MasukPasangan suami istri itu langsung saja melangkahkan kakinya menuju taman yang terletak disamping rumah sakit.
Berlahan tangan kekar Shan Yue mulai membuka map cokelat dengan tangan gemetar, kemudian mengeluarkan isinya. Keduanya langsung lemas begitu membacanya. “Jadi selama ini aku membesarkan anak orang lain? Terus di mana anak kandungku? Bagaimana kehidupannya diluar sana? Bagaimana kalau anakku justru hidup dalam penderitaan? Bagaimana kalau dia tidak cukup makan?”Melia menggelengkan kepalanya, dia tidak bisa membayangkan jika itulah kenyataannya. “Ayah juga tidak tahu keadaan anak kita, yang ayah tahu sekarang waktunya kita mencari keberadaannya.” “Bagaimana kalau Lintang tahu tentang dirinya? Bagaimana kalau dia tahu kita bukanlah orangtua kandungnya? Dia pasti merasa hancur. Di mana anak kandung kita?” Melia membenamkan wajahnya di dada bidang sang suami. Dia benar-benar bingung dan sakit hati menerima kenyataan itu, Shan Yue membelai lembut rambut sang istri, dia berusaha menenangkannya. “Percayalah, ayah pasti akan menemukan keberadaan anak kita. Lintang sekarang telah selesai operasi, kita akan tetap mengawasi kondisinya.” Setelah Melia tenang, keduanya sepakat memulai pencarian dari rumah sakit di mana Melia melahirkan. Hari terus berlalu … Kalau Aurelia sibuk dengan proses kesembuhan Lintang, berbeda dengan kedua orangtua Lintang yang sibuk mencari keberadaan anak kandung mereka. Sampai akhirnya kabar baik itu datang. Lintang dinyatakan sembuh dan diizinkan kembali pulang ke rumah. Tanpa Lintang sadar ada kabar buruk sedang menantinya. Lintang menatap halaman rumah keluarga Wang yang sangat luas. ‘Apakah ayah dan ibu mau memberikan aku surprise? Apa karena itu mereka tidak menjemputku? Ya … pasti ayah dan ibu sudah menyediakan pesta kepulangku,’ guman Lintang, wajahnya terlihat bahagia. Namun kebahagiaan itu langsung hilang dalam sekejap, ketika pintu rumah terbuka dan Lintang hanya menemukan pelayan rumah. “Di mana ayah dan ibu?” tanya Lintang menatap wanita paruh bayah yang selama ini membantu membesarkannya. “Tu-tu-tuan dan Nyonya, tuan dan Nyonya …,” Pelayan rumah itu hanya menarik nafas panjang, dia bingung harus mengatakan apa. Dia tidak ingin menyakiti hati majikannya, tapi dia tahu cepat atau lambat Lintang akan tahu kebenaran yang ada. “Kenapa dengan ayah dan ibu? Mereka baik-baik saja, kan?” tanya Lintang mulai khawatir. “Tuan dan Nyonya baik-baik saja. Tuan dan Nyonya sedang menemui keluarga lelaki yang telah memberikan nyawanya untuk kehidupan, Tuan Muda,” kata pelayan rumah itu. Aurelia menatap keanehan dari pancaran mata wanita paruh baya itu. Maafkan aku, tuan muda. Aku tidak berniat membohongi tuan muda, tapi aku rasa tuan dan nyonya besarlah yang berhak memberitahu kabar menyedihkan. Bibi tahu, tidak akan muda bagimu untuk menerima kenyataan. Tapi bibi yakin, kamu pasti kuat. Setiap ungkapan itu hanya dapat diucapkan pelayan rumah di dalam hatinya. Ya! Sejujurnya anak kandung Shan Yue dan Melia telah ditemukan, hanya saja mereka belum membawanya ke rumah karena satu dan lain hal. “Aku mau menunggu orangtuaku di sini,” kata Lintang tanpa menatap Aurelia. Aurelia menganggukkan kepalanya dan menyerahkan koper kepada pelayan rumah. “Apakah kamu tidak mau langsung beristirahat saja? Apa kamu tidak capek?” tawar Aurelia setelah menunggu hampir setengah jam. “Orangtuaku saja tidak pernah lelah