LOGINSeorang ahli luar biasa dari desa, dengan sebuah giok misterius yang bisa meramal masa depan... Lucas memiliki tugas lain yang lebih berat, yaitu mengawal siswi sekolah yang cantik! Bahkan, itu adalah perintah dari ayah sang gadis itu! Meskipun Lucas tidak ingin berurusan dengan si gadis yang sangat sulit diatur ini, tetapi perintah dari orang tua sulit untuk ditolak, menjadi pengawal pribadi sang nona besar... Inilah dia, pengawal paling hebat, MAS TAMENG!
View More"Ini bayaranmu buat misi di Afrika Utara."
Pak Untung mengeluarkan dua lembar uang seratus ribuan yang sudah lecek dari sepotong kain tua yang dilipat rapi. Dia menyerahkannya dengan hati-hati ke Lucas, yang sejak tadi sudah menatapnya dengan mata penuh harap. Lucas benar-benar nggak ngerti. Dia sudah mempertaruhkan nyawa di misi-misi yang super berbahaya, melawan musuh-musuh yang kuat, dan kliennya pasti dapat untung besar dari hasil kerja dia. Tapi kenapa bayaran yang dia dapat selalu mengecewakan? Kakek Untung ini dapat misi dari mana sih? Setiap kali Lucas menjalani misi, selalu hidup dan mati di ujung tanduk, tapi begitu selesai, bayaran yang diterima cuma lima puluh ribu, seratus ribu. Kadang malah cuma dua ribu, tiga ribu! Setiap kali ingat ini, Lucas rasanya pengin nangis. Sambil memandangi uang dua ratus ribu yang dia dapat dengan taruhan nyawa, hal pertama yang terlintas di pikirannya adalah: " Sialan!" Meskipun, ya, dia sih sebenarnya nggak punya ibu untuk dimaki begitu. Dia yatim piatu dari kecil. Lucas sudah belajar bela diri sama Kakek Untung sejak dia dipungut 15 tahun lalu. Belajar ilmu, belajar pengetahuan luar, semua dia lahap. Kalau hidup di zaman kerajaan, mungkin dia udah jadi juara di dua bidang: sastra dan bela diri! Tapi kenyataannya? Dia cuma jadi tukang suruh yang terus dimanfaatkan. Sampai kapan hidup kayak gini? Dengar-dengar, kerja bangun rumah di kota setahun bisa dapat puluhan juta. Lah, dia tiap hari nyaris mati, setahun cuma dapat sejuta-dua juta! "Kek, serius cuma dua ratus ribu? Saya curiga nih, jangan-jangan kakek potong bayaran saya?" Lucas sudah lama curiga soal ini. Tapi setiap kali dia lihat gaya hidup kakek Untung, yang makan dan pakaiannya sama sederhana dengan dia, rasanya nggak mungkin juga dia menyembunyikan uang. "Masih untung kamu dapat uang! Kirain nyari duit itu gampang?" Kakek Untung memutar bola matanya sambil berkata ketus, "Nggak mau? Kalau nggak, balikin ke saya aja. Udah lama saya nggak makan enak di warungnya janda Wati di ujung kampung!" Lucas rasanya pengin tonjok si kakek kurus di depannya, tapi dia tahu hasil akhirnya pasti dia yang babak belur. Seberapa hebat ilmu bela diri kakek Untung? Lucas pun nggak tahu. Yang pasti, setiap kali latihan, kakek Untung nggak pernah serius meladeninya. Tiap Lucas merasa sudah naik level, dia baru sadar kakek Untung juga ikut naik level. Dan hasilnya, dia tetap kalah telak. "Sudah, sudah. Kamu kan udah cukup terlatih selama ini. Saatnya buat urusan besar itu." Kakek Untung duduk bersila di atas dipan, nggak peduli sama Lucas. Sambil ngemil kacang rebus di depannya, dia berkata, "Misi ini kalau berhasil, kamu nggak perlu pusing cari makan seumur hidup!" "Serius?" Lucas tahu, sejak dia dipungut dari tempat sampah saat umur tiga tahun, dia sudah