Share

Bab 2

Penulis: Wardana
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-08 19:50:37

"Eh...," si cepak jadi agak bingung. Dia refleks merogoh kantongnya dan berkata, "Tapi saya juga nggak bawa uang sebanyak itu. Gimana kalau kamu saja yang kasih saya tiga juta, terus kamu yang pergi ambil hadiahnya?"

"Aduh, saya juga nggak punya uang segitu!"

Si wajah bopeng mengeluh sambil memelas, "Kamu lihat tampang saya, kelihatan seperti orang yang punya tiga juta?"

"Mas, tolong dong cariin solusi. Kami berdua nggak ada uang sebanyak itu!"

Si bopeng kembali meminta bantuan ke pria berkacamata.

Pria berkacamata itu terdiam sebentar, lalu sambil ragu-ragu berkata, "Begini aja, gimana kalau saya yang kasih masing-masing tiga juta, kalian serahkan cincin itu ke saya, biar saya yang pergi ambil hadiahnya?"

Si bopeng dan si cepak saling berpandangan. Setelah dipikir-pikir, mereka tetap dapat tiga juta masing-masing, jadi akhirnya mereka setuju.

"Oke, gitu aja deh!"

Pria berkacamata langsung terlihat sumringah. Ia mengambil tas kerja dari bawah meja dan mulai mencari uangnya. Awalnya dia terlihat semangat, tapi makin lama ekspresinya berubah. Tangannya mengaduk-aduk tas dengan panik, sementara keringat mulai mengucur dari dahinya.

Sampai akhirnya dia menghela napas panjang dan berkata, "Sial, tadi waktu keluar rumah saya lupa bawa uang lebih. Di tas cuma ada tiga juta! Kalian pasti nggak mau jual cincin ini dengan harga segitu. Aduh, udah mau dapat untung malah zonk."

"Apa?"

Si bopeng dan si cepak melongo. Kalau si kacamata nggak bawa cukup uang, dan mereka juga nggak punya, gimana caranya bagi hasil hadiah ini?

Si bopeng mulai gelisah dan berkata, "Mas, Anda kan orang pintar, tolong dong cari solusi lain buat kami."

"Hmm...," pria berkacamata itu mengangguk sambil berpikir, lalu berkata, "Gimana kalau kita minta pendapat orang lain?"

Dia kemudian menoleh ke arah Lucas yang duduk tak jauh darinya. "Dik, ini kesempatan emas buat kaya mendadak! Kamu punya uang nggak? Kalau ada, kasih mereka masing-masing tiga juta, terus cincin ini jadi milikmu. Kamu bisa langsung dapat untung dua juta! Ada peluang lebih besar dari ini? Kalau saya ada uang, saya pasti ambil sendiri!"

Lucas sedari tadi hanya diam memperhatikan mereka bertiga dengan ekspresi tenang. Sangat jelas kalau mereka ini komplotan.

Si bopeng adalah aktor utama, si cepak sebagai lawan main, dan si kacamata adalah Sutradaranya.

Lucas, meskipun besar di pedalaman, bukan orang bodoh. Pakaian kasualnya mungkin membuat dia terlihat sederhana, tapi soal otak, hampir tidak ada yang bisa mengalahkan dia, apalagi oleh tiga penipu kelas teri seperti ini.

"Saya?"

Lucas pura-pura terkejut sambil menunjuk dirinya sendiri. "Saya bisa ikut ambil bagian?"

"Tentu! Kesempatan bagus ini jatuh ke tanganmu!"

Mendengar Lucas tidak langsung bilang " tidak punya uang," si kacamata langsung semringah. Dalam pikirannya, orang ini pasti bawa uang tunai.

Lucas belum sempat bicara lagi, tiba-tiba dia merasakan kakinya ditendang pelan dari samping.

Dia melirik ke arah kanannya. Di sana duduk seorang gadis cantik, usianya mungkin sebaya dengannya.

Rambut gadis itu panjang dan lembut, kulitnya putih bersih. Meski duduk, Lucas bisa menebak tinggi badannya sekitar 165 cm, cukup tinggi untuk ukuran perempuan. Dari tadi, sejak naik kereta, gadis itu hanya diam dengan earphone terpasang, mendengarkan musik di ponselnya.

