Share

Bab 9

Author: Dianara Amanda
Dia dengan teliti melihat mataku, bola mataku abu-abu pucat.

“Ternyata softlens, pantas bisa akting sebagus gitu.”

Pria senyum dingin lalu menamparku.

Wajahku ditamparnya sampai miring, aku memutar kepala melihatnya.

“Di mana mayatnya Diana?”

Pria tertawa: “Siapa Diana?”

“Kakakku.”

“Oh, orang yang mati terlalu banyak, mana aku tahu yang mana kakakmu?”

Pria tidak peduli, sepertinya sudah tidak tertarik denganku.

“Bukannya kamu suka pura-pura buta? Kalau gitu aku bantuin aja, mati juga jadi buta.”

Dia mengarah pistolnya ke mata kananku, sengaja melambatin gerakan, siap-siap menekan pelatuknya.

Ketakutan akan kematian muncul dalam hati, membuatku tidak berhenti gemetar dan mengigit lidah.

Kakak......maaf, aku tidak bisa balas dendam untukmu.

Di saat aku menutup mata menunggu kematian, pria tiba-tiba maju ke depan, tangannya memegang dada.

Peluru yang menembusnya dari belakang, meledak di dalam dadanya.

Pria dengan susah membalikkan badannya, melihat Chelsia berdiri di depan tangga.

Dia te
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pijat Tunanetra Kapal Pesiar   Bab 9

    Dia dengan teliti melihat mataku, bola mataku abu-abu pucat.“Ternyata softlens, pantas bisa akting sebagus gitu.”Pria senyum dingin lalu menamparku.Wajahku ditamparnya sampai miring, aku memutar kepala melihatnya.“Di mana mayatnya Diana?”Pria tertawa: “Siapa Diana?”“Kakakku.”“Oh, orang yang mati terlalu banyak, mana aku tahu yang mana kakakmu?”Pria tidak peduli, sepertinya sudah tidak tertarik denganku.“Bukannya kamu suka pura-pura buta? Kalau gitu aku bantuin aja, mati juga jadi buta.”Dia mengarah pistolnya ke mata kananku, sengaja melambatin gerakan, siap-siap menekan pelatuknya.Ketakutan akan kematian muncul dalam hati, membuatku tidak berhenti gemetar dan mengigit lidah.Kakak......maaf, aku tidak bisa balas dendam untukmu.Di saat aku menutup mata menunggu kematian, pria tiba-tiba maju ke depan, tangannya memegang dada.Peluru yang menembusnya dari belakang, meledak di dalam dadanya.Pria dengan susah membalikkan badannya, melihat Chelsia berdiri di depan tangga.Dia te

  • Pijat Tunanetra Kapal Pesiar   Bab 8

    Kulit kepalaku kesakitan seperti disobek, tetapi aku seperti tidak merasakannya, hanya diam mengangkat kepalaku.Setelan jas abu merasa tidak begitu menarik lagi, dengan bosan melemparku ke kasur kecil, lalu membuka kancing kemejanya.“Sudahlah, moga kamu bisa tahan lebih lama dikit.”Namun detik selanjutnya, aku sudah mengambil cambuk kulit yang ada di lantai, lalu melompat ke punggungnya pria, menggunakan cambuk itu meliliti lehernya.Setelan jas abu terkejut dan membuka matanya lebar-lebar, seperti digigit sama seekor kelinci.Suaranya keluar dengan paksa dari tenggorokan.“Kamu......bisa......melihat?”Aku mengeluarkan semua tenaga tanganku, tidak menjawab pertanyaannya.Perlawanan pria semakin melemah, sampai kedua matanya tutup lalu pingsan.Tanganku perlahan-lahan lepas, tapi tetap waspada, menarik pria ke samping kasur dan menggunakan borgol ke tangan dan kakinya.Setelan jas abu mungkin nggak menyangka, alat penyiksaan yang disiapin buat aku, malah dipakai untuknya.Tetapi set

  • Pijat Tunanetra Kapal Pesiar   Bab 7

    Aku hampir tidak percaya dengan telingaku sendiri: “Apa?”Orang-orang itu tidak peduli denganku, sedang siap-siap untuk membersihkan wanita lainnya.Akhirnya aku menggertakkan gigi dan membuka pintu kamar mandi.Di koridor berdiri beberapa pria, saat ini aku ingin sekali mati saja.Tatapan mereka seperti monster penuh dengan nafsu, aku sangat takut mereka memegangku.Untung saja mereka mengikuti aturan, tidak akan menyentuh barang yang sudah di lelang.Hanya melihat aku melewati mereka.Angin yang datang dari dek membuat tubuhku terasa dingin, tapi aku hanya bisa bertahan dan ikut di belakang staff.Bahkan merasa baiknya kalau diri sendiri benaran buta, jadi tidak perlu melihat kondisi sekitarku.Jarak yang hanya puluhan meter, aku menjalaninya dengan sangat susah.Terutama pandangan mereka, membuatku sangatlah tidak enak dan menutup rapat kedua kaki, dengan lambat melangkahkan kaki.Tetapi semakin begitu, semakin banyak tatapan yang mengerikan.“Sudah sampai.”Akhirnya aku sudah bisa

