เข้าสู่ระบบSaat liburan ke luar negeri, Alina mengira ini akan jadi kesempatan untuk mencairkan dua tahun pernikahannya yang dingin. Teringat pesan mertuanya soal momongan, ia memberanikan diri untuk lebih dekat dengan suaminya. Akhirnya, malam itu Alina berhasil, ia merasakan dekapan hangat yang selama ini ia tunggu dari suaminya. Namun, saat lampu menyala, Alina terkejut mendapati wajah yang ada di hadapannya bukan wajah suaminya. Itu Dewa, adik iparnya! Saat Alina hendak protes, Dewa menariknya kembali ke dalam kehangatan yang membuatnya terbuai. "Kakakku tidak akan bisa memperlakukanmu sebaik ini. Sebagai gantinya... biarkan aku yang memelukmu."
ดูเพิ่มเติมPagi yang cerah menyelimuti sebuah area vila bernuansa alam di daerah pegunungan yang sejuk. Angin berembus pelan membawa aroma kesegaran rumput dan bunga-bunga segar. Hari ini, tempat itu disulap menjadi lokasi janji suci dan resepsi pernikahan bernuansa putih dan krem yang sangat anggun. Di dalam kamar rias utama, Alina berdiri di depan cermin besar. Ia mengenakan gaun pernikahan berwarna putih bersih dengan potongan elegan dan aksen renda halus yang menjuntai cantik. Rambutnya disanggul modern dengan hiasan bunga melati kecil yang menyebarkan aroma harum. Raut wajah Alina terlihat sangat tenang. Tidak ada lagi rasa cemas atau ketakutan yang dulu pernah mengikis jiwanya. Cermin di hadapannya kini memantulkan sosok wanita yang tangguh, bahagia, dan penuh rasa syukur. Pintu kamar rias terbuka pelan. Dewa melangkah masuk dengan setelan jas pernikahan berwarna hitam klasik yang sangat pas di tubuhnya. Pria itu menghentikan langkahnya sejenak tepat di ambang pintu, terpana menatap Alin
Sore hari di halaman belakang rumah Alina terasa begitu hangat. Cahaya matahari yang mulai menyengat lembut berwarna keemasan menerobos celah daun-daun pohon kamboja, memantulkan bayangan indah di atas rumput hijau yang baru dipangkas.Alina duduk di kursi kayu teras, memegang sebuah buku sketsa kecil di pangkuannya. Jemarinya sibuk menggerakkan pensil, menggoreskan garis demi garis untuk merancang tata letak galeri seni milik almarhum ibunya yang akan kembali dibuka bulan depan.Suara langkah kaki yang pelan menghentikan fokus Alina. Ketika ia mendongak, Dewa sudah berjalan mendekat dari arah samping rumah. Pria itu menanggalkan jas mewahnya, hanya mengenakan kemeja putih dengan lengan yang digulung hingga ke siku dan celana kain hitam santai. Di tangan kanannya, Dewa membawa sebuah kotak kayu berukir klasik yang cukup besar."Masih sibuk menggambar, Lin?" tanya Dewa lembut seraya mengulas senyum hangat.Alina menutup buku sketsanya dan meletakkannya di atas meja kecil. "Cuma coretan
Suasana kamar tidur yang mewah di kawasan perumahan elite itu terasa sangat menggepit. Pecahan kaca dari cangkir porselen berserakan di atas karpet bulu tebal, berdampingan dengan beberapa majalah busana yang koyak.Dinda berdiri di dekat meja rias dengan napas memburu. Kedua tangannya gemetar hebat, mencengkeram tepi meja hingga buku-buku jarinya memutih. Di layar ponsel yang tergeletak di atas kasur, panggilan telepon dari mamanya baru saja terputus beberapa detik lalu.Suara mamanya masih terngiang jelas di telinganya, menyampaikan kabar yang meruntuhkan seluruh harga diri dan harapannya. Dewa, pria yang selama ini selalu ia kejar dan ia anggap akan menjadi milik penuhnya, telah resmi melamar Alina."Tidak mungkin," bisik Dinda dengan suara parau. "Ini tidak mungkin terjadi!"Dinda menyapu seluruh botol parfum mahal dan alat rias di atas meja hingga jatuh membentur lantai dengan suara gaduh. Air mata kemarahan dan kekecewaan meluncur deras menelusuri pipinya.Selama ini Dinda meras
Sinar matahari pagi merambat perlahan melewati celah dedaunan pohon kamboja tua di halaman depan. Kelopak-kelopak bunga melati yang bermekaran di sepanjang jalan setapak menebarkan aroma harum yang lembut, terbawa angin sepoi-sepoi yang berembus pelan. Rumah peninggalan orang tua Alina kini berdiri anggun dengan balutan cat putih yang bersih. Suasana sepi yang menenangkan menyelimuti setiap sudut tempat itu. Alina berdiri di balkon lantai dua, menyandarkan kedua lengannya pada pembatas besi yang dingin. Jemarinya mengusap permukaan besi itu dengan lembut. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, dadanya terasa begitu lapang saat menghirup udara pagi. Rasa cemas yang biasa menekan impitan dadanya setiap kali mendengar langkah kaki atau suara pintu kini telah sepenuhnya menguap. Dari arah dalam, terdengar derap langkah kaki yang teratur menapak tangga kayu. Alina tidak perlu menoleh untuk mengetahui siapa yang datang. Bau harum teh melati hangat yang familier lebih dulu menyapa penci












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
ความคิดเห็น