LOGINSensasi sentuhannya berbeda, suara yang lolos dari bibirnya berbeda, bahkan kelembutannya bertolak belakang dengan keliaran malam itu. Di atas peraduan penuh ilusi tersebut, Killian mencengkeram sprei dengan rahang mengeras dan membatin frustrasi... "Apa perasaanku saja? Kenapa aku seperti bersama dua wanita yang berbeda?"
View MoreBab 1
“Damn…”
“Yes, please…”
Killian melumat bibir wanita cantik yang kini berada di kungkungannya.
“Ir…”
“Heump… Ah…” Wanita cantik itu melepaskan pakaian pria tampan yang kini sedang mencumbunya dengan liar.
Begitu juga Killian yang tidak sungkan untuk melepaskan gaun hitam yang melekat dari tubuh wanita yang berada di genggamannya. Ia tidak menyangka wanita lugu yang biasa ia lihat di Rumah Sakit ternyata memiliki sisi liar—ia menyukainya.
“Oh my… Ah…” Lenguhan terdengar begitu merdu saat Killian mulai mencumbu area sensitivenya.
“Panggil namaku… Ir…”
“Nama? Ah… Siapa namamu tampan…”
Killian terkekeh dan menggeram pelan, ia menjilati telinganya dan berbisik, “Ian.”
“I-an?” ulangnya.
Pria itu mengangguk tipis, "Ya, Ian." Killian tersenyum, “Bisa kita lanjutkan?”
“Yes… Do it Ian… Badanku sangat panas…”
“As your wish…”
“Oh my… Ian… Aah…”
Tiga jam sebelumnya...
Dentum musik techno berdentum lowong di dalam ruang VIP salah satu klub eksklusif di pinggiran Monschau. Killian melepaskan kacamata baca yang selalu bertengger di hidungnya saat ia berada di rumah sakit. Tanpa jas putih dokter, ia hanya mengenakan kemeja hitam dengan dua kancing teratas terbuka.
Dari balik kaca satu arah ruang VIP, mata tajamnya mengawasi lantai dansa. Liburan atau pelarian? Killian selalu punya alasan sendiri mengapa ia menyembunyikan identitas aslinya sebagai pemilik saham utama rumah sakit tempatnya bekerja dan memilih membaur sebagai dokter spesialis penyakit dalam biasa.
Namun, tatapan Killian mendadak terkunci pada satu titik.
Di sudut bar bawah, seorang wanita dengan gaun hitam backless yang memeluk tubuhnya dengan sempurna sedang tertawa bersama beberapa pria paruh baya berpakaian formal. Rambutnya hitam panjang, berkilau di bawah lampu kelap-kelip klub.
Killian memicingkan matanya. Jantungnya berdesir aneh. “Irish?” gumamnya lirih.
Dokter spesialis jantung yang terkenal sangat lembut, selalu memakai kacamata tipis, soft spoken, dan berambut gold? Mengapa wanita itu ada di sini, tanpa kacamata, berambut hitam legam, dan berpenampilan seksi luar biasa?
Killian berdecih, sebuah seringai tipis terukir di bibirnya yang kokoh. “Menarik,” bisiknya pada gelas wiski di tangannya.
Killian tidak tahu, bahwa wanita di bawah sana bukanlah Irish Harold yang ia kenal di rumah sakit desa. Wanita itu adalah Irina Harold.
Sedangkan di lantai dasar, Irina mengutuk dalam hati saat rasa pening yang tidak wajar mendadak menyerang kepalanya. Ia baru saja menghadiri gala dinner membosankan bersama rekan-rekan desainer dan artisnya, lalu diajak minum di klub ini. Irina adalah wanita yang badass dan glamor, ia tahu batasan minumnya. Dan dua gelas sampanye seharusnya tidak membuatnya se-tidak berdaya ini.
"Kau baik-baik saja, Irina? Mau kami antarkan ke kamar hotel di atas?" Salah satu rekan bisnis pria tersenyum penuh arti, tangannya mulai berani meraba pinggang Irina.
Sial. Irina tersadar. Dia dijebak. Obat perangsang atau sejenisnya telah dicampurkan ke dalam minumannya. “Aku lengah!”
Dengan sisa tenaga yang ada, Irina menepis tangan pria itu kasar. "Menjauh dariku, brengsek," desisnya dengan suara serak. Ia berdiri dengan kaki gemetar, berniat melarikan diri menuju koridor privat klub, mencari tempat aman sebelum kesadarannya benar-benar hilang karena hawa panas yang membakar tubuhnya.
