เข้าสู่ระบบTatapan Adrian Mahendra membuat seluruh tubuhku menegang. Pria itu berdiri beberapa langkah di depanku, menatapku seolah sedang mencari sesuatu dari wajahku. Aku berusaha mempertahankan ekspresi profesional, meskipun jantungku berdetak terlalu cepat.
"Siapa dia?" Suara Adrian terdengar berat.
Sekar segera menjawab. "Ini Ibu Anastasia Kirana, Pak. Desainer interior utama yang dikirim oleh firma Paris untuk proyek perombakan gedung pusat."
Aku menahan napas. Jadi, selama lima tahun terakhir, pria yang paling ingin kulupakan ternyata adalah Adrian Mahendra, CEO Mahendra Group.
Aku tidak tahu apakah dia mengenaliku. Malam itu berlangsung dalam kegelapan. Dia tidak pernah melihat wajahku. Namaku juga tidak pernah disebut. Seharusnya dia tidak mungkin tahu siapa aku.
Namun, ketika Adrian berjalan mendekat, tubuhku kembali menegang. Aroma wood dan amber itu semakin kuat. Ingatan tentang lima tahun lalu tiba-tiba kembali memenuhi kepalaku.
Aku tidak boleh kehilangan kendali. Aku datang ke sini sebagai seorang profesional. Aku sudah membangun hidupku kembali. Maka, aku mengangkat wajah dan menatap Adrian.
"Selamat pagi, Pak Adrian Mahendra." Suaraku terdengar lebih tenang daripada yang kurasakan. "Maaf jika sikap saya tadi terlihat tidak sopan. Saya hanya sedang memperhatikan detail interior gedung ini."
Alis Adrian sedikit terangkat. "Kau kagum pada gedung ini?"
Aku tidak tahu mengapa pertanyaan sederhana itu terdengar seperti sebuah jebakan. Namun, aku tetap menjawab.
"Tentu." Aku memberikan senyum profesional. "Mahendra Group memiliki standar arsitektur yang cukup tinggi. Sebagai desainer, saya tertarik mengamati karakter bangunannya."
Adrian menatapku selama beberapa detik. Aku berusaha tidak menunjukkan kegugupan.
"Jadi bukan pemiliknya?"
Aku terdiam. Sekar tampak sedikit gugup di sampingku.
Aku justru mengangkat dagu. "Saya datang ke sini untuk bekerja, Pak Adrian."
Tatapan Adrian berubah.
Aku tidak tahu apa yang sedang dipikirkannya. Namun, akhirnya dia mengalihkan pandangan. "Ikut aku ke ruang rapat."
Aku menghela napas pelan sebelum mengikutinya. Aku harus mengingat satu hal.
Adrian Mahendra adalah klienku. Tidak lebih.
Dua jam berikutnya menjadi salah satu rapat paling melelahkan dalam hidupku. Aku berdiri di depan layar dan menjelaskan konsep desain interior yang telah kusiapkan selama berbulan-bulan.
Konsep Modern-Luxurious.
Aku menjelaskan pemilihan material, tata cahaya, komposisi ruang, hingga alasan di balik setiap detail. Namun, sepanjang presentasi, aku merasa tatapan Adrian lebih sering tertuju kepadaku daripada layar. Aku berusaha mengabaikannya. Tetapi semakin lama, semakin sulit. Tatapannya terasa seperti sedang membedah setiap keputusan yang kubuat. Ketika presentasiku selesai, ruangan menjadi hening. Adrian masih duduk di ujung meja.
"Konsepmu tidak sesuai, terlalu lembut."
Aku mengerutkan kening. "Bagian mana yang menurut Anda kurang sesuai?"
Adrian bangkit dari kursinya. Dia berjalan mengitari meja hingga berhenti di hadapanku. "Keseluruhan."
Aku menahan napas.
"Konsep ini tidak buruk, tetapi tidak sesuai dengan karakter Mahendra Group."
Aku menatapnya. "Lalu karakter seperti apa yang Anda inginkan?"
"Lebih berani." Dia berhenti sejenak. "Lebih dominan."
Aku mengangguk. "Baik. Saya bisa melakukan revisi."
Adrian menatapku seolah tidak menyangka aku akan menjawab setenang itu. Aku sudah terlalu lama bekerja dengan klien yang sulit. Kritik bukan sesuatu yang membuatku gentar. Selama kritik tersebut berkaitan dengan pekerjaan, aku bisa menerimanya.
