Mag-log inDi dalam parkiran, terlihat banyak mobil mewah berjajar, mulai dari Mercedes-Benz, BMW, hingga mobil keluarga kelas atas.
Sebagian besar terlihat seperti mobil pribadi, dihiasi dengan berbagai ornamen keren. Dari situ, bisa ditebak bahwa karyawan di Perusahaan Dexen memiliki pendapatan yang cukup tinggi. Melihat itu, Lucas berpikir, gajinya yang Lima puluh juta mungkin tidak terlalu besar dibandingkan mereka. Di bawah panduan Pelix, Lucas berjalan menuju sebuah Bentley biru tua. Mobil itu terlihat sangat terawat, entah baru dibeli atau memang sering diperhatikan, tampilannya benar-benar seperti baru. "Pak Lucas, silakan naik," kata Pelix sambil membuka pintu kursi penumpang depan, memberi isyarat untuk naik. "Aku duduk di kursi depan? Lalu nanti, nona besar duduk di mana?" tanya Lucas ragu-ragu. "Nona biasanya selalu duduk di belakang," jawab Pelix santai. "Dia membawa tas sekolah, jadi lebih nyaman di belakang." Lucas mengangguk dan masuk ke dalam mobil. Pelix kemudian mulai menyetir, perlahan keluar dari parkiran bawah tanah. Saat melewati pos penjaga, beberapa petugas keamanan langsung berdiri tegak, memasang ekspresi serius sambil mengawasi mobil keluar. Pelix mengemudi dengan sangat terampil, tetapi terlihat jelas gayanya lebih formal dan teratur, berbeda dengan cara Lucas mengemudi. Lucas sendiri lebih condong ke gaya balapan.Mau bagaimana lagi, kata-kata bijak kakeknya selalu berbunyi, "Kalah dalam bertarung itu bukan salahmu, tapi kalau kalah dan tidak bisa kabur, itu salahmu sendiri." Karena itulah, Lucas mempelajari banyak teknik melarikan diri. Meskipun teknik itu sebagian besar hanya dipakai untuk menghindari kakeknya sendiri, saat berhadapan dengan orang lain, biasanya justru orang lain yang harus lari. "Pak Lucas, kamu bisa mengemudi?" tanya Pelix ketika mereka berhenti di lampu merah. Dia melirik Lucas yang duduk tenang di sebelahnya. Sebagai sopir berpengalaman, Pelix biasanya bisa menilai apakah seseorang bisa mengemudi atau tidak hanya dari gerak-geriknya. Tapi Lucas tidak menunjukkan tanda-tanda apa pun, sehingga Pelix memutuskan untuk bertanya langsung. "Bisa sedikit," jawab Lucas sambil berpikir, sebagai pendatang baru, sebaiknya dia merendah dulu. "Punya SIM?" tanya Pelix lagi, tanpa mempermasalahkan seberapa "sedikit" kemampuan Lucas. Dia tahu bahwa bosnya sudah percaya penuh pada pemuda ini. "Belum," jawab Lucas sambil menggeleng. Meski sudah pernah balapan di luar negeri, dia memang belum punya SIM. "Aku baru saja berusia 18 tahun, belum sempat mengurusnya." "Kalau begitu, kasihkan saya KTPmu nanti. Biar saya bantu uruskan SIM. Jadi, kalau Pak Dexen atau saya sedang sibuk, kamu bisa mengantar nona ke sekolah," kata Pelix. Mobil berhenti di dekat sebuah sekolah yang terlihat sangat megah, tetapi mereka tidak masuk lebih dekat. Mungkin karena mobil Bentley terlalu mencolok, bisa memberi kesan kurang baik jika dilihat siswa lain. Lucas sudah membaca di dokumen bahwa SMA Valeria ini, meski merupakan sekolah swasta, bukanlah sekolah elit seperti yang dibayangkan. Sekolah ini adalah sekolah unggulan tingkat provinsi, yang menerima siswa melalui ujian masuk dari seluruh provinsi. Meski ada beberapa anak dari keluarga kaya dan pejabat yang masuk lewat jalur hubungan, sebagian besar siswanya berhasil masuk karena kemampuan mereka sendiri. Berkat