MasukSaat pergi berlibur ke luar negeri, Alina pikir itu akan menjadi bulan madu romantis setelah dua tahun pernikahan yang dingin. Mengingat wejangan mertua untuk memiliki anak, Alina pun berusaha untuk menggoda sang suami. Di malam yang gelap karena badai dan mati lampu, Alina akhirnya berhasil melakukan hubungan penuh gairah. Usai merasakan kenikmatan pertamanya, ia dengar suara suaminya yang baru datang terdengar marah-marah dari pintu. Di saat itulah Alina membeku, dan tersadar... ia mendongak dan melihat, pria yang telah bercinta dengannya di ranjang itu adalah adik iparnya sendiri!
Lihat lebih banyakAlina terdiam. Seperti biasa, ia memilih untuk tidak terlalu banyak menjawab suaminya daripada membuatnya marah-marah lagi. Lagipula, Alina tidak ingin bertengkar dalam agenda liburan mereka.
Tepat saat itu, pengumuman untuk penumpang segera naik ke pesawat berkumandang. Elang meraba saku jasnya dengan cepat. Detik berikutnya, gerakannya terhenti. Wajahnya berubah tegang. Dia membongkar isi tas jinjingnya dengan kasar.
"Ada apa, Mas? Ada yang hilang?" tanya Alina khawatir. "Jangan pegang-pegang!" bentak Elang, menepis tangan Alina yang hendak membantu merapikan berkas yang berantakan. Pria itu mendengus kasar sambil berkacak pinggang. "Dompet pasporku tertinggal di mobil, sial!” "Loh? Kok bisa? Lalu sekarang bagaimana?"Elang melemparkan kunci mobil ke arah dada Alina. Beruntung refleks Alina cepat untuk menangkapnya sebelum jatuh ke lantai.
"Kamu ambil ke parkiran sekarang. Cepat!" perintah Elang. Alina terpaku mendengar perintah yang mudah sekali meluncur dari mulut suaminya itu. "Tapi, Mas, jarak ke parkiran luar itu jauh sekali. Waktu boarding kita tinggal beberapa menit lagi. Apa tidak sebaiknya kita—" "Jangan banyak tanya dan bantah ucapan suami, Alina!" gertak Elang dengan tatapan mata yang menusuk. "Kamu itu di sini bukan cuma menemani aku, tapi bantu aku juga! Buat apa kamu ikut kalau nggak ada gunanya? Sudah, cepat ambil sana!" Kata-kata pedas itu membuat dada Alina terasa sesak. Ia sudah memaklumi sifat Elang yang banyak menuntut dan bicaara blak-blakan, tapi meski sudah bersabar sejak pagi ini, akhirnya emosi Alina runtuh juga.Tapi, Alina tidak membantah, ia mengusap air mata yang berkumpul di pelupuk matanya, lalu mulai berlari menerobos kerumunan orang di terminal bandara.
Sepatu flat yang dikenakannya tidak dirancang untuk berlari jarak jauh. Di setiap hentakan langkah, tumitnya mulai terasa perih karena gesekan yang kuat, tetapi ketakutan akan kemarahan Elang membuat dia terus memaksakan diri. Alina memacu langkahnya ke area parkir luar yang terasa sangat jauh di bawah terik matahari. Setelah sekujur tubuhnya basah oleh keringat, Alina akhirnya menemukan mobil suaminya. Benar saja, dompet kulit hitam berisi paspor itu tergeletak begitu saja di atas dasbor. Setelah menyambarnya dengan cepat, Alina mengunci mobil kembali, lalu berlari kembali ke dalam gedung terminal. Napasnya sudah putus-putus. Keirngat bercucuran di pelipisnya. Alina melihat ke arah jam dinding bandara yang terus berputar. Ia panik, jika mereka sampai tertinggal pesawat, pasti Elang akan memaki-makinya. Dari kejauhan, Alina bisa melihat Elang berdiri di dekat petugas boarding dengan wajah yang teramat tegang, terus menatap tajam ke arah lorong masuk dengan kemarahan yang jelas terlihat. Namun, lantai bandara yang licin dan kondisi fisiknya yang sudah kelelahan membuat langkahnya goyah. Ujung sepatunya mendadak tersangkut pada pembatas lantai yang sedikit menonjol. "Aah!" Alina menjerit kecil. Tubuhnya langsung limbung ke depan, kehilangan keseimbangan sepenuhnya. Dompet paspor di tangannya terlepas dan terlempar ke lantai. Alina memejamkan mata erat-erat, bersiap merasakan benturan keras dengan lantai yang dingin. Namun, benturan itu tidak terjadi. Sebelum tubuhnya menyentuh lantai, sepasang lengan yang kokoh dengan sigap menangkap pinggangnya. Pria itu menarik tubuh Alina ke atas dengan satu gerakan cepat namun halus, membawa tubuhnya yang lemas ke dalam sebuah dekapan aman. Alina tersentak, perlahan membuka kelopak matanya yang basah karena panik. Hal pertama yang dia lihat adalah dada bidang berbalut kemeja rapi. Ketika Alina mendongak, dia langsung berhadapan dengan