Share

Bab 6

Author: Wardana
last update publish date: 2025-10-09 19:00:29

Di dalam parkiran, terlihat banyak mobil mewah berjajar, mulai dari Mercedes-Benz, BMW, hingga mobil keluarga kelas atas.

Sebagian besar terlihat seperti mobil pribadi, dihiasi dengan berbagai ornamen keren. Dari situ, bisa ditebak bahwa karyawan di Perusahaan Dexen memiliki pendapatan yang cukup tinggi.

Melihat itu, Lucas berpikir, gajinya yang Lima puluh juta mungkin tidak terlalu besar dibandingkan mereka.

Di bawah panduan Pelix, Lucas berjalan menuju sebuah Bentley biru tua. Mobil itu terlihat sangat terawat, entah baru dibeli atau memang sering diperhatikan, tampilannya benar-benar seperti baru.

"Pak Lucas, silakan naik," kata Pelix sambil membuka pintu kursi penumpang depan, memberi isyarat untuk naik.

"Aku duduk di kursi depan? Lalu nanti, nona besar duduk di mana?" tanya Lucas ragu-ragu.

"Nona biasanya selalu duduk di belakang," jawab Pelix santai. "Dia membawa tas sekolah, jadi lebih nyaman di belakang."

Lucas mengangguk dan masuk ke dalam mobil. Pelix kemudian mulai menyetir, perlahan keluar dari parkiran bawah tanah.

Saat melewati pos penjaga, beberapa petugas keamanan langsung berdiri tegak, memasang ekspresi serius sambil mengawasi mobil keluar.

Pelix mengemudi dengan sangat terampil, tetapi terlihat jelas gayanya lebih formal dan teratur, berbeda dengan cara Lucas mengemudi.

Lucas sendiri lebih condong ke gaya balapan.Mau bagaimana lagi, kata-kata bijak kakeknya selalu berbunyi, "Kalah dalam bertarung itu bukan salahmu, tapi kalau kalah dan tidak bisa kabur, itu salahmu sendiri."

Karena itulah, Lucas mempelajari banyak teknik melarikan diri. Meskipun teknik itu sebagian besar hanya dipakai untuk menghindari kakeknya sendiri, saat berhadapan dengan orang lain, biasanya justru orang lain yang harus lari.

"Pak Lucas, kamu bisa mengemudi?" tanya

Pelix ketika mereka berhenti di lampu merah. Dia melirik Lucas yang duduk tenang di sebelahnya.

Sebagai sopir berpengalaman, Pelix biasanya bisa menilai apakah seseorang bisa mengemudi atau tidak hanya dari gerak-geriknya. Tapi Lucas tidak menunjukkan tanda-tanda apa pun, sehingga Pelix memutuskan untuk bertanya langsung.

"Bisa sedikit," jawab Lucas sambil berpikir, sebagai pendatang baru, sebaiknya dia merendah dulu.

"Punya SIM?" tanya Pelix lagi, tanpa mempermasalahkan seberapa "sedikit" kemampuan Lucas. Dia tahu bahwa bosnya sudah percaya penuh pada pemuda ini.

"Belum," jawab Lucas sambil menggeleng.

Meski sudah pernah balapan di luar negeri, dia memang belum punya SIM. "Aku baru saja berusia 18 tahun, belum sempat mengurusnya."

"Kalau begitu, kasihkan saya KTPmu nanti. Biar saya bantu uruskan SIM. Jadi, kalau Pak Dexen atau saya sedang sibuk, kamu bisa mengantar nona ke sekolah," kata Pelix.

Mobil berhenti di dekat sebuah sekolah yang terlihat sangat megah, tetapi mereka tidak masuk lebih dekat. Mungkin karena mobil Bentley terlalu mencolok, bisa memberi kesan kurang baik jika dilihat siswa lain.

Lucas sudah membaca di dokumen bahwa SMA Valeria ini, meski merupakan sekolah swasta, bukanlah sekolah elit seperti yang dibayangkan.

Sekolah ini adalah sekolah unggulan tingkat provinsi, yang menerima siswa melalui ujian masuk dari seluruh provinsi.