dilatih buat misi besar ini. Belajar bela diri, belajar obat-obatan, belajar ilmu pengetahuan, semua untuk tujuan itu. Tapi dia ragu, benar nggak sih bayarannya sampai bisa bikin hidup nyaman seumur hidup? "Kapan saya pernah bohong sama kamu?" Kakek Untung melempar satu kacang lagi ke mulutnya. "Mau terima nggak? Kalau nggak, saya kasih ke orang lain." "Mau, mau! Saya terima!" Lucas membatin, masa ada kerjaan seenak itu, orang bodoh aja yang nolak! Satu misi buat hidup nyaman seumur hidup? Apapun rintangannya, dia rela terjun! "Bagus, kalau gitu kamu berangkat ke Kota Valeria. Cari keluarga Dexen, terus temui orang bernama Surya Dexen. Dia yang bakal kasih tahu langkah selanjutnya." Kakek Untung tersenyum kecil, nyaris nggak kelihatan, lalu melanjutkan, "Tapi ingat, sekali kamu ambil misi ini, kamu nggak boleh mundur. Nggak ada istilah keluar di tengah jalan." "Kenapa? Kalau bahaya masa nggak boleh kabur?" Lucas bukan orang bodoh. Kalau tahu bakal mati, ya mending kabur! "Lucas, saya udah pelihara kamu 15 tahun. Kasih kamu makan, kasih kamu minum, beliin laptop, kasih modem internet..." Kakek Untung mulai nyerocos sambil memutar bola matanya. "Suruh kerja sedikit aja banyak alasan. Jangan bikin saya marah!" "Dasar!" Lucas langsung kesal, "Tiga tahun pertama memang kakek pelihara saya. Tapi umur enam tahun ke atas, saya yang masak, cari kayu bakar, bikin sandal dari anyaman buat cari duit buat kita makan! Jadi jangan marah-marahin saya, dong!" "Kamu tengah malam ngapain buka laptop, jangan kira saya nggak tahu!" Kakek Untung melotot tajam. "Ini kamu yang memaksa saya ngomong! Bahkan kamu sampai..." "Oke, oke! Saya terima! Saya nggak bakal kabur. Beres?" Lucas langsung menunduk malu. Dia nggak nyangka hal yang dia lakukan diam-diam tengah malam pun diketahui kakek Untung. Duh, malu banget! Kalau dibiarkan, siapa tahu kakek Untung bakal ngomongin hal-hal yang bikin muka Lucas tambah panas. Akhirnya, di bawah ancaman sekaligus rayuan kakek Untung, Lucas mengemasi ranselnya dan naik kereta menuju utara, menuju Kota Valeria, sebuah kota besar yang super modern dan internasional. Di atas kereta, Lucas cukup semangat dengan tugas kali ini. Siapa sih yang nggak mau misi yang bisa bikin pensiun dini? Itu kan impian semua orang! Walaupun dari nada bicara kakek Untung, dia bisa merasakan kalau tugas ini nggak bakal gampang. Tapi ya, yang susah itu kan justru seru, kan? "Klik." Pria berwajah bopeng di depan Lucas membuka sekaleng soda, lalu dengan santainya melempar cincin kalengnya ke atas meja. Seorang pria berambut cepak di sebelahnya pura-pura nggak peduli, tapi diam-diam mengambil cincin itu dan mulai memainkannya. Setelah beberapa saat, dia tiba-tiba berteriak: "Wow! Wow! Wow! Hadiah utama!" Meski suara si cepak nggak terlalu keras di tengah riuhnya gerbong kereta, orang-orang di sekitar tetap mendengar dan langsung menoleh ke arahnya. Si pria bopeng juga nggak ketinggalan. Begitu dia melihat cincin kaleng di tangan si cepak, wajahnya langsung berubah agak nggak nyaman. "Balikin, itu punyaku..." "Apa punyamu? Ada nama kamu di situ?" Si cepak langsung menarik tangannya kembali, menggenggam erat cincin kaleng itu, dan menatap si bopeng dengan mata tajam. " Nama kamu 'Hadiah Utama' gitu?" "Bukan... bukan gitu. Maksudku, cincin