ホーム / Romansa / Penjara Cinta Tuan Saga / Bab 7. Semua sudah terlambat

共有

Bab 7. Semua sudah terlambat

作者: Any Anthika
last update 最終更新日: 2026-01-02 13:52:45

Sedangkan Yeni… maaf saja, Zhoni dan Rev sama. Mereka tidak punya belas kasihan. Saga tidak akan mengampuninya di masa depan, tapi dia berniat memberi kompensasi besar. Pada akhirnya, perempuan itu tidak akan rugi apa-apa.

Saga seperti memikirkan sesuatu, karena ia tidak menanggapi perkataan Zhoni.

Sedangkan Rev juga diam. Ia duduk di seberangnya sambil menghisap cerutu. Lalu ia berkata, “Kamu datang ke sini hanya untuk tinggal seminggu, tapi malah tertahan dua bulan. Sekarang kita harus kembali. Kamu yakin hubunganmu dengan Yeni akan… berakhir di sini?”

Saga mengangkat kepala. Senyum tipis muncul di wajahnya.

“Aku pikir dia baik. Bawa saja dia pulang ke negara kaca bersama kita.”

Rev terkejut, menatapnya tak percaya.

“Kamu serius?”

Saga menekan bibir, wajahnya tetap dingin, tidak menjawab.

Rev membelalak, seperti baru tersadar sesuatu. “Tunggu… serius?”

Saga menatapnya datar. “Kenapa? Tidak boleh bawa seorang wanita?”

Rev mengangkat bahu sambil tersenyum. “Boleh saja. Kamu memang sudah tidak tertarik ganti-ganti wanita sekarang. Bawa saja dia. Lagi pula, aku juga tidak suka wanita pirang bermata biru. Aku lebih suka wanita bermata gelap dan berkesan klasik. Yeni memang cantik. Lumayan enak dilihat.”

Ketiga pria itu membahas masa depan Yeni, sementara orang yang sedang  dibahas sama sekali tidak tahu apa-apa.

Beberapa hari berikutnya, sekolah sangat sibuk menyiapkan acara Pesta. Pesta sebelumnya sudah sangat meriah, dan tahun ini lebih besar lagi. Karena sekolah memiliki nama besar dan koneksi kuat, banyak artis film dan televisi populer diundang tampil.

Untuk bisa tampil di panggung itu harus melewati seleksi ketat. Hanya pertunjukan terbaik yang bisa lolos.

Yeni tidak punya keahlian khusus. Kalau pun ada, di lingkungan sebesar Boyuan, sulit baginya untuk menonjol. Meski begitu, dia tetap mencoba mengikuti prosesnya sebisanya.

Dwi dan temannya Lina berbisik padanya di belakang kelas.

“Kamu tahu nggak?” Dwi mencondongkan tubuh. “Pembawa acara Pesta tahun ini itu Mindo dan Arini. Aku lihat mereka latihan tadi. Gila, Kak Mindo ganteng banget waktu pakai setelan formal!”

Setiap kali Yeni mendengar nama Mindo, hatinya terasa sakit. Tapi dia sudah belajar menyembunyikan semuanya. Di depan Dwi, dia berpura-pura tenang.

“Dia memang tampan,” katanya datar. “Dasarnya sudah bagus. Ditambah lagi dia cocok pakai pakaian formal. Orang yang punya modal bawaan plus modal usaha… ya wajar kalau tampan.”

Dwi tiba-tiba memandangi sesuatu di belakang Yeni, lalu tersenyum penuh arti.

“Uh… Kakak tampanmu itu lagi berdiri di depan pintu. Matanya nempel terus ke kamu.”

Yeni terkejut. Secara refleks ia menoleh dan benar saja, Mindo berdiri di luar kelas sambil melambaikan tangan.

“Yeni, cepat keluar.”

Semua mahasiswa langsung ribut. Seorang pria setampan Mindo nongol di depan kelas tentu memicu bisik-bisik.

“Itu Mindo?”

“Gila, tampan banget!”

“Untuk apa dia datang kemari?”

“Apa ada yang dicari? Tapi siapa ya?”

Yeni sebenarnya tidak ingin keluar, tapi melihat tatapan teguh Mindo, ia tahu dia tidak punya pilihan. Ia meminta izin singkat pada profesor, lalu berjalan keluar.

