MasukDemi menyelamatkan nyawa adiknya yang sakit kritis, Anya terpaksa menjual malam pertamanya kepada seorang pria asing di kamar hotel yang gelap. Dia mengira hubungan itu akan berakhir dalam satu malam. Namun, takdir berkata lain saat dia dinyatakan hamil anak kembar.Lima tahun kemudian, Anya kembali sebagai desainer berbakat dan bertemu dengan Adrian Mahendra CEO kejam dan dingin dari Mahendra Group yang ternyata adalah pria dari masa lalunya. Adrian yang sedang mencari ibu pengganti untuk menutupi skandal keluarga, memaksa Anya menandatangani kontrak pernikahan bayangan selama satu tahun.Adrian bersumpah tidak akan pernah mencintai Anya dan memperlakukannya dengan dingin. Namun, setiap kali Anya mencoba menjauh, Adrian justru mengurungnya dalam dekapan posesifnya. Ketika rahasia tentang anak kembar mereka dan dalang di balik malam lima tahun lalu mulai terungkap, Adrian harus memilih: mempertahankan keangkuhannya atau berlutut memohon cinta sang istri bayangan.
Lihat lebih banyakAroma parfum maskulin yang mahal bercampur dengan udara dingin pendingin ruangan menyambutku tepat di depan pintu Kamar 2007 Hotel Grand Luxury. Ponsel di genggamanku bergetar. Nama Bu Ratna, perempuan yang menjadi perantara untuk malam ini, muncul di layar. Aku menarik napas panjang sebelum mengangkatnya.
"Anya, kau sudah di depan kamar?"
"Sudah, Bu." Suaraku nyaris berbisik. "Apakah uang mukanya benar-benar sudah masuk ke rekening rumah sakit?"
"Lima ratus juta rupiah sudah ditransfer penuh lima menit lalu. Dion sudah bisa masuk ruang operasi ICU sekarang."
Aku memejamkan mata. Lima ratus juta. Jumlah yang terlalu besar untuk seseorang sepertiku, tetapi tidak sebanding dengan nyawa adikku.
"Tugasmu hanya masuk dan ikuti semua kemauan pria itu," lanjut Bu Ratna. "Jangan banyak bertanya. Jangan mencoba mencari tahu identitasnya. Dan yang paling penting, jangan membuat masalah."
Aku menggigit bibir bawah. "Baik, Bu."
Panggilan terputus. Untuk beberapa detik, aku hanya berdiri mematung di depan pintu. Jemariku gemetar ketika menggenggam gagang pintu kayu jati itu.
Di balik pintu tersebut, aku tahu ada seorang pria yang bahkan tidak kukenal. Aku tidak tahu namanya, wajahnya, pekerjaannya, atau alasan mengapa dia memilih menghabiskan malam bersama perempuan yang disediakan oleh seorang perantara.
Yang kutahu hanya satu: Malam ini, aku menjual sesuatu yang tidak akan pernah bisa kudapatkan kembali.
Aku memutar gagang pintu.
Ruangan itu gelap. Tidak ada lampu yang menyala. Gorden beludru tebal menutup seluruh jendela, membuat cahaya dari luar tidak mampu menembus sedikit pun.
Aku melangkah masuk.
"Tutup pintunya."
Suara berat dari sudut ruangan membuat tubuhku menegang. Aku segera menurut.
"S-sesuai kesepakatan... saya sudah di sini, Tuan."
"Kau terlambat dua menit."
Aku menundukkan kepala meskipun dia mungkin tidak dapat melihat ekspresiku dalam kegelapan. "Maaf. Saya harus memastikan pembayaran operasi adik saya sudah masuk."
"Aku tidak tertarik dengan alasanmu." Suara itu terdengar dingin dan datar. Tidak ada sedikit pun kehangatan di dalamnya.
Aku menelan ludah. Langkah kaki terdengar mendekat di atas karpet tebal.
"Siapa namamu?"
Aku terdiam sesaat. "Aturan perantara bilang kita tidak boleh saling menyebut nama atau menanyakan identitas."
Terdengar tawa pendek dari kegelapan. "Jawaban yang bagus."
Aku tidak tahu apakah itu pujian atau sindiran.
Pria itu semakin dekat.