hadiah utama itu aku yang buang tadi..." Si bopeng kelihatan mulai ciut nyalinya. Dia takut sama muka galak si cepak, tapi juga nggak mau kehilangan hadiahnya. Dia hanya bisa menatap cincin itu dengan penuh harap. "Kamu sendiri yang bilang buang, ya udah, siapa yang nemu berarti punya dia." Si cepak mendengus sinis. "Eh, kok kamu bisa gitu sih?" Si bopeng jadi panik. Dia lalu menoleh ke pria berkacamata yang duduk di sebelah kiri Lucas, meminta bantuan, "Mas, kelihatannya Mas ini orang terpelajar, tolong dong kasih pendapat. Ini kan nggak adil!" "Siapa yang nggak adil?!" Si cepak juga nggak mau kalah, dia ikut menoleh ke pria berkacamata itu. "Mas, tolong dong kasih pendapat, cincin ini harusnya punya siapa?" "Hmm..." Pria berkacamata itu mendorong kacamatanya ke atas, lalu menjawab sambil berpikir, "Saya ini dosen universitas. Karena kalian berdua percaya sama saya, baiklah, saya akan kasih pendapat." "Silakan, Mas! Silakan!" Si bopeng dan si cepak mengangguk-angguk penuh harap. "Secara logika, cincin ini kan dilepas dari kaleng minuman oleh si Mas yang wajahnya berkarakter ini, jadi harusnya itu miliknya..." Begitu pria berkacamata selesai bicara, si bopeng langsung tersenyum puas, sementara si cepak langsung cemberut, bersiap untuk protes. Tapi sebelum si cepak sempat ngomong, pria berkacamata itu melanjutkan: "Tapi ya, karena cincin itu sudah dibuang dan ditemukan oleh Mas yang satu ini, maka cincin itu jadi milik dia." "Loh, tapi tadi Mas bilang itu punya saya..." Si bopeng langsung mengeluh dengan wajah memelas. "Begini saja, biar adil, kalian berdua bagi rata hadiah ini. Sama-sama untung, kan?" Pria berkacamata itu menyarankan. "Bagi dua ya?" Si cepak terdiam sebentar, tapi akhirnya mengangguk. "Oke, bagi dua aja." Mungkin dia juga sadar kalau posisinya nggak terlalu kuat, jadi mau nggak mau dia setuju. Si bopeng, yang melihat cincin itu ada di tangan si cepak, juga memilih setuju. Kalau dia nggak mau, bisa-bisa dia nggak dapat apa-apa. Jadi dia pun mengangguk. "Oke, kalau kalian berdua setuju, ya udah bagi" Pria berkacamata itu mengambil kaleng minuman dari tangan si bopeng dan memeriksa tulisannya. "Di sini tertulis, hadiah utama adalah sepuluh juta rupiah. Setelah dipotong pajak dua puluh persen, sisanya delapan juta. Karena klaim hadiah ini agak ribet, siapa yang pergi ambil hadiahnya, kasih tiga juta ke yang lain. Gimana? Setuju?" "Setuju!" Si bopeng langsung mengangguk. Daripada nggak dapat apa-apa, mending dapat tiga juta. " Kamu kasih saya tiga juta, terus kamu aja yang ambil hadiahnya."Lucas tidak mengharapkan gadis itu berterima kasih padanya, tapi sepertinya gadis itu tidak berniat melepaskannya begitu saja! Saat Lucas fokus merebus obat dan tidak menoleh ke arah gadis itu, tiba-tiba ada aura membunuh yang menyerangnya dari belakang! Liontin gioknya juga bergerak sedikit, memberikan sinyal bahaya.Lucas mengerutkan kening, namun di saat-saat penting dalam merebus obat ini, dia tidak ingin terganggu. "Jangan ganggu!" katanya.Saat itu, hati Tujuh sangat dilema! Meskipun dia pingsan di jalan setelah keluar dari toko obat karena kehilangan banyak darah, ketika Lucas menarik celananya, lukanya terasa sakit, membuat Tujuh sedikit sadar dan pikirannya menjadi lebih jernih. Namun, karena tubuhnya terlalu lemah, bahkan untuk membuka mata pun dia tidak punya tenaga, jadi dia pingsan lagi. Kemudian, saat Lucas merawat lukanya dan menaburkan obat, Tujuh terbangun karena rasa sakit, lalu segera pingsan lagi. Jadi, dia masih memiliki gambaran umum tentang apa yang te
