam jarak satu-dua tombak. Mengepung tubuh si pemuda tanggung.
Kala yang sama, beberapa anak buah Dirgasura memekik nyaris berbarengan. Lalu tubuh-tubuh berjatuhan.
Ada yang kehilangan kepala.
Ada yang terpotong setengah badan.
Ada yang terbelah dadanya....
Dirgasura sempat menyelamatkan diri dengan membuang tubuh sekuat-kuatnya ke belakang. Tak urung kulit perutnya tersayat oleh angin putaran Cemeti Laut Selatan.
Sepertinya, angin putaran senjata pusaka di tangan pemuda tanggung itu telah menjelma menjadi mata pedang kasat mata!
Ketika sanggup menempatkan diri cukup jauh dari ancaman maut senjata si pemuda tanggung, mata Dirgasura dibuat tak berkedip menyadari benda apa yang berada di tangan lawan berusia hijaunya.
"Cemeti Laut Selatan...," Desis Dirgasura terseret, bergetaran.
Berdesir hatinya bukan karena kehebatan si pemuda tanggung, melainkan kar
"Menurut Eyang Guru, hanya murid kita yang bisa menghadapinya. Biarkan dia sendiri. Aku percaya pada kesanggupan Cah Sinting kita itu! He he he!"Sementara Dongdongka tertawa, Ki Kusumo cuma bisa mengernyitkan kening. Bagaimana orang tua ini masih sempat tertawa pada saat-saat demikian genting.Di kancah pertarungan tunggal, Pendekar Sinting telah bersiap mati dalam menghadapi lawan. Nini Jonggrang menggeram-geram tiada terputus. Tangannya mendadak terayun cepat. Dari kedua telapak tangannya mendadak keluar bola-bola api sebesar kepala bayi!Wuk wuk wuk!Deru santer bagai kepakan sayap rajawali raksasa terdengar. Disusul dengan membesarnya api di seputar bola-bola api tadi. Melayang-layang liar menuju sasaran. Lidah apinya siap menerkam. Tak pernah mengalami kejadian serupa dalam hidupnya yang tergolong hijau, Pendekar Sinting tercekam. Dia tercengang tanpa bisa melakukan apa-apa. Saat itulah, terdengar bisikan gaib menyelusup langsung ke telinganya.
Itu sebabnya, pukulan Perempuan Pengumpul Bangkai di Wadaslintang tak berakibat parah terhadap diri Tresnasari. Kebetulan, pukulan itu adalah salah satu ilmu tenaga dalam yang dicurinya."Tresna, bawalah Mayangseruni menyingkir dari tempat ini!" seru Pendekar Sinting, mengimbangi ancaman sengit Nini Jonggrang.Tak perlu dua kali diperingati, Tresnasari segera memapah saudara kembarnya meninggalkan tempat tersebut. "Tak semudah itu kau menyingkir, Murid Jahanam!" teriak Nini Jonggrang kalap bukan main, Nini Jonggrang berjuang untuk melepaskan diri dari hujanan serangan Pendekar Sinting. Tubuhnya digenjot hendak menghadang Tresnasari dan Mayangseruni.Dengan ketat, Pendekar Sinting merapatkan serangan, mencoba membendung usaha lawan. Nini Jonggrang makin dibuat kalap.Sementara, malam kian terlelap. Hal yang paling ditakuti Dedengkot Sinting malam itu akhirnya terjadi juga. Apa lacur, orang tua sakti yang harus tiba sebelum tengah malam, tak kunjung-kunjung
Mayangseruni terlempar. Tubuhnya berguling di tanah menurun. Saatnya bagi Pendekar Sinting untuk bertindak!Wrrr!Sekali sentak, tubuh Pendekar Sinting melayang cepat menyusul Mayangseruni. Nini Jonggrang tak bisa membiarkan begitu saja. Rasa sakit di pahanya telah sanggup dikuasai. Perhatiannya kini bisa dipusatkan kembali ke arah kancah kekacauan. Kekacauan memang telah berlangsung demikian cepat. Tak meleset perhitungan Tresnasari. Tindakan cepat tak terduga seperti rencananya, telah memporak-porandakan kemenangan sementara si Perempuan Pengumpul Bangkai dan Iblis Dari Neraka!Nini Jonggrang berteriak bagai auman singa betina tua."Khuuaaaa!"Wikh wiikh wikh wiikh!Dengan nekat dan amat menggidikkan bagi siapa pun yang menyaksikannya, Nini Jonggrang melepas lima kuku jari tangan kanannya dengan sengaja. Sentakan tenaga dalam yang disalurkan kelewat batas menyebabkan kelima jari hitam itu meluncur bagai taring-taring setan terbang!