Namun, langkah Irina limbung di koridor yang sepi. Tubuhnya hampir ambruk ke lantai jika sebuah lengan kekar dan berotot tidak menangkap pinggangnya dengan sigap.
Irina mendongak dengan pandangan buram. Hal terakhir yang ia lihat sebelum akal sehatnya hilang sepenuhnya adalah sepasang mata elang yang dingin, namun memancarkan gairah yang pekat. Pria itu sangat tampan, dengan aura tak tersentuh yang justru terasa sangat sensual.
"Butuh bantuan?" suara berat pria itu berbisik di telinganya.
Kembali ke saat ini…
“Oh my… I-ian… Aah…”
Killian menyesap kuat dada, bahkan tangannya yang besar sudah berada di inti tubuhnya.
"Tubuhmu sangat sensitif, Ir," gumamnya. "Aku menyukainya."
"Aku juga, Ian. Ah..." Irina mendesah tak karuan. Pria yang baru ia temui ini benar-benar tahu di mana titik sensitifnya.
Killian menggeram, tubuhnya terbakar gairah. Baru kali ini ada wanita yang membuatnya lepas kontrol seperti ini.
Cumbuannya turun ke bawah, "Oh my, I-ian. Apa yang... Eukh-" racauan Irina terputus saat merasakan inti tubuhnya dijilati dengan intens oleh Killian. "Rasanya... Ah... Luar biasa, Ian."
Pujian serak itu bagai bensin yang menyiram api di dada Killian. Geraman rendah keluar dari tenggorokan pria itu saat ia kembali merangkak naik, mengukung tubuh Irina yang sudah sepenuhnya pasrah di bawah kendalinya. Tatapan mata Killian yang biasanya sedingin es kini menyala, mengunci manik mata Irina yang sayu dan berkabut karena pengaruh obat.
Di bawah remang lampu kamar, Killian menatap wajah wanita di bawahnya. Wajah yang sama persis dengan dokter spesialis jantung yang selalu bersikap formal dan kaku dengannya di rumah sakit. Namun, ekspresi liar, bibir merah yang tergigit menahan hasrat, dan cengkeraman kuku-kuku tajam wanita ini di bahunya benar-benar meruntuhkan kewarasan Killian.
"Kau menyembunyikan sisi ini dengan sangat baik..." bisik Killian dengan suara serak yang seksi, tepat di depan bibir Irina.
Irina yang otaknya sudah tidak bisa berpikir jernih hanya menangkap gumaman samar pria itu. Rasa panas yang menuntut di dalam dirinya membuat ia tidak memedulikan kata-kata Killian. Ia hanya butuh pria ini. Sekarang.
"Jangan banyak bicara... Ian... Please..." rengek Irina, menarik tengkuk Killian untuk kembali menyatukan bibir mereka dalam lumatan yang menuntut dan dalam.
Killian terkekeh sinis di sela ciuman mereka. Ego lelakinya melonjak tajam. Angkuh, dominan, dan tak tersentuh—sifat asli Killian yang selalu ia sembunyikan di balik jubah dokternya kini keluar seutuhnya.
Killian membuka laci nakas, ia lupa kalau ia tidak mengantongi pengaman malam ini. “Sial ukurannya.”
Irina menatap Killian dengan tidak sabar, “Ada apa?”
“Aku tidak membawa kondom, dan ini,” Killian memperlihatkan kondom yang ia pegang ke Irina, “bukan ukuranku.”
Irina menggigit bibir bawahnya, nafasnya tersengal begitu berat, “I don’t care, Ian. Just do it!”
Pria bertubuh atletis itu terkekeh melihat wajah putus asa yang kabut akan gairah, terlihat begitu erotis di matanya. “Shit!” Ia melingkarkan jari-jarinya yang besar ke pergelangan tangan Irina, menguncinya ke atas kasur dengan satu tangan, sementara tangan lainnya menuntun pinggul Irina.
"Kau yang memintanya. Jangan menyesal besok pagi, hmm?" bisik Killian rendah, sebelum akhirnya ia menyatukan tubuh mereka dengan satu hentakan dalam yang intens.
"Ahhh! I-ian...!" Irina memekik, matanya melebar sesaat saat rasa penuh dan nikmat yang luar biasa menjalar ke seluruh sarafnya.
Killian pun tak kalah terkejutnya merasakan perih saat menabrak dinding tipis, “Shit! You're a virgin?”