"Besok pagi, laporkan perkembangan revisinya langsung kepadaku."
Aku mengerutkan kening. "Apakah tidak bisa melalui sekretaris Anda?"
"Tidak." Jawabannya tegas. "Mulai besok, semua perkembangan proyek ini langsung kepadaku."
Aku menatapnya beberapa detik. Aku tidak menyukai keputusan itu. Bukan karena aku takut bekerja dengannya. Aku hanya tidak ingin terlalu sering berada di dekat pria yang mampu membangkitkan ingatan yang selama ini berusaha kukubur. Namun, aku tidak bisa menolak begitu saja.
"Baik." Aku mengambil berkas desainku.
Adrian kembali duduk. Namun, sebelum aku berbalik, suaranya terdengar lagi.
"Anastasia."
Aku berhenti. "Ya?"
"Jangan mengecewakanku."
Aku menoleh. Untuk sesaat, tatapan kami kembali bertemu. Aku tidak tahu mengapa kalimat sederhana itu membuatku merasa tertantang. Mungkin karena sejak awal aku memang tidak menyukai caranya berbicara kepadaku. Atau mungkin karena aku ingin membuktikan bahwa aku tidak datang ke sini hanya karena firma di Paris mengirimku.
Aku berdiri tegak. "Saya juga tidak suka mengecewakan klien."
Setelah mengucapkan itu, aku berbalik dan berjalan keluar.
Begitu pintu ruang rapat tertutup di belakangku, aku baru berani mengembuskan napas panjang. Tanganku terasa dingin. Aku berjalan menuju lift sambil berusaha menenangkan diri. Aku masih tidak tahu apakah Adrian mengenaliku.
Kemungkinan besar tidak.
Malam itu berlangsung dalam kegelapan. Dia tidak pernah melihat wajahku. Namaku pun tidak pernah disebut. Aku harus memastikan hubungan kami tetap sebatas profesional. Setidaknya, aku akan berusaha sekuat tenaga agar tetap seperti itu.
Ting!
Pintu lift terbuka. Aku melangkah masuk dan menatap pantulan diriku di dinding kaca. Wajahku terlihat tenang. Namun, aku tahu apa yang sebenarnya terjadi di dalam diriku.
Aku takut.
Bukan takut pada Adrian. Aku takut pada kemungkinan bahwa kehadirannya akan membuka kembali luka yang selama lima tahun susah payah kututup.
Aku masih menatap pesan dari Clara ketika pintu rumah terbuka.Dion masuk sambil membawa beberapa barang dari mobil.“Kak?”Aku buru-buru mematikan layar ponsel.“Ya?”Dion berhenti di tempat.“Kakak kenapa?”“Tidak kenapa-kenapa.”Ia menatapku beberapa detik.Aku tahu ekspresi wajahku pasti tidak bisa menyembunyikan apa pun.Dion kemudian duduk di sofa seberangku.“Adrian belum pulang?”Aku menggeleng.“Dia pergi.”“Dengan Clara?”Aku langsung menatapnya.“Kamu tahu?”“Adrian bilang tadi siang.”Aku menarik napas panjang.“Dion.”“Hmm?”“Menurutmu, Clara itu seperti apa?”Dion tampak berpikir.“Kenapa tiba-tiba tanya dia?”“Jawab saja.”“Setahuku dia mantan rekan bisnis Adrian. Mereka cukup dekat dulu.”Aku menunduk.“Seberapa dekat?”Dion mengangkat bahu.“Aku tidak tahu.”Jawaban itu justru membuat pikiranku semakin kacau.Aku membuka ponsel lagi.Pesan Clara masih ada.Sebaiknya kau mendengarnya langsung dariku sebelum Adrian menceritakannya kepadamu.Apa yang sebenarnya ingin dia
Pagi itu terasa jauh lebih tenang dibandingkan beberapa hari terakhir.Tidak ada pesan aneh.Tidak ada foto yang tiba-tiba masuk.Tidak ada suara mencurigakan di luar rumah.Setelah sekian lama, aku bisa duduk di ruang keluarga tanpa terus-menerus memeriksa ponsel.Aku bahkan mulai berpikir mungkin kami memang bisa kembali menjalani kehidupan seperti sebelumnya.Adrian duduk di seberangku sambil membaca sesuatu di tabletnya.Sesekali ia mengangkat wajah dan melihat ke arahku.“Apa?” tanyaku.“Tidak apa-apa.”“Kamu melihatku dari tadi.”“Aku suka melihatmu.”Aku mendengus kecil.“Gombal.”“Aku serius.”Aku berusaha menahan senyum.Rasanya menyenangkan.Setelah semua ketegangan yang terjadi, aku mulai menghargai hal-hal kecil seperti ini.Namun ketenangan itu ternyata tidak berlangsung lama