“Mindo, aku masih di kelas. Tidak bisa—”

“Ikut aku!”

Tanpa memberi kesempatan menolak, Mindo menggenggam tangannya dan menariknya pergi di depan semua orang.

Mereka berlari sepanjang koridor. Banyak mata melihat, banyak suara berbisik, tapi semuanya terdengar jauh bagi Yeni. Ia hanya merasakan angin menerpa wajahnya… dan perasaan familiar seperti masa kecil dulu, ketika Mindo selalu menarik tangannya dan mengajaknya berlari menyusuri pegunungan, sungai, dan padang bunga.

Seolah dunia melindungi mereka berdua.

Andai bisa, Yeni ingin berlari seperti itu selamanya… sampai ke ujung dunia.

Setibanya di hutan sakura di belakang sekolah, mereka berdua jatuh terduduk ke tanah, terengah-engah. Langit biru, awan putih, udara segar, semuanya terasa dekat.

Mindo memiringkan tubuhnya, menatap Yeni. Matanya yang biasanya cerah mendadak dipenuhi kesedihan.

“Yeni… kenapa kamu menghindariku akhir-akhir ini? Aku telepon kamu berkali-kali tapi kamu tidak jawab.”

“…Akhir-akhir ini aku sibuk. Tidak sempat melihat ponsel.”

Mindo duduk. Angin meniup bajunya, tapi sorot matanya tidak goyah.

“Kemampuan berbohongmu itu… parah, Yeni.”

Yeni menunduk dalam, tidak mampu membalas.

“Aku ke luar negeri dua bulan yang lalu. Aku pergi tanpa sempat memberi tahu. Tapi kamu? Tapi setelah aku kembali,  kamu hilang. Kamu keluar dari asrama tanpa kabar. Di kota ini kamu tidak punya keluarga, tidak punya saudara. Kamu tinggal di mana? Bagaimana aku tidak khawatir?”

Nada suaranya semakin panik.

“Tidak, tidak begitu…”

“Kamu buat aku kacau, Yeni.”

Yeni menatapnya, bingung. Ia tidak mengerti apa maksudnya.

Mindo menarik bahunya lembut, membuatnya bersandar ke batang pohon.

“Aku selalu tahu kamu menyimpan segalanya sendirian. Kamu kecil, tapi hatimu penuh. Dan selama ini aku… menunggumu tumbuh.”

Matanya memanas.

Pandangannya menusuk masuk.

“Gadis kecil… sekarang aku tidak mau menunggu lagi.”

Yeni membeku total.

“Beberapa hari ini aku hampir gila,” lanjut Mindo. “Tidak peduli seberapa cueknya kamu biasanya, kamu tidak pernah mengabaikanku selama ini. Kamu tidak pernah hilang dari duniaku. Tapi dua bulan ini… kamu menjauh. Sembunyi. Menghilang. Itu membuat hatiku kacau.”

Ia menggenggam tangan Yeni.

“Aku ingin melindungi kamu. Hidup bersamamu. Punya masa depan yang kita bangun sama-sama. Gadis kecil… aku mencintaimu. Sejak lama.”

Yeni menutup wajahnya, air mata jatuh berderai.

Mindo panik. “Yeni, jangan menangis. Kalau kamu tidak suka aku… tidak apa-apa. Tapi jangan menangis.”

Yeni ingin berhenti. Tapi justru air matanya mengalir semakin deras.

“Mindo…” suaranya pecah. “Aku pikir aku hanya mengagumimu. Tapi seiring waktu, aku sadar… aku suka kamu. Aku mengikuti kamu ke mana pun. Selalu ingin dekat denganmu. Dan aku menyesal… menyesal tidak mengumpulkan keberanian lebih cepat.”

Ia menangis semakin keras.

“Tapi… sekarang sudah terlambat.”

Mindo langsung menangkap tangannya lagi.

“Tidak ada kata terlambat. Kamu suka aku. Aku suka kamu. Kita bersama, dan masa depannya pasti indah.”

Yeni menggeleng, tubuhnya gemetar.

“Tidak, Mindo. Kita… tidak bisa. Segalanya sudah terlambat.”

Dia bodoh… terlalu bodoh.