dukungan dari tiga perusahaan besar, SMA Pertama Valeria memiliki fasilitas dan tenaga pengajar yang jauh lebih baik dibandingkan sekolah lain. Tidak heran, selama beberapa tahun terakhir, tingkat kelulusan mereka selalu 100 persen. Sebenarnya, Lucas juga paham, angka kelulusan 100 persen itu pasti ada "bumbu"-nya. Anak-anak dari keluarga kaya yang malas belajar pun akhirnya tetap bisa masuk universitas, semua itu berkat pengaruh keluarganya. Bel berbunyi tanda jam pelajaran usai, suara yang membuat Lucas sempat tertegun. Sudah berapa tahun sejak terakhir kali dia mendengar suara ini? Namun, rasa itu hanya sebentar. Dengan cepat, Lucas kembali normal, matanya tenang memandang lapangan sekolah. Tak lama kemudian, para siswa mulai keluar satu per satu dari gedung sekolah. Ada yang mengenakan seragam, ada juga yang memakai pakaian biasa. Memang, kalau tidak ada acara resmi, sekolah ini tidak terlalu ketat soal pakaian. "Itu nona besar," ucap Pelix sambil menunjuk ke arah sekelompok siswa laki-laki dan perempuan yang berjalan keluar. Lucas mengikuti arah tunjukan Pelix. Di tengah kelompok itu, terlihat seorang gadis yang tinggi dan sangat cantik. Meski ada beberapa gadis lain di sekitarnya, Lucas hanya butuh sekali lihat untuk memastikan, ini pasti si nona besar. Bukankah Surya Dexen sudah bilang, Melly Dexen adalah bunga sekolah? Sebagai bunga sekolah, tentu saja dia yang paling menarik perhatian. Kecuali kalau selera Lucas benar-benar berbeda. Meskipun gadis di sebelah Melly juga cantik, tubuhnya lebih mungil dan jelas tidak sesuai dengan informasi tinggi badan di dokumen. Namun, gadis itu juga punya potensi besar, mungkin suatu hari nanti bisa menjadi bunga sekolah juga. Melly dan temannya berjalan cepat ke arah mobil, tapi di belakang mereka ada beberapa cowok yang terus mengejar-ngejar. "Melly, tunggu sebentar!" salah satu cowok yang tampak seperti anak orang kaya menghadang Melly di depan. "Melly, aku serius sama kamu. Berikan aku satu kesempatan saja!" Melly mengernyitkan dahi, terlihat kesal sambil menatap cowok itu. "Ryan, kamu nggak capek apa ya? Aku sudah bilang aku nggak suka sama kamu. Bisa nggak berhenti ganggu aku?" "Tapi..." Ryan masih mencoba berbicara, tapi Melly langsung mendorongnya ke samping tanpa ampun. Melly berjalan cepat ke arah mobil, membuka pintu, dan langsung masuk. Gadis yang bersamanya juga ikut naik ke dalam mobil, membuat Lucas sedikit terkejut. "Ryan itu benar-benar bikin pusing! Tiap hari ngikutin aku terus. Dia nggak capek, apa gimana sih?" Melly mengeluh sambil menyandarkan tubuhnya ke kursi. Tapi saat matanya melihat Lucas yang duduk di kursi depan, dia langsung bertanya dengan nada penasaran, "Kamu siapa?" "Halo, aku Lucas," jawab Lucas sambil mencoba terlihat ramah. Dalam hati, dia sudah menebak kalau nona ini temperamental. "Lucas? Paman Pelix, dia ini siapa?" tanya Melly sambil menatap Lucas dengan bingung. "Nona Melly, ini Lucas, orang yang diminta oleh Tuan Dexen untuk menjadi pendamping Anda," jelas Pelix dengan sopan. "Pendamping? Siapa yang minta pendamping? Aku kan bilang minta cari tameng buat nolak cowok-cowok itu. Tapi lihat dia ini, apa dia bisa nolak siapa pun?" Melly langsung kesal sambil menilai Lucas dari atas sampai bawah. Pakaian Lucas benar-benar acak-acakan. Dia memakai kaus tanpa lengan dan celana jeans