LOGINAda pepatah yang diketahui Alda: jangan berjanji saat bahagia dan jangan mengambil keputusan saat marah. Pasalnya, seseorang yang dilahap emosi hanya akan mencari cara untuk membalas menyakiti layaknya api yang menjalar dan membakar apa pun yang terlihat.
Dan, Alda berharap Roni tidak bereaksi sesuai emosi. Atmosfer di hadapan Alda begitu berat. Suasananya mencekam. Bahkan, Alda berulang kali menahan napas. Tatapannya tertuju ke Roni yang mematung dengan kepala tertunduk. Raut wajah suaminya tampak tidak fokus. Di mata Alda, yang dialami oleh Roni seperti bentuk penekanan emosional. Roni baru kehilangan ayahnya lalu mendapati wasiat dari mendiang ayahnya yang merupakan tuntutan besar. Hal ini bisa dikatakan sebagai eksploitasi emosi. Alda menyadari bahwa pikiran Roni terlalu bising untuk memutuskan sesuatu pada saat itu juga. Roni terlalu rentan dan serba salah. "Apa ada batas waktunya?" tanya Alda, nada bicaranya netral. "Maksud saya, apa Roni diberi batas waktu?" Yang paling terkejut mendengar pertanyaan Alda adalah Roni. Seakan tidak percaya Alda malah menanyakan hal tersebut. Seharusnya tidak perlu ada yang ditanyakan karena perkara wasiat tidak masuk akal. Notaris itu gelagapan. Buru-buru memungut kertas dokumen yang berserakan di lantai. Tangannya sibuk menyusun dan mencari-cari informasi. Di lain sisi, Alda tidak ingin mendapatkan informasi secara mentah. Bekerja di perbankan membuat Alda kritis mencerna celah dan persyaratan yang berlaku. Alda yakin wasiat itu pasti memiliki ketentuan. Seperti batas waktu yang dimiliki Roni untuk menjawab ketentuan warisan. Begitu juga dengan teknis perceraian. Alda mengamati notaris keluarga Roni masih sibuk membaca cepat dokumen. "Saya bisa minta kartu nama atau kontaknya? tanya Alda. "Jadi, kami bisa menghubungi untuk keterangan lebih jelasnya. Sepertinya lebih baik didiskusikan hari lain." Roni mendekati Alda. Langkahnya terburu-buru. "Buat apa? Apa yang mau didiskusikan? Kamu mau cerai?" Melalui sudut mata, Alda memindai keluarga Roni. Mereka tampak sibuk menonton, bahkan cukup menikmati konflik yang bisa terjadi. Seperti hal yang ditunggu-tunggu akhirnya terjadi di depan mata. Namun, Alda meraih tangan Roni. Dia berbisik ke telinga suaminya. "Untuk bisa melawan, kita perlu mengetahui secara jelas persyaratan itu. Kita perlu waktu." Terutama, waktu untuk Roni agar beristirahat. Alda yakin batin dan mental Roni terkuras habis. Roni tidak langsung merespons. Namun, Alda melihat pundak Roni tidak lagi naik-turun cepat. Napasnya pun mulai ritmis. "Ini bukan tentang keinginan aku mau cerai atau nggak, Sayang. Tapi, kita harus tahu apa yang dihadapi dan cara menghadapinya." Alda membelai sisi wajah Roni, berusaha meyakinkan bahwa mereka akan baik-baik saja. "Oke." Roni berbalik badan. "Saya akan hubungi Anda. Saya juga perlu lihat soft copy dari berkas-berkas yang ada. Saya akan pelajari lebih dulu." Alda membuang napas lega mendapati Roni yang sudah kembali tenang. Roni menerima kartu nama dari sang notaris lalu menaruhnya ke dalam saku celana. Tangannya terkepal erat. "Hanya saya yang ada syaratnya? Ibu? Lola nggak ada?" Roni meraih tangan Alda, menggenggamnya erat. "Betul." Notaris itu menjawab sambil merapikan berkasnya di meja. Roni menggelengkan kepala tidak percaya. Dia