Seketika, aroma wood dan amber yang mahal memenuhi indra penciumanku. Aku merasakan embusan napas hangat di leher sebelum sebuah tangan besar mencengkeram pergelangan tanganku. Tubuhku tertarik dengan satu sentakan. Aku terhempas ke atas kasur. Napasku tercekat ketika tubuh pria itu mengungkungku dari atas.
"Kau gemetar." Suaranya terdengar sangat dekat di telingaku. "Jika kau ingin mundur, lakukan sekarang."
Aku membeku.
"Tapi jangan berharap uang yang sudah dikirim untuk operasi adikmu akan tetap berada di rekening rumah sakit."
Kalimat itu menghantamku lebih keras daripada sentuhan tangannya.
Dion.
Aku teringat wajah adikku yang terbaring lemah di rumah sakit. Aku tidak boleh mundur.
"T-tidak." Jemariku mencengkeram sprei. "Saya tidak akan mundur."
Pria itu diam.
Aku memejamkan mata rapat-rapat.
"Lakukan... apa yang ingin Anda lakukan."
"Bagus." Nada suaranya berubah semakin dingin. "Jangan berpura-pura suci. Kau datang ke sini karena uang."
Aku menahan napas ketika tangannya bergerak ke tengkukku. Aku tahu apa yang akan terjadi. Dan aku tahu tidak ada satu pun bagian dari diriku yang menginginkannya. Namun, di dalam kepalaku hanya ada satu bayangan.
Dion.
Adikku yang membutuhkan operasi.
Aku membiarkan malam itu berjalan tanpa berusaha memahami siapa pria di hadapanku. Ketika rasa takut semakin menguasai tubuhku, aku hanya memejamkan mata dan membayangkan Dion akan selamat.
Aku tidak ingin mengingat suara pria itu. Aku tidak ingin mengingat aroma tubuhnya. Aku hanya ingin semuanya segera berakhir.
Ketika semuanya selesai, kamar kembali sunyi.
Aku segera bangkit dari tempat tidur. Tubuhku gemetar hebat, tetapi aku memaksa diri mencari gaun yang tadi kulepaskan.
"Kau mau ke mana?" Suara pria itu terdengar dari atas tempat tidur.
Aku berhenti sebentar.
"Tugas saya sudah selesai, Tuan." Aku memungut gaunku dari lantai. "Saya harus kembali ke rumah sakit."
"Pergilah."
Aku tidak menjawab.
"Dan pastikan kau melupakan semua yang terjadi di kamar ini."
Tanganku berhenti pada gagang pintu. Untuk pertama kalinya malam itu, kemarahan kecil muncul di balik rasa takutku.
"Tanpa Anda minta pun," kataku pelan, "saya akan mengubur malam ini selamanya."
Aku membuka pintu. Sebelum keluar, aku menoleh sedikit ke arah kegelapan kamar. Aku tetap tidak bisa melihat wajahnya.
Mungkin itu lebih baik. Aku tidak ingin membawa wajah pria itu dalam ingatanku.
Aku melangkah keluar. Pintu tertutup di belakangku.
Aku berdiri di lorong hotel dengan napas berantakan. Lututku terasa lemas, tetapi aku tidak membiarkan diriku menangis. Aku harus kembali ke rumah sakit. Aku harus memastikan Dion selamat.
Malam ini aku mungkin telah kehilangan sesuatu yang tidak akan pernah kembali. Namun, jika pengorbanan itu bisa menyelamatkan adikku, aku akan menanggung semuanya sendiri.
Tanpa pernah tahu bahwa keputusan yang kuambil malam ini akan mengubah seluruh hidupku.
