Keesokan harinya,Aulia duduk sendirian di ruang makan yang luas, menikmati sarapan sederhana berupa roti panggang dan teh hangat.
Cahaya matahari pagi yang masuk melalui jendela besar membuat ruangan terasa hangat dan nyaman. Tapi, suasana hati Aulia tidak seindah pemandangan di depannya. Dia masih memikirkan pernikahan kontraknya dengan Ryker Alvaro, dan perasaan campur aduk yang terus menghinggapi hatinya. Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar dari arah pintu. Aulia menoleh, dan Ryker Alvaro muncul dengan wajah yang dingin dan tidak bersahabat. Dia mengenakan setelan jas hitam yang membuatnya terlihat sangat tampan, tapi ekspresi wajahnya tidak menunjukkan sedikit pun kehangatan. "Selamat pagi," kata Ryker dengan nada datar, sambil menarik kursi di seberang Aulia dan duduk. Aulia membalas salamnya dengan senyum tipis, mencoba menyembunyikan perasaan tidak nyaman yang muncul. "Selamat pagi," jawabnya lembut. Ryker tidak menatap Aulia, tapi langsung mengambil Teh dari meja dan menuangkan ke dalam cangkirnya.suasana menjadi hening, hanya suara sendok yang berdenting di piring yang memecahkan keheningan. Aulia merasa tidak nyaman dengan keheningan ini, dan akhirnya memutuskan untuk memecahkannya. "Ryker, kita perlu bicara tentang... tentang kita," kata Aulia dengan suara lembut. Ryker menatapnya dengan mata yang dingin, tanpa ekspresi apa pun. "Apa yang ingin kau bicarakan, Aulia?" tanya Ryker dengan nada datar. Aulia menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan, mencoba untuk tidak terpengaruh oleh sikap dingin Ryker. "Aku ingin bekerja, Ryker. Aku ingin menjadi pengacara di sebuah perusahaan hukum," kata Aulia dengan suara yang mantap. Ryker menatapnya dengan mata yang dingin, tidak menunjukkan sedikit pun ketertarikan atau dukungan. "Mengapa kau ingin melakukan itu?" tanya Ryker dengan nada datar, sambil mengangkat cangkir tehnya ke bibir. Aulia merasa sedikit tersinggung oleh sikap Ryker, tapi dia mencoba untuk tidak memperlihatkannya. "Aku ingin memiliki karir yang mandiri, Ryker. Aku ingin membuktikan diri bahwa aku bisa sukses tanpa harus bergantung pada keluarga atau pernikahan," jawab Aulia dengan suara yang tegas. Ryker menurunkan cangkir kopinya dan menatap Aulia dengan mata yang lebih dingin lagi. "Aku tidak ingin kau bekerja di luar, Aulia. Apalagi sebagai pengacara," kata Ryker dengan nada yang tidak bisa ditawar. Aulia merasa terkejut dan sedikit tersinggung oleh keputusan Ryker. "Mengapa tidak, Ryker? Apa salahnya aku ingin memiliki karir yang mandiri?" tanya Aulia dengan suara yang sedikit meninggi. Ryker menatapnya dengan mata yang dingin, lalu menjawab dengan nada yang tidak bisa ditawar. "Karena aku tidak ingin orang lain melihat pernikahan kita sebagai cemoohan. Mereka akan berpikir bahwa aku tidak bisa memenuhi kebutuhanmu, bahwa aku tidak cukup baik untukmu," kata Ryker dengan suara yang rendah dan serius. Aulia merasa seperti dipukul oleh kata-kata Ryker. Dia tidak menyangka bahwa Ryker memiliki alasan seperti itu... Ryker tidak menatap Aulia lagi, dia hanya bangkit dari kursinya dan meninggalkan ruang makan tanpa mengatakan apa-apa. Aulia menatap punggung Ryker dengan mata yang kosong, pria itu tidak menunjukkan sedikit pun emosi. Aulia menarik napas dalam-dalam, lalu bangkit dari kursinya dan menuju ke kamar