LOGIN[Benci aku sepuasmu, Lala. Tapi malam ini, kamu milikku.] Dahulu dia dicap cewek murahan oleh Arvin yang dicintainya dan terpaksa membuat Lala menghindari pria itu 7 tahun lamanya. Kini, Lala harus berlutut di bawah kuasa Arvin, mantan tetangga yang menjelma jadi CEO dingin nan posesif. Jejak merah di lehernya jadi bukti. Arvin tak hanya ingin menguasai proyek desainer interiornya, tetapi juga menuntaskan obsesi terlarang yang tertunda. Lala harus memilih. Hancur untuk kedua kali, atau justru tenggelam dalam penyesalan Arvin yang membara?
View More“Kamu pikir, aku akan tertarik dengan gadis nakal seperti kamu?”
Sapuan halus buku-buku jari ke pipi Lala membuat bulu kuduk gadis itu berdiri. Dia menggigit bibir, merasakan hawa napas panas Arvin menyapu kulit lehernya.
Tubuhnya mendadak kaku. Padahal ia memang ingin laki-laki ini memperhatikannya. Namun, jenis perhatian yang ia inginkan dari Arvin … bukan seperti ini. Sekarang ia justru merasa kalau dirinya sedang berada di dalam–
“Aku justru paling benci perempuan sepertimu.”
–bahaya.
Tiba-tiba, sebelum Lala sempat menjawab, bibir Arvin sudah beradu dengan miliknya. Sepasang mata Lala membelalak, terkejut. Tidak percaya. Tangannya mendorong dada Alvin agar melepaskannya, tapi laki-laki itu justru memperdalam ciuman mereka dan–
Bruk!
“Aduh!” Lala mengerang keras. Dia sontak duduk tegak sambil mengusap-usap kepalanya.
“Maaf, Mbak. Maaf. Saya kedorong tadi.” Seorang lelaki berkata cepat-cepat.
Dua tangannya mengangkat koper yang beberapa detik lalu menghantam kepala Lala dan membangunkan gadis itu dari tidurnya, sekaligus memutus mimpi Lala.
Ia mengedarkan pandangan ke sekitar dan menyadari kalau dia sudah sampai di stasiun tujuannya.
Oh, terima kasih, siapa pun yang menghantam kepalanya tadi. Kalau tidak, ia bisa-bisa telat turun.
Lala spontan berdiri. Dia menyambar ranselnya yang ada di bawah dan langsung menghambur keluar kereta. Dia melompat turun gerbong lalu menghirup udara Kota J dalam-dalam.
Dan terima kasih juga telah membangunkan Lala dari mimpi buruk itu.
Tampaknya, kepulangannya ke kampung halamannya sedikit membuat Lala stres, jadi ia kembali memikirkan masa lalunya yang memalukan. Sampai terbawa mimpi.
Sebenarnya, kurang tepat jika dikatakan mimpi, karena itu adalah ingatannya saat masih remaja. Tepat sebelum Lala meninggalkan kampung halamannya ini untuk kuliah dan merantau di kota antah berantah selama tujuh tahun.
Semua demi menghindari pria itu.
Arvin Dirgantara. Lelaki yang dikejarnya seperti cewek kasmaran hilang akal, sekaligus orang yang menghancurkan harga dirinya.
Namun, Lala tidak menyalahkan sosoknya. Ia sadar, waktu itu memang kesalahannya. Ialah yang sudah terlalu memaksa, bahkan terobsesi menjadikan anak tetangganya itu sebagai pacarnya. Pantas saja jika Arvin, pria itu, muak dengannya dan melakukan segala hal untuk mengusirnya pergi.
Puncaknya adalah saat Lala memaksa masuk ke kamar laki-laki itu di suatu malam. Dengan dalih mau menjenguk Arvin yang sedang demam, Lala mendatangi kakak tetangganya itu sembari mengenakan–
Lala menghela napas. Kebodohannya saat berusia 18 tahun itu masih saja menghantuinya.
“Memikirkan apa?” Tiba-tiba sang ibu bertanya.
Kini dirinya sudah ada di rumah, sedang duduk berdua dengan ibunya di ruang tamu. Ibunya tersebut tampak tersenyum saat melihat Lala yang sedang melamun.