Sebenarnya Lucas sempat ingin ngobrol dengannya untuk menghabiskan waktu, tapi karena gadis itu terus memakai earphone, dia jadi kehilangan kesempatan.

Sekarang, gadis itu menatap Lucas dengan ekspresi cemas, seolah ingin mengatakan sesuatu tapi ragu. Akhirnya, dia hanya bisa memberi isyarat dengan tatapan matanya.

Lucas langsung paham. Gadis itu ingin memperingatkan dia agar tidak tertipu oleh trik murahan ini.

Hati Lucas langsung terasa hangat. Bukannya orang kota itu biasanya cuek dan nggak peduli sama urusan orang lain? Tapi gadis ini masih mau ngasih peringatan ke dia. Itu artinya hatinya baik banget.

Gara-gara itu, kesan gadis itu di mata Lucas langsung naik beberapa tingkat.

Buat Lucas, cewek cantik itu memang penting, tapi kalau hatinya busuk, secantik apapun dia, nggak ada gunanya. Itu adalah standar Lucas dalam menilai seseorang.

"Ehem!"

Si cepak yang duduk di depan gadis itu kelihatannya sadar akan tindakan si gadis. Dia langsung batuk keras-keras sambil melotot tajam ke arah gadis itu.

Si gadis langsung terkejut dan wajahnya jadi pucat. Dia menunduk dengan gugup.

Tentu saja, semua ini nggak luput dari perhatian Lucas.

Tapi Lucas, yang lagi bete karena ribut sama kakeknya sebelum berangkat, justru merasa ini kesempatan bagus buat menghilangkan rasa kesal. Ada tiga orang bodoh yang datang membawa hiburan. Mana mungkin Lucas melewatkan kesempatan ini?

Meskipun gadis itu menunduk, dia tetap berusaha memberi isyarat dengan kakinya, menendang pelan kaki Lucas, berharap dia nggak terjebak. Tapi Lucas pura-pura nggak sadar, diam saja tanpa bereaksi.

"Saya cuma punya empat juta sembilan ratus ribu, nggak cukup," kata Lucas dengan wajah polos, seperti orang desa yang lugu. Mendengar Lucas punya uang sebanyak itu, si bopeng dan si cepak langsung matanya berbinar-binar seperti melihat emas. Tapi di wajah mereka tetap memasang ekspresi sedih.

"Empat juta sembilan ratus ribu? Agak kurang, ya. Kita masing-masing bisa dapat berapa?" kata si bopeng sambil berpura-pura menghitung. "Empat juta sembilan ratus ribu dibagi dua, ya sekitar dua juta empat ratus lima puluh ribu," jawab si cepak sambil memikirkan sesuatu. "Dua juta empat ratus lima puluh ribu?

Lumayan juga. Saya setuju. Kamu gimana?" kata si bopeng sambil buru-buru mengangguk. "Ya udah, kalau kamu setuju, saya juga setuju ," jawab si cepak. “Ayo kasih uangnya."

Lucas membuka tas ranselnya, lalu mengeluarkan bungkusan kecil yang dilapisi kertas koran. Setelah membukanya satu per satu, terlihat lima tumpukan uang yang sudah diikat rapi.

"Ini empat juta sembilan ratus ribu. Cuma ada segini. Silakan kalian hitung sendiri," kata

Lucas dengan nada polos. "Sekarang kasih cincin kalengnya ke saya."

Uang ini sebenarnya adalah uang saku yang diberikan oleh kakeknya untuk kebutuhan Lucas selama bertahun-tahun ke depan.

Meskipun selama ini Lucas sudah banyak membantu kakeknya menghasilkan uang. Contohnya, dalam misi penyelamatan di Afrika Utara beberapa waktu lalu, bayarannya kalau menurut standar internasional, pasti puluhan juta rupiah. Tapi pas Lucas mau pergi, kakeknya cuma menyerahkan tas butut yang berisi uang empat juta sembilan ratus ribu dan bilang itu adalah seluruh tabungan keluarga.

Lucas jadi bingung. Apa kakeknya benar-benar miskin, atau cuma pura-pura melarat?

Tapi kalau dipikir-pikir, kakeknya juga makan dan hidup sama sederhananya dengan Lucas. Jadi, dia nggak pernah menikmati hidup mewah. Apa Lucas selama ini salah memperkirakan besar bayaran dari misi-misi itu?

