TERLAHIR KEMBALI: ISTRI NAKAL SANG CEO

TERLAHIR KEMBALI: ISTRI NAKAL SANG CEO

last updateLast Updated : 2026-01-04
By:  Kak UpeOngoing
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
10
1 rating. 1 review
22Chapters
496views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Isabela Manik, pengusaha paling bersinar di kota Athena, hidup dengan kejayaan yang membuat banyak orang iri. Namun pada puncak kariernya, publik dikejutkan oleh berita kematiannya yang mendadak. Bella mengira segalanya berakhir dalam sebuah pengkhianatan pahit—hingga saat matanya tertutup… ia justru terbangun kembali ditubuh orang lain. Ia kini adalah Zenia Ramlan, gadis desa sederhana yang dijadikan tumbal pernikahan dengan Kenzo Alberto, pewaris keluarga Alberto yang lumpuh. Dianggap tidak berguna, Namun dengan ingatan, kecerdasan, dan insting bisnis Isabela Manik, Zenia perlahan mengguncang dunia korporat. Keputusan-keputusannya yang tajam membuat publik kembali menoleh—otomatis membuat namanya melambung tinggi. Di sisi lain, Kenzo yang selama ini menjaga jarak justru mulai memperhatikan Zenia secara diam-diam. Kekaguman tumbuh, berubah menjadi ketertarikan halus yang tak bisa ia cegah. Untuk pertama kalinya dalam hidup, ia ingin melindungi seseorang. Namun Bella tidak pernah melupakan tujuan awalnya: membalas dendam atas kematiannya. Dengan kekuatan baru dan posisi yang jauh lebih strategis, ia menapaki jalan berbahaya untuk mengungkap siapa pengkhianat yang merenggut nyawanya dahulu. *** Pintu besar itu terbuka. Di baliknya, seorang pria di kursi roda memandang tanpa emosi, seolah kehadiran Zenia tidak lebih dari angin yang lewat. Namun Zenia hanya tersenyum. Senyuman kecil yang tidak pantas dimiliki gadis yang baru saja dijual keluarganya. Senyuman yang menyimpan dendam, luka… dan bahaya. “Halo, suamiku.” Suaranya lembut, tapi ada sesuatu yang membuat udara diruangan itu menegang. Kenzo Alberto mengangkat alis. Ada kilatan tajam di mata gadis itu—bukan kepasrahan, bukan ketakutan. Sesuatu yang lain. Sesuatu yang membuat naluri bertahannya menyala. Zenia melangkah mendekat, perlahan, lalu berhenti tepat di depan pria itu. Jari-jarinya menyentuh ikatan kimono satin hitamnya… dan melepaskannya begitu saja. “Jadi,” ucapnya pelan, “apa kita bisa mulai sekarang… malam pertama kita?” Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Kenzo Alberto kehilangan kata-kata. Entah ia yang berhalusinasi… atau gadis ini memang bukan Zenia Ramlan yang semua orang kira.

View More

Chapter 1

SENJA TERAKHIR SEORANG RATU

Senja di kota Athena selalu indah, warna oranye keemasan yang memantul di gedung-gedung tinggi dan menerangi seluruh kota seperti karpet cahaya. Dan di tengah kilau itu, satu nama paling bersinar, satu sosok yang membuat investor tunduk dan lawan bisnis gentar: Isabela Manik.

Wanita itu berdiri di balik kaca kantor lantai tiga puluh, menatap dunia yang telah ia bangun dengan tangannya sendiri. Rambut hitamnya jatuh rapi di bahu, matanya tajam namun lelah. Sudah berbulan-bulan ia bekerja tanpa jeda, tidak karena ambisi semata, tetapi karena firasat yang sejak lama mengusik:

Ada seseorang yang ingin mengambil semua ini darinya.

Namun sore itu, ia mencoba menenangkan hati.
Kau terlalu curiga, Bella, katanya dalam hati. Tidak semua orang ingin menjatuhkanmu.

Ia bahkan tidak sadar bahwa hari itu memang akan menjadi hari terakhirnya sebagai Ratu Bisnis Athena.

Ketukan pintu memecah lamunannya.

“Masuk,” ucap Bella tanpa menoleh.

Angkasa Wijaya melangkah masuk dengan langkah ringan. Setelan abu-abunya tampak sempurna, senyum hangatnya seolah mampu meruntuhkan tembok terdingin.