Ciuman itu terkesan liar, menuntut, dan penuh keterdesakan. Killian menyesap dan memagut bibir Irina tanpa memberi celah sedikit pun untuk bernapas. Irina yang semula hendak memberontak, mendadak kelabakan. Sentuhan intens dan napas hangat Killian yang membakar perlahan mengikis akal sehatnya, memancing Irina untuk ikut terhanyut ke dalam pusaran gairah yang menggelap.Tanpa melepaskan pagutannya yang makin dalam, jemari Killian yang lapar bergerak cepat meraih tuas di samping jok pengemudi, memundurkan kursi kemudinya ke belakang untuk memberi ruang lebih. Pria itu kemudian mengangkat tubuh Irina dengan mudah, memindahkan dan memangku wanita itu tepat di atas tubuhnya.Dengan napas memburu dan tatapan mata yang gelap oleh gairah, tangan Killian menyusup cepat ke dalam kaos yang dikenakan Irina. Ia menaikkannya ke atas, meraup dan meremas payudara kenyal wanita itu dengan rakus dan tidak sabaran."Oh, shit ... Ian ..." desah Irina tertahan saat rasa sensual yang menyengat menyapu s
Mau tidak mau, Killian akhirnya menyebutkan lokasi keberadaannya saat ini. Begitu mendengar alamat jalan yang dimaksud, Irina langsung memutuskan panggilan secara sepihak.Di dalam kamar hotelnya, Irina panik luar biasa. Ia menyambar blazer hitam seadanya dari atas tempat tidur, mengenakannya terburu-buru di atas pakaian santainya, lalu meraih kunci mobil. Ia keluar kamar tanpa memedulikan penampilannya lagi.Irina menyetir dengan gila-gilaan menembus kegelapan malam Kota Monschau. Pikirannya melayang pada ingatan kelam malam itu—saat ia menyaksikan sendiri bagaimana rapuh dan tersiksanya Killian ketika serangan anxiety menghantam pria itu.Dua puluh menit membelah jalanan dengan kecepatan tinggi, mata tajam Irina akhirnya menangkap bayangan mobil sport milik Killian yang terparkir di bahu jalan yang sepi.Irina menginjak rem mendadak, menghentikan mobilnya tepat di belakang kendaraan Killian. Ia bergegas keluar, berlari menghampiri mobil pria itu. Irina membuka pintu pengemudi lal
Plak!Cassian menghentakkan telapak tangannya keras ke atas meja kerja mahogani, membuat dokumen di atasnya bergetar. "Killian! Jaga ucapanmu!""Aku sudah cukup diam dan mengikuti semua aturan mainmu, Ayah!" potong Killian dengan nada suara yang meninggi, kehilangan seluruh ketenangan yang selama ini ia jaga. "Aku membiarkanmu mengatur hidupku, karierku, bahkan identitasku di rumah sakit! Tapi kalau Ayah pikir bisa terus menyembunyikan kebusukan dan ancaman di balik nama besar keluarga ini ... Ayah salah besar."Cassian menatap tajam putra sulungnya, matanya menyipit berbahaya. "Kau tidak tahu apa yang sedang kau lawan, Killian. Jangan kekanak-kanakan!""Justru karena aku tahu bahayanya, aku tidak bisa tinggal diam!" tukas Killian dingin. Pria itu memperbaiki posisi jasnya, mengambil satu langkah mundur menjarahi tatapan mengintimidasi sang ayah. "Jika Ayah tidak mau memberitahuku apa yang sebenarnya terjadi, aku akan mencarinya sendiri. Dengan atau tanpa izin darimu.""Killian!"
"File apa yang sampai membuat Ayah begitu murka? Apa ada hal yang seharusnya tidak kami ketahui?" tanya Killian tajam, melangkah maju satu tapak dengan sorot mata menuntut setelah mendengar penuturan sang ayah.Cassian menatap nyalang pada Killian, napasnya masih terengah oleh amarah yang membakar dada. "Belum waktunya kau mengetahui hal ini, Killian!" bentaknya dingin. Pria paruh baya itu lalu menoleh, menancapkan tatapan membunuhnya pada Kane. "Kembalikan file tersebut, Kane!"Kane mengusap sudut bibirnya yang berdarah dengan punggung tangan, lalu terkekeh pelan. "Aku bahkan tidak tahu sepenting apa file yang hilang itu. Sekalipun Anda membunuhku malam ini, file itu tidak akan pernah Anda temukan. Karena sepertinya ... Anda salah tangkap, Tuan Cassian yang terhormat."Kane memutar tubuhnya sedikit, melemparkan tatapan sinis yang penuh provokasi tepat ke arah Killian. "Kenapa Anda tidak menaruh curiga sedikit pun pada putra sulung Anda yang sempurna ini? Bukannya dia yang paling m
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore