Share

143 Keluar di Ranjang

Author: Eliyen Author
last update Petsa ng paglalathala: 2026-09-11 19:03:12

Perut Lala terpelintir ngeri. Orgasmenya terjeda sejenak. Gairah serasa menyusut drastis saat mendengar kata ‘darurat’ dan seseorang yang menunggunya di balik pintu. Sementara, jari-jari Arvin masih berada di dalam dirinya dan masih terus bergerak.

“Arvin, ada yang darurat.” Lala berkata susah payah. Dia menggigit bibir, menahan rasa sedikit nyeri yang muncul tiba-tiba.

“Pak Arvin. Lala,” panggilan itu kembali datang, tetapi dengan volume yang lebih pelan.

Mata Arvin menyorot sangat tajam. D
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Pesona Kakak Tetangga yang Menggoda   177 Service Perempuan

    “Ehem. Ehem. Rupanya kami sudah mengganggu family time Bapak Arvin dan Ibu Nalani. Tapi karena kita masih harus membahas beberapa hal, tolong anggap kami tidak ada saja.”Lala menoleh. Detik itu juga jantungnya serasa mau copot. Dia meloncat turun dari pangkuan Arvin dan berdiri di samping sofa dengan wajah merah padam menahan malu.“Ma-maafkan sa-saya.” Lala terbata-bata. “Saya … saya keluar dulu.”Wanita itu sempat melihat ke sekeliling. Rasanya Lala ingin tenggelam ke dasar bumi. Semua kepala departemen ada di sini. Dilan juga ada. David dari Bayu Atelier bahkan juga ada di sini, padahal dia berkantor di Jakarta.“Istriku kangen aku sepertinya.” Arvin bicara tenang. “Kalau begitu, kita lanjutkan besok. Kalian semua juga sudah capek.”“Eh, biar aku aja yang keluar.” Lala beringsut pergi.Namun, Arvin menahan tangannya. Pria itu bicara kepada semua orang di ruangannya, tetapi arah pandangannya hanya tertuju kepada Lala.“Mereka semua sudah capek. Aku bersalah, jika membuat mereka l

  • Pesona Kakak Tetangga yang Menggoda   176 Kenapa Kamu Tak Mengerti Aku?

    Lala tahu ada yang salah dengan suaminya. Kenal sejak kecil, jumlah kerut di dahi Arvin sudah menunjukkan apa emosi yang tersimpan di hati pria itu. Masalahnya, Lala kesulitan menginterogasi. Sejak mereka masuk ke klinik kandungan, Arvin terus membisu. Lala mulai emosi sendiri melihat diamnya Arvin.“Perasaan yang dari kemarin protektif banget itu kamu, deh, Vin. Kok, di depan dokter tadi malah lempeng banget?” Lala menyindir setelah mereka bertemu dengan dokter spesialis ginekologi.Arvin tersenyum sangat tipis, hingga lebih mirip seringai. “Sayang, aku antar kamu pulang. Aku perlu balik ke kantor dulu.”“Eh, nggak bisa, dong. Bukannya tadi kamu janji mau nemenin aku seharian ini?” Lala protes.Arvin mengusap kepala istrinya. “Ada kondisi darurat. Kantor butuh aku.”[Aku juga butuh kamu, Arvin Dirgantara.]Namun, kalimat itu hanya tertelan di hati Lala. Dia tidak berani mengutarakannya.Jadilah, Lala harus rela melepas suaminya kembali bekerja, di saat dirinya dilarang untuk kembal

  • Pesona Kakak Tetangga yang Menggoda   175 Syarat si Patriarki

    “Aku mau buat kesepakatan sama kamu.”Arvin menggeleng. “Suami harusnya yang menawarkan kesepakatan.”“Duh, Vin. Zaman gini masih patriarki aja.” Lala mengejek.“Tapi aku patriarki sekaligus provider.” Arvin mengangkat sekeping kartu hitam. “Ini kan, yang kamu mau? Sampai kamu bersedia merendahkan harga dirimu untuk bernegosiasi denganku.”Mata Lala berkilau. Dia menjilat bibir yang mendadak kering. Namun, dilihat sepintas justru gesturnya malah seperti orang kelaparan berhadapan dengan makanan lezat.“Oke. Oke. Aku nggak dukung patriarkimu, tapi buat sekarang aku masih bisa terima.” Lala menjulurkan tangan hendak mengambil black card Arvin.Sayangnya, pria di hadapannya bergerak lebih dulu dan lebih cepat. Dia mengangkat kartu itu tinggi-tinggi di udara. Istrinya jelas kalah telak karena tinggi badan mereka yang kelewat jomplang.“Arvin!” Lala protes.Pria itu tertawa. “Hati-hati. Jangan loncat-loncat. Kehamilanmu ….”Lala menghembuskan napas panjang. Dia duduk di sofa. Suaranya kemb