sepasang mata tajam yang sedang menatapnya dengan tenang, sedangkan Alina sendiri tersentak kaget. “Dewa.” Adik iparnya sendiri berdiri di sana, memeluknya erat untuk memastikan Alina tidak terjatuh.Pantas saja dekapan itu terasa berbeda. Suaminya tidak pernah menyentuhnya dengan lembut dan penuh gairah. Tidak pernah membuat Alina terhanyut dalam kenikmatan hingga tuntas.Pria yang membuatnya merasakan itu adalah Dewa.Adik iparnya itu berdiri tegak menatap Alina. Tatapannya tajam dan tenang, sama sekali tidak menunjukkan rasa takut atau bersalah setelah apa yang terjadi. "Dewa... kamu, kamu yang barusan...?" bisik Alina parau. Suaranya tercekat. "Kenapa melakukan ini? Kenapa tadi diam saja, Dewa?" Dewa mendengar suara air dari kamar mandi depan, tanda bahwa Elang sedang membersihkan diri. Pria itu justru melangkah tenang, lalu berlutut di hadapan Alina. Tanpa bicara, Dewa menarik tubuh Alina ke dalam pelukannya. Dia memeluk Alina dengan erat, seolah mengunci tubuh wanita itu agar tidak bisa menjauh. Alina kaget dan mencoba mendorong dada Dewa. "Dewa, lepas... jangan begini." Dewa tidak melepasnya. Dia justru semakin merapatkan tubuh Alina ke dadanya, lalu berbisik rend
"Alina! Kamu tuli, ya?! Di mana kamu?!" suara langkah kaki Elang terdengar makin mendekat ke arah area kamar tidur. Di dalam kamar yang gelap gulita, Alina merasa dunianya runtuh seketika. Seluruh sendinya mendadak lemas, sementara jantungnya berdegup begitu kencang hingga menimbulkan rasa sakit di dadanya. "Mas Elang..." panggil Alina dengan suara bergetar. "Alina! Kenapa tidak menjawab dari tadi?!" teriak Elang dari arah ruang tengah. Cahaya putih dari senter ponselnya mulai bergoyang-goyang, memantul di dinding pembatas kamar. Alina buru-buru menyambar jubah tidurnya yang tergeletak di lantai. Dengan tangan yang gemetar hebat, dia memakai kain itu asal-asalan, mengikat talinya dengan terburu-buru tepat saat sorot lampu senter ponsel Elang menembus area tempat tidur. "Astaga, Alina! Kamu malah enak-enakan tidur di sini?!" Elang mendengus kencang begitu berdiri di ambang pintu kamar. "Aku berteriak-teriak seperti orang gila di luar, dan kamu tidak menyahut sama sekali!" Alina
Tubuh tegap yang dia dekap terasa kaku, tapi Alina sama sekali tidak curiga. Dia terlanjur ketakutan karena kamar yang gelap total akibat pemadaman listrik hotel."Mas, jawab aku," bisik Alina, mendongak menembus kegelapan. "Kamu kok diam saja? Kamu ke mana saja dari sore? Aku takut sendirian di sini."Suaminya tetap membisu. Pria itu justru menangkup pipi Alina dengan telapak tangannya yang besar dan hangat.Suara napasnya yang berat mulai terdengar di antara kesunyian kamar, berembus pelan di pucuk kepala Alina. Ibu jarinya bergerak lembut, mengusap sisa air mata di sana.Kecupan hangat mendarat di kening Alina, lama dan terasa sangat dalam. Rasa takut Alina perlahan luruh, berganti dengan debaran lain yang mendadak berkejaran di dalam dadanya.Akhirnya, pikir Alina. Suaminya ini akhirnya luluh juga dan mau menyentuhnya, bahkan mengecupnya dengan intim. Pasti urusan kerja tadi sudah terlanjur membuatnya lelah dan tidak lagi menolak perhatian sang istri."Maaf kalau aku tadi ketidura
"Sakit banget..." gumam Alina sambil memijat tumitnya yang lecet dan memerah.Dia duduk di tepi ranjang setelah bersusah payah menyeret tiga koper besar sendirian ke dalam kamar. Badannya terasa remuk dan sangat lelah.Namun, mengingat ancaman ibu mertuanya di telepon tadi, Alina memaksakan diri untuk mandi dan berganti pakaian. Dia memakai lingerie berwarna merah marun yang sengaja dia siapkan untuk malam ini.“Tenanglah, Alina, Mas Elang kayak tadi pasti karena tuntutan kerja. Oke, kamu udah benar sekarang. Baju ini udah pas banget…” gumamnya terhenti.Cklek.Mendengar suara pintu terbuka, Alina langsung berdiri. Jantungnya berdebar cepat. Dia buru-buru membalikkan badan, siap menyambut suaminya dengan senyuman."Mas Elang, kamu sudah kembali?"Ucapan Alina terhenti. Pria yang berdiri di ambang pintu bukan Elang, melainkan Dewa.Dewa yang baru mau melangkah masuk pun langsung mematung. Pandangannya terkunci pada Alina yang berpakaian sangat minim, lekuk tubuhnya terlihat jelas di b












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.