"Baik, baik!"

Si bopeng dan si cepak langsung berebut uang seperti dua serigala kelaparan. Mereka menghitung uang itu sampai habis, lalu menyerahkan cincin kaleng ke Lucas. Lucas menerima cincin itu dengan penuh hati-hati, seolah itu adalah barang yang paling berharga di dunia. Dia menyimpannya di saku dengan sangat teliti, seperti sedang menjaga harta karun.

Melihat tiga penipu itu berhasil menjalankan aksinya, gadis di sebelah Lucas hanya bisa menghela napas panjang.

Melihat Lucas yang tampak girang seperti habis memenangkan lotre, gadis itu sampai nggak tahu harus bilang apa.

Setelah uang ada di tangan, tiga penipu itu kembali ke sikap semula, seperti nggak saling kenal. Mereka pura-pura sibuk dengan urusan masing-masing.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Perisai Dewa Tak Tertembus   Bab 21

    Begitu dengar ucapan Lucas, Pak Wadi langsung kaget. Anak ini pasti tahu sesuatu!Kalau Lucas cuma pasang muka bingung, Pak Wadi mungkin masih bisa tenang. Tapi ucapan Lucas yang kedengarannya santai itu justru bikin dia makin yakin kalau anak ini udah nangkep sesuatu. Meski begitu, untungnya Lucas kayaknya nggak mau ikut campur urusan dia, jadi Pak Wadi sedikit lega.Kalau sampai hal ini bocor ke kepala sekolah atau pihak dewan direksi, jabatan kepala tata usahanya bisa tamat."Hehe..."Pak Wadi tertawa canggung, lalu berkata, "Lucas, kalau nanti kamu ada masalah di sekolah, langsung aja cari saya, ya! Sekalian nanti kamu catat nomor HP saya.""Wah, terima kasih banyak, Pak Wadi!"Lucas langsung pura-pura kelihatan sopan dan penuh hormat.Dia sadar posisinya di sekolah ini cukup spesial. Tujuan utama dia ke sini sebenarnya buat jaga Melly. Jadi kemungkinan bakal ada aja hal-hal yang bikin masalah. Daripada setiap kali ada apa-apa harus repot-repot lapor

  • Perisai Dewa Tak Tertembus   Bab 20

    Lagian, dengan status kayak Melly, nilai bagus atau jelek sebenarnya nggak terlalu ngaruh. Dia pasti bisa masuk universitas, bahkan kalau nggak lolos sekalipun, ayahnya cukup punya koneksi buat bikin dia diterima di kampus elit mana aja."Kamu juga sadar, ya?"Paman Pelix nggak nyangka Lucas bisa cepat mikirin hal ini, jadi sedikit terkejut."Jadi benar?" Lucas mengernyit penasaran."Sebenernya saya juga nggak tahu maksud Tuan Dexen apa."Paman Pelix menghela napas panjang," Walaupun saya dekat dengan beliau, ada beberapa hal yang cuma dia sendiri yang paham.”Mendengar penjelasan Paman Pelix yang nggak membantu sama sekali, Lucas cuma bisa memutar matanya kesal. "Tapi Tuan Dexen sempat bilang ke saya, suruh sampaikan ke kamu supaya fokus jagain nona muda. Nggak usah banyak mikir yang aneh-aneh," lanjut Paman Pelix sambil mengulangi pesan Surya Dexen, "Kalau bisa, kasih dia perhatian lebih. Anak ini dari kecil kekurangan kasih sayang..."Lucas c

  • Perisai Dewa Tak Tertembus   Bab 19

    "Oh..." Lucas cuma bisa mengangguk, ngerti maksud Rainy. Tapi dalam hati dia sedikit nyesel, kalau tahu begini, tadi dia bakal masak lebih banyak! "Kamu ngapain masih berdiri di sini? Nggak lihat aku lagi makan? Aku jadi nggak nyaman!" Melly ngomel tanpa sadar apa yang lagi terjadi antara Lucas dan Rainy. Lucas nggak mau ribut sama Melly, dia cuma berbalik badan dan pergi ke kamarnya. Nggak ada gunanya melawan si ratu drama ini. Lagi pula, dibanding Melly yang bossy, Rainy yang sedikit jahil rasanya masih lebih gampang dihadapi. Di kamarnya, Lucas mulai beresin tas sekolah. Walaupun pelajaran SMA dia udah selesai belajar sendiri, tetap aja dia harus kelihatan serius di hari pertama sekolah biar nggak mencurigakan. Sementara itu, Melly lagi asyik menikmati mi di meja. Setelah mangkuknya kosong sampai tetes terakhir, dia masih merasa kurang. "Rainy, ini enak banget. Masih ada lagi nggak?" tanyanya sambil menjilat kuah di sumpitnya.