Pria itu adalah tunangan Isabela, mitra bisnisnya, pria yang ia percaya sepenuh hati. Dengan senyum yang merekah di wajah tampannya, ia datang membawa dua gelas kopi.

“Untukmu,” ujarnya lembut. “Kau tidak berhenti bekerja sejak pagi.”

Bella menerima gelas itu. “Terima kasih. Kau selalu tahu kapan aku butuh kopi.”

Angkasa tertawa kecil. “Karena aku memperhatikanmu.”

Kalimat itu membuat Bella menoleh, menatap pria yang sudah ia kenal bertahun-tahun. Mata Angkasa begitu lembut, seolah tak sanggup menyakiti siapa pun. Dan untuk sesaat, Bella merasa bersalah telah meragukannya.

“Jadi, kau sudah siap besok?” tanya Angkasa sambil bersandar di meja.

“Untuk merger?” Bella tersenyum. “Kau tahu, aku lahir untuk momen seperti itu, kan?” ucapnya dengan sedikit sombong.

“Benar. Dan semua ini… akan menjadi milik kita.” Angkasa mengangkat tangannya, menyentuh pipi Bella pelan.

Bella terdiam.

Ada dentingan halus, suara gelas kopi yang bergetar di meja.

Atau mungkin itu hanya jantungnya sendiri.

“Angkasa,” bisiknya, “kau benar-benar… berada di sisiku, kan?”

Bukan tanpa alasan dia bertanya. Selama sebulan terakhir, Bella menerima laporan-laporan aneh: pembocoran strategi perusahaan, pergerakan saham yang tampak diatur seseorang, dan bayangan nama Angkasa yang terus muncul dalam dokumen-dokumen itu.

Namun Bella menepis semua itu. Ia terlalu mencintai pria itu. Ia percaya padanya sepenuhnya.

Angkasa tersenyum. “Tentu, Bella. Selalu.” ucapnya dan meraih tangan Bella.

Hangat. Menenangkan. Meyakinkan.

Namun pada saat yang sama, sesuatu di dalam Bella terasa… salah. Insting bisnisnya—insting yang membuatnya jadi pemimpin termuda di Athena—berteriak bahwa ia sedang berdiri terlalu dekat dengan bahaya.

Bahaya yang menyamar sebagai kasih sayang.

Bukan dia tidak me-warning dirinya. Tapi cinta mematikan alarm dalam dirinya.

***

Malam mulai turun ketika Bella akhirnya memutuskan pulang. Ia masuk ke dalam mobilnya, mengenakan sabuk pengaman, dan menghela napas panjang.

“Satu hari lagi,” gumamnya. “Setelah merger selesai, semuanya akan stabil. Aku janji akan mengurus pernikahanku secepatnya dengan Angkasa.”

Ponselnya berbunyi. Dan nama Angkasa tertulis di sana.

Bella tersenyum dan mengangkatnya.

“Hm?”

“Hati-hati di jalan, Bella,” suara Angkasa terdengar hangat.

“Kau terlalu khawatir,” Bella tertawa kecil.

“Tentu. Aku tidak ingin sesuatu terjadi padamu.”

Kata-kata itu terasa manis… tapi ada sesuatu yang aneh. Rasanya suara Angkasa terlalu tenang… dan terlalu terkendali.

Lalu terdengar bunyi ringan—klik—diikuti suara samar yang tidak seharusnya ada dalam panggilan telepon.

Seperti seseorang menutup sesuatu. Atau mungkin mengatur sesuatu.

“Aku akan tiba dalam dua puluh menit,” kata Bella.

“Baik. Sampai jumpa.”

Telepon pun terputus.

Bella memandang jalan yang sepi malam itu. Lampu-lampu kota Athena memantul di kaca depan mobil. Ia menginjak gas perlahan, mencoba menghilangkan rasa gelisah yang tidak jelas dari mana sumbernya.

Namun ketika mobil memasuki terowongan, getaran halus terasa di bawah kursi.

“…apa ini?”

Namun sayangnya sedetik berikutnya, dunia Bella meledak.

Suara dentuman memekakkan telinga. Cahaya putih membutakan. Mobil terpelanting, menabrak dinding beton. Sabuk pengaman menghantam dada Bella, membuatnya sulit bernapas. Segalanya terjadi terlalu cepat, namun sekaligus seperti gerakan lambat dalam mimpi buruk.

