로그인Gia dan Arka bersusah payah mencari jalan di hutan yang bahkan mereka tidak pernah menyangka akan berada di tempat ini. Entah sudah berapa pengalaman yang mereka berdua lalui selama bersama dalam hubungan yang pura pura ini.Mereka berdua sudah hampir menyerah sebelum akhirnya menemukan jalan utama dan meminta bantuan pada orang sampai akhirnya mereka bisa kembali pulang.Gia merasa seperti dejavu, perjalanannya dengan Arka kali ini seperti pernah ia rasakan sebelumnya. Namun bedanya ia merasa aman dan nyaman dengan laki laki itu walau sempat ketakutan. "Masih sakit ga?" tanya Gia pada laki laki itu setelah sampai di rumah. Ia memperhatikan kaki Arka dengan khawatir. "Ini ga bisa kalau dibiarin gini nanti malah tambah parah, kita ke dokter aja ya," suruhnya sambil memasang penuh iba pada Arka yang terlihat santai santai saja.Laki laki itu tersenyum senang merasa diperhatikan oleh Gia. "Kamu, udah kaya istri beneran aja panik kaya gitu liat aku sakit?" tanyanya dengan tengil.Gia mel
Cahaya matahari perlahan menyusup di antara rimbunnya pepohonan. Sinar keemasan terlihat jatuh di atas dedaunan yang masih basah oleh embun. Pagi ini Gia dan Arka mulai melanjutkan perjalanannya untuk bisa segera keluar dari hutan ini dan kembali ke rumah.Mereka berjalan beriringan berdua dengan hati hati, namun yang namanya sebuah musibah tidak ada yang tau kapan ia datang. Saat Arka hendak mencari jalan turun, justru laki laki itu malah terpeleset karena jalan yang agak licin. Gia langsung terkejut dan berteriak "Arkaaa."Laki laki itu terperosok ke bawah rerimbunan rumput, dan Gia pun buru buru menolongnya. Jantung perempuan itu berdegup lebih cepat khawatir pada Arka.Perempuan itu bersusah payah turun ke tempat laki laki itu berada dan mendapati Arka perlahan berdiri dengan wajah kesakitan. Arka lalu membungkuk memegangi salah satu kakinya. "Aduh,” keluhnya pelan.Tubuh Arka sedikit kehilangan keseimbangan sehingga Gia reflek memegang lengannya agar laki-laki itu tidak jatuh.
"Lo Bu, wis nikah kok kamare pisah?" (Loh bu, sudah nikah kok kamarnya pisah?) tanya Bu Pon yang pagi pagi sudah berada di rumah yang ditempati Arka dan Gia.Bu Minem dan Bu Pon pagi ini berniat menghampiri Gia untuk mengajaknya bantu bantu di rumah tetangga yang mengadakan hajatan untuk besok. Namun ternyata tidak ada orang di rumah itu dan Bu Minem mencoba lewat pintu belakang yang tidak dikunci.Akhirnya mereka berdua bisa masuk ke rumah yang ditempati Gia dan Arka. Meskipun sempat ragu, namun Bu Pon khawatir tentang Gia dan Arka yang tidak berada di rumah sejak kemarin hingga mereka terpaksa masuk."Nem, awakdewe ora salah to mlebu omahe wong koyo ngene?" (Nem, kita ga salah kan masuk ke rumah orang kaya gini?) tanya Bu Pon yang berada di belakang Bu Minem sambil mencari cari Gia dan Arka di rumah itu."Ya salah sih, rumah ini memang rumah anakku, tapi statusnya masih disewa oleh mereka, jadi ya kita ini masuk rumah orang tanpa izin," jelas Bu Minem yang ikut duduk di sofa bersama
Gia memperhatikan rambut Arka yang sedikit berantakan. Ia melihat ada goresan kecil di dahinya, kemeja laki laki itu juga kotor akibat menerobos semak-semak tadi, tetapi ia masih sempat memperhatikan luka di kaki Gia seolah tidak ada hal lain yang lebih penting."Arka," panggil perempuan itu pelan."Hm?" Laki laki itu menatap Gia, seolah sigap jika perempuan itu meminta tolong atau mengeluh sakit padanya. Namun Gia hanya menunjuk dahi Arka dengan wajah cemas."Itu, dahi kamu sendiri terluka," jelasnya karena laki laki itu tidak mengerti.Arka tersenyum kecil mendengarnya, bahkan dirinya sendiri tidak merasakan ada luka yang Gia lihat. "Nggak apa-apa, ini ga terasa buat aku," jawabnya santai."Ya tapi itu di dahi kamu ada darah loh," Gia tetap panik dan merasa kasihan pada Arka. Untuk pertama kalinya, hati wanita itu tidak tega melihat Arka terluka, meskipun hanya luka kecil."Gapapa, anggap aja ini tuh cuma bonus dari jalan-jalan ke hutan ini," kata Arka mencoba membuat Gia tenang dan
"Bu Minem, pie iki keponakanmu kok moro moro ilang? Wong ga ono ning omahe ngene lo Bu," (Bu Minem, gimana ini keponakanmu kok tiba tiba ilang? Orang ga ga di rumahnya gini kok) tutur Bu Pon, saat mereka berdua hendak mengundang Gia dan Arka untuk ikut acara rapat karang taruna desa. Sudah berkali-kali Bu Minem dan Bu Pon mengetuk pintu rumah mereka namun tidak ada orang yang menjawabnya. Bahkan lampu rumah mereka juga tidak menyala, padahal hari sudah malam."Moso iyo wis bali ning kota eh Bu?" La jare isih teko bulan ngarep to?" (Masa iya udah pulang ke kota sih Bu? Katanya masih sampai bulan depan to?) tanya Bu Pon lagi sangat penasaran dimana Arka dan Gia pergi. Ia pun mencoba mengedarkan pandangannya ke sekitar rumah itu namun tidak ada tanda tanda apapun.Bu Pon meminta Bu Minem untuk membuka pintu rumah mereka jika memiliki kunci duplikat. Namun ternyata ia tidak punya, jadi mereka mengurungkan diri untuk masuk ke rumah Gia dan Arka. "Ya wis lah Bu, mungkin mereka lagi keluar
"Your hero is here your hero is here, apa sih? Masalahnya sekarang bukan hanya ktp aku yang hilang, kita juga ikut ikutan hilang ke hutan belantara gini Arkaa," keluh Gia sudah tidak tau lagi bagaimana nasibnya sekarang ini.Sementara Arka tidak seperti wanita itu, dia lebih tenang dan membuat Gia tenang dengan terus mengajaknya bercanda."Udah udah jangan panik, yang penting tuh sekarang kita udah bebas dari penjahat itu. Yang penting sekarang kamu udah sama aku. Masalah ktp itu bisa diurus nanti Gia. Yang penting kamu selamat," ceramah Arka panjang lebar sambil memikirkan jalan keluarnya."Yang penting yang penting, yang penting tuh ktp aku harus ketemu," omel Gia kesal karena perkataan Arka.Mereka terus berjalan mencari jalan untuk bisa keluar dari hutan ini. Gia sudah sangat kelelahan namun masih berusaha kuat."Gimana rekomended ga bonusnya?" tanya Arka mencoba membuat suasana tetap terasa ringan meskipun ia juga tidak tahu apakah bisa segera keluar dari hutan ini atau tidak."B







