Masuk“Berikan ibu waktu enam jam, ibu akan membawa gadis itu kehadapanmu. Ibu akan buktikan, sesuatu yang mustahil bagi manusia tapi tidak ada yang mustahil bagi sang pencipta,” tegas ibu Lintang meninggalkan ruangan itu.
Sepanjang perjalanan sang ibu mengutuk dirinya sendiri. Kenapa aku sampai mengambil keputusan bodoh seperti ini? Padahal aku tahu ini adalah sesuatu yang mustahil. Tapi sudah kepalang tanggung, sekarang satu-satunya cara hanya bisa menemukan gadis seperti yang ada dalam gambaran Lintang. Sejenak sang ibu terdiam. Tiba-tiba sebuah ide gila terlintas di dalam benaknya. Tanpa ragu, wanita itu langsung saja menelepon seseorang yang sudah lama dikenalnya. Setelah mendapatkan persetujuan, dia langsung berlari menuju tempat parkir, mengeluarkan kunci dan meloncat ke dalam mobil. Mobil yang dikemudikan Melia Sanjaya meluncur dengan kecepatan tinggi menuju tempat tujuan. “Kenapa tante bersikeras bertemu denganku?” sungut Stela tanpa ada sopan santunnya. Ya! Wanita yang ditelepon Melia tidak lain adalah Stela, mantan kekasih Lintang putranya. “Menikahlah dengan Lintang, Stela. Tante mohon. Apapun yang kau inginkan, maka semuanya akan tante berikan termasuk saham Perusahaan milik kami,” pinta Melia memohon. “Apa tante sudah gila? Tante jangan egois. Tante memang ingin melihat Lintang bahagia, tapi bukan berarti juga harus meminta aku mengorbankan kebahagiaanku! Aku tidak mau merawat Lintang, aku muak setiap kali mengingat kalau nantinya dia akan duduk di kursi roda untuk waktu yang lama!” geram Stela kesal. “Apa kamu tidak mencintai Lintang?” Pertanyaan Melia disambut tawa ejekan dari Stela. “Saat seperti ini tante masih bertanya tentang cinta?” “Lintang sekarat, Stela. Dia membutuhkan donor hati untuk kelangsungan hidup. Waktunya tidak lama lagi, karena kondisinya terus menurun tapi kami belum juga menemukan pendonor yang tepat,” ujar Melia dengan airmata berlinang. “Apa tante pikir aku percaya? Jangan menjebakku untuk menjadi pengasuh dengan status pernikahan, Tante. Aku bukan wanita bodoh!” ketus Stela sama sekali tidak percaya dengan ucapan Melia. Ponsel Melia berbunyi, ada pesan masuk. Melia mengambil ponsel dari tasnya, dia terkejut dengan banyaknya panggilan dari sang suami. Dia ketakutan. Dengan tangan gemetar Melia membuka pesan dari sang suami. [Melia, kau di mana? Kenapa tidak mengangkat teleponku? Lintang telah mendapatkan pendonor yang cocok untuknya. Tapi Lintang sama sekali tidak mau diseret ke ruang operasi, jika kau tidak menemukan wanita yang sesuai dengan kriterianya.] Wajah Melia langsung pucat pasi menemukan kenyataan kalau kalimatnya justru menjadi penghalang bagi Lintang untuk operasi. “Tante kenapa? Apakah Lintang telah meninggal? Saya turut berdukacita, Tante,” ujar Stela tanpa perasaan. Melia tidak mempedulikan kalimat Stela, dia langsung saja berlutut dan memegang ujung kaki Stela erat-erat. “Stela, tante mohon menikahlah dengan Lintang. Kamu adalah harapan terakhir tante. Pendonor hati telah ditemukan, tapi Lintang tidak mau di operasi, Lintang bersikeras menemukan sosok yang akan menikah dengannya sebelum masuk ruang operasi. Hanya kamu yang bisa menyelamatkan Lintang, Stela. Tante mohon.” Stela langsung mendorong tubuh Melia dengan kasar, hingga jatuh, “Harus pakai cara apa agar tante sadar, aku tidak mau menikah dengan Lintang. Kalau Lintang memang ingin menikah, kenapa tante tidak membayar pemulung, ha? Biar sekalian