LOGINGadis itu nggak lagi menendang kaki Lucas. Dia bersandar ke jendela kereta, kembali tenggelam dalam lagu-lagu yang diputar di ponselnya.
"Perhatian, penumpang. Kereta akan tiba di Stasiun Valeria. Penumpang yang turun, harap bersiap. Kereta akan berhenti selama lima belas menit," suara pengumuman kereta terdengar. Lucas mulai berkemas, siap untuk turun. Yang nggak dia sangka, gadis yang duduk di sebelahnya juga mulai mengemas barang-barangnya. Jelas dia juga akan turun di Stasiun Valeria. Saat gadis itu berdiri, Lucas memerhatikan lagi tinggi badannya. Benar saja, tebakannya nggak meleset. Tingginya sekitar 165 cm, pas seperti yang dia pikirkan. Begitu turun dari kereta, Lucas terpesona dengan pemandangan Stasiun Songshan. Bangunan-bangunan di sekitarnya terlihat mewah dan modern. Walaupun pernah datang ke sini sepuluh tahun lalu, perubahan yang terjadi selama sepuluh tahun terakhir benar-benar bikin dia terkejut. "Tunggu sebentar!" Sebuah suara manis terdengar dari belakang Lucas. Dia berhenti dan menoleh. Ternyata gadis tadi sedang melambaikan tangan sambil berlari ke arahnya. "Ada apa?" Lucas bertanya dengan santai. Dalam hatinya, dia nggak percaya gadis itu tiba-tiba naksir dia. Biarpun wajahnya lumayan tampan, tapi dengan pakaian seadanya, celana coklat tua dan kaos singlet putih, dia lebih mirip pekerja kasar yang baru datang ke kota buat cari kerja. "Kamu nggak beneran mau pergi buat nukerin itu, kan?" Gadis itu bertanya dengan nada sedikit kesal, jelas dia masih dongkol karena Lucas mengabaikan peringatannya di kereta tadi. "Oh, maksud kamu ini ya?" Lucas mengeluarkan cincin kaleng itu dari kantongnya, lalu dengan santai melemparkannya ke pinggir jalan. "Hah?!" Kali ini, giliran gadis itu yang melongo. Dia sama sekali nggak nyangka Lucas bakal ngelakuin hal seperti itu. "Kamu... kamu buang?" Gadis itu menunjuk Lucas dengan ekspresi kaget, mulutnya terbuka lebar. "Ya, aku buang," jawab Lucas santai. "Itu kan palsu, jadi buat apa disimpan?" "Kamu tahu itu palsu?" Gadis itu makin bingung, nggak habis pikir dengan Lucas. Orang ini aneh banget. Sudah tahu itu barang palsu, tapi masih rela keluar uang buat beli? Apa dia gila? Dari tampilannya, dia juga nggak kelihatan seperti orang kaya yang suka buang-buang uang buat hiburan. "Tahu. Lagian, di kereta tadi kamu juga sudah ngasih tahu aku, kan?" Lucas menjawab sambil tersenyum. "Kalau kamu tahu, kenapa kamu tetap kasih uang ke mereka?" Nada suara gadis itu mulai terdengar panik. Dia nggak paham apa yang ada di kepala Lucas. Lucas hanya tersenyum, lalu melepaskan tas ranselnya. Dia membuka resleting tas itu dan menunjukkannya pada gadis itu. Gadis itu menatap Lucas dengan tatapan bingung, lalu perlahan menunduk untuk melihat isi tas. Seketika dia terkejut. Di dalam tas itu ada tujuh atau delapan bundel uang kertas! "Kamu kaya banget? Tapi punya uang banyak juga nggak bisa dihambur-hamburin gitu, dong?" Gadis itu masih nggak ngerti maksud Lucas. Dia kira Lucas sedang pamer kekayaan. "Itu uang yang tadi," jawab Lucas santai. "Uang tadi? Maksud kamu?" Gadis itu masih nggak paham. "Bukannya tadi cuma ada empat juta sembilan ratus ribu? Ini kelihatannya ada tujuh