untuk mengambil tas dan dompetnya. Dia telah memutuskan untuk keluar rumah dan mencari informasi terkait lowongan pekerjaan untuk dirinya, tidak peduli dengan apa yang Ryker pikirkan. tapi, saat langkahnya akan keluar dari kamar. sekelebat bayangan sang kakek kembali menghantui. wajah teduh sang kakek kembali menghiasi isi kepalanya. Aulia menggeleng pelan, lalu kembali melangkahkan kakinya keluar. Ia harus kuat, tidak peduli dengan ancaman yang Ryker katakan. itu baru Ryker, belum dari pihak keluarganya yang belum menunjukkan tanda-tanda akan menyerangnya. Ia yakin, sebagian besar keluarganya pasti akan mengusiknya untuk mendapatkan bagian dari warisan sangTepat ketika Joyo Kusumo hendak melanjutkan perkataannya, pintu cafe terbuka dan seorang pria muda dengan rambut rapi dan kemeja putih memasuki ruangan. Dia membawa beberapa dokumen dalam tas kulit hitam dan langsung menuju ke arah Joyo Kusumo."Ini dokumen yang perlu Anda tandatangani, Pak," kata pria muda itu, yang kemudian diketahui bernama Adam, asisten pribadi Joyo Kusumo.Joyo Kusumo mengambil dokumen-dokumen itu dari Adam dan mulai membolak-baliknya dengan cepat. Aulia dan Ryker memperhatikan dengan rasa penasaran, sementara Leon dan Vania masih mengamati adegan itu dengan penuh minat."Baik, aku akan menandatanganinya nanti, jika Leon setuju.”kata Joyo Kusumo kepada Adam. "Kau pesanlah sesuatu dan pilih meja sendiri., aku akan memanggilmu jika sudah selesai."Adam mengangguk dan meninggalkan Joyo Kusumo, Aulia, Ryker, Leon, dan Vania. Joyo Kusumo kemudian memfokuskan perhatiannya kembali pada Aulia dan Ryker."Baiklah, mari kita bicara tentang apa yang perlu kita bicarakan," k
Leon menerima pesan dari Aulia melalui ponselnya, dan dia tidak bisa menyembunyikan senyum di wajahnya. Pesan itu singkat, tapi membuatnya merasa berdebar-debar. Leon merasa penasaran, apa yang ingin dibicarakan oleh Aulia? Dia langsung membalas pesan itu dengan "Aku akan datang" dan memasukkan ponselnya ke dalam saku.Sementara itu, di tempat lain, Vania menerima pesan dari Ryker yang membuatnya merasa sedikit was-was. Vania merasa sedikit bingung, apa yang ingin dibicarakan oleh Ryker? Apakah ini tentang pekerjaan atau tentang hubungan mereka? Dia tidak bisa menebak, tapi dia merasa harus pergi ke Cafe Senja untuk menemuinya.Cafe Senja adalah tempat yang nyaman dan tenang, dengan dekorasi yang sederhana tapi elegan. Dindingnya dihiasi dengan lukisan-lukisan abstrak yang menambah kesan artistik pada tempat itu. Meja-meja kayu yang berwarna coklat tua dan kursi-kursi yang empuk membuat pengunjung merasa nyaman dan betah berlama-lama di sana.Pukul 3 sore, Leon dan Vania tiba di Cafe
Aulia merasa seperti berada di alam mimpi. beberapa bulan lalu, ia melihat kakeknya yang dimasukkan kedalam galian tanah. namun hari ini, dengan kedua matanya ia bisa melihat tubuh kakeknya yang sedang duduk tenang. menghadap ke arah Ryker dan Aulia yang baru saja masuk ke ruangan serba putih itu. pria itu nampak tersenyum tipis, menyambut kedatangan keduanya. Aulia tak lantas melangkah menuju ke arah sang Kakek. ia terdiam, seperti patung Manikin yang tidak dapat berbicara."Kemarilah, cucuku..." perintah sang kakek dengan senyum tipisnya.Ryker menyentuh bahu Aulia, seperti sedang menyalurkan energi positif. untuk istrinya itu. Aulia menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskan secara perlahan-lahan. perlahan, ia mulai melangkahkan kakinya menuju ke arah sang kakek.Joyo Kusumo, pria yang sudah terlihat tua itu nampak bangkit dari tempat duduknya. saat, Aulia berdiri dihadapannya, pria itu lantas memeluk tubuh mungil itu. Ryker tetap berada ditempatnya, ia sedang memberikan ruang d