robek, tampak seperti buruh desa yang baru pertama kali ke kota. Bahkan, mungkin buruh desa pun tidak seberantakan ini. Apa dia baru pulang dari Afrika? Pelix hanya bisa mengelap keringat di dahinya, merasa serba salah. Dia melirik Lucas, dan ketika melihat Lucas tetap tenang, Pelix akhirnya merasa lega. Sebagai orang kepercayaan Surya Dexen, Pelix tahu seberapa sulitnya membawa Lucas ke sini. Bahkan, sampai sang kakek dari keluarga Dexen pun harus turun tangan.Begitu dengar ucapan Lucas, Pak Wadi langsung kaget. Anak ini pasti tahu sesuatu!Kalau Lucas cuma pasang muka bingung, Pak Wadi mungkin masih bisa tenang. Tapi ucapan Lucas yang kedengarannya santai itu justru bikin dia makin yakin kalau anak ini udah nangkep sesuatu. Meski begitu, untungnya Lucas kayaknya nggak mau ikut campur urusan dia, jadi Pak Wadi sedikit lega.Kalau sampai hal ini bocor ke kepala sekolah atau pihak dewan direksi, jabatan kepala tata usahanya bisa tamat."Hehe..."Pak Wadi tertawa canggung, lalu berkata, "Lucas, kalau nanti kamu ada masalah di sekolah, langsung aja cari saya, ya! Sekalian nanti kamu catat nomor HP saya.""Wah, terima kasih banyak, Pak Wadi!"Lucas langsung pura-pura kelihatan sopan dan penuh hormat.Dia sadar posisinya di sekolah ini cukup spesial. Tujuan utama dia ke sini sebenarnya buat jaga Melly. Jadi kemungkinan bakal ada aja hal-hal yang bikin masalah. Daripada setiap kali ada apa-apa harus repot-repot lapor
Lagian, dengan status kayak Melly, nilai bagus atau jelek sebenarnya nggak terlalu ngaruh. Dia pasti bisa masuk universitas, bahkan kalau nggak lolos sekalipun, ayahnya cukup punya koneksi buat bikin dia diterima di kampus elit mana aja."Kamu juga sadar, ya?"Paman Pelix nggak nyangka Lucas bisa cepat mikirin hal ini, jadi sedikit terkejut."Jadi benar?" Lucas mengernyit penasaran."Sebenernya saya juga nggak tahu maksud Tuan Dexen apa."Paman Pelix menghela napas panjang," Walaupun saya dekat dengan beliau, ada beberapa hal yang cuma dia sendiri yang paham.”Mendengar penjelasan Paman Pelix yang nggak membantu sama sekali, Lucas cuma bisa memutar matanya kesal. "Tapi Tuan Dexen sempat bilang ke saya, suruh sampaikan ke kamu supaya fokus jagain nona muda. Nggak usah banyak mikir yang aneh-aneh," lanjut Paman Pelix sambil mengulangi pesan Surya Dexen, "Kalau bisa, kasih dia perhatian lebih. Anak ini dari kecil kekurangan kasih sayang..."Lucas c
"Oh..." Lucas cuma bisa mengangguk, ngerti maksud Rainy. Tapi dalam hati dia sedikit nyesel, kalau tahu begini, tadi dia bakal masak lebih banyak! "Kamu ngapain masih berdiri di sini? Nggak lihat aku lagi makan? Aku jadi nggak nyaman!" Melly ngomel tanpa sadar apa yang lagi terjadi antara Lucas dan Rainy. Lucas nggak mau ribut sama Melly, dia cuma berbalik badan dan pergi ke kamarnya. Nggak ada gunanya melawan si ratu drama ini. Lagi pula, dibanding Melly yang bossy, Rainy yang sedikit jahil rasanya masih lebih gampang dihadapi. Di kamarnya, Lucas mulai beresin tas sekolah. Walaupun pelajaran SMA dia udah selesai belajar sendiri, tetap aja dia harus kelihatan serius di hari pertama sekolah biar nggak mencurigakan. Sementara itu, Melly lagi asyik menikmati mi di meja. Setelah mangkuknya kosong sampai tetes terakhir, dia masih merasa kurang. "Rainy, ini enak banget. Masih ada lagi nggak?" tanyanya sambil menjilat kuah di sumpitnya.