memandangi ibunya. Wanita paruh baya itu menghindari mereka bertemu mata. Lalu Roni mengalihkan tatapannya ke Lola. "Ibu dan Kak Lola udah tahu hal ini? Bapak kan selalu cerita ke Ibu kalau ada apa-apa? Waktu pembuatan wasiat ini, Ibu lihat?" Roni kembali melemparkan tanya. Sejujurnya, Alda tidak mengerti mengapa Roni harus mengulik lebih dari ini. Yang dilakukan Roni ibarat menggali lebih banyak luka. Di mata Alda, Roni seperti menghukum dirinya sendiri. Ibu Roni enggan menjawab. Namun, terkadang diam adalah jawaban yang paling lantang. "Ron, kenapa malah kayak nyalahin aku sama Ibu?" Alih-alih menjawab, Lola bertanya balik. "Kamu tiga tahun nggak mengabdi jadi anak yang berbakti. Datang ke sini juga pas urusan buat makam Ayah beres. Aku dan Ibu yang urus! Kamu mau berharap apa, sih?" Lola menatap nyalang ke arah Alda. Tatapan itu seperti telunjuk yang mengarah ke segala sumber masalah. "Aku cuma ingin tahu kapan wasiat ini dibuat." Rahang Roni kembali mengeras. Alda melihat gurat halus uras di sisi dahi Roni. Kali ini, Lola dan ibunya yang sama-sama tidak menjawab. "Tanggal 5 Juni 2023." Suara itu berasal dari sang notaris, seakan enggan berlama-lama terjebak di perseteruan keluarga. "Kelengkapannya nanti akan segera dikirim. Jadi, detailnya Pak Roni bisa lihat sendiri." Alda tersekat. Satu hari setelah Alda dan Roni menikah, mendiang ayah Roni langsung menghubungi notaris keluarga demi membuat wasiat. Roni terkekeh pelan. Bukan karena ada sesuatu yang lucu, melainkan sebuah ironi. "Bapak itu sudah beri kamu pilihan, Ron. Dulu, kamu diminta pilih keluarga atau perempuan itu." Linda menunjuk Alda. "Saat itu kamu pilih dia. Sekarang kamu tinggal pilih mau perempuan yang sampai sekarang belum kasih kamu anak atau warisan." Lola mengangguk setuju. "Betul itu! Justru ini kesempatan kamu, Ron. Mumpung belum ada anak, proses perceraian jadi nggak seribet itu!" Dito berdeham. Pria itu menjadi saksi bisu. Meski begitu, tampak jelas Dito menikmati momen ini. Jantung Alda berdenyut perih. Bagi keluarga Roni, dia tidak akan pernah cukup. Walaupun Alda menjadi istri yang loyal dan tidak bersikap seperti Dito, hal itu tidak akan pernah cukup. Di lain sisi, Alda yakin memiliki anak pun tidak serta-merta membuat keluarga Roni luluh. Bagi mereka, Alda hanya barang rusak yang perlu dibuang. Tanpa sadar, mata Alda terasa panas. Dia berusaha menahan air matanya tergenang tanpa perlu terjatuh. Pandangannya sudah buram. "Cukup!" seru Roni mengarahkan Alda agar bergeser ke balik punggungnya. "Aku nggak bakal biarin ini jadi ajang Ibu atau Kak Lola biar nyudutin Alda!" Ibu dan Lola tersentak. Mereka membuang muka, tidak peduli apakah perkataannya menyakiti atau tidak. Seakan mereka lebih peduli memuntahkan unek-unek dibanding tersangkut di tenggorokan. "Ayo, kita pulang," ujar Roni kepada Alda. Dia merangkul Alda, menghadang agar keluarganya tidak melihat raut wajah Alda. Roni tidak mau memberikan kepuasan sedikit pun untuk ibu maupun kakaknya. "Jangan dengarkan mereka." Tapi, yang mereka bilang memang fakta. Alda ingin berbicara demikian, tetapi ditelan kembali. Terkadang realitas memang menyakitkan. Alda memang belum memberi anak. Perceraian tanpa anak secara teori memang mengurangi kerumitan proses. Namun, semua itu tidak membuat