Aulia berdiri di depan sebuah bangunan megah yang menjulang tinggi, dengan arsitektur modern yang elegan. Kantor pengacara "Harapan & Partners" ini terletak di jantung kota, dengan alamat yang sangat mudah diingat.
Bangunan ini memiliki 20 lantai, dengan fasad kaca yang mengkilap dan atap yang berbentuk unik. Di depan pintu masuk, terdapat sebuah plakat besar yang terbuat dari granit hitam, dengan logo perusahaan yang terbuat dari emas 24 karat. Aulia menarik napas dalam-dalam, lalu melangkah masuk ke dalam lobi yang luas dan mewah. Lantai lobi terbuat dari marmer putih, dengan langit-langit yang tinggi dan lampu gantung kristal yang indah. Di sebelah kiri, terdapat sebuah meja resepsionis yang terbuat dari kayu mahoni, dengan seorang resepsionis cantik yang tersenyum ramah. "Selamat pagi, saya Aulia Riani. Saya datang untuk menyerahkan lamaran pekerjaan sebagai pengacara," kata Aulia dengan suara yang sopan. Resepsionis itu tersenyum dan mengambil CV Aulia. "Terima kasih, Ibu Aulia. Saya akan menyerahkan CV Anda ke HRD. Mereka akan memproses lamaran Anda dan menghubungi Anda jika ada panggilan wawancara," kata resepsionis itu dengan suara yang profesional. Aulia mengangguk dan tersenyum, lalu menunggu beberapa saat sambil duduk di sofa yang empuk di sebelah kanan. Setelah beberapa menit, resepsionis itu kembali dan memberikan Aulia sebuah kartu kecil. "Terima kasih, Ibu Aulia. Kami akan menghubungi Anda dalam waktu 3-5 hari kerja untuk memberitahu hasil proses lamaran Anda," kata resepsionis itu dengan suara yang sopan. Aulia mengambil kartu itu, tersenyum dan mengucapkan terima kasih sebelum meninggalkan kantor pengacara yang mewah itu. Aulia memutuskan untuk kembali pulang ke rumahnya, tapi dia tidak ingin bertemu dengan Ryker. Dia masih ingat percakapan mereka sebelumnya, dan dia yakin bahwa Ryker pasti sudah mulai merencanakan sesuatu untuk menghentikan impiannya bekerja di firma hukum. Aulia kembali menggunakan Taksi untuk kembali pulang ke rumahnya. Jujur, ia rindu kamar dan ruang perpustakaan yang biasa ia gunakan bersama dengan sang kakek. Saat taksi berjalan, Aulia memikirkan tentang Ryker dan rencana-rencananya. Dia yakin bahwa Ryker akan menggunakan segala cara untuk menghentikan dia bekerja, mungkin dengan menggunakan koneksi bisnisnya atau bahkan mengancam kantor yang ia berikan CV nya. Aulia merasa sedikit takut, tapi dia juga merasa lebih kuat dan bertekad untuk tidak menyerah. Dia akan melakukan apa saja untuk mencapai impiannya bekerja di firma hukum, bahkan jika itu berarti harus melawan Ryker. Saat taksi tiba di depan rumah, Aulia membayar sopir dan turun dari taksi dan melangkah menuju gerbang rumahnya, tiba-tiba sebuah mobil mewah berhenti di depan gerbang. Ryker Alvaro turun dari mobil dengan senyum percaya diri, diikuti oleh seorang wanita cantik berambut pendek dan berpakaian seksi. Wanita itu langsung menempelkan tubuhnya pada Ryker, membungkus lengannya di pinggangnya sambil tersenyum sinis ke arah Aulia. Aulia merasa seperti disengat listrik, matanya terpaku pada pemandangan yang tidak terduga itu. Ryker tidak menunjukkan ekspresi apa pun, tapi wanita itu terus menatap Aulia dengan mata yang penuh kebencian dan kecemburuan. "Aulia, aku rasa kau sudah kenal dengan Vania, kekasihku," kata Ryker dengan nada datar, sambil membiarkan Vania terus menempel pada tubuhnya. Aulia merasa seperti dipukul di perut, dia tidak bisa bernapas atau berbicara. Vania