atau delapan juta, deh?" "Yang tiga juta lagi aku ambil dari si cowok berkacamata itu," kata Lucas sambil tersenyum tipis. Lucas mengangkat bahu santai. "Cuma kerjaan kecil, gampang kok," katanya seakan hal itu biasa saja buat dia. "Hah?" Gadis itu benar-benar terpana. Ternyata Lucas bukan sekadar aneh, tapi dia jauh lebih pintar. Bukan cuma berhasil ambil lagi uangnya kembali, tapi dia juga berhasil mengambil uang si pria berkacamata. "Kenapa ekspresimu begitu? Jangan-jangan kamu mau laporin aku mencuri?" Lucas menggoda, melihat wajah gadis itu yang penuh kebingungan. "Ya nggak lah," jawab gadis itu dengan pipi memerah, sambil buru-buru menggeleng. "Tapi serius, makasih banget ya. Jarang Iho, ada cewek kayak kamu yang peduli sama orang lain," kata Lucas dengan tulus. "Gimana kalau aku traktir makan?" "Ah, nggak usah..." Gadis itu menolak sambil tersenyum malu. “Keluargaku udah nunggu di pintu keluar." Lucas mengangguk paham dan nggak memaksa. Soal pendekatan, dia tahu itu harus santai. Kalau terlalu agresif malah bisa bikin orang ilfeel. "Oke, kalau gitu nggak apa-apa. Sampai ketemu lagi, ya." Gadis itu, yang namanya Sindy, memperhatikan Lucas pergi sambil menggeleng pelan. Orang yang aneh, pikirnya. Kalau bukan karena ibunya sudah menunggu, dia sebenarnya nggak keberatan ngobrol lebih lama dengan Lucas. Bukan karena dia punya perasaan apa-apa, tapi karena Lucas itu benar-benar berbeda. Dengan tampang sederhana dan pakaian yang terkesan kampungan, dia membawa uang segitu banyak di tas ranselnya. Tapi entah kenapa, ada aura yang bikin dia kelihatan luar biasa. "Mas, mau nginep? Hotel murah nih..." Begitu Lucas keluar dari stasiun, dia langsung dikerubungi orang-orang yang menawarkan penginapan. Dengan pakaian yang mirip pekerja kasar dari desa, dia jelas target utama mereka. Lucas melambaikan tangan tanda menolak, lalu menyelinap keluar dari kerumunan itu. Dia berjalan menuju tempat taksi yang ada di alun-alun stasiun. Di tangannya, ada secarik kertas berisi alamat yang diberikan oleh si kakek sebelum dia pergi. Dia naik taksi, dan sopirnya langsung bertanya dengan ramah, "Mau ke mana, Mas?" "Ke alamat ini," jawab Lucas sambil menyerahkan kertas itu. Sopir taksi itu jelas pemain lama di area stasiun. Dia bisa langsung tahu Lucas pendatang baru, mungkin pekerja kasar. Niat jahat langsung muncul di pikirannya: Kayaknya ini calon empuk buat diperas! Namun, saat dia melihat alamat di kertas itu, wajahnya langsung berubah. Alamat itu berbunyi: Jalan Godam No. 36, Gedung Dexen. Jarak 11,2 km, lewat Jembatan Lingkar Baru. Semua detailnya sudah ditulis lengkap termasuk rute dan jaraknya. Sopir itu menghela napas, sadar nggak bakal bisa "main harga" dengan penumpang ini. Gedung Dexen? Itu gedung perusahaan terbesar di kota ini. Tapi buat apa anak desa ini ke sana? pikir sopir itu sambil penasaran. Tanpa banyak bicara lagi, dia menjalankan mobilnya dengan patuh. Perjalanan lancar, dan Lucas merasa takjub melihat kota itu, terutama banyaknya jembatan yang megah. Nggak lama kemudian, mereka sampai di tujuan. Lucas membayar ongkos, lalu turun dari taksi. Melihat gedung pencakar langit di depannya, Lucas ternganga. Gedung