Share

Bab 3

Penulis: Wardana
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-08 19:55:10

Gadis itu nggak lagi menendang kaki Lucas. Dia bersandar ke jendela kereta, kembali tenggelam dalam lagu-lagu yang diputar di ponselnya.

"Perhatian, penumpang. Kereta akan tiba di Stasiun Valeria. Penumpang yang turun, harap bersiap. Kereta akan berhenti selama lima belas menit," suara pengumuman kereta terdengar.

Lucas mulai berkemas, siap untuk turun. Yang nggak dia sangka, gadis yang duduk di sebelahnya juga mulai mengemas barang-barangnya. Jelas dia juga akan turun di Stasiun Valeria.

Saat gadis itu berdiri, Lucas memerhatikan lagi tinggi badannya. Benar saja, tebakannya nggak meleset. Tingginya sekitar 165 cm, pas seperti yang dia pikirkan.

Begitu turun dari kereta, Lucas terpesona dengan pemandangan Stasiun Songshan.

Bangunan-bangunan di sekitarnya terlihat mewah dan modern. Walaupun pernah datang ke sini sepuluh tahun lalu, perubahan yang terjadi selama sepuluh tahun terakhir benar-benar bikin dia terkejut.

"Tunggu sebentar!"

Sebuah suara manis terdengar dari belakang Lucas. Dia berhenti dan menoleh.

Ternyata gadis tadi sedang melambaikan tangan sambil berlari ke arahnya.

"Ada apa?"

Lucas bertanya dengan santai. Dalam hatinya, dia nggak percaya gadis itu tiba-tiba naksir dia. Biarpun wajahnya lumayan tampan, tapi dengan pakaian seadanya, celana coklat tua dan kaos singlet putih, dia lebih mirip pekerja kasar yang baru datang ke kota buat cari kerja.

"Kamu nggak beneran mau pergi buat nukerin itu, kan?"

Gadis itu bertanya dengan nada sedikit kesal, jelas dia masih dongkol karena Lucas mengabaikan peringatannya di kereta tadi.

"Oh, maksud kamu ini ya?"

Lucas mengeluarkan cincin kaleng itu dari kantongnya, lalu dengan santai melemparkannya ke pinggir jalan.

"Hah?!"

Kali ini, giliran gadis itu yang melongo. Dia sama sekali nggak nyangka Lucas bakal ngelakuin hal seperti itu.

"Kamu... kamu buang?"

Gadis itu menunjuk Lucas dengan ekspresi kaget, mulutnya terbuka lebar.

"Ya, aku buang," jawab Lucas santai. "Itu kan palsu, jadi buat apa disimpan?"

"Kamu tahu itu palsu?"

Gadis itu makin bingung, nggak habis pikir dengan Lucas. Orang ini aneh banget. Sudah tahu itu barang palsu, tapi masih rela keluar uang buat beli? Apa dia gila? Dari tampilannya, dia juga nggak kelihatan seperti orang kaya yang suka buang-buang uang buat hiburan.

"Tahu. Lagian, di kereta tadi kamu juga sudah ngasih tahu aku, kan?" Lucas menjawab sambil tersenyum.

"Kalau kamu tahu, kenapa kamu tetap kasih uang ke mereka?"

Nada suara gadis itu mulai terdengar panik.

Dia nggak paham apa yang ada di kepala Lucas.

Lucas hanya tersenyum, lalu melepaskan tas ranselnya. Dia membuka resleting tas itu dan menunjukkannya pada gadis itu.

Gadis itu menatap Lucas dengan tatapan bingung, lalu perlahan menunduk untuk melihat isi tas. Seketika dia terkejut.

Di dalam tas itu ada tujuh atau delapan bundel uang kertas!

"Kamu kaya banget? Tapi punya uang banyak juga nggak bisa dihambur-hamburin gitu, dong?" Gadis itu masih nggak ngerti maksud Lucas. Dia kira Lucas sedang pamer kekayaan.

"Itu uang yang tadi," jawab Lucas santai.

"Uang tadi? Maksud kamu?" Gadis itu masih nggak paham. "Bukannya tadi cuma ada empat juta sembilan ratus ribu? Ini kelihatannya ada tujuh atau delapan juta, deh?"

