Masuk“Siapa namamu? Mana KTP mu?” tanya Lintang tak melepaskan tatapannya dari wajah wanita itu.
“Namaku Aurelia Chan, ini KTP ku,” jawab wanita itu menyodorkan kartu tanda penduduk pada Lintang. “Gladis. Siapa yang mengakuisisi Restoran A?” tanya Lintang melalui telepon seluler. "Aurelia Chan." Mendengar jawaban dari sahabatnya diseberang membuat Lintang diam seribu bahasa. Kini pandangan matanya menatap Aurelia. “Kenapa kamu mau menikah denganku? Apa kau tahu kondisiku?” "Karena aku sudah lama mencintaimu, tapi kamu sama sekali tak pernah menyadari keberadaanku. Kalau dengan cara ini aku bisa bersama denganmu, maka aku siap,” kata Aurelia, tangannya meraih telapak tangan Lintang untuk meyakinkan. Lintang yang merasa kecolongan, akhirnya hanya dapat menganggukkan kepalanya sebagai tanda setuju. Anggukan kepala Lintang sontak saja membuat Melia dan sang suami gembira. “Kalian akan mengadakan pemberkatan sekarang, tapi urusan surat menyurat nanti akan diurus setelah Lintang selesai operasi,” ujar ayah Lintang, jelas sekali kebahagiaan terpancar dari raut wajahnya. Pendeta yang didatangkan khusus untuk mendoakan kondisi Lintang menjelang operasi, akhirnya memberkati mereka dalam pernikahan yang kudus. “Lintang Wang dan Aurelia Chan sekarang kalian bukan lagi dua, melainkan satu. Karena apa yang sudah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia,” kata Pendeta. Setelah pemberkatan nikah selesai, brankar yang diatasnya terbaring tubuh Lintang digiring oleh perawat dan keluarganya menuju ruang operasi. Orangtua Lintang sama sekali tidak tertarik untuk bertanya siapa Aurelia sebenarnya, apalagi mencari tahu tentang Perusahaan MIX. Bagi mereka keselamatan Lintang jauh lebih penting dari pada menanyakan asal usul Aurelia.” Aurelia hanya memperhatikan tingkah laku kedua orangtua Lintang yang tidak tenang, mereka terlihat gelisah. Pasangan suami istri itu mondar mandir tepat di depan ruang operasi. Ketakutan semakin menyerang ketika dua dokter lainnya berlari memasuki ruangan operasi. “Pergilah ke bank darah dan tambah dua kantong darah O untuk pasien. Cepatlah!” kata perawat dari balik pintu yang hanya terbuka kecil. Pasangan suami istri itu saling berpandangan, namun sedetik kemudian keduanya sadar keselamatan Lintang sekarang adalah hal yang terpenting. Segera saja pasangan suami istri itu menuju bank darah dan membayar dua kantong darah. Setelah darah berada dalam genggaman Shan Yue Wang, ayah Lintang. Keduanya kembali berlari menuju ruang operasi dan memberikan dua kantong darah itu kepada perawat. Aurelia sama sekali tidak tertarik untuk tahu apa yang terjadi, ketika melihat sendiri Shan Yue yang secara tiba-tiba menarik Melia ke sudut ruangan. Jelas sekali Shan Yue terlihat marah. “Apa kamu selingkuh dibelakangku?” Shan Yue menatap Melia dengan tatapan garang. “Apa kau sudah gila? Mana mungkin aku mengkhianati pernikahan kita? Bukan kamu saja yang kaget, tapi aku juga. Bagaimana mungkin Lintang memiliki golongan darah yang berbeda dengan kita berdua?” tanya Melia bingung sendiri. Keduanya terdiam, mencoba mengembalikan ingatan ketika Lintang dilahirkan. Setelah mengingat sesuatu Shan Yu bertanya bingung, “Bukankah golongan darah Lintang saat dilahirkan adalah A? Dokter sendiri yang memberitahu aku. Lagian perawat sama sekali tidak salah mengambil bayi dan diantarkan kepada kita. Aku hapal betul tanda lahir yang ada di pinggang anak kita. Lintang juga memiliki tanda lahir itu. Sebenarnya apa yang terjadi?” “Darah anak kita berbeda dengan golongan darah kita, dan sebagai orangtua … kita juga tidak bisa mendonorkan hati untuk Lintang,” kata Melia pelan. Setelah berpikir panjang, keduanya sepakat untuk melakukan tes DNA setelah Lintang selesai menjalani operasi. Namun mereka sepakat melakukan itu secara diam-diam, bagi mereka apapun hasilnya nanti Lintang tetap akan menjadi putra kesayangan mereka. Setelah menunggu lama akhirnya dokter-dokter keluar dari ruangan operasi. “Dokter bagaimana keadaaan anak saya? Proses operasinya berjalan lancar, kan? Jangan katakan kalau operasi itu gagal dokter? Kenapa tadi dua dokter lain berlari masuk ke dalam dengan cepat? Apakah terjadi sesuatu dengan anak kami?” Melia