Aku hampir tidak tidur malam itu.Bukan karena takut.Setidaknya, aku berusaha meyakinkan diriku sendiri bahwa bukan itu alasannya.Pikiranku terus kembali kepada pesan terakhir yang dikirim orang misterius itu.Jangan bawa siapa pun.Kalimat sederhana, tetapi justru membuatku semakin yakin bahwa orang tersebut benar-benar mengetahui gerak-gerik kami.Pagi harinya, aku menemukan Adrian sudah berada di ruang keluarga.Ia duduk sambil membaca beberapa dokumen di tabletnya.Begitu melihatku, ia langsung meletakkan benda itu.“Kau tidak tidur?”Aku menggeleng.“Kamu juga.”“Aku tidur.”Aku mengangkat alis.“Berapa lama?”Adrian terdiam sebentar.“Tidak penting.”Aku hampir tersenyum.Di tengah situasi seperti ini, dia masih sempat menghindari pertanyaanku.Aku duduk di sampingnya.
Aku masih menatap layar laptop ketika suara notifikasi dari ponsel Adrian kembali terdengar.Satu kali.Pendek, tetapi cukup untuk membuat kami bertiga langsung menoleh.Adrian mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja.Sebuah pesan masuk dari nomor yang sama.Tidak ada nama pengirim.Tidak ada kalimat pembuka.Hanya sebuah foto.Aku mendekat untuk melihatnya.Dan seketika tubuhku terasa kaku.Foto itu memperlihatkan Adrian yang sedang berdiri di depan jendela ruang kerjanya.Aku mengenali pakaian yang dikenakannya.Kemeja yang sama.Jam tangan yang sama.Bahkan posisi berdirinya pun sama seperti beberapa menit lalu.“Ini baru saja diambil,” kataku pelan.Adrian tidak menjawab.Dion mengambil ponsel itu dari tangannya dan memperbesar foto tersebut.“Lihat bagian belakang.”Aku mengikuti arah jarinya.Di balik kaca
Aku menatap flash drive kecil itu cukup lama.Nomor 317 di bagian belakangnya membuat pikiranku kembali pada Hotel Mahendra.Tempat yang kukira sudah menjadi bagian dari masa lalu.Tempat yang seharusnya tidak lagi memiliki hubungan dengan kehidupanku sekarang.Namun benda kecil itu seolah mengatakan sebaliknya.“Apa yang harus kita lakukan?” tanyaku.Adrian masih memegang flash drive tersebut.“Jangan dibuka di komputer rumah.”“Kenapa?”“Kalau orang yang mengirim ini sengaja meninggalkannya di sini, kita tidak tahu apakah ada sesuatu di dalamnya yang bisa melacak perangkat.”Dion mengangguk.“Adrian benar.”Aku menatap mereka.“Lalu?”“Kita bawa ke tempat yang aman.”“Ke kantor?”“Tidak.”Adrian berpikir sejenak.“Aku punya ruan
Aku masih menatap foto Adrian di layar ponselku.Foto itu diambil dari jarak dekat.Terlalu dekat.Bukan foto dari jalan raya atau tempat umum. Bukan pula gambar yang bisa saja diambil secara kebetulan.Seseorang memang sengaja mengawasi kami.Dan yang paling membuatku takut adalah waktu pengambilannya.Foto itu jelas diambil hari ini.Saat kami berada di taman.Saat aku dan Adrian sedang berjalan bersama.Aku menelan ludah.“Adrian…”“Aku tahu.”Suaranya terdengar tenang, tetapi aku mengenalnya cukup baik untuk mengetahui bahwa ketenangan itu dipaksakan.Dia mengambil ponselku dan memeriksa kembali pesan tersebut.“Jangan hapus apa pun.”“Kenapa?”“Kita mungkin membutuhkan semua ini sebagai bukti.”Aku mengangguk.“Menurutmu siapa?”“Aku belum tahu.”&ldq