  • Pesona Kakak Tetangga yang Menggoda   174 Pemandangan Tak Senonoh

    “Kamu pernah kasih aku kerjaan renovasi interior apartemen, kan? Jadi, ini salah satu material yang aku butuhkan.”Arvin berkedip cepat. Mulutnya terbuka lebar. Hilang sudah citra CEO yang dingin dan tenang melihat pemandangan cabul di hadapannya.“Lala,” suara Arvin serak. Dia sampai perlu berdeham-deham untuk membersihkan tenggorokan. “Ruangan mana yang kamu renov?”“Kamar di samping tangga.” Lala tersenyum lebar. “Pintunya kubuat tersembunyi. Aku sudah koordinasi dengan manajemen gedung. Mereka mau kasih izin buat ubah tata letak pintu.”Arvin mengangkat borgol berlapis bulu. Ada banyak tipe borgol terpajang di hadapannya. Belum lagi deretan cambuk dalam berbagai warna, ukuran, dan jenis.“Lala.” Arvin menarik wanita itu ke sudut ruangan. Wajahnya sudah merah padam. “Ini … apa?”“Kamar bercinta kita,” jawab Lala dengan volume normal. Arvin sontak membekap mulut Lala, tetapi wanita itu segera menurunkan tangan suaminya. Tawanya renyah.“Tenang aja. Di sini cuma ada kita berdua, kok

  • Pesona Kakak Tetangga yang Menggoda   173 Pejantan Tangguh

    “Selamat, Ibu. Perkiraan usianya sekitar delapan minggu. Lihat, ukuran janinnya sebesar buah berry.”Lala mengusap foto USG. Ingatannya kembali memutar percakapan dengan dokter kandungan beberapa menit lalu.Sekarang dia sedang duduk di ruang tunggu. Sembari menanti resep vitaminnya selesai dibuat, Lala memandangi kertas kecil dengan gambar lingkaran yang tidak bisa dia baca.“Kamu ada, Nak. Kamu beneran ada.” Lala mengusap perutnya. “Sebesar buah berry. Ya ampun, kamu kecil banget. Padahal bapakmu udah kayak gapura kabupaten gitu.”Senyum Lala perlahan sirna saat teringat Arvin. Dia menelan ludah. Segumpal rasa panas menyumbat tenggorokannya.[Gimana kalau Arvin tahu aku hamil? Apa dia bakalan lebih protektif lagi? Apa dia bakal maksa aku berhenti kerja?]Lala menggigit bibir. Ketakutan harus berhenti dari pekerjaannya dan dikurung di rumah karena hamil terus menghantui pikiran Lala.[Aku nggak boleh kasih tahu Arvin soal kehamilanku. Nggak sekarang. Mending nunggu aja pas perutku ud

  • Pesona Kakak Tetangga yang Menggoda   172 Garis Merah Muda

    Dua garis merah muda.Pandangan Lala nanar. Jarinya yang memegang setrip kehamilan gemetar. “Ini … hamil?” tanyanya lirih kepada diri sendiri.Tok. Tok. Tok.“Lala. Sayang. Kamu masih lama di dalam?”Lala terlonjak kaget. Refleks dia menyembunyikan setrip test pack ke dalam branya. Kemudian, dengan terburu-buru Lala membuang bungkus dan cawan penguji kehamilan ke tong sampah.“Pakai kamar mandi luar saja, Vin!” teriak Lala.“Kamu butuh privasi? Biasanya pintu nggak dikunci.”Lala memutar bola mata. “Pakai kamar mandi luar saja!” teriak wanita itu setengah kesal.Arvin menggerutu. Detik berikutnya terdengar suara langkah kaki menjauh. Lala duduk di toilet sambil mengelus-ngelus dadanya yang berdebar kencang.“Kenapa aku setakut ini?” Lala menghembuskan napas panjang. Dia mengambil lagi bungkus test pack dan menyembunyikannya di balik baju. Memanfaatkan Arvin yang masih berada di kamar mandi luar, Lala menyelinap keluar dan bergegas memasukkan semua pernak-pernik penguji kehamilan itu

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status