Pernikahan Bayangan: Mengikat Hati Sang CEO Kejam

Pernikahan Bayangan: Mengikat Hati Sang CEO Kejam

last updateTerakhir Diperbarui : 2026-07-19
Oleh:  AirumOngoing
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Belum ada penilaian
7Bab
25Dibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

Demi menyelamatkan nyawa adiknya yang sakit kritis, Anya terpaksa menjual malam pertamanya kepada seorang pria asing di kamar hotel yang gelap. Dia mengira hubungan itu akan berakhir dalam satu malam. Namun, takdir berkata lain saat dia dinyatakan hamil anak kembar.Lima tahun kemudian, Anya kembali sebagai desainer berbakat dan bertemu dengan Adrian Mahendra CEO kejam dan dingin dari Mahendra Group yang ternyata adalah pria dari masa lalunya. Adrian yang sedang mencari ibu pengganti untuk menutupi skandal keluarga, memaksa Anya menandatangani kontrak pernikahan bayangan selama satu tahun.Adrian bersumpah tidak akan pernah mencintai Anya dan memperlakukannya dengan dingin. Namun, setiap kali Anya mencoba menjauh, Adrian justru mengurungnya dalam dekapan posesifnya. Ketika rahasia tentang anak kembar mereka dan dalang di balik malam lima tahun lalu mulai terungkap, Adrian harus memilih: mempertahankan keangkuhannya atau berlutut memohon cinta sang istri bayangan.

Lihat lebih banyak

Bab 1

Malam yang Kujual

Aroma parfum maskulin yang mahal bercampur dengan udara dingin pendingin ruangan menyambutku tepat di depan pintu Kamar 2007 Hotel Grand Luxury. Ponsel di genggamanku bergetar. Nama Bu Ratna, perempuan yang menjadi perantara untuk malam ini, muncul di layar. Aku menarik napas panjang sebelum mengangkatnya.

"Anya, kau sudah di depan kamar?"

"Sudah, Bu." Suaraku nyaris berbisik. "Apakah uang mukanya benar-benar sudah masuk ke rekening rumah sakit?"

"Lima ratus juta rupiah sudah ditransfer penuh lima menit lalu. Dion sudah bisa masuk ruang operasi ICU sekarang."

Aku memejamkan mata. Lima ratus juta. Jumlah yang terlalu besar untuk seseorang sepertiku, tetapi tidak sebanding dengan nyawa adikku.

"Tugasmu hanya masuk dan ikuti semua kemauan pria itu," lanjut Bu Ratna. "Jangan banyak bertanya. Jangan mencoba mencari tahu identitasnya. Dan yang paling penting, jangan membuat masalah."

Aku menggigit bibir bawah. "Baik, Bu."

Panggilan terputus. Untuk beberapa detik, aku hanya berdiri mematung di depan pintu. Jemariku gemetar ketika menggenggam gagang pintu kayu jati itu. 

Di balik pintu tersebut, aku tahu ada seorang pria yang bahkan tidak kukenal. Aku tidak tahu namanya, wajahnya, pekerjaannya, atau alasan mengapa dia memilih menghabiskan malam bersama perempuan yang disediakan oleh seorang perantara.

Yang kutahu hanya satu: Malam ini, aku menjual sesuatu yang tidak akan pernah bisa kudapatkan kembali.

Aku memutar gagang pintu.

Ruangan itu gelap. Tidak ada lampu yang menyala. Gorden beludru tebal menutup seluruh jendela, membuat cahaya dari luar tidak mampu menembus sedikit pun.

Aku melangkah masuk.

"Tutup pintunya."

Suara berat dari sudut ruangan membuat tubuhku menegang. Aku segera menurut.

"S-sesuai kesepakatan... saya sudah di sini, Tuan."

"Kau terlambat dua menit."

Aku menundukkan kepala meskipun dia mungkin tidak dapat melihat ekspresiku dalam kegelapan. "Maaf. Saya harus memastikan pembayaran operasi adik saya sudah masuk."

"Aku tidak tertarik dengan alasanmu." Suara itu terdengar dingin dan datar. Tidak ada sedikit pun kehangatan di dalamnya.