menungguku, jadi untuk apa aku capek menunggu orangtuaku?” Lintang menatap Aurelia, jelas sekali dia tidak suka dengan kalimat sang istri. Akhirnya yang ditunggu-tunggu pulang juga. Namun Lintang terkejut menemukan kenyataan yang jauh berbeda dari harapannya. “Kenapa kamu masih menunggu? Harusnya kamu istirahat saja!” ketus Shan Yue dan langsung naik ke lantai dua. “Aurel, harusnya kamu lebih memperhatikan suamimu. Bagaimana kalau dia sakit? Bukankah akan mengeluarkan biaya lagi untuk pengobatan?” dengus Melia kesal dan langsung menyusul sang suami. Kata-kata Melia merupakan tamparan keras bagi Lintang. Dia merasa perubahan sikap kedua orangtuanya. “Lintang, kamu harus mengerti walau bagaimanapun ayah dan ibumu pasti kelelahan. Jadi jangan tambah beban mereka dengan sikapmu yang keras kepala. Apa yang dikatakan ayah dan ibumu benar, kamu harusnya sudah istirahat. Apa kamu ingin melihat ayah dan ibumu mengkhawatirkanmu lagi seperti sebelumnya?” kata Aurelia mengambil jalan tengah. Ya! Sejujurnya Aurelia menemukan perubahan sikap orangtua Lintang seminggu setelah suaminya itu telah selesai di operasi. Namun demikian, dia menutupi semuanya dari Lintang. Jadi berbagai alasan disampaikan Aurelia ketika Shan Yue dan Melia tidak berada di rumah sakit. “Benar, orangtuaku pasti kelelahan. Aku akan istirahat agar tidak membuat mereka khawatir,” kata Lintang dan langsung melangkah memasuki kamarnya yang ada di lantai satu. Keesokan harinya …. Semua orang terkumpul dalam satu ruangan, tidak terkecuali semua pelayan dan tukang kebun. “Selamat pagi, aku ingin memberikan kabar baik untuk kalian semua. Mungkin ini sebuah kejutan,” kata Shan Yue tersenyum. Lintang tersenyum menatap sosok yang paling dikaguminya. Apakah ayah akan memberikan aku kejutan? Ayah ada-ada saja. Ternyata Aurelia benar, kemarin ayah dan ibu hanya kelelahan dan mengkhawatirkan kondisiku. Meskipun begitu Lintang tetap senang karena baginya ayah dan ibunya tidak berubah. Tiba-tiba dari arah pintu, masuk seorang lelaki tampan. Kulitnya putih mulus, rambut potongan pendek, wajahnya tirus, satu lagi wajahnya mirip dengan Melia. “Ini adalah putra kandung kami yang tertukar dua puluh empat tahun lalu,” kata Shan Yue, pandangan matanya menatap lelaki itu tanpa berkedip. “Selamat pagi. Kenalkan namaku Brayen Lei,” sapa lelaki itu sambil menunduk hormat. Lintang terkejut. Kalau umurnya dua puluh empat tahun, itu artinya aku bukan putra kandung keluarga Wang? Selain bibi yang membantu membesarkan Lintang, semua pelayan menatap Lintang dan Brayen secara bergantian. Sedetik kemudian Lintang sadar dia sedang menjadi tontonan. “Apakah itu artinya Lintang bukan anak kandung?” tanya Lintang hampir tidak terdengar. “Maaf Lintang, cepat atau lambat kamu akan tahu kebenaran ini. Orangtua kandungmu menukarmu dengan Brayen,” kata Melia pelan. Meskipun tak tega melakukan itu pada Lintang, tapi tidak ada yang dapat dilakukan pasangan suami istri itu. Ya! Karena Brayen justru meminta mereka untuk jujur apa yang sebenarnya terjadi, karena dia tidak suka ketidakjujuran. Kalau Shan Yue dan Melia tidak mengatakan hal yang sejujurnya, maka Brayen tidak akan pernah tinggal di rumah keluarga Wang ataupun menganggap mereka orangtuanya, karena itu berarti orangtuanya tidak benar-benar menginginkannya. Baginya kasih sayang orangtua adalah berani memilih, meskipun Lintang tetap berada di rumah itu, tapi