“Kayak … nggak banyak ada yang berubah, Bu,” ucap Lala. “Padahal aku sudah bertahun-tahun tidak pulang ke sini.”
“Tujuh tahun itu agak relatif,” balas sang ibu. Ia mengelus rambut putrinya dengan sayang. “Ibu senang sekali, Nak, kamu akhirnya mau pulang.”
Lala tersenyum. “Iya, Bu.”
“Ada masalah di kota?”
“Enggak. Cuma … kangen aja, suasana di sini. Di kota semuanya serba cepat, akunya capek, Bu.”
Ibunya mengangguk-angguk. “Kamu mau istirahat dulu? Kamarmu sudah Ibu siapkan,” kata wanita paruh baya itu. “Masih sama seperti dulu.”
Begitu membuka pintu dan masuk ke dalam kamar tidur, Lala langsung tersenyum. Tempat tidur ukuran kecil dengan tirai putih, serta lemari pakaian dan meja rias yang menjadi dua satu-satunya perabot di sana. Jendela kamar tidur dapat dibuka lebar untuk menikmati pemandangan di samping rumah.
Dulu, gadis itu suka menggunakan sudut ini untuk mengintip seseorang secara sembunyi-sembunyi.
Lala membuka jendela dan bertopang dagu di sana, menatap jendela di seberang yang tertutup rapat, menikmati embusan angin.
Sorot matanya menjadi tidak fokus, tenggelam dalam masa lalu.
Keluarganya dan Arvin sudah lama hidup bertetangga. Ibunya adalah orang tua tunggal, sama seperti ibu Arvin. Jadi mereka dekat dan anak-anak mereka kemudian bergaul bersama sejak kecil.
Lala masih ingat. Dulu sekali, saat ia masih duduk di sekolah dasar, dirinya pernah diganggu kawan sepermainannya karena ibunya tidak mampu membelikan sepatu baru. Mendapati dirinya menangis sesenggukan waktu itu, Arvin dan–
Ceklek!
Lamunan Lala terhenti saat di hadapannya, jendela lebar di seberang kamarnya itu terbuka. Tirainya tersingkap. Seorang pria bertubuh tinggi dengan kemeja hitam yang dua kancing teratasnya terbuka muncul di sana.
Sepasang mata tajam itu menyorot tenang. Garis rahangnya tegas. Wajahnya tampan, nyaris tak bercela. Dan bibir tipis itu membuat darah tiap wanita yang melihatnya berdesir hebat.
Lala tertegun. Pandangan mereka bertemu.
Jantung Lala serasa turun ke perut. Refleks, dalam hitungan detik, dia menarik jendela kamarnya agar menutup rapat-rapat.
CTAK!
“Awww! Aduh!” Lala meringis histeris sambil memegangi jarinya yang barusan terjepit daun jendela.
Wajahnya merah padam, antara menahan sakit di jari dan rasa malu yang melambung ke langit-langit. "Arvin sialan! Kenapa dia ada di sini? Bukannya kata Ibu, dia tinggal di luar negeri sekarang?”