menjadi pengasuh bagi keluarga besar tante!” Ponsel Melia kembali berbunyi, ada telepon dari sang suami. “Melia sebaiknya kamu ke rumah sakit sekarang, temui putra kita dan cobalah membujuknya. Waktu kita semakin sempit, sebelum kondisi Lintang benar-benar semakin turun,” terdengar suara dari seberang. Sejenak Melia menatap Stela sebelum memutuskan sambungan telepon. Dia memilih meninggalkan gadis itu dan naik ke mobil menuju rumah sakit. Kondisi jalan yang macet, membuat Melia memilih menepikan mobil dan turun, kemudian melanjutkan perjalanan menuju rumah sakit menggunakan motor yang dihadangnya di jalan. Walaupun pengendara motor sempat mengumpat, tapi melihat airmata yang mengalir dari wajah Melia membuat pria itu tak tega dan membawanya ke rumah sakit tujuan. “Terima kasih, Pak,” ujar Melia dan langsung berlari memasuki rumah sakit. Benar saja brankar yang diatasnya terbaring Lintang, terhenti tepat didepan pintu. Dokter tak berani mengambil tindakan lebih karena Lintang mengancam akan meloncat turun dengan segala cara. “Ada apa denganmu, Lintang? Bukankah menemukan pendonor itu sulit, terus kenapa disaat ada yang bersedia menjadi pendonor tapi kamu justru menolaknya?” tanya Melia dengan nafas tak beraturan, airmata mengalir membasahi wajahnya yang tak terurus. “Lintang tidak mau egois, Bu. Pendonor itu memiliki kemungkinan besar untuk hidup, sedangkan Lintang? Lintang hanya butuh keajaiban karena kondisi Lintang yang semakin melemah,” jawab Lintang dengan hati perih. “Itu bukan alasan, Lintang.” “Bukankah ibu sendiri tidak bisa menemukan wanita yang bersedia menikahi Lintang? Lintang akan menjalankan operasi itu jika ada wanita yang bersedia menikahiku. Titik!” tegas Lintang tetap pada pendiriannya. Lebih tepatnya menolak operasi. “Aku bersedia menikah denganmu.” Tiba-tiba seorang wanita tak dikenal telah berdiri didepan Lintang, tanpa senyuman. Tatapannya terlihat datar bahkan tanpa ekpresi. Namun sangat jelas mata gadis itu sembab. Lintang tertawa kecil, “Sayangnya aku tidak mau menikah dengan wanita sembarangan. Aku maunya menikah dengan wanita yang memiliki usaha dengan penghasilan lumayan banyak, setidaknya enam ratus juta dalam setahun. Itu artinya kau memiliki rata-rata pemasukan sebulan kurang lebih lima puluh juta.” Melia dan sang suami terkejut mendengar persyaratan yang justru dinaikkan oleh sang putra untuk mengagalkan operasinya. Namun berbeda dengan wanita asing itu, dia justru tersenyum. “Aku bahkan memiliki penghasilan lebih dari enam ratus juta setahun, apakah sekarang aku memenuhi persyaratan untuk menjadi pendampingmu kelak?” tanya wanita itu menatap Lintang. “Maksudmu?” “Kebetulan aku salah satu pemegang 30 persen saham Perusahaan MIX, selain itu aku memiliki usaha peternakan sapi, kuda, kambing terbesar di provinsi ini. Bukankah penghasilanku lebih besar dari persyaratan yang kamu minta?” wanita itu menatap Lintang. Lintang tersenyum sinis, “Apa kamu pikir aku percaya begitu saja? Tidak!” Bukannya merespon keraguan Lintang, tapi wanita itu justru mengeluarkan ponsel dari saku kemejanya dan menelepon kemudian mengaktifkan speaker. “Halo, Bos,” terdengar suara dari seberang. “Akuisisi Restoran A detik ini juga,” tegas wanita itu. Lintang terkejut mendengar perintah wanita itu. Restoran A? Bukankah itu salah satu restoran terbaik di kota ini? Apa wanita itu mampu mengakusisinya? “Apa? Mengakuisisi Restoran A? Apa mereka melakukan kesalahan