yang dihadapi menjadi lebih mudah. Roni menuntun Alda keluar dari ruangan yang terasa sesak meski luas. Bahkan, seiring melangkahkan kaki, Alda merasa tembok-tembok di sekitarnya semakin mengimpit. Roni pun menembus orang-orang yang masih berkunjung. Beberapa orang bertanya Roni yang tampak bergegas pergi. Namun, langkah Roni tidak melambat. Dia mengabaikan semua sapaan yang tertuju kepadanya. Air mata Alda tidak lagi terbendung. Bukan perkataan ibu mertua dan kakak iparnya yang membuat bentengnya hancur, melainkan cara Roni melindunginya. Betapa Alda berharap Roni akan terus memilihnya. Selalu. Selamanya.Ada pepatah yang diketahui Alda: jangan berjanji saat bahagia dan jangan mengambil keputusan saat marah. Pasalnya, seseorang yang dilahap emosi hanya akan mencari cara untuk membalas menyakiti layaknya api yang menjalar dan membakar apa pun yang terlihat. Dan, Alda berharap Roni tidak bereaksi sesuai emosi. Atmosfer di hadapan Alda begitu berat. Suasananya mencekam. Bahkan, Alda berulang kali menahan napas. Tatapannya tertuju ke Roni yang mematung dengan kepala tertunduk. Raut wajah suaminya tampak tidak fokus. Di mata Alda, yang dialami oleh Roni seperti bentuk penekanan emosional. Roni baru kehilangan ayahnya lalu mendapati wasiat dari mendiang ayahnya yang merupakan tuntutan besar. Hal ini bisa dikatakan sebagai eksploitasi emosi. Alda menyadari bahwa pikiran Roni terlalu bising untuk memutuskan sesuatu pada saat itu juga. Roni terlalu rentan dan serba salah. "Apa ada batas waktunya?" tanya Alda, nada bicaranya netral. "Maksud saya, apa Roni diberi batas waktu?" Yang pali
Dengan saksama, Alda mengedarkan pandangannya berkeliling di kamar Roni. Kata Roni, kamarnya di rumah ini dibiarkan seperti semula dan tidak ada yang berubah. Seakan penghuni rumah ini bertaruh bahwa Roni pasti akan kembali kapan pun. Tatapan Alda kini terjatuh ke Roni yang baru saja selesai membersihkan diri. Secara sigap, Roni memilih pakaian yang terlipat rapi di lemari. Pria itu mengganti pakaian yang sebelumnya terkena tanah. Namun, mengubah raut wajah tidak semudah berganti pakaian. Sepanjang jalan Roni terdiam dan hanya mengepalkan tangan kuat-kuat. Mereka menggunakan taksi online untuk kembali ke rumah orangtua Roni. Alda sendiri lebih nyaman seperti ini ketimbang menumpang di mobil Dito atau kerabat yang lain. "Aku nggak ngerti. Kenapa nggak nunggu minggu depan? Atau, sekalian bulan depan?" Roni masih tidak habis pikir ibunya mengadakan pertemuan dengan notaris secepat ini. Alda berusaha mencari sudut pandang lain yang netral. Sesuatu yang terkesan logis untuk diden
Satu detik pun Alda tidak menurunkan kewaspadaannya. Seakan dirinya adalah mangsa yang menyadari perangkap di depan mata. Perasaan dihantui menggelayut dalam diri Alda. Prinsip Alda: kalau terpaksa harus berinteraksi dengan Dito, cukup sekadarnya saja. Tanpa banyak berbicara, Alda memilih duduk di kursi belakang bersama Chika di car seat dan Siska di sisi kanan. Sementara Miska dan Dito duduk di bangku depan. Untung saja, Miska sudah lebih dulu duduk di sana sehingga Alda tidak terpaksa duduk persis di sebelah Dito. Meskipun tidak ada percakapan yang terjadi antara dirinya dengan Dito, Alda tetap merasa risi. Dia bisa merasakan tatapan Dito dari kaca spion tengah. Alda mengalihkan pandangan matanya ke arah lain.Perjalanan yang seharusnya singkat terasa begitu jauh. Bahkan lagu yang berputar dari radio tidak berhasil membuat rasa diawasi itu hilang. "Tante, kok, aku baru lihat Tante?" Siska, anak tengah Lola, bertanya. Anak itu mengamatinya polos. Murni penasaran. Bagi Alda
