Chapter: 6. Intrik EmosiAda pepatah yang diketahui Alda: jangan berjanji saat bahagia dan jangan mengambil keputusan saat marah. Pasalnya, seseorang yang dilahap emosi hanya akan mencari cara untuk membalas menyakiti layaknya api yang menjalar dan membakar apa pun yang terlihat. Dan, Alda berharap Roni tidak bereaksi sesuai emosi. Atmosfer di hadapan Alda begitu berat. Suasananya mencekam. Bahkan, Alda berulang kali menahan napas. Tatapannya tertuju ke Roni yang mematung dengan kepala tertunduk. Raut wajah suaminya tampak tidak fokus. Di mata Alda, yang dialami oleh Roni seperti bentuk penekanan emosional. Roni baru kehilangan ayahnya lalu mendapati wasiat dari mendiang ayahnya yang merupakan tuntutan besar. Hal ini bisa dikatakan sebagai eksploitasi emosi. Alda menyadari bahwa pikiran Roni terlalu bising untuk memutuskan sesuatu pada saat itu juga. Roni terlalu rentan dan serba salah. "Apa ada batas waktunya?" tanya Alda, nada bicaranya netral. "Maksud saya, apa Roni diberi batas waktu?" Yang pali
آخر تحديث: 2026-10-09
Chapter: 5. Ultimatum TerakhirDengan saksama, Alda mengedarkan pandangannya berkeliling di kamar Roni. Kata Roni, kamarnya di rumah ini dibiarkan seperti semula dan tidak ada yang berubah. Seakan penghuni rumah ini bertaruh bahwa Roni pasti akan kembali kapan pun. Tatapan Alda kini terjatuh ke Roni yang baru saja selesai membersihkan diri. Secara sigap, Roni memilih pakaian yang terlipat rapi di lemari. Pria itu mengganti pakaian yang sebelumnya terkena tanah. Namun, mengubah raut wajah tidak semudah berganti pakaian. Sepanjang jalan Roni terdiam dan hanya mengepalkan tangan kuat-kuat. Mereka menggunakan taksi online untuk kembali ke rumah orangtua Roni. Alda sendiri lebih nyaman seperti ini ketimbang menumpang di mobil Dito atau kerabat yang lain. "Aku nggak ngerti. Kenapa nggak nunggu minggu depan? Atau, sekalian bulan depan?" Roni masih tidak habis pikir ibunya mengadakan pertemuan dengan notaris secepat ini. Alda berusaha mencari sudut pandang lain yang netral. Sesuatu yang terkesan logis untuk diden
آخر تحديث: 2026-09-22
Chapter: 4. Menduga yang Tak TerdugaSatu detik pun Alda tidak menurunkan kewaspadaannya. Seakan dirinya adalah mangsa yang menyadari perangkap di depan mata. Perasaan dihantui menggelayut dalam diri Alda. Prinsip Alda: kalau terpaksa harus berinteraksi dengan Dito, cukup sekadarnya saja. Tanpa banyak berbicara, Alda memilih duduk di kursi belakang bersama Chika di car seat dan Siska di sisi kanan. Sementara Miska dan Dito duduk di bangku depan. Untung saja, Miska sudah lebih dulu duduk di sana sehingga Alda tidak terpaksa duduk persis di sebelah Dito. Meskipun tidak ada percakapan yang terjadi antara dirinya dengan Dito, Alda tetap merasa risi. Dia bisa merasakan tatapan Dito dari kaca spion tengah. Alda mengalihkan pandangan matanya ke arah lain.Perjalanan yang seharusnya singkat terasa begitu jauh. Bahkan lagu yang berputar dari radio tidak berhasil membuat rasa diawasi itu hilang. "Tante, kok, aku baru lihat Tante?" Siska, anak tengah Lola, bertanya. Anak itu mengamatinya polos. Murni penasaran. Bagi Alda
آخر تحديث: 2026-09-20
