Jangan Bilang Suamiku, Aku Milik Adiknya

Jangan Bilang Suamiku, Aku Milik Adiknya

last updateTerakhir Diperbarui : 2026-07-14
Oleh:  NayyararaOngoing
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Belum ada penilaian
6Bab
12Dibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

Saat pergi berlibur ke luar negeri, Alina pikir itu akan menjadi bulan madu romantis setelah dua tahun pernikahan yang dingin. Mengingat wejangan mertua untuk memiliki anak, Alina pun berusaha untuk menggoda sang suami. Di malam yang gelap karena badai dan mati lampu, Alina akhirnya berhasil melakukan hubungan penuh gairah. Usai merasakan kenikmatan pertamanya, ia dengar suara suaminya yang baru datang terdengar marah-marah dari pintu. Di saat itulah Alina membeku, dan tersadar... ia mendongak dan melihat, pria yang telah bercinta dengannya di ranjang itu adalah adik iparnya sendiri!

Lihat lebih banyak

Bab 1

Bab 1

"Kalau bukan karena aku, mana bisa kamu liburan ke luar negeri seperti ini. Untung saja kamu menikah dengan aku yang punya adik pilot. Kamu harusnya berterima kasih dan lebih bersyukur sebagai istri."

Alina menghentikan gerakan tangannya yang sedang merapikan tali koper mereka. Di tengah keramaian ruang tunggu bandara, kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Elang tanpa beban.

Alina mendongak, menatap suaminya yang berdiri tegak sibuk melihat ponsel, tanpa membalas tatapannya sama sekali.

"Iya, Mas. Tentu saja aku juga bersyukur kok," sahut Alina, berusaha tersenyum tipis.

Elang melirik sekilas, lalu berdecit pelan. "Syukur itu ditunjukkan dengan sikap, Alina. Bukan cuma di mulut. Kamu aja antre beli kopi lama sekali. Padahal gerainya dekat."

Elang menunjuk gerai di seberang mereka dengan dagunya. Alina menatap dua cup kopi di tangannya.

"Tadi antreannya agak panjang, Mas. Bikin kopinya juga butuh waktu."

"Alasan terus. Intinya kamu yang lambat." Elang menyambar salah satu cup kopi dari tangan Alina dengan kasar. Pria itu menyesapnya sekali, lalu mendengus jengkel. "Manis sekali. Kamu tahu aku tidak suka manis, Alina. Memesan kopi saja tidak becus."

"Maaf, Mas. Tadi aku sudah bilang ke barista untuk kurangi …"

"Sudahlah, tidak usah banyak membela diri. Bikin pening saja," potong Elang cepat.

Alina terdiam. Seperti biasa, ia memilih untuk tidak terlalu banyak menjawab suaminya daripada membuatnya marah-marah lagi. Lagipula, Alina tidak ingin bertengkar dalam agenda liburan mereka.

Tepat saat itu, pengumuman untuk penumpang segera naik ke pesawat berkumandang. Elang meraba saku jasnya dengan cepat. Detik berikutnya, gerakannya terhenti. Wajahnya berubah tegang. Dia membongkar isi tas jinjingnya dengan kasar.

"Ada apa, Mas? Ada yang hilang?" tanya Alina khawatir.

"Jangan pegang-pegang!" bentak Elang, menepis tangan Alina yang hendak membantu merapikan berkas yang berantakan. Pria itu mendengus kasar sambil berkacak pinggang. "Dompet pasporku tertinggal di mobil, sial!”

"Loh? Kok bisa? Lalu sekarang bagaimana?"

Elang melemparkan kunci mobil ke arah dada Alina. Beruntung refleks Alina cepat untuk menangkapnya sebelum jatuh ke lantai.

"Kamu ambil ke parkiran sekarang. Cepat!" perintah Elang.

Alina terpaku mendengar perintah yang mudah sekali meluncur dari mulut suaminya itu. "Tapi, Mas, jarak ke parkiran luar itu jauh sekali. Waktu boarding kita tinggal beberapa menit lagi. Apa tidak sebaiknya kita—"

"Jangan banyak tanya dan bantah ucapan suami, Alina!" gertak Elang dengan tatapan mata yang menusuk. "Kamu itu di sini bukan cuma menemani aku, tapi bantu aku juga! Buat apa kamu ikut kalau nggak ada gunanya? Sudah, cepat ambil sana!"

Kata-kata pedas itu membuat dada Alina terasa sesak. Ia sudah memaklumi sifat Elang yang banyak menuntut dan bicaara blak-blakan, tapi meski sudah bersabar sejak pagi ini, akhirnya emosi Alina runtuh juga.

Tapi, Alina tidak membantah, ia mengusap air mata yang berkumpul di pelupuk matanya, lalu mulai berlari menerobos kerumunan orang di terminal bandara.

Sepatu flat yang dikenakannya tidak dirancang untuk berlari jarak jauh. Di setiap hentakan langkah, tumitnya mulai terasa perih karena gesekan yang kuat, tetapi ketakutan akan kemarahan Elang membuat dia terus memaksakan diri.

Alina memacu langkahnya ke area parkir luar yang terasa sangat jauh di bawah terik matahari. Setelah sekujur tubuhnya basah oleh keringat, Alina akhirnya menemukan mobil suaminya.

Benar saja, dompet kulit hitam berisi paspor itu tergeletak begitu saja di atas dasbor.

Setelah menyambarnya dengan cepat, Alina mengunci mobil kembali, lalu  berlari kembali ke dalam gedung terminal. Napasnya sudah putus-putus. Keirngat bercucuran di pelipisnya.

Alina melihat ke arah jam dinding bandara yang terus berputar. Ia panik, jika mereka sampai tertinggal pesawat, pasti Elang akan memaki-makinya.

Dari kejauhan, Alina bisa melihat Elang berdiri di dekat petugas boarding dengan wajah yang teramat tegang, terus menatap tajam ke arah lorong masuk dengan kemarahan yang jelas terlihat.

Namun, lantai bandara yang licin dan kondisi fisiknya yang sudah kelelahan membuat langkahnya goyah. Ujung sepatunya mendadak tersangkut pada pembatas lantai yang sedikit menonjol.

"Aah!" Alina menjerit kecil.

Tubuhnya langsung limbung ke depan, kehilangan keseimbangan sepenuhnya. Dompet paspor di tangannya terlepas dan terlempar ke lantai. Alina memejamkan mata erat-erat, bersiap merasakan benturan keras dengan lantai yang dingin.

Namun, benturan itu tidak terjadi.

Sebelum tubuhnya menyentuh lantai, sepasang lengan yang kokoh dengan sigap menangkap pinggangnya. Pria itu menarik tubuh Alina ke atas dengan satu gerakan cepat namun halus, membawa tubuhnya yang lemas ke dalam sebuah dekapan aman.

Alina tersentak, perlahan membuka kelopak matanya yang basah karena panik.

Hal pertama yang dia lihat adalah dada bidang berbalut kemeja rapi. Ketika Alina mendongak, dia langsung berhadapan dengan sepasang mata tajam yang sedang menatapnya dengan tenang, sedangkan Alina sendiri tersentak kaget.

“Dewa.” Adik iparnya sendiri berdiri di sana, memeluknya erat untuk memastikan Alina tidak terjatuh.

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Tidak ada komentar
6 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status