"Kakekmu masih hidup."Mendengar pernyataan yang keluar dari bibir Ryker, membuat Aulia lantas merenggangkan pelukannya. gadis itu, langsung turun dari kasur. berdiri, menatap manik biru Ryker dengan tatapan tajam."Jangan bicara sembarangan! Kau boleh saja menggodaku dengan caramu menyentuh atau berpura-pura baik padaku. tapi, bercanda soal kakek? apa kau sudah tidak waras, Ryker?"Ryker terlihat begitu santai. pria itu perlahan turun dari kasur, lalu berdiri di hadapan Aulia. tangannya hendak terulur untuk bisa menyentuh wajah Aulia. namun, belum sempat melakukannya tangannya sudah ditepis oleh Aulia."Jangan menyentuhku!""Kakekmu, masih hidup. dan sekarang, tengah menikmati keindahan alam di Indonesia bagian Timur.""Dasar sinting!" Aulia membalikkan tubuhnya, hendak pergi meninggalkan Ryker."kau tidak percaya? apa kau yakin, pria tua tempo hari yang dimakamkan itu adalah kakekmu?"Langkah kaki Aulia terhenti, mendengar pertanyaan Ryker. walaupun berhenti, Aulia tak langsung memb
Setelah selesai menikmati seharian penuh ini di kantor. Aulia memutuskan untuk pulang ke rumah. ia tidak terlalu memperdulikan jika di rumahnya nanti, ia akan bertemu dengan Ryker. karena, tidak ada alasan baginya untuk terus menghindar terus-menerus. setibanya di rumah, Aulia gegas menuju ke kamarnya. dan hal yang tidak terduga, membuat ia sedikit syok. Ryker terlihat sedang tidur di kasur. tidurnya nampak begitu lelap sehingga pria itu tidak menyadari keberadaan Aulia yang baru saja memasuki kamar. perlahan, Aulia melangkahkan kakinya mendekat. ingin melihat lebih dekat lagi wajah suaminya yang terlihat tengah tertidur itu. dengan gerakan lambat, Aulia menggerakkan tangan kanannya ke kanan dan kiri dihadapan wajah Ryker. "Ternyata, dia benar-benar tidur." Kata Aulia sembari tersenyum tipis. sebelum Aulia sempat menurunkan tangannya, Aulia begitu terkejut. saat tangannya itu digenggam erat oleh Ryker. pria itu tidak lagi memejamkan matanya. mata indah itu sudah menatapnya, seperti
Ryker mengemudi mobilnya dengan mata yang fokus ke jalan. namun pikirannya mulai melayang kembali ke kejadian semalam.Bayangan Aulia dengan mata hijau yang lebar dan takut, leher yang ditekan oleh tangannya, kembali memenuhi kepalanya.Ryker merasakan jantungnya berdegup kencang. tangan yang memegang setir mobil mulai berkeringat. Takut kehilangan konsentrasi dan kecelakaan, Ryker segera menepikan mobilnya di pinggir jalan yang sepi. Dia mematikan mesin mobil, lalu menatap ke depan dengan mata kosong. pertanyaan yang mengganggunya sejak semalam kembali terdengar di pikirannya. "Apakah aku sudah terlalu jauh dalam hal ini...?” Ryker duduk diam di dalam mobil yang sunyi.matanya masih kosong menatap ke depan. pikiran masih terjebak pada kejadian malam sebelumnya. Tiba-tiba, kesunyian mobil terganggu oleh suara dering ponselnya, suara yang lembut dan berirama, tapi terdengar seperti alarm bahaya bagi Ryker.Dia menoleh ke arah ponsel yang terletak di atas dashboard mobil. layar