Mag-log inLiu Meiling tersenyum jahat melihat ekspresi Ning Yuan. "Aku sudah bilang kau akan menyesali ini, Ning Yuan."Du Tian, tangan kanan Gubernur Liu, melangkah maju dengan langkah sombong. "Jadi kau gadis kurang ajar yang berani menampar putri Gubernur?" suaranya bergema di pasar yang kini mulai sepi karena ketakutan.Ning Yuan menggigit bibirnya, berusaha tetap tenang meski jantungnya berdebar kencang. "Kau siapa—Kau ayahnya?""Lancang sekali kau menyebut Gubernur dengan sebutan seperti itu!" bentak Du Tian. "Rakyat jelata sepertimu memang tidak punya tata krama dan sopan santun. Kau harus diajari dengan benar agar tidak berbuat kesalahan yang sama dikemudian hari lagi!" dia mengangkat tangannya, memberi isyarat pada anak buahnya untuk maju.Tapi sebelum mereka bisa bergerak, Lou Yu melangkah ke depan, melindungi Ning Yuan di belakangnya. "Berani sekali," ucapnya dengan nada dingin. "Apa kalian laku-laki? Beraninya hanya pada seorang wanita."Du Tian tertawa terbahak-bahak. "Kau pasti pr
Ning Yuan berjalan di antara deretan toko kain, matanya sibuk menatap berbagai gulungan kain yang terpajang. Lou Yu berjalan di sampingnya dengan langkah santai, sesekali mengamati ekspresi Ning Yuan yang serius."Yang ini... bagus," ucap Ning Yuan sambil menyentuh selembar sutra merah dengan bordiran emas. "Bahannya halus, warnanya cerah. Cocok untuk acara resmi."Lou Yu mengangguk. "Bungkus ini," katanya kepada pemilik toko.Ning Yuan mengerutkan kening, tapi tidak berkata apa-apa. Dia berjalan ke rak berikutnya."Ini juga bagus," katanya lagi, kali ini menunjuk kain sutra biru laut dengan kilauan lembut. "Warnanya elegan, tidak terlalu mencolok tapi tetap terlihat mewah.""Bungkus," perintah Lou Yu lagi.Ning Yuan mulai merasa ada yang tidak beres. Dia menoleh ke Lou Yu, tapi pria bertopeng itu hanya tersenyum tipis di balik topengnya."Apa kau... tidak mau memilih sendiri?" tanya Ning Yuan hati-hati."Aku percaya pada seleramu," jawab Lou Yu santai.Ning Yuan menghela napas. "Tida
Tamparan Ning Yuan menggema di pasar yang tiba-tiba hening. Semua orang berhenti. Dan seperti biasa, jika ada yang wah seperti ini maka semua mata pasti tertuju pada mereka. "KAU!! BERANINYA KAU MENAMPARKU?!" Seru Liu Meiling terhuyung ke samping, tangannya meraih pipinya yang memerah. Matanya membulat karena terkejut dan marah.Tapi Ning Yuan sama sekali tidak gentar dengan seruan Liu Meiling yang penuh amarah. Yang ada, dia malah menatapnya dengan dingin."Tentu saja berani! Kau tahu, tamparan barusan untuk kereta kudamu yang hampir menabrakku."Balas Ning Yuan, dengan tangan yang masih terangkat. Ya barang kali aja, Liu Meiling ingin merasakan tamparan dari Ning Yuan sekali lagi."AKU TIDAK MELIHATMU—""Kau tidak melihatku?" Ning Yuan memotong dengan suara tajam. "Kau berada di dalam kereta terbuka, Liu Meiling. Jalanan pasar ini ramai. Kau harusnya melihat ke depan, bukan sibuk bergosip dengan kedua ular betina di sampingmu!""Aku—kau—" Liu Meiling tergagap, wajahnya merah padam k
Ning Yuan masih bersandar di dinding ketika pintu di depannya terbuka. Dia bingung saat melihat Lou Yu sudah berpakaian rapi. Jubah sutra berwarna abu-abu muda membungkus tubuhnya dengan sempurna, rambutnya ditata basah tapi rapi, dan tidak lupa! Topeng yang menutupi sebagian wajahnya tetap nangkring indah di sana. Seperti biasa, dia terlihat tenang, anggun, seolah tidak ada yang terjadi beberapa menit lalu.Ning Yuan mengerjap. "Kenapa dia sudah berpakaian? Bukankah tadi dia bilang aku harus mengukur ukuran tubuhnya?" Karena penasaran, Ning Yuan reflek bertanya. "Bukannya kita...?" tanyanya terputus sebab Lou Yu sudah lebih dulu memberikan jawabannya."Tidak," jawab Lou Yu dengan tegas, memotong kalimat Ning Yuan sebelum Ning Yuan selesaikan."Tapi—""Lain kali saja," sambung Lou Yu, seakan tahu persis apa yang akan ditanyakan Ning Yuan. Matanya di balik topeng menatap Ning Yuan dengan senyum tipis. "Aku ingin kau menemani ke toko kain dulu. Aku ingin memilih beberapa kain. Setelah
"Kau serius? Kau benar-benar berpikir aku masih mencintaimu?"Wang Yichen terdiam. Matanya menatap Ning Yuan dengan tatapan yang sulit diartikan. Entah itu perasaan marah, bingung, atau yang lain, kini semua seakan menjadi satu. Satu perasaan yang bahkan dia sendiri tidak mengerti. Perlahan, senyum sinis mengembang di bibir Wang Yichen.."Baik!" ucapnya dengan suara keras, hampir berteriak. "Jika kau memang masih ingin meneruskan sandiwara ini, Ning Yuan! Akan aku ladeni sandiwaramu ini!" Dia menunjuk ke arah Ning Yuan dengan jari gemetar. "Aku mau lihat, sampai kapan kau akan sanggup bertahan dengan sandiwaramu!"Ning Yuan membuka mulut ingin membantah, tapi Wang Yichen sudah berbalik dan melangkah keluar dengan langkah lebar dan penuh amarah. Pintu kamarnya dibanting hingga berguncang.Ning Yuan hanya bisa berdiri di sana, tercengang. Pria itu benar-benar gila!Dia menghela napas panjang dan duduk di tepi tempat tidur. Tangannya menggenggam erat ujung selimut. "Sudahlah. Aku tidak
"Maaf..." Ning Yuan mengalihkan pandangannya ke arah lain, tidak berani menatap mata Lou Yu lagi. "Hanya saja aku merasa kau mirip dengan seseorang."Lou Yu terdiam sejenak. Di balik topengnya, matanya menyipit. Bukan karena curiga, tapi karena ada sesuatu yang berdesir di dadanya. Dia merasakannya?"Kekasihmu?" tebak Lou Yu dengan nada main-main, berusaha menyembunyikan getaran di hatinya.Ning Yuan tersentak. Wajahnya memerah. "A-apa? T-tidak! Bukan!" Dia menggeleng dengan cepat, terlalu cepat, membuatnya terlihat semakin mencurigakan. "Dia bukan kekasihku! Dia hanya... seseorang yang kukenal dulu. Sudah lama. Sangat lama."Lou Yu menahan senyum di balik topengnya. "Kau berbohong, Ning Yuan. Aku tahu kau tidak akan pernah bisa melupakanku.""Tuan Muda Lou," Ning Yuan segera mengalihkan topik, suaranya berusaha terdengar tenang meskipun jantungnya berdebar kencang. "Kembali ke topik pembicaraan kita tadi tentang gaun pengantin itu. Apakah kau benar-benar tidak bisa melepaskannya untu