Sembari menunggu pukul satu siang, Alda malah menyibukkan diri dengan menyajikan air minum ataupun makanan ringan untuk tamu yang datang. Masih ada satu jam sampai agenda pemakaman. Mobil jenazah sudah terparkir di depan gerbang. Setiap Alda berpapasan dengan dua wanita paruh baya yang merupakan kerabat jauh dari pihak ibu mertuanya, mereka hanya tersenyum canggung. Barangkali kedua orang itu membicarakannya dengan tamu lain karena keberadaan Alda menjadi pusat perhatian. Selalu ada beberapa pasang mata tertuju padanya. Buah bibir itu memang cepat menjalarnya seperti virus. "Kamu dari mana saja?" tanya Roni yang meraih lengan Alda. Kali ini, mata Roni sedikit membengkak. Alda mengulum senyum. "Aku habis siapin makanan dan minuman buat yang datang." Setidaknya, dengan cara ini, Alda mampu membantu. Dia tidak mungkin menghibur ibu mertuanya dengan berbicara kepadanya. Roni membuang napas pendek. "Kamu belum ketemu Ibu dan Kak Lola." Tidak perlu seseorang yang genius untuk me
Kapan terakhir kali Alda menginjakkan kaki di rumah keluarga Roni ini? Tentu saja, Alda mampu mengingatnya dengan jelas. Persisnya tiga tahun dua bulan yang lalu. Namun, Alda merasa seperti baru kemarin. Pada saat itu, Roni membawanya ke sini untuk dikenalkan serta meminta restu bahwa hubungan mereka serius. Roni yang ingin membawa hubungannya dengan Alda ke jenjang selanjutnya. Sambutan yang didapatkan Alda kurang hangat. Dibandingkan perkenalan keluarga, Alda merasa lebih mirip wawancara kerja. Latar belakang Alda. Contohnya, seperti siapa keluarga, di mana saja Alda mengemban pendidikan, apa pekerjaan Alda. Bahkan Alda masih mengingat raut wajah yang mendadak dingin dan sinis saat Alda berkata kedua orangtua meninggal semenjak dia kecil. Tidak ada kata yang lebih halus untuk mengemas komentar ayahnya Roni: asal-usul Alda seperti tidak jelas. Tidak heran apabila Alda gemetar berdiri di depan rumah dengan pagar tembok yang menjulang tinggi. Seakan penghuni rumah itu sengaja me
Sepasang mata Alda terpaku pada benda di tangannya. Dia berharap melihat satu garis lainnya meski hanya bayangan tipis. Sayangnya, sekian menit berlalu, hanya ada satu garis. Tidak ada yang berubah. Hasil pagi ini masih sama dengan hasil sudah-sudah. Alat tes kehamilan menunjukkan negatif. Seolah-olah ada tangan imajiner yang meremukkan jantungnya, Alda merasa begitu sesak. Sudah tiga tahun. Namun, Alda belum bisa memberikan buah hati untuk keluarga kecil mereka. Apa yang salah? Apa ada duri di dalam rahimnya hingga tidak ada janin yang melekat? Segala pertanyaan berlalu-lalang dalam benak Alda. Hanya saja ada satu pertanyaan yang membuat bulu kuduknya meremang. Apakah Roni menyesali menikahi dirinya? Apakah ini hukuman untuknya karena menikah tanpa restu orangtua Roni? Alda menggelengkan kepalanya cepat agar pikiran itu enyah. Lalu, dia membuang alat tes kehamilan itu ke tempat sampah. Betapa dia berharap rasa kalutnya ikut terbuang. Tangan Alda meraih kenop pintu kamar