Dan tampaknya, Nini Jonggrang telah lebih dahulu mengetahui daripada Dongdongka bahwa Pertapa Sakti Gunung Sewu telah meninggalkan tempat pertapaanya itu. Karenanya, tua bangka ahli tenung itu berani mendatangi Goa Sewu.Mayangseruni masih dalam genggaman Ki Ageng Sulut. Dia masih dalam pengaruh totokan. Tubuhnya yang lemah lunglai dibopong oleh Ki Ageng Sulut hingga ke Goa Sewu. Sementara Tresnasari dibopong oleh Nini Jonggrang. Gadis yang mengalami luka dalam cukup parah akibat hantaman Nini Jonggrang masih tak sadarkan diri.Sebelum berangkat ke Goa Sewu, Nini Jonggrang sempat mengobati luka dalamnya. Angon Luwaktidak dapat berbuat banyak, kecuali menyaksikan saja Nini Jonggrang bersemadi mengatur peredaran hawa murni dalam tubuhnya. Jika macam-macam, tangan kejam Ki Ageng Sulut akan memagut lepas nyawa Mayangseruni.Sementara itu, Ki Kusumo pun tak punya pilihan lain kecuali menuruti perintah si Perempuan Pengumpul Bangkai untuk segera meninggalkan Wadaslintang. Namun, dia tak beg
"Tak perlu kau bersujud lagi padaku, Truna!" cegah Pertapa Sakti Gunung Sewu, menahan Dongdongka yang hendak memulai sembah sujud 'setengah miring'nya."Kenapa, Eyang Guru? Kenapa? Aku memang bersalah semalam dan hari ini. Tapi, janganlah kau menghukum aku dengan tidak menganggap aku muridmu lagi. Jangan, ya Eyang Guru?" tanya Dongdongka, mendayu-dayu sambil berjalan membungkukbungkuk di belakang Pertapa Sakti Gunung Sewu."Bukan begitu. Sejak aku memutuskan untuk turun gunung, aku telah menyadari sesuatu. Manusia tak bisa menyembah manusia lain. Kendati gurumu, jangan jadikan aku seperti Dewa. Aku tetap manusia biasa...."Dongdongka manggut-manggut. Raungannya sudah aman. Matanya bahkan sudah kering. Atau, memang begitu caranya menangis" Tak pernah keluar airmata."Syukurlah kalau ternyata Eyang Guru tak menghukum aku. Syukur... syukur. Lalu, kenapa Eyang Guru memutuskan untuk turun gunung sekarang ini?"Pertapa Sakti Gunung Sewu terus melangkah.
Terbayang-bayang kembali dalam otak tua yang nyaris tumpul milik Dongdongka, wajah Pertapa Sakti Gunung Sewu yang telah berpuluh tahun tak dijumpainya. Seorang yang dari waktu ke waktu tak pernah mengalami ketuaan pada wajahnya. Tampan dan bersih, dengan binar mata jenaka seorang bocah polos. Ada juga kesan kebodoh-bodohan pada garis-garis wajahnya. Rambutnya panjang. Hitam, terawat, dan tergerai. Mengenakan kain pengikat berwarna ungu, menutupi separuh kepala bagian atasnya. Mengenakan pakaian sederhana berwarna serupa dengan pengikat kepala. Kendati sederhana, namun licin sekaligus bersih. Pada kain ikat pinggang berwarna merah, terselip satu helai bulu rajawali sepanjang dua jengkal.Dan di luar pengetahuan Dedengkot Sinting sendiri, Pertapa Sakti Gunung Sewu seperti yang terngiang-ngiang di kepalanya telah bertemu pula dengan Ki Ageng Sulut dan Ki Kusumo di Wadaslintang. Padahal, ketika Pertapa Sakti Gunung Sewu mengunjungi Dongdongka, bertepatan waktunya dengan kehadiran