  • Pijat Tunanetra Kapal Pesiar   Bab 6

    “Ini benaran datang ke tempat yang benar, tamu di sini sangatlah dermawan.”“Iya, biasanya aku sekali pijatin orang baru berapa ratus ribu aja! Moga lain kali aku bisa naik ke kapal lagi.”Mendengar suara diskusi mereka, aku pun menanyai mereka.“Tapi pijat mana ada harga setinggi ini, kalian nggak rasa aneh kah?”Seketika belakang panggung jadi hening sekali dan aku melihat beberapa ekspresi wanita berubah menjadi sinis.“Ah, hal itu aja pun, lagi pula sekali naik kapal bisa dapat gitu banyak, ngapain sok suci.”“Iya tuh, dulu saat lagi rekrut bukannya sudah jelasin? Sekarang perlu sok polos lagi?”Aku menggelengkan kepala, seketika tidak tahu harus berkata apa, dan tidak melanjutkan topiknya lagi.Waktu perlahan-lahan berlalu, tiba-tiba terdengar panggilan nomorku.“Nomor 68, 69 dan 70, barengan naik panggung.”Aku buruan berdiri, staffnya memegang tongkat tunanetraku dan mengantarku ke depan panggung.Setelah naik ke panggung, baru menyadari panggungnya sangat berbeda dengan yang ku

  • Pijat Tunanetra Kapal Pesiar   Bab 5

    Kata-kata pria jenggot membuat aku gemetaran, tatapan orang samping Chelsia juga penuh dengan kecurigaan.“Chelsia, apa wanita ini juga sekalian......”Hatiku merasa cemas, tapi Chelsia hanya mengangkat tangan dan menolak.“Tidak perlu peduliin kata-katanya, Salim itu hanya dengan keberuntungan makanya bisa naik kapal, tunggu kapal sudah sampai laut lepas, buang dia saja.”Mendengar suara Chelsia yang sangat tenang, membuatku semakin takut.Saat itu, apakah kakak naik ke kapal yang begini juga?Mau gimanapun, aku sudah berhasil menipunya.Tetapi, di saat aku baru mau menghela nafas lega, Chelsia yang sudah mau pergi, jalan ke arahku.“Jaga dirimu untuk tertib, jangan membuatkan masalah lagi, kali ini hanyalah orang yang tidak penting, lain kali belum tentu bisa seberuntung gini.”Suara Chelsia hanyalah aku dan dia yang bisa mendengarnya, aku tidak mengerti kenapa dia bilang sama aku gitu.Seperti menyadari sesuatu, tapi tidak membongkarnya.Tapi itu mungkin hanya ilusi aku.Aku sama se

  • Pijat Tunanetra Kapal Pesiar   Bab 4

    Seketika, aku hampir saja teriak karena ketakutan, untung saja di detik terakhir menahan diri.Aku baru sadar, cermin itu bukanlah cermin, melainkan kaca satu arah.Ini buat aku teringat aquarium.Aku dan sekelompok pijat tunanetra itu, seperti ikan hias yang di aquarium, kapanpun bisa aja diintip.Aku dengan gemetar mengambil handuk, mulai mengeringkan setiap bagian tubuhku.Bawah dagu pria itu adalah jenggot yang pendek, dan sedang penuh nafsu melihatku.Bahkan matanya nggak mengedip, jakunnya yang bergerak membuatnya terlihat tidak sabaran.Aku malu dan marah, ingin sekali melempar handuk ke kaca itu, menutup pandangannya.Tapi pasti langsung ketahuan pura-pura buta.Pikir-pikir, dalam hatiku muncul rasa mau balas dendam, sengaja pelan-pelan menggunakan handuk mengeringkan badan.Bahkan menundukkan tubuh untuk mengeringkan rambut.Gerakan sengaja aku lambatin.Pandangan sampingku melihat ekspresi pria itu, menjilat bibir dan terus menelan ludah.Lewat dari kaca pun sepertinya bisa m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status