Setelah selesai dengan mi-nya, Lucas lanjut bikin kuah kaldu.Dia nggak repot-repot bikin kaldu dari nol kayak di restoran, karena pas lihat di lemari dapur, dia nemu kaldu instan. Benda ini pertama kali dia lihat, tapi kelihatannya menarik. Pas dimasukin ke panci, aroma gurih langsung menyebar ke seluruh dapur. Lucas mulai tumis sayuran pakai kaldu itu, tambah bumbu, lalu diisi air. Nggak butuh waktu lama, kuah mi pun jadi. Di sisi lain, dia udah masak mi tarik yang tadi dibuat, direndam sebentar di air mendidih, diangkat, dan ditaruh di dua mangkuk. Terakhir, dia tuang kuahnya di atas mi. Dua mangkuk mi panas yang menggoda aroma kini siap disantap. Meskipun nggak persis sama kayak resep otentik, rasanya pasti beda level dibandingkan makanan instan biasa. Di rumah, kakeknya bahkan selalu bilang mi buatan Lucas lebih enak daripada restoran. Sisa mi yang masih ada di panci cukup buat satu porsi lagi. Lucas perkirakan Rainy cuma bakal makan satu mangkuk, jadi sisanya bisa dia habiska
Lucas nggak nyangka kalau Rainy bakal ingat detail kayak gitu. Sekarang mau ngeles juga percuma, jadi dia cuma bisa menunduk dan ngaku:"Baiklah, aku akui. Aku tadi nggak sengaja, cuma iseng masukin password karena penasaran. Eh, malah nyambung ke saluran itu. Tapi aku nggak nonton kok. Begitu lihat isinya, langsung aku matiin TV-nya...""Oh, gitu ya?" Rainy jelas nggak percaya. Dia menatap Lucas dengan penuh curiga."Beneran, aku serius..." Lucas memasang wajah memelas. Toh, yang dia bilang itu memang mendekati kebenaran."Huh!" Rainy mendengus. Dia malas memperpanjang urusan ini, jadi langsung ambil remote TV box di meja dan siap ganti saluran. Tapi, matanya tiba-tiba terpaku pada selembar tisu bekas di atas meja.Tisu itu terlipat asal-asalan, dan di bagian luarnya kelihatan ada cairan bening yang menempel."Itu apa?" Wajah Rainy mendadak berubah hijau, dan suaranya mulai bergetar. "Dasar, Lucas! Kamu nggak cuma nonton hal ngg
Di layar TV, muncul sosok seorang artis yang cukup terkenal. Lucas sempat pernah lihat sebelumnya, tapi namanya nggak terlalu diingat. Yang bikin Lucas nggak nyangka, ternyata password channel itu memang cuma pakai kode default!Padahal tadi dia udah sok pintar nyobain berbagai kombinasi angka.Ini juga pertama kalinya Lucas nonton film romantis di layar segede ini. Biasanya dia cuma nonton di layar 10 inci laptop KW-nya. Layarnya kecil, gambarnya buram, beda jauh dengan sekarang yang HD dan serba jelas.Lucas jadi semangat. Jantungnya berdegup kencang, bahkan dia hampir berdiri mendekat ke layar buat nonton lebih jelas. Tapi belum lama menikmati, dia mendengar suara dari lantai dua."Ah... ngantuk banget... dasar Melly nyebelin, semalaman bikin aku begadang. Eh, sekarang dia malah tidur, aku jadi nggak bisa tidur..."Suara Rainy yang sedikit menggerutu terdengar, diiringi langkahnya turun pakai sandal.Dengan pendengaran yang ta