atau membuat Bos marah?” tanya suara dari seberang. “Jangan banyak tanya! Lakukan detik ini juga!” perintah wanita itu. “Baik, Bos.” Wanita itu langsung memutuskan sambungan telepon setelah selesai memberi perintah. Benar saja tak berapa lama, telepon wanita itu berdering dan memberitahu kalau Restoran A telah di akuisisi. Tidak mau percaya begitu saja, Lintang memilih menelepon sahabatnya yang kebetulan merupakan manager di Restoran A.Pengacara sambung almarhumah ibu Diana Ludwig berdiri dan meraih microphone yang ada di atas meja."Selamat datang semuanya, tentunya Pak James Lee sudah memberitahukan kepada kalian tujuan diadakannya pertemuan ini. Jujur saja saya tidak tahu tentang hal ini, tapi ketika para pemegang saham secara bulat menyetujui penandatanganan berkas pengalihan saham kepada cucu kandung almarhum ibu Diana Ludwig harus melibatkan wartawan dan lainnya, maka saya menghormati keputusan bersama ini," kata sang pengacara yang kemudian mengeluarkan sejumlah berkas.Namun, ketika Lintang hendak menantangi berkas itu tiba-tiba terdengar suara tegas, "Tunggu!""A-a-ayah? Ka-ka-kamu masih hidup? Apakah aku sedang bermimpi?" tanya James pura-pura terkejut. Dia berdiri dari tempat duduknya, menatap haru sang ayah, airmata mengalir dari pelupuk mata pria munafik itu.Para pemegang saham terkejut, "Pak James masih hidup? Terus siapa yang dikuburkan waktu itu?""Saya hilang ingatan karena dia," tegas Stiven sambi
"Kamu benar.""Sekarang waktunya kita memikirkan cara agar bisa mengendalikan pihak kepolisian seperti dulu," kata James."Untuk mengendalikan pihak kepolisian seperti dulu, hanya ada satu cara. Aku harus bisa menduduki posisi tertinggi di Kenangga Group yaitu CEO dan membuktikan si Brengsek itulah yang membuatku kecelakaan hingga lupa ingatan dan menjadikan James sebagai batu loncatan untuk menduduki posisi CEO Kenangga Group," kata Stiven Lee tersenyum.James langsung bertepuk tangan, "Waw ... ayah benar-benar hebat. Ibu pasti senang mendengar itu, dengan kejadian itu para pemegang saham akan berhati-hati dan meminta ayah untuk menunjuk aku sebagai penerus CEO Kenangga Group," kata James."Benar dibandingkan kakak dan adikmu, kamu satu-satunya yang memenuhi syarat untuk memegang perusahaan sebesar Kenangga Group. Ayah yakin para pemegang saham akan menentang keras keputusan ku untuk menyerahkan warisan kepada putra Chu Yan, karena itu hanya akan membuka peluang bagi penipu untuk men
"Bagus, mana buktinya?" tanya Lintang."Ambilkan buktinya, Fandy."Tidak butuh waktu lama kini Fandy telah kembali membawa berkas ditangannya. "Ini, Yah."Pria paruh baya itu langsung menyerahkan bukti itu ke tangan Lintang.Lintang membaca bukti-bukti itu dengan geram. Bukti itu lebih dari cukup untuk menjebloskan Stiven Lee dan istrinya ke penjara. "Benar-benar pasangan yang kejam!" geram Lintang."Ya, mereka kejam. Tapi semua orang berpengaruh di pihak kepolisian berada dalam kendali Stiven, jadi kami tidak bisa berbuat apa-apa. Karena kami juga masih menjalankan amanat almarhumah ibu Diana untuk menjaga Perusahaan NN dan memastikan semua warisan jatuh ke tangan yang tepat."Lintang hanya dapat menarik nafas panjang, kemudian mengambil ponsel dari saku jasnya dan menelepon."Halo, Pak Lintang," terdengar suara dari seberang."Apakah kamu telah menyelidikinya?" tanya Lintang."Sudah, Pak Lintang. Hampir semua polisi berada dalam kendali Stiven.""Apa kamu tahu yang harus dilakukan?