Meski ada beberapa anak dari keluarga kaya dan pejabat yang masuk lewat jalur hubungan, sebagian besar siswanya berhasil masuk karena kemampuan mereka sendiri.

Berkat dukungan dari tiga perusahaan besar, SMA Pertama Valeria memiliki fasilitas dan tenaga pengajar yang jauh lebih baik dibandingkan sekolah lain. Tidak heran, selama beberapa tahun terakhir, tingkat kelulusan mereka selalu 100 persen.

Sebenarnya, Lucas juga paham, angka kelulusan 100 persen itu pasti ada "bumbu"-nya.

Anak-anak dari keluarga kaya yang malas belajar pun akhirnya tetap bisa masuk universitas, semua itu berkat pengaruh keluarganya.

Bel berbunyi tanda jam pelajaran usai, suara yang membuat Lucas sempat tertegun. Sudah berapa tahun sejak terakhir kali dia mendengar suara ini?

Namun, rasa itu hanya sebentar. Dengan cepat, Lucas kembali normal, matanya tenang memandang lapangan sekolah.

Tak lama kemudian, para siswa mulai keluar satu per satu dari gedung sekolah. Ada yang mengenakan seragam, ada juga yang memakai pakaian biasa. Memang, kalau tidak ada acara resmi, sekolah ini tidak terlalu ketat soal pakaian.

"Itu nona besar," ucap Pelix sambil menunjuk ke arah sekelompok siswa laki-laki dan perempuan yang berjalan keluar.

Lucas mengikuti arah tunjukan Pelix. Di tengah kelompok itu, terlihat seorang gadis yang tinggi dan sangat cantik. Meski ada beberapa gadis lain di sekitarnya, Lucas hanya butuh sekali lihat untuk memastikan, ini pasti si nona besar.

Bukankah Surya Dexen sudah bilang, Melly Dexen adalah bunga sekolah?

Sebagai bunga sekolah, tentu saja dia yang paling menarik perhatian. Kecuali kalau selera Lucas benar-benar berbeda.

Meskipun gadis di sebelah Melly juga cantik, tubuhnya lebih mungil dan jelas tidak sesuai dengan informasi tinggi badan di dokumen.

Namun, gadis itu juga punya potensi besar, mungkin suatu hari nanti bisa menjadi bunga sekolah juga.

Melly dan temannya berjalan cepat ke arah mobil, tapi di belakang mereka ada beberapa cowok yang terus mengejar-ngejar.

"Melly, tunggu sebentar!" salah satu cowok yang tampak seperti anak orang kaya menghadang Melly di depan. "Melly, aku serius sama kamu. Berikan aku satu kesempatan saja!" Melly mengernyitkan dahi, terlihat kesal sambil menatap cowok itu. "Ryan, kamu nggak capek apa ya? Aku sudah bilang aku nggak suka sama kamu. Bisa nggak berhenti ganggu aku?"

"Tapi..." Ryan masih mencoba berbicara, tapi Melly langsung mendorongnya ke samping tanpa ampun.

Melly berjalan cepat ke arah mobil, membuka pintu, dan langsung masuk. Gadis yang bersamanya juga ikut naik ke dalam mobil, membuat Lucas sedikit terkejut.

"Ryan itu benar-benar bikin pusing! Tiap hari ngikutin aku terus. Dia nggak capek, apa gimana sih?" Melly mengeluh sambil menyandarkan tubuhnya ke kursi.

Tapi saat matanya melihat Lucas yang duduk di kursi depan, dia langsung bertanya dengan nada penasaran, "Kamu siapa?"

"Halo, aku Lucas," jawab Lucas sambil mencoba terlihat ramah. Dalam hati, dia sudah menebak kalau nona ini temperamental. "Lucas? Paman Pelix, dia ini siapa?" tanya Melly sambil menatap Lucas dengan bingung.

"Nona Melly, ini Lucas, orang yang diminta oleh Tuan Dexen untuk menjadi pendamping Anda," jelas Pelix dengan sopan. "Pendamping? Siapa yang minta pendamping? Aku kan bilang minta cari tameng buat nolak cowok-cowok itu. Tapi lihat dia ini, apa dia bisa nolak siapa pun?" Melly langsung kesal sambil menilai Lucas dari atas sampai bawah.