  • Perisai Dewa Tak Tertembus   Bab 18

    Setelah selesai dengan mi-nya, Lucas lanjut bikin kuah kaldu.Dia nggak repot-repot bikin kaldu dari nol kayak di restoran, karena pas lihat di lemari dapur, dia nemu kaldu instan. Benda ini pertama kali dia lihat, tapi kelihatannya menarik. Pas dimasukin ke panci, aroma gurih langsung menyebar ke seluruh dapur. Lucas mulai tumis sayuran pakai kaldu itu, tambah bumbu, lalu diisi air. Nggak butuh waktu lama, kuah mi pun jadi. Di sisi lain, dia udah masak mi tarik yang tadi dibuat, direndam sebentar di air mendidih, diangkat, dan ditaruh di dua mangkuk. Terakhir, dia tuang kuahnya di atas mi. Dua mangkuk mi panas yang menggoda aroma kini siap disantap. Meskipun nggak persis sama kayak resep otentik, rasanya pasti beda level dibandingkan makanan instan biasa. Di rumah, kakeknya bahkan selalu bilang mi buatan Lucas lebih enak daripada restoran. Sisa mi yang masih ada di panci cukup buat satu porsi lagi. Lucas perkirakan Rainy cuma bakal makan satu mangkuk, jadi sisanya bisa dia habiska

  • Perisai Dewa Tak Tertembus   Bab 17

    Lucas nggak nyangka kalau Rainy bakal ingat detail kayak gitu. Sekarang mau ngeles juga percuma, jadi dia cuma bisa menunduk dan ngaku:"Baiklah, aku akui. Aku tadi nggak sengaja, cuma iseng masukin password karena penasaran. Eh, malah nyambung ke saluran itu. Tapi aku nggak nonton kok. Begitu lihat isinya, langsung aku matiin TV-nya...""Oh, gitu ya?" Rainy jelas nggak percaya. Dia menatap Lucas dengan penuh curiga."Beneran, aku serius..." Lucas memasang wajah memelas. Toh, yang dia bilang itu memang mendekati kebenaran."Huh!" Rainy mendengus. Dia malas memperpanjang urusan ini, jadi langsung ambil remote TV box di meja dan siap ganti saluran. Tapi, matanya tiba-tiba terpaku pada selembar tisu bekas di atas meja.Tisu itu terlipat asal-asalan, dan di bagian luarnya kelihatan ada cairan bening yang menempel."Itu apa?" Wajah Rainy mendadak berubah hijau, dan suaranya mulai bergetar. "Dasar, Lucas! Kamu nggak cuma nonton hal ngg

  • Perisai Dewa Tak Tertembus   Bab 16

    Di layar TV, muncul sosok seorang artis yang cukup terkenal. Lucas sempat pernah lihat sebelumnya, tapi namanya nggak terlalu diingat. Yang bikin Lucas nggak nyangka, ternyata password channel itu memang cuma pakai kode default!Padahal tadi dia udah sok pintar nyobain berbagai kombinasi angka.Ini juga pertama kalinya Lucas nonton film romantis di layar segede ini. Biasanya dia cuma nonton di layar 10 inci laptop KW-nya. Layarnya kecil, gambarnya buram, beda jauh dengan sekarang yang HD dan serba jelas.Lucas jadi semangat. Jantungnya berdegup kencang, bahkan dia hampir berdiri mendekat ke layar buat nonton lebih jelas. Tapi belum lama menikmati, dia mendengar suara dari lantai dua."Ah... ngantuk banget... dasar Melly nyebelin, semalaman bikin aku begadang. Eh, sekarang dia malah tidur, aku jadi nggak bisa tidur..."Suara Rainy yang sedikit menggerutu terdengar, diiringi langkahnya turun pakai sandal.Dengan pendengaran yang ta

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status