LOGINSaat pergi berlibur ke luar negeri, Alina pikir itu akan menjadi bulan madu romantis setelah dua tahun pernikahan yang dingin. Mengingat wejangan mertua untuk memiliki anak, Alina pun berusaha untuk menggoda sang suami. Di malam yang gelap karena badai dan mati lampu, Alina akhirnya berhasil melakukan hubungan penuh gairah. Usai merasakan kenikmatan pertamanya, ia dengar suara suaminya yang baru datang terdengar marah-marah dari pintu. Di saat itulah Alina membeku, dan tersadar... ia mendongak dan melihat, pria yang telah bercinta dengannya di ranjang itu adalah adik iparnya sendiri!
View More"Aku sangat sadar, Mas Elang," sahut Alina, matanya menatap Elang penuh ketegasan. "Justru sekarang pikiranku jauh lebih jernih dari sebelumnya. Aku tidak akan pernah menarik ucapan itu. Surat gugatan cerai akan segera sampai di tanganmu." "Tidak! Mas tidak akan pernah setuju buat cerai!" tolak Elang keras kepala. "Mas tidak akan membiarkan kamu lepas begitu saja dan membawa rumah itu! Kita tidak akan pernah cerai!" Dewa tidak lagi memberi ruang bagi Elang untuk meluapkan amarahnya. Pria itu maju beberapa langkah, mencengkeram lengan atas Elang dengan pegangan yang amat kuat dan tidak bisa dibantah. "Cukup, Mas Elang. Suara Mas sudah terlalu berisik di sini," ucap Dewa dingin. Elang berusaha menghentakkan tangannya untuk melepaskan cengkeraman Dewa, tetapi tenaga adiknya jauh lebih kuat dari yang ia perkirakan. "Lepas, Dewa! Jangan pegang-pegang aku!" "Aku minta Mas keluar baik-baik sebelum aku panggil pihak keamanan untuk menyeret Mas dari gedung ini," ancam Dewa tanpa mengu
"Mas Elang benar-benar sudah gila," gumam Alina seraya menggelengkan kepala. Matanya menatap Elang dengan pandangan yang benar-benar asing, seolah pria di hadapannya bukan lagi sosok yang pernah ia nikahi bertahun-tahun lalu. "Otakmu cuma diisi dengan uang, agunan rumah, dan kecurigaan busukmu sendiri." "Memang itu kenyataannya!" seru Elang dengan suara keras, mengabaikan fakta bahwa mereka berada di area rumah sakit. "Kamu sengaja menahan tanda tangan dokumen agunan rumah warisan itu karena mau membuat bisnis Mas bangkrut, kan?! Kamu mau Mas berlutut di depan kamu?! Rumah itu memang milik orang tuamu, tapi setelah kita menikah, harta itu adalah bagian dari aset keluarga yang harus diselamatkan!" "Rumah itu milikku, Mas!" tegas Alina tanpa ragu sedikit pun. "Hak waris peninggalan almarhum orang tuaku tidak ada hubungannya dengan utang bisnis kamu! Aku tidak akan pernah sudi menandatangani surat apa pun demi menutup borok keuagan kamu!" "Kamu harus tanda tangan, Alina!" tuntut El
Elang tidak memosisikan kakinya untuk bergeser sedikit pun. Sorot matanya dipenuhi arogansi, menatap penuh permusuhan pada Dewa sebelum melirik tajam ke arah Alina yang berbaring kaku di ranjang pasien. Kebencian dan ego pria itu tampak meluap, mendominasi atmosfer kamar rawat inap yang semula tenang. "Cukup, Mas Elang! Keluar dari sini!" suara Alina bergetar, beradu dengan napasnya yang patah-patah akibat emosi yang membakar dadanya. Elang menyunggingkan senyum sinis. Pria itu menyilangkan kedua tangan di dada, menunjukkan penolakan terang-terangan atas perintah istrinya. "Kamu menyuruh Mas keluar?" tanya Elang dengan nada mengejek yang sangat kentara. "Di depan adik iparmu ini, kamu berani membentak Mas seperti itu, Alina?" Dewa melangkah maju satu tapak, memotong jarak antara Elang dan ranjang Alina. "Mbak Alina sudah minta Mas keluar. Jangan buat keributan lagi di sini." "Kamu tidak usah ikut campur, Dewa!" potong Elang cepat, mengibaskan tangannya ke udara dengan nada m
Di dalam ruang rawat yang sunyi, Dewa masih merengkuh tubuh Alina rapat-rapat, membiarkan tangis wanita itu mereda di atas dadanya. Namun, keheningan hangat itu mendadak terpecah oleh suara ketukan dari arah pintu. Tok! Tok! Tok! Suara ketukan itu membuat tubuh Alina tersentak kaku. Kepanikan seketika menjalar di wajah pucatnya. Dengan jemari yang gemetaran, Alina buru-buru melepaskan pelukan Dewa dan mendorong dada pria itu pelan. "Siapa yang datang, Wa?" bisik Alina panik dengan napas tersengal. Matanya bergerak liar menatap pintu. "Memangnya ada yang tahu aku di sini?" Dewa langsung menoleh tajam ke arah pintu. Rahangnya menegang rapat. Bayangan percakapan panas di telepon tadi langsung melintas di kepalanya. Pikiran Dewa tertuju pada satu nama. Apakah itu Elang yang nekat muncul? Dewa memegang kedua bahu Alina, menatap wanita itu dengan sorot mata menenangkan namun tegas. "Kamu kembali ke ranjang dulu, ya. Biarkan aku yang buka pintunya." Alina mengangguk pelan, bergegas mel












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews