LOGINSuasana dapur seketika membeku. Kata-kata "simpanan" yang diucapkan oleh suara Pak Burhan itu terus berputar di kepalaku, terasa lebih tajam daripada udara panas yang baru saja menerpa wajah kami.Aku menatap pintu yang terbuka itu dengan ngeri, menunggu sosok pria itu muncul, tapi yang ada hanyalah kegosongan yang sunyi.“Nara, geser!” Heru menarik pundakku dengan kasar, membuatku tersentak dari lamunan.Heru melangkah maju, memegang linggisnya seperti sebuah senjata, lalu menendang pintu dapur hingga terbuka lebar. “Nggak ada siapa-siapa di luar, Ndi. Itu cuma gertakan!”“Gertakan gimana, Ru? Suaranya jelas banget di telinga gue!” Andi berteriak, ponselnya masih mengarah ke lubang ubin dengan tangan yang gemetar hebat. “Dia bilang ‘simpanan’! Lo liat kan tangan tulangnya tadi gerak?”Aku menelan ludah, mencoba mengatur napas yang terasa pendek-pendek. “Heru bener, Ndi. Pak Burhan... dia kayaknya pakai semacam kiriman suara. Pak Slamet tadi bilang dia lagi ritual ‘memberi makan’. Mun
Jantungku seolah ingin melompat keluar dari dada saat kakiku beradu dengan aspal gang yang kasar. Di belakangku, Heru berlari kencang, napasnya memburu sama sepertiku.Pesan dari Andi di grup Wawa tadi benar-benar meruntuhkan sisa keberanianku. "Cepetan, Ra! Jangan berhenti!" teriak Heru dari belakang.Begitu sampai di depan pintu kontrakan, aku tidak menunggu Heru. Aku langsung mendobrak pintu kayu yang sudah rapuh itu. Bau busuk yang tadi kucium di dekat rumah Pak Burhan ternyata sudah merayap masuk ke sini, namun kali ini bercampur dengan aroma amis darah yang segar dan pekat.“Andi! Mira! Kalian di mana?!” teriakku sambil berlari menuju dapur.Langkahku terhenti di ambang pintu dapur. Pemandangannya jauh lebih mengerikan dari yang kubayangkan. Di sudut dapur, dekat sumur kerek tua, Andi berdiri dengan linggis di tangan, tubuhnya gemetar hebat. Di lantai, salah satu ubin yang tadinya berwarna kusam sudah hancur berkeping-keping."Ra! Akhirnya lo balik!" seru Andi. Wajahnya pucat p
Cahaya matahari yang menyerobot masuk lewat ventilasi ruang tengah terasa menyakitkan di mataku.Aku terbangun dengan leher kaku karena tidur bersandar pada dinding tempat rajah pelindung itu bersembunyi di balik cat. Bau amis sisa tangisan semalam masih tertinggal di ujung hidungku, membuat perutku mual seketika.“Ra? Bangun, Ra. Kopi nih,” suara Heru memecah keheningan. Ia menyodorkan mug plastik berisi cairan hitam pekat kepadaku. Aku menerimanya dengan tangan gemetar. “Makasih, Ru. Jam berapa?”“Hampir jam delapan. Anak-anak udah pada kumpul di dapur. Andi nemu sesuatu,” jawab Heru pendek. Wajahnya tegang, ada kantung mata hitam yang menghiasi wajahnya.Aku segera beranjak, mengabaikan rasa pening di kepala, dan melangkah ke dapur. Di sana, Andi sudah berjongkok di dekat sumur kerek tua yang berlumut, sementara Mira dan Ranti berdiri mengelilinginya dengan wajah pucat.“Ndi, lo serius?” tanyaku sambil mendekat.Andi mengetuk-ngetuk salah satu ubin yang warnanya sedikit lebih kus
Malam turun membawa hawa dingin yang menusuk tulang. Kontrakan kami sudah jauh lebih rapi setelah seharian dibersihkan, tapi udara di dalamnya terasa berat, seolah dinding-dinding ini tahu bahwa pertempuran akan segera pecah.Kami berkumpul lagi di ruang tengah, duduk bersila di atas karpet. Hanya lampu bercahaya kuning di sudut ruangan yang menyala, memberikan nuansa temaram. Kotak kayu berisi surat-surat ancaman Pak Burhan tergeletak di tengah kami bak artefak berharga."Gimana, Ndi? Pak Ustaz bisa?" tanyaku memecah keheningan.Andi mengangguk pelan, meletakkan ponselnya di atas karpet. "Bisa. Beliau bilang bakal datang besok siang sehabis zuhur. Katanya kita disuruh nyiapin air putih yang banyak, daun bidara, sama garam krosok. Untung tadi sore gue udah beli semua di pasar.""Bagus," pangkas Heru. Ia mencondongkan badannya ke depan, menatap kami satu per satu dengan raut wajah serius. "Sekarang dengerin gue baik-baik. Kita harus satu suara. Malam besok itu bukan ruqyah biasa. Musuh