Kalau sudah jelas kalah, tetap memaksa bertarung bukanlah gaya pembunuh, itu kerjaan anggota tim bunuh diri!Dengan langkah terseok-seok, Tujuh akhirnya sampai di lantai satu dan mendekati meja pemilik penginapan."Bu, tadi orang yang pesan kamar 209 ini, yang nganterin aku masuk, namanya siapa?"Tadi Tujuh memang tidak sempat menanyakan nama Lucas langsung. Dia tahu kalau pun bertanya, Lucas pasti tidak mau jawab. Pria itu jelas tidak melihatnya lebih dari sekadar orang lewat. Lagipula, dia sendiri sudah mencoba membunuh Lucas. Mana mungkin Lucas mau memperumit masalah dengan memberinya informasi.Tapi Tujuh bukan orang bodoh. Dia tahu aturan di hotel selalu meminta tamu melakukan registrasi. Saat itu dia dalam keadaan pingsan dan tidak membawa identitas apa pun, jadi Lucas yang pasti mendaftarkan namanya."Oh?" Pemilik hotel sedikit terkejut, tapi begitu melihat penampilan Tujuh, dia langsung mengenalinya sebagai wanita yang sebelumnya digendong pria yang terbu
Sebelumnya, saat Lucas berjalan ke daerah ini, dia sempat melihat sebuah penginapan kecil di pinggir jalan. Namun, dari luar kelihatan sangat sederhana, jadi tadi dia tidak terpikir untuk masuk.Tapi sekarang situasinya mendesak, Lucas tidak punya pilihan lain. Ada tempat untuk berhenti saja sudah lebih dari cukup."Nona, aku mau sewa kamar!" Lucas masuk ke dalam penginapan sambil menggendong gadis berbaju hitam di punggungnya. Dia langsung berbicara kepada pemilik penginapan yang sedang duduk di meja resepsionis.Pemilik penginapan, seorang ibu-ibu, sedang menonton TV dengan wajah bosan. Begitu melihat Lucas masuk sambil menggendong seorang gadis, dan langsung bilang mau sewa kamar, dia pun menyeringai kecil, memberikan tatapan yang penuh makna.Penginapan ini memang kelas bawah, dan tujuan utamanya biasanya untuk para pasangan muda yang ingin tempat murah untuk sekadar berduaan. Pemiliknya sudah terbiasa melihat anak muda datang untuk menyewa kamar, tapi jarang dia
Melihat kondisi yang ada, Lucas menyadari bahwa kemungkinan besar celana ketat gadis itu telah menempel pada luka. Jika langsung dicopot, luka tersebut bisa semakin parah dan mengakibatkan pendarahan yang lebih hebat.Lucas mengerutkan kening. Di kamar ini tidak ada alat medis darurat sama sekali. Saat tadi mencopot celana kulit gadis itu, dia sempat menyentuh sesuatu yang keras. Dengan perasaan, dia yakin itu adalah sebilah belati. Karena tidak ada alat lain, Lucas terpaksa memanfaatkan belati tersebut.Dia mengambil celana kulit yang tergeletak di lantai, lalu menarik keluar belatinya. Setelah mencoba mengayunkan belati di udara untuk merasakan keseimbangannya, Lucas mulai menggunakannya untuk memotong celana ketat gadis itu.Soal menggunakan pisau, Lucas adalah ahlinya. Sejak usia enam tahun, dia sudah berlatih menggunakan senjata tajam jarak dekat seperti belati bersama gurunya. Ini adalah salah satu senjata yang paling sering dia gunakan dalam pertempuran jarak deka
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.