menyerang para dokter dengan segudang pertanyaan. “Operasi berhasil, tubuh pasien menerima baik hati pendonor, jadi tidak usah khawatir karena kami akan mengawasi pasien selama masa pengobatannya. Kalian boleh menjenguk Lintang setelah berada di ruangan khusus, jadi bersabarlah. Ingat, jika sedikit saja ada perubahan pada tubuh pasien atau sesuatu yang mencurigakan, maka segera beritahu perawat yang ditugaskan khusus untuk mengawasi Lintang. Perawat itulah yang akan segera menghubungi kami,” kata salah satu dokter yang mengoperasi Lintang. Kalau kedua orangtua Lintang bahagia mendengar berita itu, berbeda dengan Aurelia. Baginya itu adalah luka yang tidak akan pernah sembuh. Walaupun demikian dia senang mengetahui tubuh Lintang merespon baik hati pendonor. Orangtua Lintang sama sekali tidak memperhatikan raut wajah kesedihan yang tampak jelas dari pancaran mata wanita itu, bahkan air bening berhasil lolos dari pelupuk mata Aurelia, hatinya hancur mendengar berita dokter. Keluarga Lintang hanya dapat mengikuti dari belakang ketika brankar didorong perawat menuju ruangan lainnya. Walaupun ingin memeluk Lintang tapi tidak bisa mereka lakukan. "Maaf, tapi kalian haru menunggu untuk bisa menjenguk pasien. Nanti ada parawat yang akan menemui dan mengatakan kapan bisa menjenguk Lintang,” kata sang dokter sebelum berlalu pergi. Walaupun operasi telah berhasil, tapi tidak juga membuat orangtua Lintang dapat duduk tenang. Keduanya tetap saja mondar mandir didepan pintu ruangan. Setelah cukup lama menunggu akhirnya mereka diijinkan untuk masuk secara bergantian. “Apakah ayah sudah mengambil rambut Lintang?” tanya Melia menatap sang suami. "Sudah, sebaiknya kita langsung melakukan test DNA sekarang. Ayah tidak sabar ingin tahu yang sebenarnya,” kata Shan Yue dan melangkah menuju ruang pemeriksaan DNA. Setelah menyerahkan sampel DNA, keduanya kembali agar Aurelia tidak curiga. Tiga hari kemudian …. “Apakah Anda mau mengambil hasil tes DNA?” Pasangan suami istri itu hanya dapat menganggukkan kepalanya sebagai jawaban dan langsung menunjukkan KTP. “Ini hasil tes DNA nya,” kata lelaki itu sambil menyerahkan map cokelat kepada Shan Yue. Shan Yue menerima map cokelat itu dengan tangan gemetar. Meskipun bisa memprediksi hasilnya, tapi pasangan suami istri itu berharap akan ada keajaiban yang menyatakan kalau Lintang adalah putra kandung mereka. “Terima kasih,” kata Shan Yue datar.Lintang terdiam, dia bingung harus menjawab apa, karena dia sendiri bingung dengan identitas aslinya.Aurelia menarik krah kemeja Lintang.“Jawab aku! Siapa kamu sebenarnya? Kenapa kamu bisa memegang kartu hitam ekslusif, ha? Kenapa kamu bisa masuk ke Nusakambangan begitu mudahnya? Bahkan kamu disambut selayaknya orang besar!” suara Aurelia meninggi.“Maafkan aku, Aurel. Secara tidak langsung aku membawamu ke dalam bahaya,” kata Lintang hampir tidak terdengar.“Bukan jawaban itu yang ingin ku dengar! Aku mau kepastian, siapa kamu sebenarnya?” tegas Aurel.“Aku sendiri tidak tahu identitas asliku.”“Jangan bercanda, Brengsek! Aku bukan orang bodoh!” bentak Aurel kesal.“Itulah kenyataannya, aku sendiri tidak tahu siapa aku sebenarnya!” jawab Lintang lemas.Melihat kesungguhan di wajah sang suami, membuat Aurelia yakin kalau suaminya sedang berbicara serius.“Kamu terlibat ke dalam masalah serius, jadi sebagai istri tidak menutup kemungkinan aku juga akan ditemukan. Sebelum semuanya tah
“Temanilah keponakanmu, dia pasti terkejut meyaksikan ini. Apalagi kejadian tadi tepat didepan matanya. Kalau dia seorang polwan, maka itu bukan hal baru baginya. Masalahnya dia hanya warga sipil biasa. Jadikan ini Pelajaran, lain kali jangan membawa warga sipil untuk menginap di dalam sini, tempat ini menyeramkan bagi mereka. Walaupun itu keluarga kita sendiri. Paham?”“Baik, Pak. Setelah keponakanku tenang, aku akan membawanya keluar dari sini.”“Pastikan dia merasa aman, baru antar dia pulang. Jangan biarkan dia trauma akan kejadian tadi.”“Bai, Pak,” jawab paman Aurelia tegas.Polisi yang memiliki jabatan lebih tinggi dari paman Auelia itu, langsung saja meninggalkan mereka dan menuju tahanan lainnya yang juga ketakutan.Polisi itu mengambil ponsel dan mengirim pesan.[Semua berjalan sesuai rencana, Bos. Selin Widyawati sudah tewas tertembak. Jadi masa lalu keluarga Lee juga akan terkubur bersamanya. Tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan.]***“Apa? Tidak, Aurel! Paman tidak aka