Pagi sudah tiba, dan udara terasa dingin, tapi bukan dingin yang mencekam seperti semalam. Ini dingin khas pagi hari di kota yang membawa sisa-sisa kelelahan kami.Kami berlima duduk melingkar di ruang tengah, menatap sebuah lemari jati tua di pojok dekat tangga. Lemari itu sudah ada di sana sejak hari pertama kami pindah, terkunci rapat dan tak pernah kami pedulikan. Sampai semalam, saat Pak Darmo memberikan kuncinya padaku."Buka sekarang, Ra?" tanya Andi, memecah keheningan. Ia menguap lebar, matanya merah karena kurang tidur.Aku mengangguk, menggenggam kunci kuningan berkarat di tanganku. "Iya. Kita harus tau apa yang disembunyikan Pak Darmo di sini."Aku bangkit, berjalan mendekati lemari jati itu. Ada bau kapur barus tua dan debu yang menyengat saat aku memasukkan kunci ke lubangnya. Krek! Pintu lemari terbuka. "Uhuk! Gila, debunya," keluh Ranti sambil mengipas-ngibaskan tangan di depan hidung."Ada apa aja di dalem?" Heru ikut berdiri, melongok dari belakang bahuku."Cuma
Ruangan depan rumah Pak Darmo terasa lebih terang setelah kami menyalakan lampu. Tapi terang itu tidak menghapus ketegangan yang masih menggantung di udara. Bu Lastri sudah sadar, duduk bersandar di sofa dengan selimut menutupi tubuhnya yang masih gemetar. Wajahnya pucat, matanya masih menyimpan sisa-sisa ketakutan.Mira menuangkan air putih ke gelas, lalu memberikannya pada Bu Lastri. "Minum dulu, Bu. Pelan-pelan."Bu Lastri menerima dengan tangan bergetar. Ia meneguknya sedikit, lalu menghela napas panjang. "Matur nuwun, Nduk. (Terima kasih, Nak.)"Aku duduk di lantai, tepat di depan Bu Lastri. Heru berdiri menyandar di dinding, Andi di sampingnya. Ranti duduk di ujung sofa, memijat-mijat kakinya sendiri—kebiasaannya kalau sedang cemas."Bu," aku memulai, hati-hati. "Ibu... lihat apa tadi? Sebelum pingsan?"Bu Lastri menatapku. Sorot matanya berubah. Bukan lagi ketakutan. Tapi sesuatu yang sudah lama disimpan. "Aku... aku lagi nyiapke wedang nang pawon. (Aku... aku lagi menyiapkan
"Oke. Kita berangkat sekarang."Kalimat itu terlontar dari mulutku sendiri, tapi rasanya seperti diucapkan oleh orang lain. Seseorang yang lebih berani dariku. Seseorang yang tidak sedang gemetar di dalam.Heru mengangguk tanpa banyak bicara. Ia langsung berdiri, mengambil jaketnya yang tergantung
Krieeet…Suara pintu di seberang lorong yang terbuka perlahan itu seribu kali lebih menakutkan daripada teriakan mana pun. Itu adalah suara yang disengaja. Pelan, penuh kendali, sebuah ejekan yang tak terucap. Senter ponsel di tangan kami bertiga bergetar hebat, membuat tiga lingkaran cahaya yang
Uhuk... uhuk... uhuk...!Kami berlima membeku di atas tikar. Suara riuh rendah obrolan kami yang gugup seketika mati, ditelan oleh tiga kali suara batuk yang terdengar begitu nyata. Itu bukan suara batuk biasa. Itu suara batuk orang sakit. Lemah, penuh dahak, dan sarat akan penderitaan. Dan yang p
“Nara, kita nggak usah lewat jalan ini, deh,” kata Mira tiba-tiba, memecah keheningan.Aku menoleh. “Kenapa?”Mira menatap lurus ke depan, wajahnya agak pucat. “Tuh... liat deh pohon beringin gede itu. Gue... ngerasa nggak enak. Tadi pas gue ke toko kue aja, kayak ada yang berdiri di situ.”Aku ik







