Share

Bab 11

Penulis: Kuldesak
last update Terakhir Diperbarui: 2024-12-09 01:54:17

Kupacu sepeda motor maticku dengan kecepatan sedang setelah berteleponan dengan Mira. Meski pikiranku carut-marut, aku berusaha tetap fokus.

"Tadi Mira di Warnet apa ya?" aku bergumam.

Nggak, pokoknya nggak mau aku kembali ke kontrakan itu sendirian. Sungguh mati, disambar petir bareng-bareng juga aku mau.

Mengingat hal aneh yang terjadi, aku lebih memilih untuk menjemput Mira saja.

Aku tepikan sepeda motorku di bahu jalan, aku kemudian mengambil ponselku dan mencari nomor Mira di aplikasi hijau.

"Mir, lo di warnet mana? Bareng aja ya ke kontrakan." Kirim.

Aku menunggu balasan, sesekali aku memperhatikan jalanan yang masih ramai oleh lalu lalang kendaraan.

"Nduk...."

"Astaghfirullah, ya Allah!" aku terkesiap, mendengar suara dari belakang.

Aku pun menoleh.

Seorang wanita paruh baya seperti pengemis itu sudah berada di belakang tubuhku. Wajah wanita tersebut tampak serius kala ia menatapku.

"Ya Allah, Bu, saya kaget. Ada apa, Bu?" tanyaku dengan suara masih terguncang, beru
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Penghuni    15

    Krieeet…Suara pintu di seberang lorong yang terbuka perlahan itu seribu kali lebih menakutkan daripada teriakan mana pun. Itu adalah suara yang disengaja. Pelan, penuh kendali, sebuah ejekan yang tak terucap. Senter ponsel di tangan kami bertiga bergetar hebat, membuat tiga lingkaran cahaya yang menari liar di dinding lorong yang gelap. Kami membeku, tiga patung manusia yang terperangkap di antara ancaman di depan dan tulisan kematian di belakang.Tidak ada sosok yang keluar dari kegelapan di balik pintu itu. Yang keluar adalah sesuatu yang lain.Pertama adalah baunya. Aroma tanah basah yang anyir, bercampur dengan wangi manis bunga kantil yang membusuk. Bau yang sama persis dengan bungkusan kain yang kubakar.Bau santet. Bau kuburan. Aroma itu merayap keluar dari celah pintu, mengalir di udara, dan menyergap hidung kami, membuat perutku seketika mual.Lalu, suaranya."Kiikikik… Kiikikik…"Tawa itu lagi. Bukan tawa kuntilanak yang melengking seperti yang diputar Mira. Ini lebih rend

  • Penghuni    14

    Uhuk... uhuk... uhuk...!Kami berlima membeku di atas tikar. Suara riuh rendah obrolan kami yang gugup seketika mati, ditelan oleh tiga kali suara batuk yang terdengar begitu nyata. Itu bukan suara batuk biasa. Itu suara batuk orang sakit. Lemah, penuh dahak, dan sarat akan penderitaan. Dan yang paling mengerikan, suara itu datang dari kamar kosong di lantai atas.Andi, yang baru saja merebahkan badannya, langsung duduk tegak. Matanya melotot ke arah tangga yang gelap. "Anjir... Lo semua denger itu, kan?" bisik Andi, suara laki-laki itu lebih mirip desisan ketakutan. "Gue nggak ngigo, kan?"Ranti sudah memeluk Mira lebih erat, tubuhnya gemetar hebat. "Suara bapak-bapak," cicitnya pelan. "Kayak orang sesek napas gitu nggak sih?!"Seketika, secercah harapan dan rasa kendali yang baru saja kami rasakan lenyap tak berbekas. Digantikan oleh hawa dingin yang merayap dari lantai, naik ke tulang punggung kami. Makhluk itu seolah-olah mendengar rencana kami. Ia tahu kami akan menjenguk bapa