Pakaian Lucas benar-benar acak-acakan. Dia memakai kaus tanpa lengan dan celana jeans robek, tampak seperti buruh desa yang baru pertama kali ke kota. Bahkan, mungkin buruh desa pun tidak seberantakan ini. Apa dia baru pulang dari Afrika?

Pelix hanya bisa mengelap keringat di dahinya, merasa serba salah. Dia melirik Lucas, dan ketika melihat Lucas tetap tenang, Pelix akhirnya merasa lega. Sebagai orang kepercayaan Surya Dexen, Pelix tahu seberapa sulitnya membawa Lucas ke sini. Bahkan, sampai sang kakek dari keluarga Dexen pun harus turun tangan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Perisai Dewa Tak Tertembus   Bab 140

    Setelah pembicaraan tadi beralih, Markus mulai berbincang dengan Lucas tentang topik-topik pengobatan tradisional. Kebetulan, ada beberapa permasalahan akademis yang selama ini membingungkan Markus. Awalnya, ia bertanya pada Lucas hanya untuk mencoba keberuntungan, tapi jawaban Lucas membuatnya benar-benar terkejut dan tercerahkan.Dalam hati, Markus menyadari bahwa dirinya seperti katak dalam tempurung. Banyak masalah yang selama ini dianggap rumit oleh Markus, Lucas tidak menjawabnya secara langsung, tetapi memberikan petunjuk yang sangat mendalam sehingga membuka wawasan Markus.Diam-diam, Markus merasa sangat bersyukur sekaligus kagum pada Lucas. Cara Lucas menjelaskan lebih seperti diskusi atau saling bertukar pikiran daripada langsung memberikan jawaban pasti. Namun, Markus tahu, Lucas sebenarnya sedang membimbingnya seperti seorang guru yang sangat perhatian, menggunakan cara-cara yang halus untuk mengarahkan dan menginspirasi muridnya.Bukan hanya membuatnya mamp

  • Perisai Dewa Tak Tertembus   Bab 138

    "Kak Roy, aku dan Pak Markus sudah pernah ketemu di Toko Buku Xoxo," Lucas tersenyum sambil menjelaskan kepada Roy. "Waktu itu kita sempat diskusi soal ilmu medis... Oh iya, waktu itu pas kembali dari tempatmu, aku lagi mikirin rencana pengobatanmu. Ada beberapa ramuan obat tradisional yang khasiat dan cara kerjanya lupa-lupa ingat. Karena buku referensiku ditinggal di kampung, aku ke toko buku buat nyari info.""Wah, ternyata kamu sudah kenal sama Kakek Markus. Bagus deh, jadi tidak perlu aku kenalin lagi."Roy merasa lega. Dengan begitu, tugasnya sebagai penghubung sudah selesai. Kalau mereka sudah saling kenal, komunikasinya pasti bakal lebih lancar.Roy sih biasa aja mendengar ucapan Lucas, tapi di telinga Markus, itu terasa mengejutkan!Awalnya, dia pikir Lucas yang masih muda ini pasti berasal dari keluarga besar yang terkenal di dunia pengobatan tradisional. Kalau begitu, wajar saja kalau dia punya resep kuno yang langka.Tapi kenyataannya, Lucas ke toko b

  • Perisai Dewa Tak Tertembus   Bab 139

    Memikirkan hal itu, Markus tanpa sadar menatap Lucas dengan lebih dalam, sambil merasa sedikit malu atas pikirannya tadi yang kurang pantas untuk orang seusianya.Namun, sebagai seorang dokter, berpikiran terbuka adalah hal yang wajar, jadi tidak ada yang aneh."Hehe, dulu sempat menjabat sebentar," Lucas mengangguk santai. "Makanya, sudah sewajarnya saya mewakili anggota tim saya untuk berterima kasih.""Kalau Tuan Lucas bicara begitu, ya sudah, saya tidak akan terlalu sungkan. Silakan ke ruang kerja saya, ada beberapa masalah medis yang selama ini saya belum temukan jawabannya. Mudah-mudahan Anda tidak keberatan membantu saya..." kata Markus."Panggil saja saya Lucas. Dengar orang manggil Tuan Lucas rasanya terlalu kaku," balas Lucas sambil tersenyum. "Soal bantu-membantu, jangan dibilang 'mengajar,' lebih tepat kalau kita bilang tukar pikiran.""Baiklah, kalau begitu saya akan panggil kamu Lucas. Tapi kamu juga jangan panggil saya Pak Markus, lebih enak k