Kepalanya terantuk.

Penglihatannya kabur.

Bau bensin memenuhi udara.

Bella terhuyung, mencoba membuka pintu mobil. Ia batuk, darah memenuhi mulutnya.

“T… tolong…”

Tapi tidak ada siapa pun di sana.

Lampu-lampu terowongan berkelip, kehilangan daya. Dan asap tebal menyelimuti mobilnya.

Bella tersungkur, tubuhnya mulai terasa dingin. Ia meraih ponsel, namun pandangannya gelap.

Dalam kabut setengah sadar itu, ia melihat seseorang berdiri di ujung terowongan.

Siluet seorang pria dan wanita.

Berjalan tenang. Dan jelas mereka tidak berlari untuk menolongnya.

“Ang… k… sa…” gumamnya.

Dan sebelum segalanya menghilang, ia melihat sesuatu yang menusuk jantungnya lebih dalam daripada pecahan kaca di tubuhnya:

Senyuman.

Dingin.

Tipis.

Senyuman milik pria yang selama ini ia percayai sepenuh hati.

Senyuman terakhir yang dilihat Isabela Manik sebelum hidupnya padam.

***

Kegelapan menyambutnya seperti selimut es.

Suara detak jantung melambat.

Napas meredup.

Tubuhnya terasa semakin ringan.

Apa aku mati…?

Beginikah akhirnya? Dalam pengkhianatan?

Isabela ingin berteriak.

Ingin memaki.

Ingin membalas.

Namun kelopak matanya terpejam sebelum sempat berkata apa pun.

Hening.

Kosong.

Habis.

Lalu…

Dari kehampaan itu, suara baru muncul. Jauh, tapi jelas.

“Zenia! Bangun! Jangan pura-pura mati, ya!!”

Bella—atau siapa pun ia sekarang—perlahan membuka matanya.

Saat ia melihat sekelilingnya, jelas ini bukan di terowongan.

Tapi perubahan tempat yang membuatnya bingung bercampur heran saat ini tidak ada artinya ketika ia menyadari bahwa ia terbangun bukan di dalam tubuhnya sendiri.

“Di mana ini?” gumamnya, masih mencoba meraba situasi yang tak ia kenali.

Saat ini jelas ia berada di sebuah kamar kecil berbau tanah, dengan seorang wanita berwajah dingin berdiri di atasnya.

“Cepat! Apa kau pikir dengan lompat ke dalam kolam dangkal itu kau akan mati dan aku tidak akan jadi mengantarkanmu ke depan gerbang rumah keluarga Alberto? Jangan terlalu banyak berkhayal, Zenia! Kau sudah menikah dengan si lumpuh Kenzo itu! Jadi tempatmu bukan di sini! Lagi pula, kan sudah aku bilang, kau hanya transit sesaat di sini dari rumah kumuhmu di desa sebelum aku mengantarkanmu ke rumah suamimu yang cacat itu!”

“ZENIA???” pekik Bella dalam hati, membuat matanya terbelalak.

“Menikah?”

“Kenzo? Kenzo Alberto? Musuh bebuyutanku??”

Secepat kilat Bella bangun dan berlari mencari cermin atau apa pun untuk melihat wajahnya saat ini.

“Tidak mungkin aku hidup lagi tapi di tubuh orang lain, kan? Ini terlalu novel untuk menjadi sebuah kenyataan!”

Namun semua celetukan itu seolah menamparnya saat ia melihat wajahnya di cermin lusuh di kamar itu.

“Ini…?” serunya bingung sambil menyentuh wajahnya sendiri, menyadari tubuh yang bukan miliknya.

Satu kesimpulan menghantamnya:

“Astaga… ternyata benar! Aku hidup kembali!”

Dan orang pertama yang menatapnya dengan kebencian—bukan musuh, melainkan keluarga barunya:

Olivia Ramlan, adik tiri Zenia Ramlan.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

reviews

Kak Upe
Kak Upe
halo semua. salam kenal. aku kak UPe. jangan lupa tinggalkan jejak mu di karya ku ya, agar aku tahu kamu suka atau tidak dengan karya ku yang ini.
2025-12-27 23:57:01
1
0
22 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status