"Aku tahu tempat ini rahasia, jadi di mana aku bisa mengajak Fandy bertemu kalian?" tanya Widya."Di perusahaan yang baru Lintang beli. Bagaimana?" Aurelia memberi saran.Setelah mempertimbangkan dengan matang, akhirnya semua setuju mengadakan pertemuan di perusahaan milik Aurelia.***"Widya ada apa? Kenapa kamu mengajakku bertemu secara mendadak dan meminta ku menunda jadwalku? Bukan hanya itu saja, kamu bahkan meminta ayahku ikut serta begitu pun dengan pengacara sambung ibu Diana Ludwig?" tanya Anggara setelah tiba di perusahaan Aurelia."Apa terjadi sesuatu dengan Lintang? Apa James merencanakan sesuatu yang membahayakan nyawa penerus Kenangga Group?" tanya ayah Fandy, jelas sekali sinar matanya menunjukkan kekhawatiran."Ada yang ingin bertemu dengan bapak," kata Widya menunduk hormat kepada pria paruh baya yang berdiri disamping Fandy."Siapa?" Tiba-tiba Selin memasuki ruangan dan berkata tegas, "Saya."Pria paruh baya itu berbalik menatap asal suara, dia menatap wanita itu se
Laptop di atas meja langsung digunakan Selin untuk memutar isi flashdisk itu.Semua yang berada dalam ruangan itu terkejut menyaksikan isi video itu. Di layar terpampang jelas bagaimana Stiven Lee bersama seorang wanita membakar sebuah rumah mewah yang di dalamnya berisi satu keluarga besar keluarga Ludwig.Di sana juga terlihat dua orang wanita keluar dari kepulan asap tebal, salah satunya memegang pergelangan tangan seorang remaja berusia enam belas tahun. Bak pahlawan kesiangan Stiven Lee langsung berlari dan mengambil alih tangan sang anak kemudian bertanya dengan panik, "Sayang di mana yang lainnya? Kau tidak apa-apa, kan, Nak? Aku baru pulang, tiba-tiba dari jauh aku melihat rumah kebakaran. Aku menambah kecepatan mobil ku. Aku baru saja mau berlari masuk ketika melihat kalian keluar."Wanita itu tidak menjawab, hanya airmata yang mengalir dari wajah cantiknya.Pemadam dan polisi datang hampir bersamaan, tapi terlambat. Semua telah menjadi abu, hanya tiga orang yang selamat."M
"Aku akan tahu apa kamu berkata jujur atau tidak," kata Lintang dan meminta Aurelia untuk membawa Selin turun.Aurelia menuju lantai dua, menemui Selin Widyawati."Kenapa kamu kembali? Bukankah sudah ku katakan, aku sama sekali tidak kenal dengan Stiven Lee, apalagi keluarga Ludwig," kata Selin datar."Maaf, Bu. Saya hanya ingin membawamu menemui seseorang," kata Aurelia.Cukup lama Aurelia membujuk Selin, akhirnya wanita itu mengikuti Aurelia keluar kamar menuruni anak tangga menuju lantai satu.Begitu sampai di lantai satu Selin menatap wanita yang terikat di kursi dalam diam. Namun, detik berikutnya dia terkejut melihat kalung yang dikenakan gadis itu.Dengan cepat dia berlari mendekat dan menarik krah kemeja wanita itu, airmata mengalir dari wajah kusamnya ketika melihat tanda lahir berbentuk bulat di pundak gadis itu.Selin berlutut dan memohon kepada Lintang, "Saya mohon lepaskan anakku, aku akan menjawab semua yang ku tahu tentang Stiven Lee, juga keluarga Ludwing.""Apa? Anak?