Jika mereka sama-sama sadar lebih awal, mungkin mereka sudah bersama sejak lama.

Yeni tidak akan mengikuti klub itu.

Tidak akan bertemu Saga. Tidak akan mengalami semua ini. Sekarang semuanya sudah hancur.

Mindo pantas mendapatkan perempuan yang bersih, cerah, dan layak seperti Arini.

___

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Penjara Cinta Tuan Saga   Bab 26. Tidak bisa pura-pura Waras

    Ia tahu pria itu ingin melakukan hal yang sama seperti dulu.Tatapan Saga dipenuhi hasrat yang kelam. Sejak bertemu dengannya lagi, ia terus menahan diri. Memeluk tubuh selembut ini membuatnya tak lagi bisa berpura-pura menjadi pria yang waras.“Bodoh,” desisnya. “Apa kamu pikir dua tahun lalu itu cukup bagiku?”Air mata Yeni jatuh. Ia terus memaksa dirinya untuk kuat, tetapi di hadapan kekerasan dan tekanan seperti ini, apa yang bisa ia lakukan?Ia bahkan tidak bisa melawan.“Saga, lepaskan aku…!”“Tidak mungkin.” Suaranya dingin tanpa belas kasihan.“Kalau aku melepaskanmu, siapa yang akan membebaskanku?”Nada bicaranya hanya berisi kekejaman.“Kembalikan aku ke desa pegunungan itu,” isak Yeni. “Aku tidak bisa hidup di kota ini. Aku hanya beban. Aku tidak mengingat masa lalu, aku tidak menginginkan apa pun. Tidak bisakah kamu memberiku ketenangan? Kumohon… lepaskan aku.”“Sayangnya,” jawab Saga dingin, “kamu tidak bisa pergi ke mana pun kecuali di sisiku.”Ciuman itu kembali jatuh,

  • Penjara Cinta Tuan Saga   Bab 25. Jangan Diam

    Saga membersihkan tubuh Yeni dengan sangat teliti. Sebenarnya, dia juga sedang memeriksa tubuhnya.Kulitnya sangat putih. Tinggal di desa pegunungan kecil seperti itu tidak membuat kulitnya menjadi kasar sama sekali, masih seputih batu giok, halus seperti porselen.Tidak ada bekas luka. Tidak satu pun.Saga menyeka tubuh Yeni dengan serius sambil berkata pelan,“… Bagaimana kamu menjalani hidupmu selama beberapa tahun ini? Matamu tidak bisa melihat. Siapa yang menjagamu?”Yeni bisa merasakan setiap sentuhan. Dia tidak bisa mengabaikan tangan besar yang bergerak di tubuhnya. Dia hanya bisa gemetar, menggigit bibirnya, dan menahan air mata agar tidak jatuh. Dia tidak ingin menjawab pertanyaannya.Dia sangat pendiam.Bahkan di permukaan, dia tampak patuh, tetapi tidak mengucapkan sepatah kata pun.Saga menatap wajahnya dan mengernyit sedikit.“… Dua tahun tidak bertemu. Kita seharusnya punya banyak hal untuk dibicarakan. Kamu tahu, bahkan kalau kamu tidak bicara, aku tetap bisa mencari t

  • Penjara Cinta Tuan Saga   Bab 24. Membawanya Kembali

    Penduduk desa ini hidup sederhana. Pakaian mereka umumnya dari kain linen kasar. Kain selembut yang baru saja disentuhnya jelas bukan milik siapapun di desa pegunungan ini.Belakangan ini memang banyak orang asing datang dan pergi. Sekolah dibangun, jalan diperbaiki seadanya, bantuan kebutuhan hidup dibagikan, ditambah donasi sosial.Orang asing memang semakin banyak.Saga menatap orang di hadapannya. Aura yang ia rasakan dari tubuh itu… tidak berubah sedikit pun.Selama dua tahun, wajah itu nyaris tak berubah. Masih muda seperti dulu.Masih seperti gadis kecil.Padahal usianya sudah dua puluh tahun, tetapi belum memancarkan kedewasaan seorang wanita.Tenggorokan Saga menegang. Ia menatap mata Yeni yang kosong, lalu berkata pelan,“Kamu…”Jantung Yeni berdegup kencang. Seluruh tubuhnya gemetar, seperti jatuh ke dalam jurang es. Wajahnya yang memang pucat kini benar-benar kehilangan warna darah. Ia mundur beberapa langkah dengan panik.Gerakannya terlalu besar. Kakinya tersandung akar

