로그인Kakiku tidak bergerak.Namaku baru saja dipanggil dari dalam kegelapan rumah yang seluruh lampunya mati. Dengan suara yang asing. Suara pria yang lemah dan serak, seperti suara seseorang yang sudah lama terbaring sakit.Suara yang tidak seharusnya tahu namaku."Ra." Heru menyentuh lenganku pelan. "Lo nggak apa-apa?"Aku menelan ludah. "Itu... suara Pak Darmo kan?"Tidak ada yang menjawab.Karena tidak ada yang tahu."Masuk?" tanya Andi. Nada suaranya tidak mengandung humor sama sekali. Pertama kalinya sejak aku kenal dia.Heru sudah mendorong pintu pagar yang ternyata tidak terkunci. Besi tua itu berderit panjang, memecah keheningan kampung yang mencekam. "Masuk," jawabnya, bukan sebagai pertanyaan.Kami masuk satu per satu.Halaman depan rumah Pak Darmo dipenuhi rumput yang tidak terpotong rapi. Pohon mangga tua di sudut halaman berdiri gelap, daun-daunnya tidak bergerak meski seharusnya ada angin. Cahaya dari lampu jalan di luar pagar hanya cukup untuk membuat bayangan-bayangan yang
"Oke. Kita berangkat sekarang."Kalimat itu terlontar dari mulutku sendiri, tapi rasanya seperti diucapkan oleh orang lain. Seseorang yang lebih berani dariku. Seseorang yang tidak sedang gemetar di dalam.Heru mengangguk tanpa banyak bicara. Ia langsung berdiri, mengambil jaketnya yang tergantung di balik pintu."Gue ambil air putih sisa ruqyah Pak Ustaz dulu," ujar Heru singkat.Ranti yang masih duduk memeluk lutut di atas tikar langsung mendongak. "Kalian serius mau pergi sekarang? Tengah malam gini?""Kita nggak tau kondisi Pak Darmo kayak gimana. Kita mesti buru-buru. Semakin cepat, kita bakal tau rahasia rumah ini," jawabku. "Kita nggak bisa tunggu sampai pagi, Ran.""Tapi—""Ranti." Mira menyentuh lengan Ranti pelan. Suaranya masih lemah, tapi matanya sudah lebih jernih sebelum tadi. "Nara bener. Kita nggak bisa diem aja."Ranti menggigit bibir, matanya merah. Ia menoleh ke Andi yang dari tadi berdiri bersandar di tembok dengan tangan terlipat di dada."Lo diem aja, Ndi?" tanya
Krieeet…Suara pintu di seberang lorong yang terbuka perlahan itu seribu kali lebih menakutkan daripada teriakan mana pun. Itu adalah suara yang disengaja. Pelan, penuh kendali, sebuah ejekan yang tak terucap. Senter ponsel di tangan kami bertiga bergetar hebat, membuat tiga lingkaran cahaya yang menari liar di dinding lorong yang gelap. Kami membeku, tiga patung manusia yang terperangkap di antara ancaman di depan dan tulisan kematian di belakang.Tidak ada sosok yang keluar dari kegelapan di balik pintu itu. Yang keluar adalah sesuatu yang lain.Pertama adalah baunya. Aroma tanah basah yang anyir, bercampur dengan wangi manis bunga kantil yang membusuk. Bau yang sama persis dengan bungkusan kain yang kubakar.Bau santet. Bau kuburan. Aroma itu merayap keluar dari celah pintu, mengalir di udara, dan menyergap hidung kami, membuat perutku seketika mual.Lalu, suaranya."Kiikikik… Kiikikik…"Tawa itu lagi. Bukan tawa kuntilanak yang melengking seperti yang diputar Mira. Ini lebih rend
Uhuk... uhuk... uhuk...!Kami berlima membeku di atas tikar. Suara riuh rendah obrolan kami yang gugup seketika mati, ditelan oleh tiga kali suara batuk yang terdengar begitu nyata. Itu bukan suara batuk biasa. Itu suara batuk orang sakit. Lemah, penuh dahak, dan sarat akan penderitaan. Dan yang paling mengerikan, suara itu datang dari kamar kosong di lantai atas.Andi, yang baru saja merebahkan badannya, langsung duduk tegak. Matanya melotot ke arah tangga yang gelap. "Anjir... Lo semua denger itu, kan?" bisik Andi, suara laki-laki itu lebih mirip desisan ketakutan. "Gue nggak ngigo, kan?"Ranti sudah memeluk Mira lebih erat, tubuhnya gemetar hebat. "Suara bapak-bapak," cicitnya pelan. "Kayak orang sesek napas gitu nggak sih?!"Seketika, secercah harapan dan rasa kendali yang baru saja kami rasakan lenyap tak berbekas. Digantikan oleh hawa dingin yang merayap dari lantai, naik ke tulang punggung kami. Makhluk itu seolah-olah mendengar rencana kami. Ia tahu kami akan menjenguk bapa
"Hah ... Gue?!" Aku berseru tak percaya, merasa menjadi pusat perhatian yang sangat tidak nyaman. Tatapan teman-teman seperti menelanjangiku."Kowe wis ngrusak papan panggonanku!" Suara Mira bergema dingin.Aku menggaruk kepala berjilbabku, merasa panik. "A-apa maksud lo, Mir? Sumpah, ya! Gue benar-benar nggak ngerti apa yang lo omongin!"Mira diam, mata kosongnya terus menatapku. Tangannya yang gemetar jatuh ke pangkuan. Pak Ustaz mulai membaca Ayat Kursi.Aku bisa merasakan tatapan teman-teman. Mereka butuh penjelasan, sekarang."Bentar! Bentar!" potongku cepat, suara agak gemetar. "Pak Ustaz, teman-teman... Saya ... Saya memang membakar sesuatu kemarin sore!"Pengakuanku membuat beberapa orang tersentak kaget. Ada yang berbisik, ada yang melotot tak percaya."Tapi saya beneran nggak tau itu apaan! Sumpah!" lanjutku cepat, mencoba membela diri. "Aku nemu bungkusan aneh itu di atas ventilasi pintu keluar!" Tunjukku ke arah pintu di ruangan itu.Heru, yang duduk tak jauh dariku, seg
“Nara, kita nggak usah lewat jalan ini, deh,” kata Mira tiba-tiba, memecah keheningan.Aku menoleh. “Kenapa?”Mira menatap lurus ke depan, wajahnya agak pucat. “Tuh... liat deh pohon beringin gede itu. Gue... ngerasa nggak enak. Tadi pas gue ke toko kue aja, kayak ada yang berdiri di situ.”Aku ikut menoleh. Pohon beringin tua berdiri menjulang di tikungan jalan, rimbun menelan cahaya matahari siang. Di bawahnya, ada bekas sesajen kering, daun-daun menguning, dan satu boneka reyot tergantung di salah satu dahan.Dadaku berdebar.“Lo ngelihat apaan barusan?” tanyaku pelan.Mira menelan ludah. “Bayangan. Nggak jelas. Tapi... matanya merah. Nggak tau juga itu apaan. Ya, daripada ada masalah kan, ya, mending kita muter!"Aku langsung menekan rem, memutar balik pelan. “Oke, kita cari jalan lain.”Kami tak berkata-kata selama beberapa menit. Hanya suara mesin motor dan detak jantungku sendiri yang terasa berdentum di telinga. Tepat saat kami belok ke gang kecil sebagai jalan alternatif, t