"Yang tiga juta lagi aku ambil dari si cowok berkacamata itu," kata Lucas sambil tersenyum tipis. Lucas mengangkat bahu santai.

"Cuma kerjaan kecil, gampang kok," katanya seakan hal itu biasa saja buat dia.

"Hah?"

Gadis itu benar-benar terpana. Ternyata Lucas bukan sekadar aneh, tapi dia jauh lebih pintar. Bukan cuma berhasil ambil lagi uangnya kembali, tapi dia juga berhasil mengambil uang si pria berkacamata.

"Kenapa ekspresimu begitu? Jangan-jangan kamu mau laporin aku mencuri?" Lucas menggoda, melihat wajah gadis itu yang penuh kebingungan.

"Ya nggak lah," jawab gadis itu dengan pipi memerah, sambil buru-buru menggeleng. "Tapi serius, makasih banget ya. Jarang Iho, ada cewek kayak kamu yang peduli sama orang lain," kata Lucas dengan tulus. "Gimana kalau aku traktir makan?"

"Ah, nggak usah..." Gadis itu menolak sambil tersenyum malu. “Keluargaku udah nunggu di pintu keluar."

Lucas mengangguk paham dan nggak memaksa. Soal pendekatan, dia tahu itu harus santai. Kalau terlalu agresif malah bisa bikin orang ilfeel. "Oke, kalau gitu nggak apa-apa. Sampai ketemu lagi, ya."

Gadis itu, yang namanya Sindy, memperhatikan Lucas pergi sambil menggeleng pelan. Orang yang aneh, pikirnya. Kalau bukan karena ibunya sudah menunggu, dia sebenarnya nggak keberatan ngobrol lebih lama dengan Lucas. Bukan karena dia punya perasaan apa-apa, tapi karena Lucas itu benar-benar berbeda.

Dengan tampang sederhana dan pakaian yang terkesan kampungan, dia membawa uang segitu banyak di tas ranselnya. Tapi entah kenapa, ada aura yang bikin dia kelihatan luar biasa.

"Mas, mau nginep? Hotel murah nih..."

Begitu Lucas keluar dari stasiun, dia langsung dikerubungi orang-orang yang menawarkan penginapan. Dengan pakaian yang mirip pekerja kasar dari desa, dia jelas target utama mereka. Lucas melambaikan tangan tanda menolak, lalu menyelinap keluar dari kerumunan itu. Dia berjalan menuju tempat taksi yang ada di alun-alun stasiun. Di tangannya, ada secarik kertas berisi alamat yang diberikan oleh si kakek sebelum dia pergi.

Dia naik taksi, dan sopirnya langsung bertanya dengan ramah, "Mau ke mana, Mas?"

"Ke alamat ini," jawab Lucas sambil menyerahkan kertas itu.

Sopir taksi itu jelas pemain lama di area stasiun. Dia bisa langsung tahu Lucas pendatang baru, mungkin pekerja kasar. Niat jahat langsung muncul di pikirannya: Kayaknya ini calon empuk buat diperas!

Namun, saat dia melihat alamat di kertas itu, wajahnya langsung berubah. Alamat itu berbunyi: Jalan Godam No. 36, Gedung Dexen. Jarak 11,2 km, lewat Jembatan Lingkar Baru.

Semua detailnya sudah ditulis lengkap termasuk rute dan jaraknya. Sopir itu menghela napas, sadar nggak bakal bisa "main harga" dengan penumpang ini.

Gedung Dexen? Itu gedung perusahaan terbesar di kota ini. Tapi buat apa anak desa ini ke sana? pikir sopir itu sambil penasaran. Tanpa banyak bicara lagi, dia menjalankan mobilnya dengan patuh. Perjalanan lancar, dan Lucas merasa takjub melihat kota itu, terutama banyaknya jembatan yang megah. Nggak lama kemudian, mereka sampai di tujuan. Lucas membayar ongkos, lalu turun dari taksi.

Melihat gedung pencakar langit di depannya, Lucas ternganga. Gedung itu lebih tinggi dari gunung di kampung halamannya! Kayaknya si bos baru ini benar-benar kaya. Kalau kata si kakek, satu tugas aja bisa bikin hidup nyaman seumur hidup.