“Hei, siapa kamu? Jangan sembarangan main peluk wanita orang.” Julian sontak berdiri dan menarik kerah baju pria di hadapannya.Karena pria itu masih memeluk Lala kuat-kuat, otomatis tarikan Julian juga membawa Lala turut serta. Wanita itu memekik kaget karena hampir terjatuh.“Bro, take easy. Aku peluk kakak iparku sendiri, memangnya nggak boleh?”“Kakak ipar?” Julian terkejut.Arlo menatap dingin ke arah tangan Julian yang masih mencengkeram bajunya. “Lepas dulu, bisa?”Julian menatap Lala. Yang ditatap mengangguk. “Dia Arlo Dirgantara, adik Arvin.”Spontan Julian melepaskan cengkeramannya di kerah baju Arlo. Pandangannya bertemu dengan pria muda itu.“Apa maksudmu wanita orang?” tanya Arlo sinis.Julian berdeham. “Maksudku, istri kakakmu.”“Nah, itu baru benar.” Arlo melepaskan pelukannya di badan ramping Lala. Dia tidak mau repot-repot mengulurkan tangan kepada Julian.“Anda Julian Vance?”Julian mengangguk.“Sudah ada rencana kapan pulang?”Ekspresi Julian sekaku kertas. “Apa aku
“Kalau bisa gulung bumi, bakalan kamu gulung juga biar bisa ketemu Lala, Mas.”Arvin mendelik kesal ke arah adiknya. “Kenapa ke sini?”“Disuruh Ibuk. Katanya suruh pasang penangkap sinyal di lokasi proyek. Ibuk sama Bibi susah mau telepon Lala.”Arlo meletakkan rantang di atas meja kerja Arvin. “Sekalian ini disuruh Ibuk bawain buat kamu. Lama nggak pulang, Ibuk kangen.”Arvin menatap dingin. Arlo buru-buru berkata lagi.“Itu pesan Ibuk. Nggak aku kurangin, nggak aku tambahin.”Arvin melengos. Dia kembali berkutat menatap laptop. “Mas, yang digibahin pegawai itu bener? Mas kecintaan banget sama Lala? Baru ditinggal sehari aja sudah muring-muring nggak karuan. Banyak yang kena semprot kamu katanya.”Arvin melirik Arlo. “Pintu keluar masih ingat, kan?”“Ampun, deh. Beneran kayaknya yang diomongin sama pegawai-pegawaimu.” Alih-alih pergi, Arlo malah duduk santai di sofa.“Lala beruntung banget bisa nikah sama orang yang dia cintai.”Perhatian Arvin sedikit teralihkan. “Kamu tahu itu?”“
“Nggak ada kamar kosong di sini, Ju. Kamu harus balik ke pusat kota.”“Aku bisa gantikan tempat Arvin. Di mana Arvin menginap selama di sini?”Lala memiringkan kepala. “Nggak bisa. Arvin selama ini tidur sama aku. Nggak mungkin kamu tidur sama aku juga.”Terdengar suara semburan keras dari latar belakang. Lala menoleh. Dia melihat anggota tim saling menyembunyikan muka. Ada gelas dipegang oleh dua orang. Lala bisa menebak, pasti mereka mendengar pembicaraannya dengan Julian dan merasa kaget.“Kamu satu kamar dengan Arvin?”Lala kembali menatap Julian. Mengapa nada bicara pria itu terdengar aneh di telinganya?“Iya, nggak ada yang salah sama hal itu.” Lala menghembuskan napas panjang.“Julian, ini bukan waktu yang tepat buat kamu berkunjung ke sini. Aku lagi hectic berat. Ada banyak kerjaan di sini. Aku nggak bisa temani kamu.”“Aku bisa menunggumu.” Julian berkata.Lala menghembuskan napas panjang. Dia sudah lelah. Suasana hatinya masih belum membaik efek perpisahan dengan Arvin sore
Pesan itu dikirim Lala dua hari yang lalu, di subuh hari setelah DM-nya dibalas oleh Robby alias Rebecca, transgender yang pernah diaku sebagai pacar Julian.Julian tak membalasnya. Lala pun mulai tak ambil pusing. Dia mengerjakan tahap terakhir desainnya dan berinteraksi dengan penduduk lokal. “Makan sini.” Arvin menepuk bangku kosong di sebelahnya.Lala tersenyum senang. Sarapan nasi pecel di desa ini adalah satu bentuk kemewahan sederhana yang menyenangkan, apalagi ditemani suami tercinta.“Wealah, semoga anakku nggak niru perempuan-perempuan yang pergaulannya bebas. Di mana saja suka nemplok sana sini.”Lala yang baru menerima piring nasi pecel menatap Bu Wahyu. Dia ada di kerumunan bersama sekelompok ibu.“Cuekin saja,” bisik Arvin.“Dia nyindir aku, Vin,” geram Lala.“Selama nggak sebut nama, cuekin. Jangan didengarkan. Kamu bukan sekali ini dijulidin orang, kan?”Lala mengerjap. Ingatannya melayang ke rumah di Kota J. Para pembantu di rumah-rumah megah di sana sering menggosip












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.