  • Penjara Cinta Tuan Saga   Bab 23. Matanya.. Tidak bisa melihat

    Desa pegunungan itu benar-benar terpencil. Saga harus naik pesawat selama tiga jam, lalu melanjutkan perjalanan darat selama sepuluh jam. Setelah itu, mereka tiba di jalan setapak yang bahkan tidak bisa dilalui mobil.Hanya bagal yang bisa digunakan.Namun Saga merasa bagal itu terlalu lambat, jadi dia memilih berjalan sendiri.Leo mengikutinya sambil menghela napas.Demi seorang wanita, pria seperti Saga bisa sebegitu gilanya.Saga berjalan hampir lima jam dengan berjalan kaki dan menunggang bagal bergantian. Langkahnya cepat dan penuh tekad, seolah ada sesuatu di depan sana yang menarik seluruh hidupnya.Leo sudah terbiasa berlatih fisik sejak kecil, namun jalan pegunungan yang terjal dan licin, baru saja diguyur hujan deras membuat perjalanan terasa sangat berat. Lumpur menempel di mana-mana.Saga, yang sangat menjaga kebersihan, sama sekali tidak peduli. Celana dan pakaiannya penuh noda lumpur dan air hujan.Bahkan Leo yang terbiasa berolahraga mulai kelelahan, tetapi Saga tidak m

  • Penjara Cinta Tuan Saga   Bab 22. Dia tidak mati!

    Sepupu: Tentu saja. Rara itu unik. Kalau tidak, bagaimana mungkin kamu bisa mendapatkan kasih sayang tanpa syarat dari Saga?Hati Rara dipenuhi kebanggaan. Semua orang bisa melihat betapa Saga begitu menyayanginya.Baik di industri hiburan, di antara rekan-rekannya, maupun di perusahaan, siapapun yang melihatnya pasti segan. Kemanapun dia pergi, sikapnya selalu seperti seorang ratu.Bahkan saat syuting, jika dia lelah, dia bisa berhenti. Jika suasana hatinya buruk, dia tidak perlu melanjutkan. Semua terserah padanya. Dia tidak perlu mengkhawatirkan apapun, karena Saga akan membereskan segalanya untuknya.Saga…Rara memejamkan mata dan membayangkan wajah Saga. Pria itu benar-benar tampan, memiliki status dan kekayaan yang tak tertandingi. Selama dua tahun menjadi kekasih Saga, setiap hari hidupnya terasa mewah dan sempurna.Saga tidak seperti pria kaya dan berkuasa lainnya yang dikelilingi banyak wanita dan sering bermain ambigu. Di sisinya, hanya ada dia.Pria yang begitu setia, penuh

  • Penjara Cinta Tuan Saga   Bab 21. Mencari Jejak Yeni melalui wajah orang lain

    Dua tahun berlalu begitu cepat. Selama itu, Saga tidak pernah jatuh sakit secara fisik.Namun kepribadiannya berubah drastis.Dia mulai datang ke perusahaan tepat waktu. Dia mengesampingkan semua urusan di luar negeri.Dia menetap di Kota B dan mengakar di perusahaan K milik keluarga An.Perubahan Saga bukan hanya itu.Yang paling mengejutkan, dia mulai tersenyum.Meski jarang, sesekali wajahnya akan memperlihatkan senyum samar. Kata-katanya bertambah, dan dia mulai berkomunikasi dalam pekerjaan maupun kehidupan sehari-hari.Sebagai dokter pribadi sekaligus sahabatnya, Zhoni seharusnya merasa lega.Namun ini justru sebaliknya.Dia merasa tertekan dan tidak berdaya.Dia juga merasa takut dan semakin khawatir. Di permukaan, Saga tampak baik-baik saja. Bahkan jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya. Namun justru Saga yang seperti itulah yang membuat Zhoni yakin, jika Saga semakin sakit. Sangat parah!Dulu, penyakitnya parah tapi bisa dideteksi. Ada gejala, ada emosi yang bisa diluapkan.

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status