LOGINEverything in Amelia Hart’s life came crashing down the day her father’s company went bankrupt. Left with piles of debt, a sick younger brother, and no clear way out, she walked into the office of the cold, ruthless billionaire CEO she worked for—Lucas Stone—with nothing to lose and a desperate plea in her eyes. Except… “I have a proposition,” Lucas said, his voice cold and commanding. He slid a document across the table. “A contract marriage. Six months. You get the money to save your family. I get what I want.” His gaze dropped to her trembling fingers. “You’re just my assistant, Amelia. Don’t think for a second this makes you worthy.” “But still, Mr. Stone,” I replied, holding back my tears. “I’ll marry you, and I’ll keep to your terms.” His cruel smile widened. “You just signed your soul away, Miss Hart.” But what neither of them expected… was the night that changed everything. And the test that came back positive. She’s pregnant… for her boss.
View More"Masa jam segini Tante Aya udah tidur?"
Joni menyapu pandangannya ke sekeliling rumah berlantai dua itu. Satpam yang tadi mengizinkannya masuk sudah tidak kelihatan di posnya. Pemuda itu baru saja menempuh perjalanan 12 jam dengan bus hingga akhirnya tiba di Jakarta. Tepatnya di depan rumah Tante Aya, sahabat mendiang ibunya. Jemarinya yang kasar mengetuk pintu kayu jati itu sekali lagi. Tok! Tok! Tok! Hening. Hanya suara jangkrik dari taman samping dan deru halus angin malam yang menyapa kulit lengannya. Joni menghela napas panjang. Ia merogoh saku celana jinsnya yang sudah memudar, mengeluarkan ponsel dengan layar retak di pojok kanan atas. Jarinya mengusap layar yang meredup, membuka catatan berisi alamat, yang diberikan oleh sang ibu. Alamatnya sudah benar. Tidak ada yang salah. Joni baru saja membalikkan badan, berniat berjalan keluar dari halaman menuju jalan utama untuk mencari warung atau masjid terdekat guna menumpang tidur malam ini, ketika sebuah suara daun pintu yang terbuka terdengar pelan di belakangnya. Sebelum Joni sempat menoleh sepenuhnya, dua lengan halus dan hangat mendadak melingkar dari belakang, mengunci pinggangnya dengan erat. Deg! Sensasi lembut yang tak asing bagi insting seorang laki-laki menyentuh punggungnya secara penuh. Kenyal dan padat. Aroma wangi yang menggoda, campuran antara bunga melati malam dan vanila yang mahal, langsung menusuk indra penciumannya, begitu memabukkan dan pekat. "Kok baru pulang, sih, Mas? Kamu tahu nggak aku nungguin dari tadi sampai ketiduran?" suara itu berbisik sangat dekat di tengkuknya. Desahan napasnya hangat, menerpa leher Joni dan mengirimkan sengatan ke seluruh saraf di tubuhnya. Joni membeku seketika. Tubuhnya menegak kaku seperti patung. Lengan halus itu makin mengerat, lalu jemari dengan kuku bercat merah menyala bergerak perlahan naik ke dada Joni, meraba kain kaus tipisnya yang lembap oleh keringat. "Mas jahat banget... Bilangnya cuma sebentar, tapi jam segini baru nyampe. Niat banget bikin aku kangen, ya?" bisikan itu berlanjut, diikuti kekehan manja yang terdengar amat sensual. Bagian depan tubuh wanita itu menempel makin lekat ke punggung Joni, memberikan kehangatan yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya. Joni menelan ludah dengan susah payah. Jakunnya naik turun. Jantungnya mendadak berdegup kencang, menghantam dadanya seperti genderang perang. Sebagai pemuda 20 tahun yang besar di desa dan hanya pernah melihat wanita dengan pakaian daster longgar atau pakaian kerja di ladang, situasi ini benar-benar menghantam akal sehatnya. Ia mencoba bersuara, tetapi tenggorokannya mendadak terasa sekering padang pasir. "Anu... Ma-maaf..." Saat kata itu terucap, gerakan jemari wanita di dadanya terhenti seketika. "Lho??" Suara Joni yang berat, sedikit serak, dan jelas bukan suara suaminya membuat wanita itu sadar. Dengan cepat, ia melepas pelukannya dan mundur dua langkah. Joni buru-buru memutar tubuhnya. Dan saat pandangannya jatuh pada sosok wanita di depannya, napasnya seolah tertahan di dada. Bayangan Joni tentang Tante Aya, sahabat lama ibunya, adalah sosok wanita paruh baya berwajah teduh, mungkin dengan rambut yang mulai beruban dan pakaian ibu-ibu rumah tangga pada umumnya. Namun, wanita yang berdiri di depannya sekarang benar-benar meruntuhkan semua ekspektasinya. Aya berdiri di bawah pendar remang lampu teras. Ia mengenakan gaun malam bahan sutra berwarna merah marun yang amat tipis dan jatuh pas memeluk