terus tersenyum sinis, seolah-olah menikmati reaksi Aulia. "Kamu pikir bisa merebut Ryker dariku, Aulia? Kamu salah besar," kata Vania dengan suara yang terdengar begitu manis. Aulia masih berdiri diam, matanya terpaku pada Ryker dan Vania yang masih menempel pada tubuhnya. bukan karena rasa cemburunya, tapi lebih ke perasaan jijik dengan pandangan dihadapannya. Ryker akhirnya memecahkan keheningan, suaranya terdengar datar dan tidak bersahabat. "Aulia, kita pulang. Sekarang," kata Ryker, sambil menatap Aulia dengan mata yang dingin. Vania tersenyum sinis lagi, seolah-olah menikmati reaksi Aulia yang tidak menunjukkan emosi apa pun. Aulia tidak menjawab, dia hanya mengangguk sedikit dan melangkah menuju mobil Ryker, meninggalkan rencananya untuk bersantai di rumahnya sendiri.Ryker mengikuti di belakangnya, sementara Vania masih menempel pada lengannya, membisikkan sesuatu di telinganyaTepat ketika Joyo Kusumo hendak melanjutkan perkataannya, pintu cafe terbuka dan seorang pria muda dengan rambut rapi dan kemeja putih memasuki ruangan. Dia membawa beberapa dokumen dalam tas kulit hitam dan langsung menuju ke arah Joyo Kusumo."Ini dokumen yang perlu Anda tandatangani, Pak," kata pria muda itu, yang kemudian diketahui bernama Adam, asisten pribadi Joyo Kusumo.Joyo Kusumo mengambil dokumen-dokumen itu dari Adam dan mulai membolak-baliknya dengan cepat. Aulia dan Ryker memperhatikan dengan rasa penasaran, sementara Leon dan Vania masih mengamati adegan itu dengan penuh minat."Baik, aku akan menandatanganinya nanti, jika Leon setuju.”kata Joyo Kusumo kepada Adam. "Kau pesanlah sesuatu dan pilih meja sendiri., aku akan memanggilmu jika sudah selesai."Adam mengangguk dan meninggalkan Joyo Kusumo, Aulia, Ryker, Leon, dan Vania. Joyo Kusumo kemudian memfokuskan perhatiannya kembali pada Aulia dan Ryker."Baiklah, mari kita bicara tentang apa yang perlu kita bicarakan," k
Leon menerima pesan dari Aulia melalui ponselnya, dan dia tidak bisa menyembunyikan senyum di wajahnya. Pesan itu singkat, tapi membuatnya merasa berdebar-debar. Leon merasa penasaran, apa yang ingin dibicarakan oleh Aulia? Dia langsung membalas pesan itu dengan "Aku akan datang" dan memasukkan ponselnya ke dalam saku.Sementara itu, di tempat lain, Vania menerima pesan dari Ryker yang membuatnya merasa sedikit was-was. Vania merasa sedikit bingung, apa yang ingin dibicarakan oleh Ryker? Apakah ini tentang pekerjaan atau tentang hubungan mereka? Dia tidak bisa menebak, tapi dia merasa harus pergi ke Cafe Senja untuk menemuinya.Cafe Senja adalah tempat yang nyaman dan tenang, dengan dekorasi yang sederhana tapi elegan. Dindingnya dihiasi dengan lukisan-lukisan abstrak yang menambah kesan artistik pada tempat itu. Meja-meja kayu yang berwarna coklat tua dan kursi-kursi yang empuk membuat pengunjung merasa nyaman dan betah berlama-lama di sana.Pukul 3 sore, Leon dan Vania tiba di Cafe
Aulia merasa seperti berada di alam mimpi. beberapa bulan lalu, ia melihat kakeknya yang dimasukkan kedalam galian tanah. namun hari ini, dengan kedua matanya ia bisa melihat tubuh kakeknya yang sedang duduk tenang. menghadap ke arah Ryker dan Aulia yang baru saja masuk ke ruangan serba putih itu. pria itu nampak tersenyum tipis, menyambut kedatangan keduanya. Aulia tak lantas melangkah menuju ke arah sang Kakek. ia terdiam, seperti patung Manikin yang tidak dapat berbicara."Kemarilah, cucuku..." perintah sang kakek dengan senyum tipisnya.Ryker menyentuh bahu Aulia, seperti sedang menyalurkan energi positif. untuk istrinya itu. Aulia menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskan secara perlahan-lahan. perlahan, ia mulai melangkahkan kakinya menuju ke arah sang kakek.Joyo Kusumo, pria yang sudah terlihat tua itu nampak bangkit dari tempat duduknya. saat, Aulia berdiri dihadapannya, pria itu lantas memeluk tubuh mungil itu. Ryker tetap berada ditempatnya, ia sedang memberikan ruang d