Lucas mendekati gedung itu sambil berpikir iseng, Kalau aku loncat dari atas sana, kira-kira bakal mati nggak ya? Tapi dia segera ingat masa kecilnya, ketika si kakek pernah menendangnya dari puncak gunung ke lembah. Waktu itu dia cuma babak belur dan terpaksa istirahat di kasur beberapa hari.

Setelah memastikan nomor gedung dan nama yang tertera sesuai dengan alamat di kertasnya, Lucas dengan santai melangkah masuk ke gedung mewah itu. Petualangan barunya pun dimulai.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Perisai Dewa Tak Tertembus   Bab 21

    Begitu dengar ucapan Lucas, Pak Wadi langsung kaget. Anak ini pasti tahu sesuatu!Kalau Lucas cuma pasang muka bingung, Pak Wadi mungkin masih bisa tenang. Tapi ucapan Lucas yang kedengarannya santai itu justru bikin dia makin yakin kalau anak ini udah nangkep sesuatu. Meski begitu, untungnya Lucas kayaknya nggak mau ikut campur urusan dia, jadi Pak Wadi sedikit lega.Kalau sampai hal ini bocor ke kepala sekolah atau pihak dewan direksi, jabatan kepala tata usahanya bisa tamat."Hehe..."Pak Wadi tertawa canggung, lalu berkata, "Lucas, kalau nanti kamu ada masalah di sekolah, langsung aja cari saya, ya! Sekalian nanti kamu catat nomor HP saya.""Wah, terima kasih banyak, Pak Wadi!"Lucas langsung pura-pura kelihatan sopan dan penuh hormat.Dia sadar posisinya di sekolah ini cukup spesial. Tujuan utama dia ke sini sebenarnya buat jaga Melly. Jadi kemungkinan bakal ada aja hal-hal yang bikin masalah. Daripada setiap kali ada apa-apa harus repot-repot lapor

  • Perisai Dewa Tak Tertembus   Bab 20

    Lagian, dengan status kayak Melly, nilai bagus atau jelek sebenarnya nggak terlalu ngaruh. Dia pasti bisa masuk universitas, bahkan kalau nggak lolos sekalipun, ayahnya cukup punya koneksi buat bikin dia diterima di kampus elit mana aja."Kamu juga sadar, ya?"Paman Pelix nggak nyangka Lucas bisa cepat mikirin hal ini, jadi sedikit terkejut."Jadi benar?" Lucas mengernyit penasaran."Sebenernya saya juga nggak tahu maksud Tuan Dexen apa."Paman Pelix menghela napas panjang," Walaupun saya dekat dengan beliau, ada beberapa hal yang cuma dia sendiri yang paham.”Mendengar penjelasan Paman Pelix yang nggak membantu sama sekali, Lucas cuma bisa memutar matanya kesal. "Tapi Tuan Dexen sempat bilang ke saya, suruh sampaikan ke kamu supaya fokus jagain nona muda. Nggak usah banyak mikir yang aneh-aneh," lanjut Paman Pelix sambil mengulangi pesan Surya Dexen, "Kalau bisa, kasih dia perhatian lebih. Anak ini dari kecil kekurangan kasih sayang..."Lucas c

  • Perisai Dewa Tak Tertembus   Bab 19

    "Oh..." Lucas cuma bisa mengangguk, ngerti maksud Rainy. Tapi dalam hati dia sedikit nyesel, kalau tahu begini, tadi dia bakal masak lebih banyak! "Kamu ngapain masih berdiri di sini? Nggak lihat aku lagi makan? Aku jadi nggak nyaman!" Melly ngomel tanpa sadar apa yang lagi terjadi antara Lucas dan Rainy. Lucas nggak mau ribut sama Melly, dia cuma berbalik badan dan pergi ke kamarnya. Nggak ada gunanya melawan si ratu drama ini. Lagi pula, dibanding Melly yang bossy, Rainy yang sedikit jahil rasanya masih lebih gampang dihadapi. Di kamarnya, Lucas mulai beresin tas sekolah. Walaupun pelajaran SMA dia udah selesai belajar sendiri, tetap aja dia harus kelihatan serius di hari pertama sekolah biar nggak mencurigakan. Sementara itu, Melly lagi asyik menikmati mi di meja. Setelah mangkuknya kosong sampai tetes terakhir, dia masih merasa kurang. "Rainy, ini enak banget. Masih ada lagi nggak?" tanyanya sambil menjilat kuah di sumpitnya.