  • Perisai Dewa Tak Tertembus   Bab 135

    Apakah karena dia dimarahi sekali, dia langsung berubah? Berhenti mencoba mendekati aku lagi?Tapi, rasanya tidak mungkin, deh. Yang jadi pertanyaan utama adalah, kenapa Lucas bisa ada di bus? Bukannya dia biasanya dijemput pakai mobil?"Kamu... kamu sengaja naik bus yang sama sama aku, ya?"Tania akhirnya mengutarakan kecurigaannya."Sengaja?"Lucas tersenyum sambil mengusaphidungnya, "Aku naik duluan, bagaimana aku bisa tahu kamu bakal naik dari daerah perkampungan? Apa aku bisa meramal masa depan?"Eh, tapi ngomong-ngomong, Lucas malah refleks menyentuh liontin di dadanya. Sebenarnya aku bisa saja meramal, sih...Cuma ya ramalannya tidak jelas, aku jugatidak ngerti artinya apa. Sinyalnya tidak bisa aku baca, tidak tahu deh apa maksud si liontin ini.Mendengar jawaban Lucas, Tania agakbengong.Iya juga, kan aku naik setelah dia. bagaimana caranya dia bisa tahu aku bakal naik?Kalaupun dia tahu aku biasa naik bus nomor 87,

  • Perisai Dewa Tak Tertembus   Bab 136

    "Masih belum pergi? Berdiri di sini mau nunggu aku traktir teh, ya?"Pak Wadi langsung menepuk David. Dia adalah Wakil kepala di sekolah swasta, jadi tidak banyak yang dia takutin.Lagipula, SMA Pertama punya koneksi kuatdi tingkat provinsi, langsung di bawahpengawasan provinsi, jadi dinas pendidikan daerah aja tidak bisa ngapa-ngapain..."I-iya, iya!"David buru-buru kabur. Pak Wadi ini jelas bukan orang yang bisa dia cari masalah.Setelah David pergi, Tania masih berdiri ditempat, bingung apakah harus ikut pergi atau tetap di sana. Tapi karena Pak Wadi belum nyuruhdia pergi, dia juga tidak berani jalan, jadi cumaberdiri canggung di situ."Hehe, kamu Tania, ya?"Wajah Pak Wadi yang tadi serius dan suramtiba-tiba berubah jadi penuh senyum. "Tidak adayang bikin kamu tidak nyaman, kan?""Tidak, terima kasih, Pak Wadi."Tania menggeleng pelan."Bagus kalau tidak ada. Kalau si David itugangguin kamu lagi, la

  • Perisai Dewa Tak Tertembus   Bab 137

    Lucas melihat Tania yang sudah berada jauh, lalu mengeluarkan ponselnya dan menelepon Roy."Oi, Pak Tua Roy, lagi di mana kamu?"Telepon langsung diangkat, dan Lucas langsung bertanya."Aku lagi di gang Kaisar, belakang SMA Pertama... Tapi tunggu, Lucas, kamu barusan manggil aku apa? 'Pak Tua Roy'? Kok aku dengarnya aneh ya?"Roy protes, "Mending kamu panggil aku 'Roy' atau 'Hunter Dog, jangan 'Pak Tua Roy'. Emangnya aku setua itu?""Oke, kalau gitu aku panggil kamu 'Kak Roy'. Di luar, aku lebih muda dari kamu, nggak enak manggil 'Roy'."Lucas menjelaskan, "Aku sudah sampai nih, lagi di halte depan gerbang utama SMA Pertama.""Oke, aku ke sana sekarang."Roy langsung setuju.Tidak lama, sebuah mobil polisi berhenti didepan Lucas. Roy menjulurkan kepalanya darijendela mobil. "Lucas, naik!"Lucas mengangguk dan duduk di kursipenumpang depan. Roy mulai menjalankan mobil pelan-pelan. "Eh, obat yang kamu kasih ke aku ituternyata

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status