“Sel pria semua sudah keluar, bagaimana dengan sel wanita?” teriak paman Aurel kepada rekan kerjanya.“Semua sudah,” terdengar suara teriakan balasan.Semua polisi langsung saja keluar dan menuju tempat terbuka, sedangkan bagian teknisi memeriksa apakah ada kerusakan Listrik di tempat lain, setelah dapur dinyatakan aman.Walau dalam keadaan darurat, tapi pihak kepolisian tidak mau kecolongan. Mereka tetap waspada. Mereka tidak ingin sampai terjadi kebakaran dan masih ada tahanan yang berada di dalam sel.“Gawat, ada satu tahanan yang tidak ada,” teriak salah satu polisi, panik.“Apa? Siapa?”“Selin Widyawati, wanita bisu.”Tanpa menunggu, paman Aurelia langsung saja berlari masuk ke dalam. Sang paman tidak dapat melarang keponakannya untuk ikut, dia tahu sekarang bukan waktunya berdebat. Itu karena dia tahu persis watak sang keponakan yang keras kepala.“Paman, apa dia meninggal?” tanya Aurel panik ketika melihat Selin tergeletak di lantai.Ya! Polisi memang telah membuka sel tahanan
Begitu kembali ke tempat semula Aurelia langsung mendekati sang paman. “Paman, aku tadi melihat wanita yang kerjaannya hanya diam saja. Namanya, Se-se-se …” bisik Aurelia seolah-olah sedang berpikir.“Selin Widyawati? Dia narapidana paling lama dan tidak pernah bicara. Kamu lihat, dia saja bertahan dengan kondisinya. Masa kamu kalah sama dia,” kata sang paman balas berbisik.“Belum tentu paman, aku kan tidak mengenalnya. Aku itu wanita normal dan ingin hidup seperti wanita pada umumnya. Hidup bersama orang yang aku cintai dan mempunyai anak, seperti keluarga pada umumnya. Sedangkan wanita itu? Mungkin dia tidak punya tujuan hidup. Siapa tahu dia justru suka di sini, karena mendapatkan makanan gratis, dari pada kesulitan mencari makan diluar, kan? Sedangkan aku tidak pernah merasa kesusahan, sedangkan wanita itu? Belum tentu apa yang aku rasakan dia bisa kuat. Dia saja diam begitu. Bisa jadi otaknya memang bermasalah,” bisik Aurelia.“Kamu bisa memeriksanya sendiri,” bisik sang paman.
Setelah tiba di tempat tujuan, Lintang langsung memakai kacamata hitam dan kumis tipis.Dengan langkah pasti Lintang keluar dari mobil dan melempar kunci mobil kepada anak buahnya.Helikopter membawa Lintang ke Nusakambangan dalam waktu singkat.Kepolisian yang berada di sana langsung menyambut kedatangan Lintang.Ya! Lintang meretas jaringan computer dan cctv penjara nusakambangan, kemudian mendaftarkan namanya sebagai salah satu tamu terpenting yang akan bertugas di sana dalam jangka waktu yang telah ditentukan.Kalau dalam komputer dan CCTV penjara Nusakambangan akan terlihat jelas wajah palsu Lintang, namun berbeda saat berada diluar. Diluar penjara Nusakambangan nama Lintang tidak akan ditemukan oleh pihak kepolisian manapun. Begitupun dengan CCTV, wajah Lintang tidak akan terlihat.“Selamat datang, Tuan,” sambut mereka dengan ramah.“Terima kasih. Terima kasih,” jawab Lintang dengan dialek luar. Sebagai tanda dia bukan orang Indonesia, tapi bisa berbahasa Indonesia dengan fasih.
“Apa Aurel bisa percaya pada perkataan paman? Bukankah selama ini paman tidak pernah berbohong sama Aurel?"“Baiklah, saya akan kirim lokasinya. Tapi ingat kalau sampai ayah dan ibu tahu, paman akan menemukan saya sebagai jenazah,” ancam Aurelia.“Paman janji.”“Awas kalau ingkar.”Tut … Tut … Tut …Dengan santai Aurelia mengirim lokasinya kepada sang paman.‘Lintang akan murka kalau tahu aku nekad melakukan ini, tapi aku sudah memilih jalan ini. Aku hanya akan meninggalkan petunjuk untuknya,’ guman Aurelia.Ya! Aurelia meninggalkan pesan kepada Lintang melalui surat yang hanya dapat dipahami oleh Lintang sendiri. Seperti orang yang mengalami gangguan mental, Aurel mengacak-acak rambutnya, wajahnya lesu dengan pancaran mata yang tidak biasa.Setelah hampir satu jam menunggu tiba-tiba terdengar teriakan panik. “Astaga, Aurel. Apa yang terjadi? Kenapa kamu jadi seperti ini? Kenapa penampilanmu menjadi kacau begini?”Aurelia menatap sang paman dengan pandangan kosong. “Kenapa semua keja