  • Penghuni    13

    "Hah ... Gue?!" Aku berseru tak percaya, merasa menjadi pusat perhatian yang sangat tidak nyaman. Tatapan teman-teman seperti menelanjangiku."Kowe wis ngrusak papan panggonanku!" Suara Mira bergema dingin.Aku menggaruk kepala berjilbabku, merasa panik. "A-apa maksud lo, Mir? Sumpah, ya! Gue benar-benar nggak ngerti apa yang lo omongin!"Mira diam, mata kosongnya terus menatapku. Tangannya yang gemetar jatuh ke pangkuan. Pak Ustaz mulai membaca Ayat Kursi.Aku bisa merasakan tatapan teman-teman. Mereka butuh penjelasan, sekarang."Bentar! Bentar!" potongku cepat, suara agak gemetar. "Pak Ustaz, teman-teman... Saya ... Saya memang membakar sesuatu kemarin sore!"Pengakuanku membuat beberapa orang tersentak kaget. Ada yang berbisik, ada yang melotot tak percaya."Tapi saya beneran nggak tau itu apaan! Sumpah!" lanjutku cepat, mencoba membela diri. "Aku nemu bungkusan aneh itu di atas ventilasi pintu keluar!" Tunjukku ke arah pintu di ruangan itu.Heru, yang duduk tak jauh dariku, seg

  • Penghuni    12

    “Nara, kita nggak usah lewat jalan ini, deh,” kata Mira tiba-tiba, memecah keheningan.Aku menoleh. “Kenapa?”Mira menatap lurus ke depan, wajahnya agak pucat. “Tuh... liat deh pohon beringin gede itu. Gue... ngerasa nggak enak. Tadi pas gue ke toko kue aja, kayak ada yang berdiri di situ.”Aku ikut menoleh. Pohon beringin tua berdiri menjulang di tikungan jalan, rimbun menelan cahaya matahari siang. Di bawahnya, ada bekas sesajen kering, daun-daun menguning, dan satu boneka reyot tergantung di salah satu dahan.Dadaku berdebar.“Lo ngelihat apaan barusan?” tanyaku pelan.Mira menelan ludah. “Bayangan. Nggak jelas. Tapi... matanya merah. Nggak tau juga itu apaan. Ya, daripada ada masalah kan, ya, mending kita muter!"Aku langsung menekan rem, memutar balik pelan. “Oke, kita cari jalan lain.”Kami tak berkata-kata selama beberapa menit. Hanya suara mesin motor dan detak jantungku sendiri yang terasa berdentum di telinga. Tepat saat kami belok ke gang kecil sebagai jalan alternatif, t

  • Penghuni    Bab 11

    Kupacu sepeda motor maticku dengan kecepatan sedang setelah berteleponan dengan Mira. Meski pikiranku carut-marut, aku berusaha tetap fokus. "Tadi Mira di Warnet apa ya?" aku bergumam. Nggak, pokoknya nggak mau aku kembali ke kontrakan itu sendirian. Sungguh mati, disambar petir bareng-bareng juga aku mau.Mengingat hal aneh yang terjadi, aku lebih memilih untuk menjemput Mira saja. Aku tepikan sepeda motorku di bahu jalan, aku kemudian mengambil ponselku dan mencari nomor Mira di aplikasi hijau. "Mir, lo di warnet mana? Bareng aja ya ke kontrakan." Kirim. Aku menunggu balasan, sesekali aku memperhatikan jalanan yang masih ramai oleh lalu lalang kendaraan. "Nduk...." "Astaghfirullah, ya Allah!" aku terkesiap, mendengar suara dari belakang. Aku pun menoleh. Seorang wanita paruh baya seperti pengemis itu sudah berada di belakang tubuhku. Wajah wanita tersebut tampak serius kala ia menatapku. "Ya Allah, Bu, saya kaget. Ada apa, Bu?" tanyaku dengan suara masih terguncang, beru

  • Penghuni    10

    Aku menelan ludah, mencoba menenangkan diriku. Dengan tangan gemetar, aku menggeser ikon hijau di layar ponselku dan menjawab panggilan itu."H—halo? Mira?" suaraku bergetar, nyaris tak keluar.Hening. Hanya ada suara statis di ujung telepon. Kemudian, sebuah suara terdengar—bukan suara Mira yang biasa. Lebih berat, lebih serak, dan terdengar seperti berasal dari kedalaman yang tak terjamah manusia."Kinara... tanggung jawab... saiki!" suara itu bergema, membuat bulu kudukku meremang. Napasku tercekat, dan aku hampir menjatuhkan ponsel dari tanganku."Mira? Ini lo?" tanyaku panik, berharap ini semua hanya kesalahpahaman atau semacam prank yang sering Mira lakukan.Namun, suara itu tidak menjawab. Hanya ada desisan aneh seperti seseorang yang sedang menarik napas dalam-dalam. Di tengah keheningan itu, suara lain muncul—tangisan lirih, seperti anak kecil yang menangis, perlahan berubah menjadi tawa cekikikan yang memekakkan telinga.Aku langsung menutup telepon, napasku memburu. "Sial!

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status