"Kakekmu masih hidup."Mendengar pernyataan yang keluar dari bibir Ryker, membuat Aulia lantas merenggangkan pelukannya. gadis itu, langsung turun dari kasur. berdiri, menatap manik biru Ryker dengan tatapan tajam."Jangan bicara sembarangan! Kau boleh saja menggodaku dengan caramu menyentuh atau berpura-pura baik padaku. tapi, bercanda soal kakek? apa kau sudah tidak waras, Ryker?"Ryker terlihat begitu santai. pria itu perlahan turun dari kasur, lalu berdiri di hadapan Aulia. tangannya hendak terulur untuk bisa menyentuh wajah Aulia. namun, belum sempat melakukannya tangannya sudah ditepis oleh Aulia."Jangan menyentuhku!""Kakekmu, masih hidup. dan sekarang, tengah menikmati keindahan alam di Indonesia bagian Timur.""Dasar sinting!" Aulia membalikkan tubuhnya, hendak pergi meninggalkan Ryker."kau tidak percaya? apa kau yakin, pria tua tempo hari yang dimakamkan itu adalah kakekmu?"Langkah kaki Aulia terhenti, mendengar pertanyaan Ryker. walaupun berhenti, Aulia tak langsung memb
Setelah selesai menikmati seharian penuh ini di kantor. Aulia memutuskan untuk pulang ke rumah. ia tidak terlalu memperdulikan jika di rumahnya nanti, ia akan bertemu dengan Ryker. karena, tidak ada alasan baginya untuk terus menghindar terus-menerus. setibanya di rumah, Aulia gegas menuju ke kamarnya. dan hal yang tidak terduga, membuat ia sedikit syok. Ryker terlihat sedang tidur di kasur. tidurnya nampak begitu lelap sehingga pria itu tidak menyadari keberadaan Aulia yang baru saja memasuki kamar. perlahan, Aulia melangkahkan kakinya mendekat. ingin melihat lebih dekat lagi wajah suaminya yang terlihat tengah tertidur itu. dengan gerakan lambat, Aulia menggerakkan tangan kanannya ke kanan dan kiri dihadapan wajah Ryker. "Ternyata, dia benar-benar tidur." Kata Aulia sembari tersenyum tipis. sebelum Aulia sempat menurunkan tangannya, Aulia begitu terkejut. saat tangannya itu digenggam erat oleh Ryker. pria itu tidak lagi memejamkan matanya. mata indah itu sudah menatapnya, seperti
Ryker mengemudi mobilnya dengan mata yang fokus ke jalan. namun pikirannya mulai melayang kembali ke kejadian semalam.Bayangan Aulia dengan mata hijau yang lebar dan takut, leher yang ditekan oleh tangannya, kembali memenuhi kepalanya.Ryker merasakan jantungnya berdegup kencang. tangan yang memegang setir mobil mulai berkeringat. Takut kehilangan konsentrasi dan kecelakaan, Ryker segera menepikan mobilnya di pinggir jalan yang sepi. Dia mematikan mesin mobil, lalu menatap ke depan dengan mata kosong. pertanyaan yang mengganggunya sejak semalam kembali terdengar di pikirannya. "Apakah aku sudah terlalu jauh dalam hal ini...?” Ryker duduk diam di dalam mobil yang sunyi.matanya masih kosong menatap ke depan. pikiran masih terjebak pada kejadian malam sebelumnya. Tiba-tiba, kesunyian mobil terganggu oleh suara dering ponselnya, suara yang lembut dan berirama, tapi terdengar seperti alarm bahaya bagi Ryker.Dia menoleh ke arah ponsel yang terletak di atas dashboard mobil. layar