Langkah kakiku terasa berat saat meninggalkan lobi Mahendra Group. Sinar matahari sore Jakarta menyentuh kulitku, tetapi tubuhku justru terasa dingin. Dokumen yang baru saja kutandatangani seolah berubah menjadi rantai tak kasatmata yang mengikatku kembali pada pria yang paling ingin kuhindari.Adrian Mahendra.Aku segera memesan taksi daring. Sepanjang perjalanan menuju apartemen, pandanganku kosong menatap kemacetan Jakarta.Aku harus mulai menyusun strategi.Pernikahan ini memang tertutup, tetapi aku tetap harus berhati-hati. Sebagai istri Adrian Mahendra, hidupku akan lebih mudah menjadi perhatian orang-orang di sekitarnya. Satu kesalahan kecil bisa menghancurkan semuanya.Begitu tiba di apartemen, aku menarik napas dalam-dalam sebelum membuka pintu. Aku tidak boleh terlihat rapuh di depan anak-anak."Ibu pulang!"Suara Lea langsung menyambutku. Tubuh mungilnya berlari menghampiri dan memeluk kakiku. Leo menyusul beberapa detik kemudian dengan senyum lebar di wajahnya.Aku berlutu
Pagi itu, aku kembali duduk di depan Adrian. Dokumen kontrak terbuka di hadapanku. Sejak semalam, aku sudah membacanya berkali-kali. Setiap klausul kuperiksa dengan teliti, memastikan tidak ada satu pun bagian yang terlewat. Aku tahu apa yang akan terjadi jika aku menandatangani kontrak ini. Karena itu, aku tidak boleh ceroboh.Adrian melirik jam tangannya. "Waktumu tinggal lima menit."Aku mengangkat wajah. "Anda benar-benar tidak memberi saya pilihan.""Aku memberimu pilihan sejak kemarin.""Itu bukan pilihan."Adrian mengangkat alis. "Lalu apa?""Pemaksaan."Untuk sesaat, ekspresinya berubah. "Kau masih bisa pergi.""Dan kehilangan pekerjaan?""Itu konsekuensi."Aku tertawa kecil. "Konsekuensi dari menolak Anda?""Konsekuensi dari keputusanmu."Aku menatapnya tajam. "Anda pandai sekali mengubah ancaman menjadi nasihat."Adrian tidak menjawab.Aku kembali menunduk dan memeriksa dokumen di hadapanku. "Saya akan menerima."Tatapan Adrian langsung tertuju kepadaku."Tapi saya punya beb
Pagi berikutnya, aku kembali berada di ruang kerja Adrian. Aku datang membawa revisi desain lobi utama. Namun, melihat Adrian yang bahkan tidak melirik berkas di tanganku, aku mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres."Duduk, Anastasia."Aku menatapnya sejenak sebelum berjalan menuju kursi di seberang meja. Aku meletakkan berkas di hadapannya."Saya sudah merevisi konsep lobi utama seperti yang Anda minta."Adrian tidak menyentuh berkas tersebut. "Aku tidak memanggilmu untuk membahas marmer."Alisku bertaut. "Lalu?"Adrian akhirnya mengangkat wajah. "Tentang dirimu."Aku terdiam. "Saya?""Dan tentang masa depanku."Entah mengapa, kalimat itu membuat perasaanku tidak nyaman.Adrian membuka laci mejanya, kemudian mengeluarkan sebuah dokumen. Dia meletakkannya di atas meja dan mendorongnya ke arahku.Aku mengambilnya. Mataku langsung tertuju pada judul yang tercetak tegas di halaman pertama.PERJANJIAN PERNIKAHAN KONTRAK.Aku mengangkat wajah. "Apa ini?""Kontrak pernikahan.""Saya tahu
Tatapan Adrian Mahendra membuat seluruh tubuhku menegang. Pria itu berdiri beberapa langkah di depanku, menatapku seolah sedang mencari sesuatu dari wajahku. Aku berusaha mempertahankan ekspresi profesional, meskipun jantungku berdetak terlalu cepat."Siapa dia?" Suara Adrian terdengar berat.Sekar segera menjawab. "Ini Ibu Anastasia Kirana, Pak. Desainer interior utama yang dikirim oleh firma Paris untuk proyek perombakan gedung pusat."Aku menahan napas. Jadi, selama lima tahun terakhir, pria yang paling ingin kulupakan ternyata adalah Adrian Mahendra, CEO Mahendra Group.Aku tidak tahu apakah dia mengenaliku. Malam itu berlangsung dalam kegelapan. Dia tidak pernah melihat wajahku. Namaku juga tidak pernah disebut. Seharusnya dia tidak mungkin tahu siapa aku.Namun, ketika Adrian berjalan mendekat, tubuhku kembali menegang. Aroma wood dan amber itu semakin kuat. Ingatan tentang lima tahun lalu tiba-tiba kembali memenuhi kepalaku.Aku tidak boleh kehilangan kendali. Aku datang ke sin






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.