lekuk tubuhnya. Pakaian itu memiliki potongan leher V-neck yang cukup rendah, mengekspos tulang selangka yang tegas serta belahan dada yang begitu mengundang. Tali gaunnya yang tipis menopang bahu mulusnya yang terbuka bebas tanpa halangan. Rambut hitamnya yang bergelombang dibiarkan terurai berantakan secara alami, jatuh melewati bahu dan membingkai wajah cantiknya yang tampak matang. Kulitnya putih bersih, tampak begitu kontras dengan warna gaunnya. Di usianya yang hampir berkepala empat, tidak ada tanda-tanda penuaan yang berarti. Yang ada justru aura keanggunan wanita dewasa yang matang dan penuh pesona sensual yang berbahaya. Aya membeku. Matanya yang lebar menatap Joni dari atas ke bawah. Wajahnya yang tadinya menyiratkan manja mendadak berubah merah padam begitu menyadari siapa yang baru saja ia peluk erat-erat. "K-kamu..." suara Aya tertahan. Tangan kanannya dengan refleks menutup bagian dada atasnya, meski itu tidak banyak membantu menyembunyikan lekuk tubuhnya yang tampak jelas. Joni buru-buru menundukkan kepalanya, mencoba mengalihkan pandangannya dari dada dan juga paha mulus Aya yang tersingkap di balik belahan gaun bawahnya. Pikiran pemuda itu kacau balau. Antara rasa bersalah, canggung, dan dorongan biologis alami laki-laki muda yang mendadak bangkit akibat sentuhan fisik tadi. "Maaf, Tante... Saya... Saya Joni," kata Joni cepat-cepat, suaranya agak bergetar. "Joni, anak Bu Jena." Mendengar nama itu, ekspresi terkejut di wajah Aya perlahan melunak. Matanya mengerjap beberapa kali, mengamati wajah pemuda bertubuh tegap dan berparas polos yang ada di hadapannya. "Joni? Anak... Jena?" gumam Aya. "Iya, Tante. Ini... saya bawa surat dari Ibu sebelum Ibu meninggal." Joni merogoh saku jinsnya, mengeluarkan sebuah amplop cokelat yang sedikit kumal dan menyodorkannya dengan tangan yang agak gemetaran. Aya menatap amplop itu, lalu menatap Joni lagi. Perlahan, senyum canggung terbit di bibirnya yang teroles lipstik tipis. Kejadian konyol dan memalukan barusan tampaknya mulai menguap, berganti dengan rasa geli dan haru. Aya tidak langsung mengambil surat itu. Sebaliknya, ia melipat kedua tangannya di dada. Gerakannya justru semakin mempertegas lekuk tubuh bagian atasnya, lalu ia melangkah mendekat satu langkah. "Astaga... Joni?" Aya terkekeh pelan. Suaranya kembali terdengar santai, seperti berniat menutupi rasa malunya sendiri. "Terakhir Tante lihat kamu itu waktu kamu masih SD, pendek, dan sering ingusan. Sekarang... kok bisa jadi setinggi ini?" Aya mendongak sedikit untuk menatap mata Joni. Jarak mereka kini hanya terpaut setengah meter. Aroma wangi dari tubuh Aya kembali berembus menguasai indra Joni, membuat pemuda desa itu makin serba salah. Joni hanya bisa menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal. "I-iya, Tante... Udah lama nggak ketemu ya." Aya menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu tertawa kecil yang terdengar sangat merdu di telinga Joni. "Dan Tante malah main peluk aja dari belakang... Ya ampun, Tante pikir kamu Om Rama. Lagian kamu diam aja lagi pas Tante megang-megang tadi. Suka, ya?" Aya mengedipkan sebelah matanya secara spontan, sebuah godaan kecil yang murni keluar karena sifat dasarnya yang jahil ketika mencoba mencairkan suasana canggung. Kata-kata itu sukses membuat wajah Joni terasa panas terbakar. "N-nggak gitu, Tante! Saya cuma kaget..." Aya tertawa lagi. Kepolosan dan kepanikan pemuda desa di depannya ini menurutnya sangat menggemaskan. Ia lalu mengulurkan tangan dan mengambil amplop cokelat dari tangan Joni. Sentuhan singkat jemari lembut Aya pada kulit tangannya membuat Joni lagi-lagi menahan napas. "Ya udah, masuk dulu. Kamu pasti capek abis perjalanan jauh," ucap Aya lembut. Ia berbalik badan, membelakangi Joni untuk berjalan masuk ke dalam rumah. Saat berjalan, gaun sutra tipis itu bergerak mengikuti lekuk pinggulnya yang indah, memperlihatkan bayangan punggung mulusnya yang hampir terbuka sepenuhnya. Joni yang berjalan di belakangnya terpaksa terus menundukkan kepala, memfokuskan pandangannya hanya pada lantai marmer rumah tersebut agar pikirannya tidak melayang ke mana-mana. "Kamar kamu di lantai satu, sebelah kiri," ujar Aya sambil menunjuk sebuah pintu kayu di dekat area tangga. "Tante mau ganti baju dulu sebentar. Nanti kita bicara lagi, ya." "Baik, Tante. Terima kasih." Aya berjalan naik ke lantai dua dengan langkah anggun. Sementara Joni berjalan masuk ke dalam kamar yang