登入Ning Yuan membuka mata. Samar-samar, ia melihat wajah tampan di hadapannya. Raut tegas, mata dalam, senyum tipis di bibir.
"Ah... aku pasti bermimpi." Ia tersenyum kecil, bergumam pelan. "Karena terlalu rindu padanya, aku sampai memimpikannya..."
"Jadi kau rindu
Ning Yuan membuka mata. Samar-samar, ia melihat wajah tampan di hadapannya. Raut tegas, mata dalam, senyum tipis di bibir."Ah... aku pasti bermimpi." Ia tersenyum kecil, bergumam pelan. "Karena terlalu rindu padanya, aku sampai memimpikannya...""Jadi kau rindu padaku?"Suara itu nyata. Terlalu nyata.Kesadaran Ning Yuan kembali menyentak. Matanya membelalak, tubuhnya langsung duduk tegak. "Yang—Yang Mulia?!"Ia melihat sekeliling. Ini bukan kamarnya. Dan jelas juga bukan altar leluhur keluarga Shen. Ini kamar tidur mewah dengan tirai sutra merah dan ukiran naga d
Janda Permaisuri membuka pintu.Di dalam, Ning Yuan sedang membantu Kaisar mengenakan jubah naga. Kedua tangannya merapikan lipatan sutra hitam di bahu sang penguasa, wajahnya tenang. Jubah itu pas di tubuh Kaisar, sulaman naga emas berkilau di bawah cahaya lilin.Janda Permaisuri mengamati putranya—diam, patuh, tidak menunjukkan tanda-tanda kemarahan. Kekhawatirannya perlahan sirna."Aku kira kau menghukum Ning Yuan karena ada yang tidak pas dengan jubah ini," ujar Janda Permaisuri. "Kalian pergi lama sekali. Pesta bahkan telah usai."Dia berjalan mendekat, meraih tangan Ning Yuan. "Kau tidak apa-apa, kan? Kaisar tidak berkata kasar atau bersikap kasar padamu?"
Ning Yuan menggigit bibir bawahnya hingga hampir berdarah, dadanya naik turun cepat. "Yang Mulia, ini siang hari. Para dayang dan kasim di luar—""Mereka tidak akan berani masuk kecuali kupanggil." Kaisar mencium leher Ning Yuan—tepat di titik yang ia tahu membuat wanita itu lemas.Ning Yuan mengerang pelan. Kepalanya menunduk ke belakang tanpa sengaja, menyerahkan lebih banyak ruang pada bibir Kaisar yang terus menjelajah, meninggalkan jejak basah."Tapi... Shen Ziyuan...""Nama itu," Kaisar berhenti. Matanya menatap Ning Yuan dengan intensitas yang membuat bulu kuduknya berdiri."Jangan pernah kau sebut di hadapanku lagi. Terutama saat kau seperti ini. Karena saat kau seperti ini, kau milikku. Kau selalu milikku, bahkan sebelum kau tahu siapa aku."Dengan satu gerakan, Kaisar menyibak pita ikat pinggang Ning Yuan. Kain sutra merah muda meluncur jatuh, bertumpuk dengan jubah naga di lantai. Ning Yuan menggenggam bahu Kaisar, kukunya menekan lapisan sutra hitam yang dikenakan sang pe
"Yang Mulia pasti salah orang. Paviliun Bulan? Hamba tidak pernah ke sana." Suara Ning Yuan berusaha tenang, tapi tangannya sedikit gemetar saat meraih jubah naga di atas meja."Kau berbohong. Dan setiap kali kau berbohong, tanganmu pasti gemetar." Kaisar berjalan mendekat—langkahnya pelan, seperti harimau mengintai mangsa. "Apakah aku begitu menakutkan bagi Nyonya?"Ning Yuan tidak berani menjawab. Ia hanya terus merentangkan jubah, berjalan mengelilingi Kaisar untuk melakukan pengukuran dengan terburu-buru. "Hamba tidak gemetar, Yang Mulia. Hanya sedikit kedinginan."Kaisar tertawa pelan—rendah, familiar. "Berbohong. Aku tahu kau tidak pernah kedinginan, Nyonya. Kau selalu hangat, terutama saat kita...""Yang Mulia!" Ning Yuan memotong dengan suara tinggi, wajahnya memerah. "Hamba tidak tahu identitas Yang Mulia saat itu. Itu kesalahan yang fatal dan memalukan. Hamba… mohon ampun, Yang Mulia."Ning Yuan membungkuk dalam. Tapi Kaisar tidak membiarkannya menunduk lama. Jemarinya mera
Tidak mungkin, kan, pria itu…? Batin Ning Yuan membantahnya.Sang Kaisar telah duduk di singgasananya. Ning Yuan bergegas kembali ke tempat duduknya, berusaha tidak mencolok di tengah aula.Tapi langkah kecilnya terhenti oleh suara yang ditakutinya."Kau, berhenti."Darah Ning Yuan serasa berhenti mengalir. Ia menunduk, memberi hormat. "Hormat hamba pada Kaisar. Semoga Yang Mulia panjang umur.""Angkat kepala. Aku ingin melihat siapa yang berani berjalan saat aku baru tiba."Perlahan, Ning Yuan mengangkat kepalanya. "Ampuni hamba, Yang Mulia. Hamba tidak sengaja." "Lihat aku saat kau bicara."Ning Yuan ingin mati di tempat. Andaikan bisa, ia ingin melebur ke lantai aula dan mengubur dirinya sendiri. Tapi ia tidak bisa. Ia harus tetap tenang."Hamba terlalu hina, Yang Mulia. Hamba tidak berani menatap Yang Mulia."Jawaban paling sempurna yang bisa ia berikan. Tapi sepertinya tidak cukup untuk memuaskan sang Kaisar."Kenapa kau tidak berani menatapku? Apakah aku buruk rupa untuk diliha
Hari ulang tahun Kaisar selalu menjadi perayaan terbesar di Dinasti Tian Sheng. Sejak fajar, jalan-jalan menuju istana dipenuhi kereta para pejabat, bangsawan, dan keluarga terkemuka dari seluruh penjuru negeri.Ning Yuan berjalan di belakang Shen Ziyuan dengan tenang. Hari ini adalah langkah pertamanya menuju Janda Permaisuri.Selama dua tahun, ia telah memahami, selama hidupnya terikat pada keluarga Shen, ia akan selalu bergantung pada suasana hati Shen Ziyuan dan keluarganya.Jadi, kali ini Ning Yuan akan meraih kebebasan. Dan wanita berstatus tertinggi di seluruh negeri yang mampu memberikannya adalah Janda Permaisuri. Jika ia berhasil mendapatkan kepercayaan ibu Kaisar itu, ia akan memiliki alasan sah untuk keluar masuk istana. Saat hari itu tiba, bahkan Shen Ziyuan tidak akan mampu mengendalikannya lagi.Janda Permaisuri Xiao duduk di singgasana yang sedikit lebih rendah dari singgasana Kaisar di sisi kiri.Ning Yuan telah mendengar banyak tentangnya: wanita yang selamat dari p