Aku menelan ludah. Langkah kaki terdengar mendekat di atas karpet tebal.

"Siapa namamu?"

Aku terdiam sesaat. "Aturan perantara bilang kita tidak boleh saling menyebut nama atau menanyakan identitas."

Terdengar tawa pendek dari kegelapan. "Jawaban yang bagus."

Aku tidak tahu apakah itu pujian atau sindiran.

Pria itu semakin dekat.

Seketika, aroma wood dan amber yang mahal memenuhi indra penciumanku. Aku merasakan embusan napas hangat di leher sebelum sebuah tangan besar mencengkeram pergelangan tanganku. Tubuhku tertarik dengan satu sentakan. Aku terhempas ke atas kasur. Napasku tercekat ketika tubuh pria itu mengungkungku dari atas.

"Kau gemetar." Suaranya terdengar sangat dekat di telingaku. "Jika kau ingin mundur, lakukan sekarang."

Aku membeku.

"Tapi jangan berharap uang yang sudah dikirim untuk operasi adikmu akan tetap berada di rekening rumah sakit."

Kalimat itu menghantamku lebih keras daripada sentuhan tangannya.

Dion. 

Aku teringat wajah adikku yang terbaring lemah di rumah sakit. Aku tidak boleh mundur.

"T-tidak." Jemariku mencengkeram sprei. "Saya tidak akan mundur."

Pria itu diam.

Aku memejamkan mata rapat-rapat.

"Lakukan... apa yang ingin Anda lakukan."

"Bagus." Nada suaranya berubah semakin dingin. "Jangan berpura-pura suci. Kau datang ke sini karena uang."

Aku menahan napas ketika tangannya bergerak ke tengkukku. Aku tahu apa yang akan terjadi. Dan aku tahu tidak ada satu pun bagian dari diriku yang menginginkannya. Namun, di dalam kepalaku hanya ada satu bayangan.

Dion.

Adikku yang membutuhkan operasi.

Aku membiarkan malam itu berjalan tanpa berusaha memahami siapa pria di hadapanku. Ketika rasa takut semakin menguasai tubuhku, aku hanya memejamkan mata dan membayangkan Dion akan selamat.

Aku tidak ingin mengingat suara pria itu. Aku tidak ingin mengingat aroma tubuhnya. Aku hanya ingin semuanya segera berakhir.

Ketika semuanya selesai, kamar kembali sunyi.

Aku segera bangkit dari tempat tidur. Tubuhku gemetar hebat, tetapi aku memaksa diri mencari gaun yang tadi kulepaskan.

"Kau mau ke mana?" Suara pria itu terdengar dari atas tempat tidur.

Aku berhenti sebentar.

"Tugas saya sudah selesai, Tuan." Aku memungut gaunku dari lantai. "Saya harus kembali ke rumah sakit."

"Pergilah."

Aku tidak menjawab.

"Dan pastikan kau melupakan semua yang terjadi di kamar ini."

Tanganku berhenti pada gagang pintu. Untuk pertama kalinya malam itu, kemarahan kecil muncul di balik rasa takutku.

"Tanpa Anda minta pun," kataku pelan, "saya akan mengubur malam ini selamanya."

Aku membuka pintu. Sebelum keluar, aku menoleh sedikit ke arah kegelapan kamar. Aku tetap tidak bisa melihat wajahnya.

Mungkin itu lebih baik. Aku tidak ingin membawa wajah pria itu dalam ingatanku.

Aku melangkah keluar. Pintu tertutup di belakangku.

Aku berdiri di lorong hotel dengan napas berantakan. Lututku terasa lemas, tetapi aku tidak membiarkan diriku menangis. Aku harus kembali ke rumah sakit. Aku harus memastikan Dion selamat.

Malam ini aku mungkin telah kehilangan sesuatu yang tidak akan pernah kembali. Namun, jika pengorbanan itu bisa menyelamatkan adikku, aku akan menanggung semuanya sendiri.

Tanpa pernah tahu bahwa keputusan yang kuambil malam ini akan mengubah seluruh hidupku.

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Tidak ada komentar
7 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status