ditunjukkan. Begitu pintu kamar tertutup rapat, Joni menyandarkan punggungnya di pintu. Ia memejamkan mata rapat-rapat, mengusap wajahnya yang masih terasa panas. Dadanya masih berdebar kencang. Bayangan sentuhan lembut, aroma wangi, dan lekuk tubuh wanita 37 tahun itu seolah melekat di ingatannya, menolak untuk hilang. ‘Dia sahabat Ibu, Joni... Inget, dia udah punya suami,’ batin Joni keras-keras pada dirinya sendiri.The peace they found the night before—quiet, warm, full of feelings, they finally stopped running from—didn’t survive the morning.Amelia woke up alone. The spot beside her was cold, but there was a fresh cup of her favorite tea waiting on the table. Lucas was gone, but the small gesture made her chest ache.She slipped on her silk robe and walked to the kitchen.Lucas was already there—but he wasn’t cooking or pretending to be calm. He stood by the wide window with his phone pressed to his ear, shoulders tight.“I don’t care what the stock did, Robert,” he snapped. “Control the narrative. Control. It.”He dropped the phone on the counter so hard it echoed. Lucas barely ever lost his temper. This—this was different.“What happened?” she asked, her hand going instinctively to her stomach.Lucas turned toward her. His face was cold, hard… the same look he had the day she first walked into his office. Only this time, the anger wasn’t for her.He didn’t say a word. He just pointed at the
The morning light filtered through the curtains, casting a soft glow across the penthouse. Amelia sat at the kitchen island, her fingers wrapped around a warm mug of tea. The events of the previous night replayed in her mind—the vulnerability in Lucas’s eyes, the gentle touch of his hand on her back as he walked her to her room, the unspoken words that lingered between them.She glanced down at her growing belly, a subtle reminder of the life they had created together. The baby was a bond that tied them, yet the emotional distance between them remained vast.Lucas entered the kitchen, his presence commanding as always. He poured himself a cup of coffee and leaned against the counter, his gaze meeting hers.“Morning,” he said, his voice low.“Morning,” Amelia replied, her tone cautious.They stood in silence, the tension palpable.“I have a meeting downtown,” Lucas said, breaking the silence. “I’ll be back late.”Amelia nodded, her heart sinking. The walls between them were rebuilding,
The Walls Begin to Crack The moment Amelia dropped the truth like a grenade, Lucas did what he did best—hide. He didn’t run. He didn’t yell. He didn’t even flinch. He simply walked past her like she hadn’t just flipped both their worlds upside down with three words: “I’m pregnant, Lucas.” She stood there long after he disappeared into his study, the positive test still clutched in her shaking hand, her chest heavy with a mixture of dread and disbelief. He didn’t demand a DNA test. He didn’t accuse her of tricking him. He didn’t do anything. And that, somehow, was worse. ⸻ Amelia barely slept that night. Her thoughts spun into chaos. Every time she closed her eyes, she pictured the way he looked—calm, unreadable, untouchable. How could he be so cold? How could she have been so stupid? ⸻ Across the penthouse, Lucas stood in front of his liquor cabinet with a glass of whiskey he hadn’t touched. The amber liquid caught the moonlight like liquid fire, but he
The Night We Should’ve Never HadThe storm came without warning.One minute the sky over Manhattan was calm, and the next, thunder cracked across the clouds like a warning shot. The gala had ended, the limo was waiting, but Lucas didn’t say a word to Amelia during the drive back.The silence between them was no longer cold—it was electric.Amelia sat stiffly in her seat, heart racing from the encounter with Gabriel. His words haunted her. Lucas doesn’t do anything without a reason. He was right. There was something Lucas wasn’t telling her. A deeper motive. A hidden card. And it terrified her.But what terrified her more… was the way her body responded when he was near.⸻By the time they returned to the penthouse, the storm was in full force. Rain lashed the windows like wild fingers trying to get in. Lightning lit up the skyline in jagged flashes.Amelia headed straight to her bedroom.At least, she meant to.“Don’t go,” Lucas’s voice cut through the hallway behind her. He was stand


















Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.