Lintang harus tahu keberadaannya. “Mulai hari ini kamu tidak sendirian, Lintang. Karena ada Brayen yang menjadi saudaramu,” kata Shan Yue tersenyum. Lintang tidak menjawab, dia masih terkejut dengan kenyataan didepan mata. Dia berharap itu hanyalah mimpi dan ingin cepat terbangun. Lintang melangkah mendekati Lintang, mengulurkan tangannya dan bertanya, “Apakah aku harus memanggilmu kakak ataukah adik?”Pengacara sambung almarhumah ibu Diana Ludwig berdiri dan meraih microphone yang ada di atas meja."Selamat datang semuanya, tentunya Pak James Lee sudah memberitahukan kepada kalian tujuan diadakannya pertemuan ini. Jujur saja saya tidak tahu tentang hal ini, tapi ketika para pemegang saham secara bulat menyetujui penandatanganan berkas pengalihan saham kepada cucu kandung almarhum ibu Diana Ludwig harus melibatkan wartawan dan lainnya, maka saya menghormati keputusan bersama ini," kata sang pengacara yang kemudian mengeluarkan sejumlah berkas.Namun, ketika Lintang hendak menantangi berkas itu tiba-tiba terdengar suara tegas, "Tunggu!""A-a-ayah? Ka-ka-kamu masih hidup? Apakah aku sedang bermimpi?" tanya James pura-pura terkejut. Dia berdiri dari tempat duduknya, menatap haru sang ayah, airmata mengalir dari pelupuk mata pria munafik itu.Para pemegang saham terkejut, "Pak James masih hidup? Terus siapa yang dikuburkan waktu itu?""Saya hilang ingatan karena dia," tegas Stiven sambi
"Kamu benar.""Sekarang waktunya kita memikirkan cara agar bisa mengendalikan pihak kepolisian seperti dulu," kata James."Untuk mengendalikan pihak kepolisian seperti dulu, hanya ada satu cara. Aku harus bisa menduduki posisi tertinggi di Kenangga Group yaitu CEO dan membuktikan si Brengsek itulah yang membuatku kecelakaan hingga lupa ingatan dan menjadikan James sebagai batu loncatan untuk menduduki posisi CEO Kenangga Group," kata Stiven Lee tersenyum.James langsung bertepuk tangan, "Waw ... ayah benar-benar hebat. Ibu pasti senang mendengar itu, dengan kejadian itu para pemegang saham akan berhati-hati dan meminta ayah untuk menunjuk aku sebagai penerus CEO Kenangga Group," kata James."Benar dibandingkan kakak dan adikmu, kamu satu-satunya yang memenuhi syarat untuk memegang perusahaan sebesar Kenangga Group. Ayah yakin para pemegang saham akan menentang keras keputusan ku untuk menyerahkan warisan kepada putra Chu Yan, karena itu hanya akan membuka peluang bagi penipu untuk men
"Bagus, mana buktinya?" tanya Lintang."Ambilkan buktinya, Fandy."Tidak butuh waktu lama kini Fandy telah kembali membawa berkas ditangannya. "Ini, Yah."Pria paruh baya itu langsung menyerahkan bukti itu ke tangan Lintang.Lintang membaca bukti-bukti itu dengan geram. Bukti itu lebih dari cukup untuk menjebloskan Stiven Lee dan istrinya ke penjara. "Benar-benar pasangan yang kejam!" geram Lintang."Ya, mereka kejam. Tapi semua orang berpengaruh di pihak kepolisian berada dalam kendali Stiven, jadi kami tidak bisa berbuat apa-apa. Karena kami juga masih menjalankan amanat almarhumah ibu Diana untuk menjaga Perusahaan NN dan memastikan semua warisan jatuh ke tangan yang tepat."Lintang hanya dapat menarik nafas panjang, kemudian mengambil ponsel dari saku jasnya dan menelepon."Halo, Pak Lintang," terdengar suara dari seberang."Apakah kamu telah menyelidikinya?" tanya Lintang."Sudah, Pak Lintang. Hampir semua polisi berada dalam kendali Stiven.""Apa kamu tahu yang harus dilakukan?