itu lebih tinggi dari gunung di kampung halamannya! Kayaknya si bos baru ini benar-benar kaya. Kalau kata si kakek, satu tugas aja bisa bikin hidup nyaman seumur hidup. Lucas mendekati gedung itu sambil berpikir iseng, Kalau aku loncat dari atas sana, kira-kira bakal mati nggak ya? Tapi dia segera ingat masa kecilnya, ketika si kakek pernah menendangnya dari puncak gunung ke lembah. Waktu itu dia cuma babak belur dan terpaksa istirahat di kasur beberapa hari. Setelah memastikan nomor gedung dan nama yang tertera sesuai dengan alamat di kertasnya, Lucas dengan santai melangkah masuk ke gedung mewah itu. Petualangan barunya pun dimulai.Setelah pembicaraan tadi beralih, Markus mulai berbincang dengan Lucas tentang topik-topik pengobatan tradisional. Kebetulan, ada beberapa permasalahan akademis yang selama ini membingungkan Markus. Awalnya, ia bertanya pada Lucas hanya untuk mencoba keberuntungan, tapi jawaban Lucas membuatnya benar-benar terkejut dan tercerahkan.Dalam hati, Markus menyadari bahwa dirinya seperti katak dalam tempurung. Banyak masalah yang selama ini dianggap rumit oleh Markus, Lucas tidak menjawabnya secara langsung, tetapi memberikan petunjuk yang sangat mendalam sehingga membuka wawasan Markus.Diam-diam, Markus merasa sangat bersyukur sekaligus kagum pada Lucas. Cara Lucas menjelaskan lebih seperti diskusi atau saling bertukar pikiran daripada langsung memberikan jawaban pasti. Namun, Markus tahu, Lucas sebenarnya sedang membimbingnya seperti seorang guru yang sangat perhatian, menggunakan cara-cara yang halus untuk mengarahkan dan menginspirasi muridnya.Bukan hanya membuatnya mamp
"Kak Roy, aku dan Pak Markus sudah pernah ketemu di Toko Buku Xoxo," Lucas tersenyum sambil menjelaskan kepada Roy. "Waktu itu kita sempat diskusi soal ilmu medis... Oh iya, waktu itu pas kembali dari tempatmu, aku lagi mikirin rencana pengobatanmu. Ada beberapa ramuan obat tradisional yang khasiat dan cara kerjanya lupa-lupa ingat. Karena buku referensiku ditinggal di kampung, aku ke toko buku buat nyari info.""Wah, ternyata kamu sudah kenal sama Kakek Markus. Bagus deh, jadi tidak perlu aku kenalin lagi."Roy merasa lega. Dengan begitu, tugasnya sebagai penghubung sudah selesai. Kalau mereka sudah saling kenal, komunikasinya pasti bakal lebih lancar.Roy sih biasa aja mendengar ucapan Lucas, tapi di telinga Markus, itu terasa mengejutkan!Awalnya, dia pikir Lucas yang masih muda ini pasti berasal dari keluarga besar yang terkenal di dunia pengobatan tradisional. Kalau begitu, wajar saja kalau dia punya resep kuno yang langka.Tapi kenyataannya, Lucas ke toko b
Memikirkan hal itu, Markus tanpa sadar menatap Lucas dengan lebih dalam, sambil merasa sedikit malu atas pikirannya tadi yang kurang pantas untuk orang seusianya.Namun, sebagai seorang dokter, berpikiran terbuka adalah hal yang wajar, jadi tidak ada yang aneh."Hehe, dulu sempat menjabat sebentar," Lucas mengangguk santai. "Makanya, sudah sewajarnya saya mewakili anggota tim saya untuk berterima kasih.""Kalau Tuan Lucas bicara begitu, ya sudah, saya tidak akan terlalu sungkan. Silakan ke ruang kerja saya, ada beberapa masalah medis yang selama ini saya belum temukan jawabannya. Mudah-mudahan Anda tidak keberatan membantu saya..." kata Markus."Panggil saja saya Lucas. Dengar orang manggil Tuan Lucas rasanya terlalu kaku," balas Lucas sambil tersenyum. "Soal bantu-membantu, jangan dibilang 'mengajar,' lebih tepat kalau kita bilang tukar pikiran.""Baiklah, kalau begitu saya akan panggil kamu Lucas. Tapi kamu juga jangan panggil saya Pak Markus, lebih enak k
