تسجيل الدخولLala kembali ke kampung halamannya membawa kembali ingatan memalukan tujuh tahun lalu, saat dia menjadi gadis remaja yang terobsesi mengejar Arvin, kakak tampan yang tinggal di sebelah rumah ibunya. Dengan kedatangannya, Lala bersumpah kalau dia bukan gadis yang sama dengan dirinya di masa lalu dan berusaha melupakan masa kelam itu. Namun, di hari pertama dia tinggal di sana, Lala langsung disuguhi pemandangan Arvin yang sedang bertelanjang dada! Dunia sedang mengujinya atau bagaimana!?
عرض المزيدByurrr!Enam orang pengepung Lala membeku. Nanar mereka memandang ke arah kolam. Suara kaget seseorang terdengar keras.“Gila! Tu cewek malah lompat ke air!”“Biarin aja! Si jalang itu udah bikin kepalaku bocor!”“Bro, dia mabuk! Dia bisa mati tenggelam kalau nggak segera ditolong!”“Mampus aja sekalian! Itu balasan yang pantas buat jalang kayak dia!”Terdengar suara deburan keras lagi. Enam kepala menoleh. Ada seseorang yang terjun ke kolam renang. Dia menyelam dan masih belum muncul lagi.“Jalang sialan itu bikin repot aja,” desis pria yang masih memegangi kepalanya yang berdarah.“Siapa yang kamu bilang jalang sialan?”Enam kepala itu kembali menoleh, kali ini ke arah berlawanan. Mereka terperanjat melihat Arlo berdiri di belakang.Suara dentum musik di kejauhan seolah meredup saat satu langkah kaki yang tenang dan teratur berjalan ke arah mereka. Arlo keluar dari balik rimbun pepohonan taman. Pria itu tak lagi menampakkan wajah kekanak-kanakannya. Kemeja bagian atasnya sudah terb
Dari semua hal yang ada di diri Lala, kenapa Arvin malah mengomentari bajunya?Prak!Lala setengah membanting gelas ke atas meja. Peristiwa setengah jam lalu itu masih mengusik pikiran dan hatinya sangat kuat, sampai membuat kekesalannya memuncak hingga ubun-ubun.Niatnya semula ingin balas dendam kepada Arvin yang sudah merendahkannya siang tadi. Nyatanya, justru rencananya itu malah blunder dan kembali ke dirinya sendiri.“Nyebelin,” gumam Lala.Dia menoleh ke panggung. Arlo sedang meniup kue ulang tahunnya. Kedua orang tuanya dan Arvin juga berdiri di atas panggung. “Gila. Dua Dirgantara itu gantengnya nggak ada obat. Kakak Arlo akhirnya muncul juga ke permukaan.”Lala yang mendengar ocehan itu menoleh. Sekelompok perempuan muda terlihat memelototi Arvin dengan terang-terangan. Pegangan Lala di gelas mengencang.“Dia monster,” celetuk Lala tiba-tiba. “Nggak pernah bisa baik sama cewek. Karena itu, dia masih jomblo sampai sekarang.”Para perempuan itu menoleh dan menatapnya dengan
“Sempat ketemu sama mas-masmu, La?”Lala yang baru masuk rumah setelah berjam-jam membereskan rumah tetangga sebelah langsung menggelosor di lantai dapur. Dia menenggak air dingin hingga tandas. “Baru ketemu Mas Arvin,” jawab Lala singkat kemudian.Pertemuan yang menyakitkan, batinnya pahit. Sebelum suasana hatinya makin memburuk, Lala segera mengalihkan pembicaraan. “Rumah Tante Ami makin mewah ya, Bu?”“Hasil karya Arvin.” Ibunya meletakkan piring berisi camilan lalu ikut duduk di samping Lala. “Sejak kembali dari luar negeri, Arvin ambil alih bisnis keluarganya agar Tante Ami bisa lebih santai. Jadinya malah makin sukses.”Lala manggut-manggut. Keluarga Dirgantara memang memiliki bisnis properti dan perhotelan yang merambah ke berbagai kota, bahkan belakangan sampai memegang proyek resor internasional. Tak heran bila pundi-pundi uang keluarga itu makin melimpah.“Arvin dan Arlo juga masih baik banget sama Ibu. Ndak ada yang ngira mereka anak orang kaya kalau pas main ke sini.”“M
Lala berdiri mematung menatap pria setengah telanjang di depannya.Namun, ia kemudian buru-buru berbalik membelakangi Arvin. Dia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, menahan jeritan frustrasi yang hampir saja lolos dari tenggorokannya. Kenapa pria ini selalu menemukan alasan untuk mempermalukannya!?“Aku … aku nggak nyelonong,” jawab Lala. Suaranya sedikit bergetar, sementara jemarinya meremas kain selimut yang dipegangnya. “Tante Ami yang minta bantuanku buat beres-beres. Terus itu … ART di luar minta tolong ambil cucian di kamar.”“Kesempatan untukmu. Bukan begitu?”“Jangan salah paham!” Lala memejamkan matanya, lalu mengatur napas. Jika melihat perbuatannya beberapa tahun lalu, memang pantas Arvin salah sangka. Ia juga tidak mau membuang tenaganya untuk berdebat.Karenanya, Lala berusaha bersikap biasa saja dan lanjut mengumpulkan baju cucian yang tersebar di sekeliling kamar.“... Kata Tante kamu ngantor hari ini.”“Hm.”“Sudah pulang?” Lala melirik jam dinding yang menunjukkan


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.