"Aku tahu tempat ini rahasia, jadi di mana aku bisa mengajak Fandy bertemu kalian?" tanya Widya."Di perusahaan yang baru Lintang beli. Bagaimana?" Aurelia memberi saran.Setelah mempertimbangkan dengan matang, akhirnya semua setuju mengadakan pertemuan di perusahaan milik Aurelia.***"Widya ada apa? Kenapa kamu mengajakku bertemu secara mendadak dan meminta ku menunda jadwalku? Bukan hanya itu saja, kamu bahkan meminta ayahku ikut serta begitu pun dengan pengacara sambung ibu Diana Ludwig?" tanya Anggara setelah tiba di perusahaan Aurelia."Apa terjadi sesuatu dengan Lintang? Apa James merencanakan sesuatu yang membahayakan nyawa penerus Kenangga Group?" tanya ayah Fandy, jelas sekali sinar matanya menunjukkan kekhawatiran."Ada yang ingin bertemu dengan bapak," kata Widya menunduk hormat kepada pria paruh baya yang berdiri disamping Fandy."Siapa?" Tiba-tiba Selin memasuki ruangan dan berkata tegas, "Saya."Pria paruh baya itu berbalik menatap asal suara, dia menatap wanita itu se
Laptop di atas meja langsung digunakan Selin untuk memutar isi flashdisk itu.Semua yang berada dalam ruangan itu terkejut menyaksikan isi video itu. Di layar terpampang jelas bagaimana Stiven Lee bersama seorang wanita membakar sebuah rumah mewah yang di dalamnya berisi satu keluarga besar keluarga Ludwig.Di sana juga terlihat dua orang wanita keluar dari kepulan asap tebal, salah satunya memegang pergelangan tangan seorang remaja berusia enam belas tahun. Bak pahlawan kesiangan Stiven Lee langsung berlari dan mengambil alih tangan sang anak kemudian bertanya dengan panik, "Sayang di mana yang lainnya? Kau tidak apa-apa, kan, Nak? Aku baru pulang, tiba-tiba dari jauh aku melihat rumah kebakaran. Aku menambah kecepatan mobil ku. Aku baru saja mau berlari masuk ketika melihat kalian keluar."Wanita itu tidak menjawab, hanya airmata yang mengalir dari wajah cantiknya.Pemadam dan polisi datang hampir bersamaan, tapi terlambat. Semua telah menjadi abu, hanya tiga orang yang selamat."M
"Aku akan tahu apa kamu berkata jujur atau tidak," kata Lintang dan meminta Aurelia untuk membawa Selin turun.Aurelia menuju lantai dua, menemui Selin Widyawati."Kenapa kamu kembali? Bukankah sudah ku katakan, aku sama sekali tidak kenal dengan Stiven Lee, apalagi keluarga Ludwig," kata Selin datar."Maaf, Bu. Saya hanya ingin membawamu menemui seseorang," kata Aurelia.Cukup lama Aurelia membujuk Selin, akhirnya wanita itu mengikuti Aurelia keluar kamar menuruni anak tangga menuju lantai satu.Begitu sampai di lantai satu Selin menatap wanita yang terikat di kursi dalam diam. Namun, detik berikutnya dia terkejut melihat kalung yang dikenakan gadis itu.Dengan cepat dia berlari mendekat dan menarik krah kemeja wanita itu, airmata mengalir dari wajah kusamnya ketika melihat tanda lahir berbentuk bulat di pundak gadis itu.Selin berlutut dan memohon kepada Lintang, "Saya mohon lepaskan anakku, aku akan menjawab semua yang ku tahu tentang Stiven Lee, juga keluarga Ludwing.""Apa? Anak?