Chapter: 3. Bukan Reuni KeluargaSembari menunggu pukul satu siang, Alda malah menyibukkan diri dengan menyajikan air minum ataupun makanan ringan untuk tamu yang datang. Masih ada satu jam sampai agenda pemakaman. Mobil jenazah sudah terparkir di depan gerbang. Setiap Alda berpapasan dengan dua wanita paruh baya yang merupakan kerabat jauh dari pihak ibu mertuanya, mereka hanya tersenyum canggung. Barangkali kedua orang itu membicarakannya dengan tamu lain karena keberadaan Alda menjadi pusat perhatian. Selalu ada beberapa pasang mata tertuju padanya. Buah bibir itu memang cepat menjalarnya seperti virus. "Kamu dari mana saja?" tanya Roni yang meraih lengan Alda. Kali ini, mata Roni sedikit membengkak. Alda mengulum senyum. "Aku habis siapin makanan dan minuman buat yang datang." Setidaknya, dengan cara ini, Alda mampu membantu. Dia tidak mungkin menghibur ibu mertuanya dengan berbicara kepadanya. Roni membuang napas pendek. "Kamu belum ketemu Ibu dan Kak Lola." Tidak perlu seseorang yang genius untuk me
آخر تحديث: 2026-09-19
Chapter: 2. Keluarga RoniKapan terakhir kali Alda menginjakkan kaki di rumah keluarga Roni ini? Tentu saja, Alda mampu mengingatnya dengan jelas. Persisnya tiga tahun dua bulan yang lalu. Namun, Alda merasa seperti baru kemarin. Pada saat itu, Roni membawanya ke sini untuk dikenalkan serta meminta restu bahwa hubungan mereka serius. Roni yang ingin membawa hubungannya dengan Alda ke jenjang selanjutnya. Sambutan yang didapatkan Alda kurang hangat. Dibandingkan perkenalan keluarga, Alda merasa lebih mirip wawancara kerja. Latar belakang Alda. Contohnya, seperti siapa keluarga, di mana saja Alda mengemban pendidikan, apa pekerjaan Alda. Bahkan Alda masih mengingat raut wajah yang mendadak dingin dan sinis saat Alda berkata kedua orangtua meninggal semenjak dia kecil. Tidak ada kata yang lebih halus untuk mengemas komentar ayahnya Roni: asal-usul Alda seperti tidak jelas. Tidak heran apabila Alda gemetar berdiri di depan rumah dengan pagar tembok yang menjulang tinggi. Seakan penghuni rumah itu sengaja me
آخر تحديث: 2026-09-19
Chapter: 1. Kabar DukaSepasang mata Alda terpaku pada benda di tangannya. Dia berharap melihat satu garis lainnya meski hanya bayangan tipis. Sayangnya, sekian menit berlalu, hanya ada satu garis. Tidak ada yang berubah. Hasil pagi ini masih sama dengan hasil sudah-sudah. Alat tes kehamilan menunjukkan negatif. Seolah-olah ada tangan imajiner yang meremukkan jantungnya, Alda merasa begitu sesak. Sudah tiga tahun. Namun, Alda belum bisa memberikan buah hati untuk keluarga kecil mereka. Apa yang salah? Apa ada duri di dalam rahimnya hingga tidak ada janin yang melekat? Segala pertanyaan berlalu-lalang dalam benak Alda. Hanya saja ada satu pertanyaan yang membuat bulu kuduknya meremang. Apakah Roni menyesali menikahi dirinya? Apakah ini hukuman untuknya karena menikah tanpa restu orangtua Roni? Alda menggelengkan kepalanya cepat agar pikiran itu enyah. Lalu, dia membuang alat tes kehamilan itu ke tempat sampah. Betapa dia berharap rasa kalutnya ikut terbuang. Tangan Alda meraih kenop pintu kamar
آخر تحديث: 2026-09-18