  • Perisai Dewa Tak Tertembus   Bab 18

    Setelah selesai dengan mi-nya, Lucas lanjut bikin kuah kaldu.Dia nggak repot-repot bikin kaldu dari nol kayak di restoran, karena pas lihat di lemari dapur, dia nemu kaldu instan. Benda ini pertama kali dia lihat, tapi kelihatannya menarik. Pas dimasukin ke panci, aroma gurih langsung menyebar ke seluruh dapur. Lucas mulai tumis sayuran pakai kaldu itu, tambah bumbu, lalu diisi air. Nggak butuh waktu lama, kuah mi pun jadi. Di sisi lain, dia udah masak mi tarik yang tadi dibuat, direndam sebentar di air mendidih, diangkat, dan ditaruh di dua mangkuk. Terakhir, dia tuang kuahnya di atas mi. Dua mangkuk mi panas yang menggoda aroma kini siap disantap. Meskipun nggak persis sama kayak resep otentik, rasanya pasti beda level dibandingkan makanan instan biasa. Di rumah, kakeknya bahkan selalu bilang mi buatan Lucas lebih enak daripada restoran. Sisa mi yang masih ada di panci cukup buat satu porsi lagi. Lucas perkirakan Rainy cuma bakal makan satu mangkuk, jadi sisanya bisa dia habiska

  • Perisai Dewa Tak Tertembus   Bab 17

    Lucas nggak nyangka kalau Rainy bakal ingat detail kayak gitu. Sekarang mau ngeles juga percuma, jadi dia cuma bisa menunduk dan ngaku:"Baiklah, aku akui. Aku tadi nggak sengaja, cuma iseng masukin password karena penasaran. Eh, malah nyambung ke saluran itu. Tapi aku nggak nonton kok. Begitu lihat isinya, langsung aku matiin TV-nya...""Oh, gitu ya?" Rainy jelas nggak percaya. Dia menatap Lucas dengan penuh curiga."Beneran, aku serius..." Lucas memasang wajah memelas. Toh, yang dia bilang itu memang mendekati kebenaran."Huh!" Rainy mendengus. Dia malas memperpanjang urusan ini, jadi langsung ambil remote TV box di meja dan siap ganti saluran. Tapi, matanya tiba-tiba terpaku pada selembar tisu bekas di atas meja.Tisu itu terlipat asal-asalan, dan di bagian luarnya kelihatan ada cairan bening yang menempel."Itu apa?" Wajah Rainy mendadak berubah hijau, dan suaranya mulai bergetar. "Dasar, Lucas! Kamu nggak cuma nonton hal ngg

  • Perisai Dewa Tak Tertembus   Bab 16

    Di layar TV, muncul sosok seorang artis yang cukup terkenal. Lucas sempat pernah lihat sebelumnya, tapi namanya nggak terlalu diingat. Yang bikin Lucas nggak nyangka, ternyata password channel itu memang cuma pakai kode default!Padahal tadi dia udah sok pintar nyobain berbagai kombinasi angka.Ini juga pertama kalinya Lucas nonton film romantis di layar segede ini. Biasanya dia cuma nonton di layar 10 inci laptop KW-nya. Layarnya kecil, gambarnya buram, beda jauh dengan sekarang yang HD dan serba jelas.Lucas jadi semangat. Jantungnya berdegup kencang, bahkan dia hampir berdiri mendekat ke layar buat nonton lebih jelas. Tapi belum lama menikmati, dia mendengar suara dari lantai dua."Ah... ngantuk banget... dasar Melly nyebelin, semalaman bikin aku begadang. Eh, sekarang dia malah tidur, aku jadi nggak bisa tidur..."Suara Rainy yang sedikit menggerutu terdengar, diiringi langkahnya turun pakai sandal.Dengan pendengaran yang ta

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status