Apakah karena dia dimarahi sekali, dia langsung berubah? Berhenti mencoba mendekati aku lagi?Tapi, rasanya tidak mungkin, deh. Yang jadi pertanyaan utama adalah, kenapa Lucas bisa ada di bus? Bukannya dia biasanya dijemput pakai mobil?"Kamu... kamu sengaja naik bus yang sama sama aku, ya?"Tania akhirnya mengutarakan kecurigaannya."Sengaja?"Lucas tersenyum sambil mengusaphidungnya, "Aku naik duluan, bagaimana aku bisa tahu kamu bakal naik dari daerah perkampungan? Apa aku bisa meramal masa depan?"Eh, tapi ngomong-ngomong, Lucas malah refleks menyentuh liontin di dadanya. Sebenarnya aku bisa saja meramal, sih...Cuma ya ramalannya tidak jelas, aku jugatidak ngerti artinya apa. Sinyalnya tidak bisa aku baca, tidak tahu deh apa maksud si liontin ini.Mendengar jawaban Lucas, Tania agakbengong.Iya juga, kan aku naik setelah dia. bagaimana caranya dia bisa tahu aku bakal naik?Kalaupun dia tahu aku biasa naik bus nomor 87,
"Masih belum pergi? Berdiri di sini mau nunggu aku traktir teh, ya?"Pak Wadi langsung menepuk David. Dia adalah Wakil kepala di sekolah swasta, jadi tidak banyak yang dia takutin.Lagipula, SMA Pertama punya koneksi kuatdi tingkat provinsi, langsung di bawahpengawasan provinsi, jadi dinas pendidikan daerah aja tidak bisa ngapa-ngapain..."I-iya, iya!"David buru-buru kabur. Pak Wadi ini jelas bukan orang yang bisa dia cari masalah.Setelah David pergi, Tania masih berdiri ditempat, bingung apakah harus ikut pergi atau tetap di sana. Tapi karena Pak Wadi belum nyuruhdia pergi, dia juga tidak berani jalan, jadi cumaberdiri canggung di situ."Hehe, kamu Tania, ya?"Wajah Pak Wadi yang tadi serius dan suramtiba-tiba berubah jadi penuh senyum. "Tidak adayang bikin kamu tidak nyaman, kan?""Tidak, terima kasih, Pak Wadi."Tania menggeleng pelan."Bagus kalau tidak ada. Kalau si David itugangguin kamu lagi, la
Lucas melihat Tania yang sudah berada jauh, lalu mengeluarkan ponselnya dan menelepon Roy."Oi, Pak Tua Roy, lagi di mana kamu?"Telepon langsung diangkat, dan Lucas langsung bertanya."Aku lagi di gang Kaisar, belakang SMA Pertama... Tapi tunggu, Lucas, kamu barusan manggil aku apa? 'Pak Tua Roy'? Kok aku dengarnya aneh ya?"Roy protes, "Mending kamu panggil aku 'Roy' atau 'Hunter Dog, jangan 'Pak Tua Roy'. Emangnya aku setua itu?""Oke, kalau gitu aku panggil kamu 'Kak Roy'. Di luar, aku lebih muda dari kamu, nggak enak manggil 'Roy'."Lucas menjelaskan, "Aku sudah sampai nih, lagi di halte depan gerbang utama SMA Pertama.""Oke, aku ke sana sekarang."Roy langsung setuju.Tidak lama, sebuah mobil polisi berhenti didepan Lucas. Roy menjulurkan kepalanya darijendela mobil. "Lucas, naik!"Lucas mengangguk dan duduk di kursipenumpang depan. Roy mulai menjalankan mobil pelan-pelan. "Eh, obat yang kamu kasih ke aku ituternyata







